Rabu, April 09, 2008

Tepat Sasaran dengan Nano

Teknologi nano mampu menghancurkan sel-sel kanker dengan sangat akurat. Ini harapan baru bagi penderita kanker.

-------

Cindy--bukan nama sebenarnya--akhirnya menyerah. Perempuan 43 tahun penderita kanker payudara stadium III-B ini terpaksa merelakan satu payudaranya diangkat. Ia khawatir, bila sudah masuk stadium IV, dia akan memasuki tahap metastasis: sel-sel kanker menyebar ke organ tubuh lainnya. Perempuan bertubuh tambun ini mengaku sudah tak tahan lagi dengan cara kemoterapi--menginfuskan obat penghancur sel kanker ke tubuhnya. “Bagian organ lain terganggu, sakit rasanya,” ujarnya.

Akhirnya, dia sepakat dengan cara lama, yakni pembedahan untuk mengambil tumor ganas yang sudah menjadi kanker di payudara. Pilihan ini sama tidak mengenakkannya dengan kemoterapi. Bila dibedah, dia kehilangan satu payudara. Kalau dia terus menjalani kemo, siksaan sakit alang-kepalang akan terus berulang. Belum lagi muntah-muntah dan rambut rontok.

Dokter spesialis kanker dari Hematologi dan Onkologi Medik Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Aru Wisaksono Sudoyo, mengakui kemoterapi ataupun radioterapi (penyinaran) mengakibatkan organ tubuh lain yang tidak mengandung kanker turut menanggung akibat. “Setiap hari kami menemukan efek samping yang menimpa pasien,” katanya.

Karena berbagai efek samping yang semuanya tidak mengenakkan itulah, selain dengan obat khusus kanker, dokter memberikan pengobatan dukungan. Yang diberikan bisa obat antimual, vitamin, dan nutrisi lain yang dapat menunjang daya tahan pasien. “Memberikan obat antikanker tanpa obat suportif yang baik hanya akan memberikan hasil tak maksimal,” ujar dokter Aru.

Namun Cindy mungkin tak akan kehilangan payudara bila cara pengobatan terbaru kanker dengan teknologi nano sudah diterapkan. “Teknologi nano ini memungkinkan pengobatan kanker tepat sasaran,” kata dokter Aru lagi.

Menurut dokter yang sedang mempelajari terapi nano--topik yang ramai diperbincangkan di negara maju--itu, pengobatan ini menjadi harapan baru bagi penderita kanker. “Karena cara ini lebih aman,” kata dokter kelahiran Washington, DC, 57 tahun lalu itu.

Cara penanganan sebelumnya dengan pembedahan, kemoterapi, radioterapi, serta terapi biologi dan gen akan kalah akurat dengan terapi nano. Teknologi ini hanya akan berfokus pada penghancuran sel kanker, meski sel ganas tersebut berdekatan dengan organ tubuh penting, seperti jantung. Terapi ini juga meminimalisasi efek samping, sehingga cocok diterapkan bagi pasien yang tidak tahan menerima efek samping.

Seperti apa sih terapi dengan teknologi nano itu?

Teknologi ini sebenarnya berbasis pada partikel nano, yang merupakan hasil dari rekayasa fisika dan biomedis. Kandungan utama partikel ini adalah perfluorocarbon, zat aman yang biasa digunakan dalam darah buatan. Ukuran partikel ini 500 kali lebih kecil ketimbang lebar sehelai rambut manusia. Partikel nano ini kurang-lebih seukuran dengan DNA, protein, dan virus.

Nah, butir seukuran debu supermini inilah yang mampu mengangkut obat-obatan kanker, tepat ke sasaran, tidak sedikit pun meleset. Caranya bisa dengan ditembakkan bersama sinar inframerah atau disuntikkan (lihat “Cara Kerja Terapi Nano”). Di Indonesia, pengobatan berbasis teknologi ini dikembangkan oleh Institute of Human Virology and Cancer Biology Universitas Indonesia.

Menurut Steve J. Yang dari Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat, yang membawa teknologi nano untuk pengobatan ke Indonesia, cara ini juga dapat digunakan untuk pencegahan. Sebab, teknologi nano punya kemampuan mendeteksi tanda-tanda akan munculnya tumor sepuluh kali lebih cepat dan seratus kali lebih akurat. Sehingga, di masa mendatang, kesakitan akibat kemoterapi atau kehilangan payudara seperti yang dialami Cindy mungkin tidak harus terjadi.

Tapi semua orang masih harus bersabar, karena terapi dengan teknologi nano ini masih dalam tahap uji klinis untuk manusia. Jadi, sebelum terapi yang dahsyat ini diterapkan untuk kalangan lebih luas, lebih baik memusatkan diri untuk mencegah kehadiran sel-sel kanker di dalam tubuh dengan cara alamiah. Caranya? Ya, terapkanlah pola hidup sehat, dengan mengkonsumsi makanan sehat, tidak merokok, dan berolahraga teratur.

Ahmad Taufik dari TEMPO 7-13 April 2008

Tidak ada komentar: