Kamis, Agustus 27, 2009

Yang Menolak Perintah Otak

Penyakit degeneratif saraf otak belum ada obatnya hingga kini. Bila sampai akut, sepanjang hidup tergantung orang lain.

***

Henry, 43 tahun, tak kuasa menahan geli. Melihat pertunjukan Srimulat di layar televisi, ia terkakak lebih keras daripada orang lain. Henry seolah-olah menyaksikan dirinya sendiri manakala seorang aktor memperlihatkan dagelan favorit Srimulat: ketidakkompakan antara keinginan dan tindakan. Tangan yang menggenggam sendok tiba-tiba bergerak ke “alamat” yang salah, dari mulut nyelonong ke mata.

“Saya jadi kayak (almarhum) Timbul. Baru akan menyuap, mulut sudah terkatup, he-he-he…,” katanya. Sudah delapan tahun Henry punya masalah dalam menyelaraskan niat atau pikiran di kepalanya dengan gerak anggota tubuhnya. Ia mengaku, akhir-akhir ini, ia sering berjalan terhuyung-huyung dan bicaranya melantur. “Jika orang enggak tahu, saya dipikir seorang pemabuk,” ujarnya seraya tertawa.

Ya, Henry, warga Kembangan, Jakarta Barat, adalah penderita spino cerebellar ataxia atau penyakit degeneratif saraf otak kecil--lebih dikenal dengan sebutan ataksia saja. “Ketika saya didiagnosis seperti itu, rasanya putus asa,” katanya.

Ataksia merupakan penyakit degeneratif yang belum ada obatnya. Dan hingga kini ilmu kedokteran modern belum dapat memperlambat gejalanya. Ataksia terjadi karena otak kecil atau cerebellum, salah satu bagian otak, mengecil volumenya, yang menyebabkan penderita akan kesulitan dalam mengontrol gerak tubuhnya. Gerakannya semakin lama semakin tak terkontrol, Dengan kata lain, perintah yang dikirimkan ke otak tidak bisa diproses dengan baik.

Seperti hemofilia (gangguan pembekuan darah) atau albino (kekurangan pigmen), gangguan fungsi otak ini antara lain disebabkan oleh faktor keturunan. “Ataksia karena keturunan umumnya diketahui pada usia 10 tahun pertama seorang anak,” ujar dokter spesialis saraf Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Abdulbar Hamid. Salah satu cara mengetes apakah seorang anak terkena gejala ataksia atau tidak adalah dengan mengetuk dengkulnya. “Jika diketuk tak ada reaksi, refleks, kemungkinan terkena ataksia,” ujarnya.

Cara lain adalah uji mata pada pasien anak. Ia disuruh menunjuk, lalu dokter atau perawat di depannya memegang boneka. Dalam jarak sekitar setengah meter itu, si anak yang matanya terfokus pada boneka disuruh berjalan mengelilingi sang boneka. Jika telunjuknya tak tepat mengenai boneka, diperkirakan ia terkena ataksia.

Ada berbagai jenis dan nama penyakit ini, dari Friedreich ataxia, athropy, sampai tipe spino cerebellar ataxia yang diberi nomor--terakhir sampai nomor 30. Ada yang berjalan limbung, ada juga yang kesulitan menggerakkan jari, tangan, lengan, dan mata. “Penderita juga akan kesulitan melafalkan kata-kata, pelo, sampai akhirnya tak bisa berbicara sama sekali,” kata dokter Abdulbar.

Masih banyak lagi tanda-tanda ataksia. Menurut alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, penderita juga kesulitan menelan makanan dan tersedak saat minum air. “Bahkan, saat menelan, air liurnya sendiri keselek,” ujar Abdulbar. Semua gejala ini akan muncul perlahan tapi pasti; dan sesuai dengan kemampuan geraknya, si penderita harus duduk di kursi roda, dan akhirnya hanya bisa berbaring.

Selain oleh faktor keturunan, ataksia bisa disebabkan antara lain oleh tumor, gangguan metabolisme, mengkonsumsi alkohol berlebihan, kekurangan vitamin E, dan mengkonsumsi atau menghirup bahan copper (tembaga). Ataksia bisa menyerang berbagai kalangan usia, dari anak-anak sampai orang dewasa. “Pada umur 60-70 tahun, ataksia biasa menyerang lewat stroke atau hipertensi,” ujar Ketua Persatuan Dokter Emergensi Indonesia itu.

Akibat-akibat yang timbul karena ataksia itu nantinya merembet ke bagian organ tubuh lain dan menimbulkan kelainan jantung (jantung membesar), gangguan pembuluh darah, otot kaku (gangguan gerak), tulang melengkung (skoliosis), keganasan infeksi pada sistem paru-paru, dan sebagainya. “Pada tingkat lain, penderita mengalami depresi dan gangguan kejiwaan lain seperti ingin bunuh diri,” kata Abdulbar.

Di Inggris, tujuh persen warga Kerajaan Uncle Jack itu terimbas penyakit ini. “Di Indonesia tak ada data yang pasti. Saya yakin banyak jika melihat gejala yang ada dalam masyarakat. Sayangnya, penderita atau keluarga penderita kurang aware terhadap penyakit itu,” kata Abdulbar, yang juga pengurus Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia.

Dalam bulan kesadaran ataksia internasional, yang puncaknya jatuh pada Hari Ataksia Internasional, 25 September, sejumlah kegiatan diadakan di berbagai belahan dunia. Dari saling memberikan informasi perihal penyakit tersebut, mengadakan seminar, sampai mengorganisasi pasien untuk membantu pasien lainnya. “Seperti yang dilakukan Pepeng, yang menderita multiple sclerosis--penyakit yang menyerang sistem saraf pusat--dan mengorganisasi sesama penderita, saya berharap, begitu juga para penderita ataksia,” ujar dokter kelahiran Krukut, Jakarta, 63 tahun lalu itu.

Untuk mengobati pasien ataksia yang bukan karena faktor keturunan, dokter Abdulbar biasanya memberikan obat-obatan yang mendekati gejalanya. Misalnya, pada otot yang kaku, diberikan obat-obatan untuk melemaskan otot, atau obat-obatan untuk virus influenza A seperti amantadine. Pada gejala depresi atau masalah kejiwaan, diberikan obat seperti buspirone.

Tak mudah mendeteksi ataksia dalam tes yang dilakukan dokter saat diagnosis awal. Jika dari diagnosis diduga pasien terkena ataksia, dokter akan meminta tubuh pasien dipindai dengan magnetic resonance imaging (MRI), tes darah, dan wawancara. “Saya jelas menderita ataksia juga dari hasil MRI. Ada pengecilan pada otak bagian bawah,” ujar Henry.

Beruntung, setelah didiagnosis terkena ataksia, Henry mencari informasi dan berhubungan dengan sesama penderita di mancanegara. Ia ikut serta dalam grup Living with Ataxia. Dengan informasi yang banyak, dan tahu bahwa ia tak sendirian menderita penyakit ini, Henry merasa lebih tenang. “Ketenangan tampaknya memperlambat progres penyakit saya,” ujarnya.

(dimuat di Majalah TEMPO, edisi 24 Agustus 2009)

Senin, Agustus 10, 2009

Rendra, Domba dan Petai Cina

Bagi mantan aktivis mahasiswa Univeristas Islam Bandung, ingat WS Rendra ingat peringatan hari hak Asasi Manusia, 10 Desember, Rendra dan Yosrizal Manua, dua orang itu sering mengisi acara di ruang terbuka kampus di Jalan Taman Sari No.1 Bandung itu.

Harlan M.Fachra, mantan aktivis Forum Aktivis Mahasiswa Unisba (FAMU) lembaga pergerakan tak resmi di kampus itu, masih ingat pertama kali mengundang Rendra. Saat itu pada 1993, Rendra baru saja diperbolehkan tampil kembali oleh penguasa orde baru. Pertama kali muncul di Lapangan Kridosono Yogyakarta, para aktivis itu lalu meluncur ke Yogya melobi dan mengundang Rendra.

Rendra, oke saja, tak perlu dibayar dia hanya minta sepasang domba. “Jadi Rendra tampil kedua setelah lepas dari cekal, ya di Kampus Unisba,”kata Harlan, yang saat itu Ketua Pelaksana hari Hak Asasi Manusia FAMU.

Para aktivis itu bantingan untuk beli domba yang tidak murah Sejuta rupiah sepasang. Sedangkan untuk Yosrizal, bayarannya ayam, para mahsiswa itu mengambil belasan ayam dari kampung masing-masing di Priangan (Garut dan Tasikmalaya).

Seusai tampil membacakan puisi dan orasi, para aktivis mahasiswa Unisba, memberikan sepasang domba, yang diberi nama Sudomo dan Siska (saat itu, nama keduanya lagi ngetop) kepada Rendra. Para aktivis itu lalu mengantarkan sepasang domba ke Bengkel Teater di Citayam Depok. “Kami banfgga bisa mengundang orang besar seperti Rendra dan memberi semangat kepada kami, dengan imbalan hanya sepasang domba,”katanya.

Penerus Harlan di FAMU, Ade Jauhari punya kenangan yang hampir sama saat mengundang Rendra ke kampus Unisba. “Dia hanya minta domba dan pohon petai cina untuk ditanam di Citayam ini,”katanya. Ade datang dengan para aktivis mahasiswa dan seniman-seniman Bandung dari Gedung Indonesia Menggugat, semalam dan hadir mengantarkan Rendra ke liang lahat. “Rendra menginspirasi kami mencintai kemanusiaan dan alam,”ujar Ade. (A.T)

Sabtu, April 18, 2009

Pasangan Sejenis



Keputusan Mahkamah Konstitusi yang mematahkan calon presiden dari jalur “independen” dalam pemilihan umum 2009 mendatang “memaksa” para calon presiden dari jalur itu mencari “kendaraan”. Salah seorang diantaranya Ratna Sarumpaet. Sejumlah partai sempat menawarinya sebagai calon presiden atau wakil presiden dari partai tersebut. Ratna menolak, karena kebanyakan partai mensyaratkan “setor” dana. Bahkan sebuah partai membatalkan konvensinya, karena Ratna menolak menyetor Rp 100 juta untuk ikut dalam konvensi partai itu.

Entah siapa yang memulai, tim Ratna Sarumpaet, Akar Indonesia bertemu dengan pengurus pusat Partai Nasionalis Indonesia Marheanisme (PNI-Marhaenisme). Partai yang pada pemilihan umum 2004 hanya mendapat suara 900 ribuan, bermaksud tak mau tersingkir alis kurang dari angka threshold yang ditetapkan undang-undang pada pemilihan umum 2009 ini. Untuk mendongkrak suara, diliriklah Ratna Sarumpaet.

Selain terkenal sebagai teaterwati, pada masa Soeharto berkuasa Ratna bersuara lantang membela buruh yang mati di Jawa Timur Marsinah, para perempuan Aceh dan pergerakan pada demokrasi. Dengan dasar itulah, digagas pertemuan Ratna dengan Ketua PNI Marhanisme, Sukmawati Sukarnoputri.

Suatu sore di Kafe Jln. Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Ratna beserta timnya bertemu dengan Sukma dengan anggota pengurus partainya. Kedua perempuan itu saling menjajaki, Sukma mau tahu apa yang dimiliki Ratna. Sebaliknya Ratna juga ingin tahu sebesar apa kekuatan PNI Marhaenisme.

Dari bincang-bincang hampir dua jam, diselingi es jeruk nipis, pisang goreng dan bolen, rupanya tak ada kecocokan. “Apalagi kita dua-duanya perempuan, masak calon presiden dan wakilnya sejenis,”kata Sukma. Ratna hanya tertawa dengan alasan anak Presiden pertama Bung Karno itu. Rupanya dalam urusan politik di Indonesia, masih tertanam, bahkan dalam otak politikus perempuan sebesar Sukmawati Sukarnoputri.

Salah seorang peserta pertemuan itu tiba-tiba nyeletuk,”tapi kalau dua-duanya laki-laki kok boleh ya?”
“Kan lagi tren,”kata seorang menimpali. (***)

Kronik Pemilihan Umum 2009: Saraiya Mencari Hak

Niat memilih dalam pemilihan umum 2009, sudah bertekuk dalam hati, tak bisa lagi diganggu. Memang sejak kejatuhan Soeharto, rezim penindas yang berkuasa selama 32 tahun, aku sudah bertekad untuk ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum, minimal ikut memilih.

Namun, karena suatu keperluan, pada saat pemilihan aku akan memilih di luar kota, tepatnya di luar dari pulau tempat aku tinggal selama ini. Karena tekad itulah aku mengurus, surat untuk pindah memilih ke sebuah tempat pemungutan suara di sebuah desa yang tak kukenal.

Sepekan menjelang pemilihan, aku telah mengantungi surat pindah memilih, dari panitia pemilihan di kelurahan tempatku berdomisili. Modal itulah yang membuatku gembira menggunakan hak sebagai warga negara, memilih. Walaupun, tentu saja boleh aku tak menggunakan hak itu, karena ada hak juga untuk tidak memilih.

Nah, sesampai di luar pulau, tiga hari menjelang pemilihan, surat pindah memilih itu ku berikan pada seorang yang memang tinggal di daerah pemilihan tersebut. Tempat yang bakal aku tinggali, dia juga salah seorang calon wakil rakyat untuk provinsi itu.

Kami, berempat tinggal di rumahnya sehari menjelang pemilihan. Karena, pemilihan akan dilakukan pagi-pagi. Aku dan seorang kawan memiliki surat pindah memilih, sedangkan dua orang lainnya, tak punya. Pagi-pagi sejam menjelang pemilihan, sang tuan rumah memberikan empat pucuk surat panggilan untuk memilih.

Tak ada nama ku dan nama temanku yang sudah punya surat pindah memilih. “Lo, kok, bukan nama kami?”kataku.
“Udah gak papa, pake aje, ribet ngurusnya,”ujarnya.
Herannya lagi, temenku dua laki-laki, yang tak punya surat pindah memilih, juga mendapat surat panggilan. “Sekalian, kamu juga milih ya,”ujar sang tuan rumah.

Setengah jam, setelah waktu memilih mulai. Aku berangkat ke tempat pemungutan suara, yang hanya sepelemparan batu, dari rumah tempat aku menginap. Kulihat seorang temenku, sudah duduk di dalam lingkaran tali menunggu panggilan mendapat surat suara. Dengan sedikit lagak, aku melihat-lihat daftar calon wakil rakyat yang akan ku pilih. Tak ada yang ku kenal betul, hanya ada tiga orang, seorang calon wakil rakyat untuk pemilihan pusat, satu seorang senator dan seorang lagi ,ya, calon tempat aku tinggal.

Aku, masuk ke gelanggang, dengan surat panggilan atas nama orang lain. Hati berontak, namun aku mencoba pengalaman baru ini. Surat panggilan atas nama seorang haji ku berikan pada panitia. Salah seorang diantaranya berbisik pada temanya, “ia kenal nama itu, dan orangnya bukan yang ini.” Aku tampaknya menjadi pembicaraan mereka. Namun, orang-orang sang tuan rumah yang juga calon wakil rakyat sudah “membereskannya.”

Memang tak enak hati. Tapi aku berlagak bodoh, seolah tak tahu menjadi bahan pembicaraan mereka. “Secara prosedural, toh, aku sudah memberikan surat pindah memilih dari daerah asal,” demikian hatiku membenarkan. Cuma mungkin ini jalannya, untuk memperoleh hak memilih. Mungkin menindas hak pilih pemilik surat panggilan itu, atau nama itu memang tak ada, aku tak tahu, malah tak mau tahu. “Orang itu, gak ada disini kok,”kata seseorang, “orangnya” tuan rumah, menenangkan perasaan “tak enak: yang terpancar dari raut mukaku.

Nama, “Haji Abdul Halim!”suara keras memanggil. Aku tergagap, o, ya, itu “namaku”. Aku maju menerima empat pucuk surat suara. Entah mata di luar gelanggang dan panitia pemilihan setempat, menatapku, apa pula pikiran mereka, aku acuh saja. Menuju bilik pilih yang terbuat dari kain (jarik) batik bekas, dengan tiang bambu. Dari empat bilik hanya satu yang kosong.

Besarnya surat suara, dan bayangan kesulitan melipat kembali, aku mencari jalan yang mudah, buka separuh, dan mencoret (bukan mencontreng, itu lebih mudah), nama yang sudah ada dalam pikiranku. Tiga pilihan seperti yang ku kenal tadi, dan salah satu pilihan di calon wakil rakyat tingkat dua, sekadar aku coret sesuai nomor yang sama dengan pilihan pusat dan provinsi. Ambil jalan mudah, walau tak kenal siapa dia?

Kemudahan berlanjut saat memasukkan surat suara. Tak ada himpitan lubang kecil, seperti celengan, tapi hanya sebuah boks besi milik komisi pemilihan umum, yang sudah terbuka bagai kaleng blek. Hanya mengepaskan warna surat suara dengan warna kaleng blek itu, plung!

Melangkah keluar, sang tuan rumah sambil menggendong anaknya, segera menggiringku pulang ke rumahnya. Huff, selesai, memilih. Walau hati mau galau, tak nyaman dengan cara itu. Perasaan yang sama, juga terjadi pada seorang kawanku yang selesai memilih juga dengan nama panggilan orang lain.

Waktu terus berlalu, mata hari semakin menyengat, sang surya menampakkan keperkasaannya. Dua orang kawanku yang tak punya surat pindah memilih, tapi diberikan surat panggilan untuk memilih oleh sang tuan rumah. Salah satu surat panggilan itu, bernama Saraiya. Kami menduga itu nama seorang perempuan. Semula, aku sudah memberi saran untuk tak mengambil kesempatan itu. Entah angin apa yang membawanya ke gelanggang, tempat pemungutan suara.

Sempat ragu, karena di tempat itu ada beberapa keributan soal orang yang tak dapat surat panggilan memilih. Temanku, menyerahkan surat panggilan, dan masuk dalam lingkaran tali menunggu bersama penduduk setempat lainnya, panggilan mendapat surat suara. Gaya dan pakaian sudah disesuaikan dengan penduduk setempat.

Dari loudspeaker keras terdengar :”Saraiya!” Ada panggilan, satu, dua kali, saat panggilan ketiga, kawanku itu berdiri, namun bersamaan dengan itu seorang nenek-nenek ikut berdiri, maju mengambil surat suara. Kawanku akhirnya, hanya berdiri dan membetulkan sarung menghilangkan grogi. Tak lama keributan serupa terjadi. Beberapa orang karena takut gagal memilih

Lalu kawanku yang berusia sekitar 25 tahun itu, pergi pelan-pelan ke luar gelanggang dan pulang ke rumah, tempat kami bermalam, takut kejadian yang lebih seram. Maklum ini kampung orang.. “Masak mau saingan dan rebutan ama nenek-nekek,”katanya kemudian.

Rupanya, “sang nenek” pemilik nama asli Saraiya (baca Saraiye), tak dapat surat panggilan memilih. Ia nekat ke tempat pemungutan suara mengetahui dan mencari haknya, dan mendapatkannya. Sang tuan rumah yang memberi surat pangilan itu kepada temenku, tak menduga nama dalam surat panggilan itu akan datang, mencari haknya yang hilang. (**)

Senin, Maret 23, 2009

Biji Menyembuhkan ‘Biji’


Angka pengidap kanker prostat makin meningkat. Namun pengobatannya juga makin canggih, salah satunya dengan pelet supermini mengandung ion.

Somantri--bukan nama sebenarnya--berjalan bak koboi. Langkah tegap dengan kaki sedikit mengangkang. Dia datang ke rumah sakit dengan gaya seperti menantang. Tapi, bukan maunya begitu. Selangkangannyalah yang bermasalah. Dokter mendiagnosisnya terkena pembengkakan kelenjar sistem reproduksi. Tes prostate specific antigen (PSA)--protein diproduksi kelenjar prostat, yang apabila jumlahnya meningkat merupakan pertanda kanker prostat--pada dirinya menunjukkan angka 4,8. Artinya, dalam kantong buah zakarnya terjangkit kanker ganas. “Semua keluarga, termasuk saya, pasrah dengan keadaan itu,” ujar pensiunan sebuah badan usaha milik negara itu.

Namun itu adalah kondisi tiga tahun lalu. Kini, di usia 60 tahun, dia hidup dengan prostat sehat. Itu semua berkat biji titanium supermini--panjang 4,5 milimeter dan diameter 0,8 milimeter--yang ditanam dalam buah zakar yang menderita kanker. Biji sebesar butiran cokelat meses itu mengandung radioaktif iodium -125. “Saya kini bisa melakukan pekerjaan hobi, tentu saja dengan menjaga makanan dan hidup yang sehat,” ujarnya.

Terapi menggunakan implantasi biji radioaktif inilah yang dianggap paling sederhana, mudah dilakukan, dan diterima baik oleh pasien kanker prostat. Metode ini juga sedang tren diterapkan di Singapura. Apalagi cara memasukkan biji-biji radioaktif pun tidak melalui pembedahan, hanya disuntikkan. Tindakan pemasangannya pun cepat. Hanya dalam satu atau dua jam setelah pemasangan implan, pasien dapat pulang dan langsung berkegiatan seperti biasa. Setiap pasien rata-rata menerima 70-150 biji, tergantung kadar tumor ganasnya.

Biji ini bekerja dengan memancarkan radiasi energi rendah yang mampu membersihkan tumor. Efek sampingnya pun tak terlalu mengerikan, paling-paling hanya hematuria atau kencing darah, yang hilang setelah 24 jam. Sebagian pasien mengalami mual, juga sedikit nyeri pada saat kencing, namun perlahan akan berkurang dan hilang sama sekali.

Biasanya fungsi seksual tidak terpengaruh, atau pengaruhnya tidak berkepanjangan. Pada pasien dengan kadar prostate specific antigen parah, hasilnya memang kurang baik. Namun secara keseluruhan hasil kerja biji ini menggembirakan: dari sekitar 2.000 pasien yang pernah diterapi, kemungkinan hidup sehat antara 51 dan 98 persen. Hasil ini lebih baik dibanding penanganan kanker prostat melalui operasi.
Menurut dokter spesialis urologi dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Profesor Suwandi, terapi dengan implan biji seperti ini sudah dikenal cukup lama. Saat belajar di Belanda dan Inggris pada awal 1980-an, metode ini sudah dikenal. Bahkan di Hasan Sadikin cara ini pernah diterapkan ke seorang pasien tiga tahun lalu, yaitu pada Somantri. “Itu satu-satunya di Indonesia. Orangnya masih segar-bugar hingga kini,” ujarnya.

Perbedaannya, menurut Suwandi, hanya pada caranya. Tentu saja, yang diterapkan di Singapura lebih canggih. “Dulu harus dioperasi kecil, kini cukup disuntikkan ke dalam prostat yang terindikasi kanker,” katanya.

Memang ada beberapa pilihan pengobatan kanker prostat. Namun, menurut Suwandi, pilihan pengobatan bukan ditentukan pasien. “Cara pengobatan, kan bukan menu di rumah makan,” ujarnya berseloroh. Pilihan tindakan dilakukan dokter berdasarkan kondisi penyakit tersebut, terutama bila sudah mencapai tahap yang parah.

Menurut Suwandi, yang juga Ketua Program Studi Urologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, intinya ada empat pilihan utama pengobatan kanker prostat: terapi hormonal, kemoterapi, operasi, dan radiasi atau penyinaran. Menurut dokter yang pekan lalu mengikuti pertemuan urolog dunia di Stockholm, Swedia itu, semua cara penanganan tersebut selalu mengalami perkembangan. Ya, seperti penanaman biji titanium itu. Tiga tahun lalu masih dilakukan dengan pembedahan kecil, tapi kini hanya cukup dengan suntik.

Nah, yang disebut terapi hormonal adalah menyuntikkan estrogen atau steroid antiandrogen (terutama progesteron). Suntikan ini untuk mengurangi efek androgen dalam tubuh, sehingga dapat menghambat perkembangan kelenjar prostat. Sebab, pertumbuhan kelenjar prostat bergantung pada stimulasi androgen. Terapi ini merupakan metode utama untuk kanker prostat stadium lanjut. Namun efek sampingnya relatif banyak.

Dokter di Indonesia lebih banyak menggunakan cara operasi atau radical prostatectomy. Menurut Suwandi, ada dua cara operasi dengan cara membedah atau sayatan lebar; dan laparoskopi yaitu dengan membuat dua atau tiga lubang berdiameter 2-10 milimeter. Dokter menggerakkan alat yang dilengkapi kamera superkecil untuk mencari sel ganas, dan melihat posisi kanker melalui monitor. Sel kanker diambil dalam tubuh pasien lewat lubang kecil tersebut.

Di sini, laparoskopi masih dilakukan secara manual. Sedangkan di Singapore General Hospital, laparoskopi sudah dilakukan dengan bantuan robot da Vinci sejak 2003. Tangan-tangan robot yang dikendalikan dokter bedah memotong jaringan kanker prostat. Dokter mengarahkan tangan robot itu ke obyek sasaran sambil melihat monitor.
Robot da Vinci memungkinkan dokter membedah dengan tingkat ketelitian dan ketepatan tinggi. Biayanya memang tak murah, yaitu Rp 150 juta sekali operasi. Menurut Suwandi, Indonesia belum mampu membeli alat secanggih itu. “Sebelum krisis, alatnya berharga Rp 18 miliar, dan untuk perawatannya bisa Rp 1,5 miliar setahun,” katanya. “Namun, untuk soal teknis, dokter Indonesia jago-jago, belajar sebentar juga sudah bisa.”

Cara lain adalah kemoterapi. Namun metode ini tak banyak dipilih. Sedangkan untuk penyinaran atau radiasi, menurut Suwandi, ada dua cara: radiasi eksternal dan internal, yang juga dikenal dengan istilah brachytherapy.

Adapun prostat merupakan kelenjar kelamin yang memproduksi sperma. Ukurannya sebesar biji walnut--kacang Amerika--terletak di bawah kandung kemih, mengelilingi pangkal saluran kemih yang mengeluarkan air seni dari kandung kemih. Agar dapat berfungsi, kelenjar prostat memerlukan hormon testosteron, hormon yang dihasilkan buah zakar (testis).

Kelenjar prostat dibantu oleh beberapa jenis sel, yang secara normal akan membelah dengan teratur. Jika pembelahan berlebihan, terjadilah pembesaran kelenjar, yang bisa bersifat jinak ataupun ganas. Nah, kanker prostat adalah tumor dari sel dalam prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali. Sel ini dapat menyebar secara metastasis dari prostat ke bagian tubuh lainnya, terutama tulang dan saluran kelenjar limfa (lymph node). Kanker prostat dapat menimbulkan rasa sakit, kesulitan buang air kecil, disfungsi ereksi, dan gejala lainnya.

Kanker prostat juga sering berawal dari tumor ganas di bagian luar prostat. Tumor ini dapat menyebar ke bagian dalam prostat dan ke bagian tubuh lain. Kanker ini biasanya dapat disembuhkan apabila terdeteksi sejak dini, tetapi dapat menyebabkan kematian jika terlambat didiagnosis atau tidak ditangani secara efektif.

Menurut Suwandi, kanker prostat termasuk 10 penyakit terganas pada pria, terutama menyerang lelaki yang berusia di atas 50 tahun. “Dalam daftar penyakit kanker pada laki-laki, kanker prostat termasuk penyakit yang jumlah penyandangnya meningkat paling tinggi,” ujar dokter spesialis urologi lulusan Universitas Groningen, Belanda ini. Dalam catatan Bagian Urologi Rumah Sakit Hasan Sadikin, pada 1985-1995, hanya ada 27 orang pasien. Sedangkan sepanjang 2008, jumlah penderita kanker prostat di rumah sakit tersebut mencapai 100 orang. Sebagian besar penderita kanker prostat adalah pria 70 tahun ke atas. Namun kini kanker ini juga ditemukan pada laki-laki 50-60 tahun.

Ahmad Taufik (dimuat Majalah TEMPO edisi 23-29 Maret 2009)

Rabu, Maret 11, 2009

Balon untuk Melancarkan Sinus

Teknik penyembuhan sinusitis semakin mudah dan aman. Lebih dari seratus orang Indonesia berobat ke Singapura.

**-
Sunarti dan sinusitis sudah seperti “sahabat”. Sekitar setengah dari masa hidup perempuan 44 tahun itu dihabiskan bersama sinusitis. Ia sering kesulitan bernapas. “Hidung rasanya buntu,” katanya. Ketika badan miring ke depan, Sunarti merasakan sakit hebat di sekitar wajah, yang kadang disertai sakit kepala, demam, dan batuk membandel. Mata dan jaringan di sekitarnya terasa membengkak. “Jika pilek, cairan ingus berwarna hijau, kadang merah, seperti bercampur darah.”

Sunarti sudah sering minum obat antibiotik dan berbagai obat lain yang diberikan dokter. Toh, sinusitisnya tak sembuh. Saran dokter untuk fisioterapi dengan cara menghangatkan bagian wajah dan penguapan juga diikutinya. Cara tradisional, gurah--yang ampun, sungguh menyakitkan--memasukkan cairan campuran sirih dan herbal lewat hidung, pun dijalaninya. Namun leganya hanya sebentar. Kini kantong di dekat matanya malah terasa membengkak. Dokter menyarankannya untuk dioperasi segera. Namun Sunarti belum berani.

Bayangan seram selalu menggelayuti pikirannya. Pasalnya, sinus merupakan sebuah rongga yang dibentuk oleh tulang dan dibatasi tulang, dan berada dalam struktur wajah. Nah, sinusitis adalah infeksi atau peradangan di daerah sinus tersebut. Ada lima tempat sinus di bagian muka: pipi, mata, hidung, dahi, dan di belakangnya. Gejala sinusitis tergantung daerah sinus yang terkena. Secara umum, pasien merasakan sakit kepala, muka berat, ingus kental kuning kehijauan, bahkan sampai merah, seperti yang dialami Sunarti.

Penyebab sinusitis umumnya akibat penyumbatan hidung yang berkepanjangan, infeksi virus atau bakteri, dan alergi berkepanjangan. Alergen seperti debu, spora jamur, bulu binatang, dan serbuk sari bunga, jika terhirup, menimbulkan reaksi alergi dan pembengkakan yang dapat berpengaruh pada timbulnya serangan sinusitis. “Merokok atau sering menghirup zat kimia juga bisa menjadi penyebab yang merusakkan bulu-bulu atau lapisan penahan di dalam hidung,” kata dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan (THT) Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Himawan W.H.
Pengobatan sinusitis, menurut dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1973 itu, tergantung penyebabnya. Tiga pekan pertama diberikan antibiotika untuk membunuh bakteri. Namun, bila penyebabnya virus, dan daya tahan tubuh penderita kuat, tak perlu diberi obat karena virus akan mati dengan sendirinya dalam tujuh hari.

Jika semua tahap sudah dilalui, termasuk fisioterapi, tetapi sinusitis bertambah akut--hingga terdapat nanah di kantong sinus itu--langkah berikutnya adalah operasi. Karena cairan tak bisa keluar sendiri, apalagi yang terletak di bawah mata seperti kantong, karena saluran amat kecil dan berada bagian atas mata.

Sebelum 1990, untuk kasus sinusitis berat, operasi dilakukan dengan memotong kulit di bawah bibir, dibuat semacam terowongan ke tempat cairan sinus. “Memang sakit dan penyembuhannya cukup lama. Namun kini saya sudah tak melakukan lagi tindakan seperti itu,” ujarnya.

Sejak 1995, operasi sinusitis dilakukan dengan teknik endoskopi. Operasinya disebut bedah sinus endoskopi fungsional (functional endoscopy sinus surgery). Caranya, alat seperti besi seukuran sejengkal dimasukkan melalui hidung. Dokter melihat dari monitor, saat alat itu masuk memperbaiki sumbatan pada sinus-sinus yang terinfeksi. Spons sebesar jari digunakan untuk membersihkan cairan yang mengendap. Dibutuhkan waktu satu sampai tiga hari untuk pemulihan akibat tindakan tersebut.

Namun, sejak dua tahun lalu, dokter di Rumah Sakit Raffles Singapura menggunakan metode terbaru pengobatan sinusitis. Balloon sinuplasty namanya. Setahun belakangan ini lebih dari seratus pasien asal Indonesia, menurut dokter ahlinya, Stephen Lee Teck Soong, berobat dengan tindakan ini. “Beberapa di antaranya anak-anak,” ujarnya.
Menurut dokter yang mengambil beberapa keahlian yang berkaitan dengan THT di Skotlandia, Kanada, Jepang, Malaysia, dan Singapura ini, metode tersebut baru ada sejak tiga tahun lalu. “Teknik ini memang hebat, tak banyak perdarahan. Pasien bisa segera bernapas setelah tindakan, dan hanya dalam waktu singkat pasien sudah bisa bekerja seperti sediakala,” katanya.

Stephen Lee, yang belajar metode ini di Chicago, Amerika Serikat, menunjukkan cara kerja tindakan itu. Kabel seperti kateter dimasukkan ke tempat sinus yang bermasalah lewat lubang hidung. Ada dua teknik agar kateter bisa sampai ke sasaran, yaitu menggunakan radiologi untuk melihat masuknya kabel tersebut. Teknik lainnya dengan lampu di ujung kateter, yang akan membimbing ke arah sinus.

Lalu balon dimasukkan ke kabel kateter, dan balon akan ditempatkan di daerah saluran yang menyempit. Bila sudah mapan, balon dipompa hingga menggelembung sampai diameter 5-8 milimeter. Saluran yang tersumbat pun terbuka. Ini mirip dengan tindakan dokter bedah jantung membuka saluran darah yang tersumbat.

Nah, saat balon membuka, cairan dalam kantong sinus pun keluar. Dokter kemudian membersihkannya. “Semua tindakan itu hanya membutuhkan waktu satu jam,” kata dokter yang sudah berpengalaman dalam bedah THT sejak 1984 itu.

Dokter Stephen Lee menjamin metode ini aman dan tidak merusak otak serta mata. “Sembilan puluh persen sukses,” ujarnya. Seorang pasien yang tak mau disebutkan namanya, yang sudah menderita sinusitis delapan tahun, sembuh dan puas setelah ballooning. “Memang ada sedikit ingus dan darah. Tetapi saya merasa dapat bernapas lega. Saya merasa mendapatkan udara dalam hidungku. Menakjubkan,” katanya.
Pasien itu pernah dioperasi tiga tahun sebelumnya di Amerika Serikat, tapi sinusitisnya tak mau pergi. “Saat itu memang belum ada teknik balon,” ujar pensiunan insinyur perminyakan perusahaan multinasional tersebut.

Menurut Stephen Lee, di seluruh dunia sekitar 30 ribu orang sudah menggunakan teknik balon untuk pengobatan sinus akut, dan sampai sekarang belum ada keluhan. Bahayanya, sinusitis jika tak segera diobati bisa merembet menjadi penyakit lain seperti darah tinggi, jantung, dan stroke.

Sayangnya, bedah balloon sinuplasty ini tidak murah. Tindakan seperti itu secara keseluruhan memakan biaya minimal S$ 9.000, jika dalam kurs rupiah sekitar Rp 70 juta. Harga balonnya saja Rp 20 juta. Bandingkan dengan bedah FESS di Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, yang biayanya Rp 4,5 juta sampai Rp 10 juta untuk pasien kelas tiga. Sinusitis di Amerika Serikat termasuk 10 besar penyakit termahal. Dua tahun lalu saja, biaya pengobatan untuk sinusitis US$ 3,5 miliar, lebih dari separuhnya untuk penderita sinusitis anak-anak di bawah usia 12 tahun.

Sunarti, yang suaminya hanya karyawan kelas menengah, tentu akan berpikir dua kali untuk mengobati sinusitisnya ke Singapura. “Tapi, kalau saya punya duit, kenapa gak berobat ke sana?” ujarnya. Ia berharap pengobatan dengan teknik balon ini segera mampir ke Indonesia, tentu dengan harga sesuai dengan kantong masyarakat Indonesia.

Ahmad Taufik (Singapura)

Infografik:

Gambar struktur wajah dengan daerah-daerah sinus:

Sinus frontalis yang terletak di dahi
Sinus maksilaris terletak di dalam tulang pipi
Sinus etmoid terletak di belakang batang hidung di sudut mata
Sinus sfenoid terletak di belakang sinus etmoid.

Alat untuk memasukkan kateter (kabel)--lihat gambar yang sudah ada, plus balonnya.

Alat itu masuk melalui hidung ke tempat sinusitis.

Dengan melihat dari monitor, dokter memutar-mutar alat itu, sehingga balon yang sudah terletak pada saluran daerah sinus menuju hidung yang menyepit. Dengan alat seperti pompa, balon mengembang.
Cairan yang memenuhi kantong sinus keluar lewat lubang tersebut.
***-/**

Surga Pengasingan Oom Rir

Pulau Banda Neira tempat Sjahrir dan Bung Hatta diasingkan Belanda. Namun, Sjahrir menikmatinya, bermain dan mengajari anak-anak setempat.

Rumah di Kampung Nusantara tampak teronggok sepi. Tak seperti rumah yang pernah di tempati Bung Hatta yang kerap dikunjungi pejabat, apalagi salah seorang anaknya kini menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta. Tempat tinggal Sjahrir saat di Pulau Banda Neira tak banyak yang melirik. Walaupun begitu bentuk dan arsitektur asli bagunan tetap dipertahankan. Jendela-jendela berukuran besar, tiang-tiang penyangga berbentuk bulat serta langit-langit yang tinggi memberikan kesan rumah milik kakek Des Alwi dari keturunan ibu, Sayyid Abdullah Baadilla, yang disewa untuk Sjahrir menjadi saksi sejarah.

Di rumah itu sejumlah benda peninggalan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia masih terawat ; mesin ketik, lukisan, foto-foto, catatan-catatan serta gramofon pemutar piringan hitam. Ada pula surat asli pengangkatan Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri oleh Presiden Soekarno. Sesepuh Banda Neira, Des Alwi mengaku
bersama-sama masyarakat setempat membutuhkan waktu bertahun-tahun mengumpulkan kembali benda-benda pusaka tokoh itu. Bahkan ada yang didapat dari Belanda. "Mereka (Sjahrir dan Hatta) adalah pejuang besar bangsa ini yang perlu dikenang sepanjang masa, selain itu mereka juga ayah angkat saya,"kata Des yang punya nama lengkap Des
Alwi Abubakar.

Des, 82, masih ingat pertemuan pertama kali dengan Sjahrir dan Hatta. Waktu itu sore pada 11 Februari 1936, saat Des berenang bersama kawan-kawannya di dekat dermaga Pulau Banda Neira--sering disebut Neira saja—sebuah kapal warna putih tertulis nama di lambungnya Fomal Haut merapat menghampiri dermaga kayu. Dua orang
tuan mengenakan setelan jas putih dan berdasi turun. Wajah mereka pucat, tampak pula bersama mereka delapan koper besar dari kayu dan empat tas besar kulit. “Walau masih kecil saya mengetahui, pasti kedua tuan itu dari Boven Digul di Papua. Berdasarkan pengalaman mengamati setiap kali kapal putih merapat di dermaga setiap orang yang datang dari berwajah begitu. Mungkin disana kurang makan atau kena malaria,”kenangnya.

Seorang memakai kaca mata, dari koper hijau yang dibawanya tertulis nama Drs. Mohammad Hatta. Sedangkan seorang lagi lebih muda dan kurus tersenyum. “Menghampiri saya, seraya bertanya dalam Bahasa Belanda, kamu anak sini?” Pertanyaan berikutnya, “kamu tahu di mana rumah dokter Tjipto Mangunkusumo?" Keramahan itu bukan basa-basi, Sjahrir selama di Neira menghabiskan waktu bermain,, mengajar dan bercandaria dengan anak-anak setempat.

Malam pertama di Neira Sjahrir, 25 dan Hatta, 35, menginap di rumah Mr. Iwa Kusuma Sumantri yang tak jauh dari dermaga. Esoknya, pindah ke rumah dokter Tjipto Mangunkusumo. Seminggu kemudian Hatta dan Sjahrir tinggal serumah. Menyewa dari de Vries, orang Belanda kaya pemilik perkebunan yang tinggal di Batavia. Harga sewa hanya 10 gulden, cukup murah, saat itu tahanan politik mendapat uang tunjangan untuk menyewa rumah tinggal, 75 gulden, tiap bulan, bagi yang belum kawin. Masih ada kelebihan.

Rumah yang berbatasan dengan penjara itu berhalaman cukup luas, tumbuh berjenis-jenis pohon buah ; mangga golek, sawo, dan jambu. Des ikut tinggal di rumah mereka pada akhir 1936 saat masuk sekolah dasar Eropa. Karena rumah itu hanya berjarak satu 100 meter dengan sekolah. “Saya menempati sebuah ruangan yang besar dan agak takut tidur di kamar itu. Namun Oom Rir—panggilan Des pada Sjahrir--
mengajarkan untuk tidak takut pada hantu, Katanya, hantu itu tidak ada,”ujar Des. Bukan hanya boleh tinggal, Sjahrir bangun pagi-pagi untuk menyiapkan bubur sarapan bagi Des.

Walaupun sama-sama orang buangan, tahanan politik penjajah Belanda, ternyata keduanya tak selalu cocok, Hatta lebih senang kesunyian, sedangkan Sjahrir senang mendengarkan musik klasik Beethoven, Mozart, dan Hayden melalui gramafon putar--akhirnya mereka berpisah rumah beberapa bulan kemudian. Des yang pernah ikut tinggal di rumah itu masih ingat, suatu hari Hatta menyuruhnya memindahkan alat putar piringan hitam itu agak jauh, karena merasa terganggu konsentrasinya. Sjahrir, menurut Hatta, ke-Barat-barat-an. Karena memindahkan gramofon Des ditegur Sjahrir, “kenapa dipindahkan?”
Des melaporkan Hatta yang menyuruh, bahkan menyebut Sjahrir westernized. “Saya ke-Barat-an ? Itu Hatta, dia mimpi saja dalam bahasa Belanda. Saya tahu,”katanya seraya mengomel.

Sejak tinggal bersama kedua tokoh politik Indonesia Des tak lagi menyelam untuk memburu uang logam. Sjahrir juga pernah menyatakan tidak suka anak angkatnya itu menyelam untuk memburu koin. "Kamu bukan pengemis!" katanya. Sjahrir sangat menyukai anak-anak. Menurut Willard A. Hanna dalam Kepulauan Banda, ada perbedaan yang nyata antara Sjahrir dan Hatta dalam berhubungan dengan anak-anak. “Sjahrir-lah yang mendekati anak-anak, sedangkan anak-anak berusaha mendekati Hatta.”

Setiap hari Minggu pagi sekitar setengah enam, Sjahrir sudah bercengkerama dengan anak-anak di laut sambil berlayar. Bahkan anak-anaklah yang mengajarkan kedua tokoh itu berenang. Pernah suatu waktu anak-anak mengerjai mereka. Kedua orang itu disuruh berpegangan perahu kole-kole, lalu ditarik ke tengah. Sjahrir dan Hatta gelagapan karena belum pandai berenang, sehingga hampir tenggelam, barulah diseret ke pinggir.

Biarpun begitu Sjahrir terkesan, dalam Renungan dan Perjuangan Sjahrir menulis: "Tiga jam lamanya kami berlayar cepat sekali karena angin cukup kencang. Kami berlayar di atas taman-taman laut, dan melihat matahari terbit sangat indahnya; kemudian kami kembali lagi ke pantai dan sehari-harian bermain-main dan juga bersantap siang di situ."

Sjahrir memuji keindahan pantai pulau seukuran dua kali tiga kilometer itu. Pantai Banda Naira, ditumbuhi pohon-pohon rindang yang besar dekat tepi laut. "Jadi di sini tidak perlu kursi-kursi pantai untuk melindungi diri terhadap matahari. Aku mandi dengan anak-anak di laut, kami berlayar, berenang-renang dan berdayung; empat jam terus-menerus kami berada di dalam air," tulisnya. Tak aneh jika kulit Sjahrir agak hitam terbakar matahari.

Banda Neira hanyalah salah satu pulau dalam Kepulauan Banda berukuran 40 mil persegi saat air pasang, yang terdiri dari enam pulau kecil, Saking kecilnya, di peta skala biasa hanya tampak seperti titik titik. Selain Neira, Lonthor atau Banda Besar, Run, Ai Rozengain, Pisang (Syahrir) dan Gunung Api, kepulauan dulunya penghasil pala dan fuli.

Sebagai tahanan politik Sjahrir, menurut Des punya pola hidup sehat, tidur tujuh jam setiap hari, pagi berjalan kaki hingga jauh, dan senam di kamar secara teratur. Sjahrir memuji kemolekan Banda. "Lautnya biru, bening, dan tenang. Saat cuaca baik, permukaan laut rata laksana cermin," tulisnya dalam surat kepada istrinya, 21 Mei
1936. Saking tenangnya, perairan antara pulau Banda Besar, Banda Neira, dan Gunung Api, menurut Sjahrir lebih mirip danau ketimbang laut. "Sangat cocok untuk berenang atau mengayuh sampan.”

Tak hanya hidup santai Sjahrir dan Hatta secara informal mengajarkan anak-anak Banda, mulai dari Bahasa Belanda, Inggris, Perancis dan Tatabuku. “Mereka ingin kami anak-anak Banda bisa melihat dunia lain yang lebih luas,”kenang Des. Sjahrir dan Hatta juga masih kerap berkirim surat kepada keluarga, kerabat dan kawan-kawan di luar Banda, bahkan sampai ke manca Negara. Keduanya juga menulis artikel untuk surat kabar berbahasa Indonesia dan Belanda.

Pandai bergaulnya Sjahrir menggugah seorang pemilik toko Cina, memberinya sebuah radio gelombang pendek untuk mendengarkan berita dari Eropa dan Amerika Serikat. Namun, informasi tentang keadaan dunia tak ditelan sendiri, setiap hari Sjahrir memberikan komentarkepada warga masyarakat mengenai situasi terkini. Saat itu Jepang sedang menyerang Pearl Harbour, Filipina dan Malaya.

Ketika Ambon diserbu tentara Jepang, sebuah pesawat terbang kecil Air Catalina milik Amerika Serikat mendarat di Banda. Sjahri dan Hatta hanya diberi waktu 15 menit untuk cabut dari surga itu. Dini hari 31 Januari 1942, disertai tiga orang anak keluarga Baadila ; Mimi, Lili dan Ali bergegas masuk dalam pesawat yang membawa mereka terbang ke Surabaya, Jawa Timur. Sehari kemudian langsung dikirim dengan kereta api ke Batavia dan diasingkan dengan penjagaan ketat di kompleks polisi Sukabumi, Jawa Barat.

Enam tahun dalam buangan di Banda, dalam Out of Exile, Sjahrir menyatakan; "tidak seperti dipenjara." Tak heran jika beberapa tokoh kolonial garis keras Belanda mengecam pemerintah, karena memindahkan “penjahat-penjahat licik” dari Digul ke Banda Neira, tempat berlibur orang-orang kulit putih yang ingin meraup rasa damai dan ketenangan. Memang jika terus berbuat sesuatu, waktu dan tempat tak bisa
membunuh kita. (***)

Sabtu, Februari 28, 2009

Futuristik Beraksen Lokal


Beberapa daerah membangun dan membenahi bandar udaranya. Tidak terjebak pada gaya lokal dan tradisional, melainkan fituristik, modern, dan fungsional.

**-
WAHAI warga Jakarta, bersiaplah iri bila berkunjung ke Makassar. Jangan kaget bila Bandar Udara Soekarno-Hatta tampak kusam dan ketinggalan zaman bila dibandingkan dengan Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. “Ini di Makassar atau Beijing, ya?” demikian seorang pejabat dari Jakarta mengungkapkan kekagumannya. Kesumpekan lapangan terbang Cengkareng seolah lepas ketika memasuki terminal kedatangan penumpang ibu kota Sulawesi Selatan itu. Pejabat itu tak percaya. Dia merasa bukan berada di negeri sendiri.

Terminal bandara itu bergaya modern futuristik. Tiang-tiang baja putih, dinding kaca biru, dan atap lengkung laksana ombak dengan sebelas lekukan, menjadi perhatian utama penumpang yang baru turun dari pesawat. Putih biru menjadi warna dominan pada desain luar ataupun interior ruang.

Dinding kaca biru setinggi 12 meter membuat pandangan penumpang di ruang tunggu keberangkatan begitu lepas. Mereka bisa menikmati warna langit atau melihat pesawat yang berjejer di landasan pacu. Kaca biru itu tak sekadar memberi kesan modern, tapi juga fungsional: menjadi penerangan alami ketika siang, sekaligus menghemat listrik.
Lengkungan (arch) berulang pada atap terminal berstruktur metal diekspos dalam plafon. Atap melengkung mirip ombak secara filosofis diartikan sebagai semangat dasar masyarakat Bugis-Makassar yang menggelora. Atap yang tinggi itu juga membuat udara bebas bergerak, sekaligus memberikan kesan luas. Bila udara terlalu panas dan lembap, orang tidak merasa sesak dan terperangkap. “Kami memilih bentuk atap dengan bentangan lebar karena paling cocok untuk iklim tropis Indonesia,” kata kepala tim arsitek bandara internasional itu, Panogu Silaban, dari biro arsitek Atelier 6.

Adalah Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla yang memutuskan memilih desain yang disodorkan biro arsitek Atelier 6 dari beberapa peserta sayembara desain Bandara Hasanuddin. Atelier, yang berarti ruang dalam bahasa Prancis, mengajukan ide arsitektur modern, bukan yang beridentitas lokal seperti banyak diterapkan pada bandara lain di Indonesia. “Fungsionalisme dan proses (alur aktivitas) itu yang paling utama,” kata Nurrochman Sidharta, principal Atelier 6 sekaligus konseptor bandara tersebut.

Menurut Sidharta, jangan karena mengutamakan estetika identitas lokal, fungsi bandara jadi tak tercapai. Itu sebabnya, desain bergaya Tana Toraja yang ditawarkan tim lain tak terpilih. Namun, agar masih terasa di negeri sendiri, Panogu dan kawan-kawan menambahkan identitas lokal berupa motif kain sulam mandar warna kuning, oranye, merah bata, dan cokelat pada langit-langit terminal. Sang arsitek juga membangun bentukan anjungan (kepala kapal) Phinisi dalam bentuk struktur metal di pintu masuk terminal penumpang.

Tak sekadar bentuk yang futuristik seperti airport di mancanegara, bandara seluas 52 ribu meter persegi yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 26 September tahun lalu itu juga memperhitungkan keleluasaan dan keamanan naik-turunnya pesawat. Landasan pacu diubah, yang mulanya menghadap gunung kini ke arah sebaliknya. “Untuk memudahkan lepas landas dan mengurangi risiko kecelakaan,” kata manager proyek pengembangan Bandar Udara Sultan Hasanuddin, Syamsul Alam, kepada koresponden Tempo di Makassar, Irmawati.

Sarana penunjang bandara bernilai Rp 580 miliar itu lumayan lengkap. Ada lift untuk orang cacat, eskalator, conveyor, travelator, ruang tunggu bandara dengan sekat kaca, serta kamar mandi setiap 20 meter. Saat ini jumlah penumpang 4,6 juta per tahun atau 12 ribu orang sehari. Pada masa mendatang, setelah kawasan Indonesia timur lebih berkembang, bandara ini diharapkan mengelola 7 juta penumpang setahun atau rata-rata 20 ribu orang per hari. “Jadi, jumlah kamar mandi dan toilet tidak boleh disepelekan, karena ini untuk menampung kebutuhan penumpang,” kata Bambang Eryudhawan, Wakil Ketua Ikatan Arsitek Indonesia.

Bandara ini juga memiliki terowongan bawah tanah untuk menyeberang jalan ke lapangan parkir. Ada dua alternatif angkutan yang bisa digunakan selain kendaraan pribadi, yaitu taksi dengan pembayaran berdasarkan zona, dan bus bandara yang hanya mengantar hingga gerbang utama bandara atau poros tol. Menurut arsitek senior Atelier 6, Fauzi Maskan, ada rencana membangun transportasi massal seperti kereta api untuk menghubungkan bandara dan Kota Makassar, yang berjarak 22 kilometer. “Terjangkau angkutan publik sangat penting bagi sebuah bandara,” ujarnya.

Atelier 6 juga memikirkan pengembangan bandara ini. Salah satunya dengan membangun berdasarkan modul berbentuk V. Bila bandara dirasakan sudah padat dan membutuhkan terminal baru, bangunan bisa diperpanjang ke kanan atau ke kiri berdasarkan modul tersebut.

Menurut Syamsul, tahap kedua pengembangan bandara ini dibangun dengan biaya Rp 700 miliar dari anggaran negara. Lengkap dengan patung pahlawan nasional Sultan Hasanuddin. “Nantinya pesawat jenis B747 yang berkapasitas 450 orang bisa mendarat,” kata Manajer Operasional PT Angkasa Pura I Cabang Bandara Hasanuddin, Suharsoyo.

Namun bandara ini masih memiliki kelemahan. Tempo melihat hasil kerja kontraktor tak rapi. Misalnya pemasangan marmer, yang masih menyisakan perekat pada marmer yang pecah. Profil struktur atap bagian eksterior tertutup. Akustik gedung juga buruk sehingga suara pengumuman tak jelas dan bergema. Menurut arsitek in charge Fauzi, itu terjadi karena tak ada perlakuan atau finishing khusus untuk meredam bunyi. “Banyaknya kontraktor lokal mengganggu koordinasi, dan budget terbatas juga menurunkan kualitas,” katanya.

Sebelum Makassar, Palembang sebenarnya sudah terlebih dahulu membenahi bandaranya. Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II sudah dapat didarati pesawat berbadan besar sejak 2005. Lapangan terbang itu dibangun dari biaya Japan Bank International Cooperation dan dana pendamping anggaran negara, yang total mencapai Rp 604 miliar.
Unsur kaca juga mendominasi ruang tunggu penumpang, sehingga bisa terlihat lalu-lalang pesawat. “Pemandangan transparan ke landas pacu menimbulkan perasaan lapangan udara yang luas kepada penumpang,” kata General Manager Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Yon Sugiono, kepada Arif Ardiansyah dari Tempo.

Secara umum konsep arsitektur bandara ini merupakan perpaduan antara modern dan tradisional. Untuk memberikan kekhasan lokal, pengumuman di bandara menggunakan tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan bahasa wong kito Plembang. Namun sifat simpel dan fungsional bangunan lebih menonjol. Seluruh areal bandara lengkap hotspot wifi, untuk memanjakan peselancar dunia maya.

Menurut Yon, yang lebih penting dari bentuk bangunan adalah pelayanan yang cepat, aman, dan nyaman. “Di sini banyak penumpang yang merasakan kemudahan dalam pelayanan di bandara,” ujarnya.

Iwan, warga Kalidoni, membenarkan klaim Yon. “Orang tua saya baru pertama kali naik pesawat tapi saya tidak khawatir, paling tidak sampai boarding saya bisa memantau dari luar kaca,” katanya. Bandara ini pun mendapat penghargaan dari Dinas Perhubungan sebagai bandara dengan pelayanan terbaik, tiga tahun berturut-turut.

Ahmad Taufik, Amandra Mustika Megarani

Impor Rahmat VS Impor Radikalisme

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton saat berceramah di depan media massa dalam kunjungannya ke Indonesia pekan lalu menyatakan Indonesia sebagai surga bagi berkembangnya kebhinekaan dan demokrasi. "Indonesia, sebuah negara yang menunjukkan dengan jelas Islam, modernitas dan demokrasi tak hanya bisa hidup bersamaan, tetapi juga tumbuh bersama,"katanya.

Terlepas dari agenda di balik pernyataan itu atau sekadar diplomasi, ucapan itu bukan sekadar omong kosong. Islam berkembang biak seiring dengan pergerakan Indonesia sampai menuju gerbang kemerdekaan. Menilik sejarah masuknya Islam di Indonesia, justru berkembangan karena masuk secara damai melalui perdagangan, perkawinan dan akhlak dalam kehidupan sosial mereka, bukan dengan jalan kekerasan, pedang. Sejarah juga membuktikan "kejayaan" Islam yang dikembangkan dengan "pedang" jalan kekerasan di Eropa malah kini tak bertahan lama.

Masuknya paham radikalisme agama (Islam) pernah terasa saat tentara paderi (tahun 1836) pimpinan Tuanku Tambusai melakukan gerakan purifikasi pelaksanaan ajaran Islam mulai dari Tambusai, Barumun, Padang Lawas sampai ke Mandailing di Sumatera. Gerakan beraliran Wahabi (karena para tokohnya menjadi penganut aliran garis keras setelah berkunjung dan belajar di Saudi Arabia) itu beraksi dengan tangan besi, menyerang kampung-kampung dengan membakar, membunuhi, memperkosa , merampas harta dan emnjadikan perempuan sebagai budak belian. Namun, aliran seperti itu tak mendapat tempat di hati warga nusantara yang cinta damai dan hidup gotong royong.

Fundamentalisme = Zionisme

Fundamentalisme seharusnya bermakna positif, begitu juga radikalisme. Secara kata fundamentalisme berarti ajaran kembali ke ajaran dasar (basic/fundamen) begitu juga radikalisme ajaran yang kembali ke akar (radix). Namun, kata itu menjadi makna negatif karena para pelaku yang puritan atau konservatif mengaku melakukan gerakan kembali ke dasar atau ke akar. Padahal yang mereka lakukan adalah tindakan primitif dengan jalan kekerasan dengan semangat yang diskriminatif (atas nama agama, suku/ashobiyah bahkan Tuhan).

Fundamentalisme dulu awalnya lebih banyak dipengaruhi karena tekanan penguasa (pemerintah) terhadap para penganutnya. Namun, belakangan Fundamentalis lebih banyak dipengaruhi dari ajaran Kaum Wahabi yang dibawa oleh para pelajar atau santri-santri yang belajar di Timur Tengah, khususnya di Saudi Arabia. Di negeri Arab itu perbedaan dan demokrasi diharamkan, untuk mencegah timbulnya pemberontakan, mereka "mengekspor" paham Wahabi ke negeri lain.

Di Saudi Arabia para ulama berkumpul di Dewan Ha'iah KibarAl-Ulama dan al-Lajnah al-Daimah li'l-Buhuts al-'Ilmiyyah wa'l ifta'(The Permanent Council for Scientific Research and Legal Opinions). Lajnah ini dipimpin oleh Ulama Wahabi pro Pemerintah Kerajaan Saud, 'Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (1911-1999), sampai meninggalnya ia adalah mufti agung Kerajaan Saudi Arabia.

Saudi Arabia mendidik banyak orang asing, diantaranya dari Indonesia. Namun selain itu mereka juga mendanai organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan "Islam" pro Wahabi di Indonesia. Untuk urusan santri atau pelajar mereka masuk lewat pesantren, pendidikan bahasan Arab milik Kerajaan Saudi (yang sekarang di Pejaten—seberang Republika). Dana mereka masuk lewat lembaga-lembaga, yayasan-yayasan bahkan partai politik, ada juga lewat individu-individu yang datang langsung ke Indonesia, tinggal bersama masyarakat, sumbang sana sumbang sini, atau lewat lulusan-lulusan Saudi Arabia, diantaranya kini ada dalam kabinet yang sekarang. Fundamentalisme kini bahkan berkembang juga memainkan agama untuk kepentingan politik, demi untuk mengoyang kekuasan tertentu, atau memperoleh keuntungan materi.

Kelompok ini lebih patut dikatakan sebagai Islam politik. Karena mereka bermain di wilayah politik di manapun berada untuk merusak kehidupan yang harmonis suatu masyarakat/negara. Islam politik ini mempunyai jaringan yang cukup kuat dengan mata rantai di beberapa negara Islam di dunia seperti Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Afghanistan, Kuwait, Uni Arab Emirat, Yaman, Oman, Qatar, Bahrain, Saudi Arabia, Mesir, Syria, Jordania, Lebanon, Palestina, Turki, Aljazair, Sudan, Maroko, Tunisia, Kyrgistan, Uzbekistan, Chechnya, Somalia, Lybia, dan juga sudah menyebar di negara-negara Eropa, Amerika dan juga Australia.

Pengalaman di Pakistan, Afghanistan, Irak dan juga Indonesia, Islam garis keras justru merusak ketahanan sebuah bangsa. Sehingga akhirnya, karena lemah dan sering terjadi keresahan sosial, pihak asing mudah masuk di dalamnya. Saya yakin, biang keladi semua itu berasal dari Zionisme.

Zionisme, bukan hanya berasal Israel, tapi bisa dalam berupa-rupa wajah. Intinya adalah penjajahan (imprealisme) dalam segala bidang, mulai dari moral sampai keuntungan material. Zionisme Islam, berpusat di Saudi Arabia, melihat tindak tanduknya mengimpor keresahan lewat wahabisme ke berbagai negara, melemahkan negara yang berhasil disusupinya. Saudi Arabia dalam kasus serangan Israel ke Gaza atau Lebanon misalnya, tak pernah mengecam negara itu. Karena segala perlindungan kerajaan Saudi Arabia berada di tangan Zionis (Israel dan Amerika Serikat).

Zionisme Kristen, pernah ditunjukkan saat George Bush berkuasa di Amerika Serikat. Tangannya di Indonesia kini ada dalam radikalisme kelompok kristen yang semangat merusak kehidupan yang harmonis. Ada beberapa pengusaha dan pejabat Indonesia yang menjadi "agen" dari zionisme kristen ala "George Bush" itu. Zionisme Yahudi ada dalam pemerintah Israel yang ekspansif kini. Tak semua orang Yahudi zionis, karena di Israel sendiri ada orang-orang Yahudi yang baik, yang memahami sejarah, bahwa orang-orang tua mereka pernah bisa hidup berdampingan pada saat zaman Nabi Muhammad SAW. Mereka pernah merasakan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

Waspada Wahabi

Kelompok Wahabi berusaha merasuk dalam kehidupan masyarakat dalam wajah "kesalehan". Namun, dalam prakteknya dia merusak kehidupan yang harmonis. Kelompok ini menganggap mazhab lain sebagai sesat dan menyesatkan. Mereka dengan berpatokan pada hadis:"Kullu bid'ah dhalaalah wa kullu dhalaalah fî n-naar".(semua inovasi itu sesat dan semua yang sesat itu masuk neraka).

Kata "bid'ah" yang mereka tuduhkan hanyalah kata pelembut, untuk `kafir', Contoh2 yg diklasifikasikan sebagai bid'ah menurut paham Wahabi :-berziarah ke kubur termasuk kubur Nabi, tawassul, baca qunut, talqin, tahlil, istighatsah, berzikir berjamaah,membaca maulid diba' ataupun burdah yang berupa puji-pujian pada Nabi yang biasa dilakukan kaum MusliminMenurut mereka (kaum Wahabi) pelaku-pelaku seperti itu akan masuk neraka, alias kafir.

Dari sinilah akhirnya kaum Wahabi yang mengaku sebagai pengikut Salafy ini layak diberi gelar "Kelompok Takfir" (jama'ah takfiriyah), kelompok yang suka mengkafirkan golongan lain yang tidak sepakat dengan ajarannya. Oleh karena itu, tempat-tempat bersejarah Islam seperti rumah tempat lahir Nabi, rumah Ummul Mu'minin Khadijah tempat tinggal Nabi dan banyak tempat-tempat bersejarah lain yang masuk wilayah kerajaan Arab Saudi kini telah dihancurkan. Kalau tidak mendapat protes dari segenap kaum Muslimin sedunia niscaya kuburan Nabi pun sudah diratakan dengan tanah, sebagaimana yang terjadi di makam para sahabat dan syuhada' Uhud di Baqi' Madinah dan para keluarga Rasul di Ma'la , Makkah.

Wahabi kemudian dikenal sebagai gerakan anti-ilmu pengetahuan dan menjadi salah satu sumber keterbelakangan umat Islam. Mereka menolak apapun yang baru, seperti teknologi dan jaringan informasi. Dengan tegas mereka menolak demokrasi. Mereka mengurung perempuan di dalam rumah, menganggap pembantu rumah tangga (tenaga kerja wanita) sebagai budak, sehingga bisa diperlakukan semena-mena. Mereka mengharamkan nyanyian, membenci kesenian, keculai tari perut di ruang-ruang tertutup mereka. Memanjangkan jenggot bagi laki-laki dewasa adalah kewajiban. Buku-buku tasawwuf dan filsafat yang merupakan salah satu kekayaan Islam adalah barang-barang haram. Praktik kehidupan sosial seperti ini tampak nyata dalam kehidupan masyarakat Afganistan di bawah kekuasaan Taliban yang berideologi Wahabi.

Dengan keuntungan minyak yang seolah tak ada habisnya, penguasa Arab Saudi kemudian mengekspor ideologi Wahabi ke seluruh dunia, tidak hanya ke negara-negara Islam, melainkan juga ke Eropa dan Amerika. Menurut Hamid Alghar, dalam buku Wahhabism: A Critical Essay, kelompok ini berhasil meraih pengikut sekitar 10 persen dari keseluruhan umat Islam di seluruh dunia. Anak-anak muda yang menyediakan diri menjadi martir dalam kegiatan bom bunuh diri di Eropa dan Amerika Serikat beberapa tahun ini adalah generasi yang benar-benar terdidik secara "barat." Ideologi yang diekspor oleh penguasa Saud-Wahabi telah menggerakkan anak-anak muda Islam didikan "barat" untuk melakukan aksi terorisme.

Keluarga Saud dan Wahab yang sekarang menguasai otoritas politik dan agama di Arab Saudi sesungguhnya bukanlah keluarga yang cukup saleh, bahkan boleh dibilang bejat secara moral. Stephen Sulaiman Schwartz, The Two Faces of Islam: The House of Sa'ud from Tradition to Terror, menyebut keluarga al-Saud sangat gemar menghambur-hamburkan uang untuk berjudi dan bermain perempuan. Dengan kelakuan semacam itu, pangeran Saudi saat ini mencapai 4.000 orang. Artinya, seorang raja yang memiliki ratusan isteri dan selir bukanlah dongeng di Arab Saudi.

Schwartz menyebut dukungan terhadap Wahabi yang dilakukan oleh penguasa Arab Saudi saat ini adalah bentuk pengelabuan atas praktik tak bermoral yang mereka lakukan. Ideologi yang disebarkan oleh keluarga mantan bandit inilah yang kemudian dianut, atau setidaknya mempengaruhi, kelompok Islam Indonesia yang belakangan ini begitu gemar mengkafirkan dan mengeluarkan fatwa sesat terhadap mereka yang berbeda pendapat. Pengetahuannya terhadap Islam dan sejarahnya begitu dangkal, mereka bahkan adalah orang-orang yang sebetulnya tidak religius. Karena kekerasan tidak akan muncul dari religiositas. Rasa rendah diri yang membuat kelompok brutal.

Nah, tentunya kita tak mau Nusantara ini hancur lebur karena paham-paham tersebut, yang sesungguhnya punya agenda tersembunyi dari "tangan imprealisme jahat". Gerakan "pemaksaan syariat", penyeragaman "pemahaman" dan satu kepemimpinan dunia, merupakan tangan-tangan kotor yang berusaha memecah belah, mengganggu kehidupan harmonis, dan menciptakan keresahan sosial. Sehingga upaya yang tengah dibangun bangsa ini untuk bangkit menjadi terhambat. Kita tak boleh menyerah.

Walaupun kelompok zionisme berwajah wahabi di Indonesia kini seringkali bersatu dengan Islam politik yang merusak tatanan kehidupan bangsa. Memperkuat rasa solidaritas, toleransi, tolong menolong adalah cara efektif melawan mereka, dibandingkan cara-cara kekerasan seperti yang mereka lakukan terhadap bangsa ini. Kini semua tergantung kita rakyat Indonesia memilih menerima impor rahmatan lil alamin atau impor limbah radikalisme agama. Tak semua barang impor buruk, tetapi tentu kita pilih-pilih impor yang berguna dan bermanfaat bagi negeri ini. Kalau ada yang lebih baik buatan dalam negeri, itu dulu yang didaya gunakan.

Samarinda, 22 Februari 2009

Ahmad Taufik
Ketua Garda Kemerdekaan

makalah untuk diskusi yang di selenggarakan PMII Kalimantan Timur di Gedung Gubernur Kal-Tim di Samarinda, penulis mewakili Yayasan Az-Zahra-Balikpapan

Sumber bacaan : Rendah Diri Kaum Wahabi, Tuanku Rao (MOP), Greget Tuanku Rao (Basyral Hamidy Harahap).

Sabtu, Januari 03, 2009

Yang Punya Nyetop



Sabtu ini aku benar-benar menikmati liburan. Kerjaan kejar setoran sudah dituntaskan sebelum tahun baru. Setelah santai seharian di rumah kawan di Bogor, saatnya pulang ke rumah di Parung Bingung.

Naik kereta api tut…tut..tentu nikmat. Ada dua kereta ekonomi menuju Jakarta. Pertama ku naik kosong, ada tempat duduk. Tapi kok di seberang ada kereta listrik lain. “Yang ini kereta kemana pak?” kataku.
“Ke Kota,”jawab seorang bapak-bapak yang berada di sebelahku.
“Klo yang di seberang itu?”
“O, itu ke Manggarai.”
“Mana yang duluan jalan?”
“Yang itu,”tukas bapak itu.
“Terima kasih, pak.” Langsung aku melompat menuju kereta yang berada di seberang. Memang lebih penuh. Aku gak ada urusan antara Manggarai dan Kota, tujuanku ke Stasiun Depok, hanya empat stasiun di lewati. Tas ransel langsung ku tempatkan di tempat barang di atas bangku penumpang. Aku lalu mengambil posisi di depan pintu. Tempat yang enak untukmendapatkan angin semilir.

Di depanku ada seorang bapak-bapak, baunya agak apek, dari penampilannya mungkin gelandangan. Di kantong belakang celananya berbagai macam barang, beberapa bungkus bekas rokok dan sebatang bamboo. Tanpa alas kaki, baju lusuh dan wajah agak kotor. Tak apalah sesekali menikmati bersama semilirnya angin.

Kereta berjalan kencang, berbeda saat sehari sebelumnya saat mnuju Bogor aku naik dan duduk di depan pintu, keretanya tak begitu laju. Kencangnya kereta, membuat bau apek itu tak tercium, saat berhenti di stasiun bau itu kembali semerbak. Akhirnya bapak itu turun di Bojong Gede untung uma dua stasiun.

Lepas stasiun Citayam, kereta mengerem dan berhenti. Aku heran stasiun Depok Lama masih jauh dan di daerah itu tak ada lampu sinyal. Untuk mempertegas aku menjulur menengok ke depan. Ternyata, seorang bapak-bapak demuk berjaket, di dalamnya tampak seragam Departemen Perhubungan, mungkin pegawai PT.KAI tak jelas. Orang itu langsung naik kereta, dan kereta kembali berjalan. Ibu-ibu yang berada di rumah di sisi rel, tak jauh dari Gg. Damai, Pondok Terong, Pancoran Mas, Depok, tampak tersenyum. Seorang penumpang dari dalam kereta berteriak,”yang punya kereta nyetop ni…ha…ha..”katanya menyindir petugas itu. Tentu saja tak terdengar sama petugas itu, maklum terhalang tiga gerbong. Hanya orang-orang lain tersenyum. “Keterlaluan,”seseorang menyeletuk.

Kereta berhenti sembarangan memang bukan cerita baru. Seringkali kereta berhenti tak jauh dari stasiun Tebet menuju Manggarai, karena ada pegawai Kereta Api turun. Bahkan yang lebih ngeri cerita, warga sekitar jalan Tambak, antara Stasiun Manggarai ke Cikini. Kereta bisa berhenti di sekitar jalan itu, bila bandar narkoba yang turun. “Biasanya mereka bayar lima puluh ribu rupiah,”ujar seorang warga setempat.

Maklum bandar atau pembeli “barang haram” itu lebih aman turun di tempat itu. Karena tak perlu melewati “mata-mata” (polisi) yang bertebaran di pintu-pintu masuk daerah tersebut.

Parung Bingung, 3 Januari 2009

Kamis, Januari 01, 2009

Waiting for Nothing


Naik angkutan kota (angkot), kadang-kadang banyak yang aku tak mengerti jalan pikiran sang sopir. Baik angkot 102 jurusan Parung Bingung-Pondok Labu ataupun 03, Parung-depok yang sering aku tumpangi.

Mereka selalu menengok tiap gang yang mereka lalui. Bukan hanya menengok tetapi juga menunggu. Mungkin dia berharap ada penumpang dari gang itu. Namun, kadang kala tak ada penumpang sopir tetap menunggu, entah apa?

Siang ini, sebenarnya aku males ke kantor. Maklum pekerjaan sudah diselesaikan sebelum taon baru. Tapi, memang ada rencana buat pekan depan yang maun aku bicarakan dengan atasan di kantor. Setelah nyambung 102, aku naik 03 menuju stasiun kereta api Depok Baru.

Semula angkot berjalan normal, ya, kadang-kadang berhenti, tengok sana-tengok sini mencari penumpang, yang memang tak banyak. Di sebuah gang dekat kelurahan Rangkapan Jaya, seorang penumpang turun dari samping kursi sopir. "Tunggu aja dulu, ya,"katanya. Orang tersebut langsung menyeberang, masuk ke jalan.

Sopir menunggu, entah apa, memang menunggu, orang tersebut atau menunggu, penumpang yang mungkin keluar dari gang. Jalan di seberang itu sepi, tak ada orang keluar. Iseng-iseng aku hitung, sudah ada 10 mobil 03 melewati, mobil yang menunggu itu. Hampir setengah jam, tak ada satu pun penumpang tambahan, orang yang ditunggupun tak kunjung kembali. Sopir kembali menjalankan mobilnya. Waiting for nothing.
Suatu harapan yang tak pasti, seperti orang banyak berharap saat merayakan pergantian tahun, pada tahun 2009 yang lebih baik.

2 Januari 2009

Ngetem Setahun



Bersyukur akhir tahun kali ini keluarga kami tak keluar kota atau menyewa hotel atau apartemen seperti tahun-tahun sebelumnya. Maklum setiap tanggal 31 Desember, kami sekeluarga berkumpul merayakan hari ulang tahun ibu kami “Umi tercinta”.

Sebenarnya, tradisi acara ulang tahun tak ada dalam keluarga kami. Jikapun ada hanya untuk anak-anak, sekadar ramai-ramai, senang-senang dan ajang silaturahmi. Namun, sejak ayah kami tiada, meninggal pada 1996, Suharto tumbang dan beberapa anggota keluarga kami berkecukupan, kami merayakan ulang tahun untuk Umi. Selain sebagai ucapan terima kash, bersyukur pada yang Maha Kuasa, juga mempererat tali silaturahmi di tengah kesibukan masing-masing. Acara ulang tahun itu juga kami gunakan untuk senang-senang, sekaligus ikut kemeriahan menyongsong tahun baru.

Nah, pada perayaan ulang tahun ke 68 Umi (ibu), kami rayakan dengan sederhana. Sungguh menarik justru keinginan acara sederhana itu dating dari Umi Sendiri. “Kita harus prihatin, di tengah gempuran Israel terhadap Bangsa Palestina, masak kita harus hura-hura, kita harus prihatin,”katanya.

Sekaligus mendoakan orang-orang Palestina yang tengah digempur Zionis Israel, dan juga dua family kami di Surabaya yang baru saja meninggal dunia dalam sepekan ini acara ulang tahun, dibuka dengan pembacaan tahlil dan doa. Setelah doa, makan-makan dan tentu lengkap dengan tiupan lilin pada kue ulang tahun berbentuk landak bersalut coklat. Melengkapi kemeriahan untuk kesenangan anak-anak ada kembang api sederhana dipasang di depan rumah ibuku di Kebon Pala Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Waktu belum pukul sebelas malam, semua acara sudah usai. Ibuku sudah lelah masuk ke peraduannya, keluarga yang lain satu persatu mulai kembali ke rumah masing-masing. Isteri dan naku masih mau menginap di kebon pala, karena pagi harinya anakku akan diajak pergi ke luar kota oleh adikku. Aku yang sudah lelah, setelah menginap di kantor mengejar target deadline, sudah ingin pulang ke rumah di Parung Bingung, Depok, melepas kelelahan, menikmati udara segar.

Paling males pulang, apalagi tahun baru saat menghadapi kemacetan. Kebetulan seorang kawan dari Partai Kroni Suharto (sekeran begitu aku menyebutnya) akan rapat partai malam itu bawa mobil ke arah Jakarta Selatan. Pucuk dicita angkutan numpang tiba. Aku ikut dia dan turun di tengah jalan dekat Kebon Binatang Ragunan. Seperti biasa naik angkutan kota (angkot), kalini nomor 61 Pasar Minggu ke Pondok Labu.

Di angkot itu supir dengan seorang perempuan berbahasa Jawa. Bercerita soal perselingkuhan dan lain sebagainya, tampak dari pemibicaraan mereka, sang perempuan sedang teasing si sopir. Di Pasar Pondok Labu, aku turun dan berganti dengan angkot lain nomor 102 yang akan membawaku ke Parung Bingung.

Waktu masih pukul setengah dua belas malam. Saat aku naik angkot yang masih ngetem, menunggu penumpang. Di dalam angkot seorang perempuan dengan anak kecil yang melonjor di bangku. Di seberangnya seorang laki-laki muda, jok di sebelah sopir ada penumpang. Kesalahanku naik angkot yang ngetem disaat penumpang sungguh memang sepi, beberapa kali memang bisa sampai satu jam menunggu. Ternyata angkot yang ini juga begitu, hanya maju mundur, tak jalan-jalan, tak ada tambahan penumpang juga. Bebeberapa timer berbahasa Jawa, nampak dengan minuman keras murahan yang dituang dalam gelas bekas air dalam kemasan plastik. Mereka bercanda, bahkan kadang-kadang sang timer mencegah sopir jalan, dengan alasan akan segera ad penumpang.

Sampai waktu pergantian tahun tiba, sebuah pasar baru di kawasan Pondok Labu ramai memasang kembang api berdentum-dentum. Di jalan juga beberapa orang memasang kembang api, dan suara terompet memeriahkan suasana. Aku maih di angkot, pemuda yang duduk di pojok satu barisan, terdengar mendengus mengeluh karena angkot tak jalan-jalan juga. Sopir malam bercanda dengan timer, “ha…ha…aku angkot paling lama ngetem, setahun,”katanya. Berkali-kali diang mengatakan, “ngetem setahun…ngetem setahun.”

Benar saja sejam angkot itu ngetem sejak 23.30 di tanggal 31 Desember 2008, baru jalan tiga puluh menit selepas tengah malam pada 1 Januari 2009. Pas jalan, terjebak macet pula, karena kemeriahan di pasar baru Pondok Labu, masih berlangsung, lalu lalang penontong yang menonton maupun yang kembali pulang setelah menyaksikan pesta kembang api di tempat itu. Setengah jam dalam kemacetan.

Selepas itu tak ad lagi kemacetan, yang ada tiupan angin dingin menyergap lewat pintu. Angkot ngebut, karena di depan ada lawannya. Debu-debu berterbangan dari jalan yang baru saja di semen. Pembangunan tanpa perencanaan matang.

Parung Bingung, 1 Januari 2009

54 Persen Pilih Tidak Memilih



Setelah masa Arief Budiman yang melawan kekuasaan pemerintahan orde baru yang menindas dan memaksa, dengan cara tidak memilih saat pemilihan umum. Gerakan mereka, terkenal sebagai golongan putih (Golput). Lalu pada awal 1990-an dua mahasiswa Semarang, Poltak Ike Wibowo dan Lukas Luwarso (kini aktif di Dewan Pers) diadili dan dihukum karena mengkampanyekan kembali golput.

Setelah Suharto tumbang pada 1998, semula orang antusias untuk mau memilih dalam pemilihan umum. Golput, masa awal setelah Suharto tumbang, saat partai bisa tumbuh dengan bebas, sudah jauh berkurang. Namun, pilihan Golput justru pindah pada pemilihan kepala daerah (Pilkada). Bahkan di beberapa daerah yang tidak memilih lebih besar dari suara kepala daerah terpilih.

Suara besar Golput, karena pilihan banyak yang tak sesuai harapan. Sempitnya pilihan masyarakat dan apatis karena kepemimpinan yang anti perubahan. Suara Golput kini kembali menggema di tengah banyaknya partai peserta pemilihan anggota calon legislatif.

Sebulan blog ini membuat polling sederhana, memilih dan tidak memilih pada pemilihan umum 2009 ini, ternyata 54 persen memilih untuk tidak memilih. Memang memilih adalah hak seseorang. Namun, sebaiknya harus didorong sebesar-besarnya partisipasi rakyat untuk memilih wakilnya yang terbaik di dewan perwakilan rakyat. Wakil rakyat yang tidak korup, manipulatif, suka suap menyuap, pelaku tindak kekerasan, kriminal dan pelanggar hak asasi manusia pada saat berkuasa.

Parung Bingung,1 Januari 2009

Selasa, Desember 30, 2008

Heavy Metal Sebabkan Otak Luka



Hati-hati bagi para penggemar dan penyanyi musik heavy metal. Menurut peneliti dari Universitas South Wales, Australia, Profesor Andrew Mac Cintosh, penggemar atau penyanyi musik cadas tersebut otomatis menghentak-hentakkan kepalanya saat musik itu diputar. Ternyata berdampak terhadap otak.

Dalam penelitian terhadap 10 orang penggemar dan penyanyi musik heavy metal, dengan 10 lagu populer dengan tempo 145 hentakan kepala permenit akan merusak leher dan otak. “Tak heran jika kita melihat seseorang yang setelah mendengar lagu tersebut tampak semrawut dan linglung,”kata Mac Cintosh.

Hentakan kepala lebih dari 75 derajat, menurut Profesor Mac Cintosh, seperti dirilis Radio Australia pekan lalu, akan menyebabkan sakit kepala, pusing, lupa dan mual-mual. Peneliti itu memilih sejumlah lagu, membandingkan antara pendengar lagu yang mendayu-dayu yang dinyanyikan Whitney Houston, I Will Always Love You atau pendengar grup band cadas Motley Crue. Ditemukan luka luka ringan pada otak, pendengar lagu Girls, Girls, Girls-nya Motley Crue, karena hentakan kepalanya.

Kota Yang Menghidupkan Air


Banjarmasin, Balikpapan dan Palembang menghidupkan kembali air sebagai bagian dari kehidupan kota. Majalah TEMPO memilih tiga kota itu sebagai tokoh arsitektur 2008.

Indonesia negara kepulauan, tidak bisa dipisahkan dengan air. Tujuh belas ribu lebih pulau dipersatukan oleh 3,1 juta kilometer kubik perairan teritorial. Sumber air datang dari gunung, sungai, danau dan laut. Banyak kota yang dibikin di dekat sumber-sumber air tersebut, hampir 300 kabupaten dan kotamadya dari 472 tersebar di pesisir, sisanya berada di daerah aliran sungai dan pegunungan.

Pada masa lalu dan masih terasa hingga kini sumber-sumber air itu menjadi berkah bagi masyarakat dan segala makhluk hidup yang berada di dekatnya. Namun, karena air seringkali difitnah dan disia-siakan, yang pada awalnya merupakan berkah menjadi sumber petaka. Kota-kota dan pemukiman penduduk hancur tergerus saat air melimpah ruah, dan krisis air bersih baik saat hujan apalagi musim kemarau. Rob di bagian utara Jakarta atau banjir di Kota Malang, Jawa Timur beberapa pekan lalu cukup mempritahinkan. Karena letak kota dingin di Jawa Timur itu di ketinggian 667 di atas permukaan laut.

Di Indonesia, sungai lebih banyak menjadi bagian belakang rumah tangga dan pabrik. Sehingga menjadi tempat pembuangan limbah, baik sampah industri rumah tangga, maupun logam beracun sisa pabrik. Tak heran jika seringkali terdengar penduduk yang terdampak limbah terserang berbagai macam penyakit, atau matinya makhluk hidup lainnya, seperti ikan dan biota yang ada.

Saat ini, seiring menguatnya otonomi daerah mulai timbul kesadaran pentingnya, menghidupkan air. Kota-kota yang berada di sekitar sumber air tersebut berbenah menjadikan daerahnya layak untuk kehidupan, sekaligus mencegah bencana yang bisa datang tiba-tiba.

Berbekal kesadaran dari daerah-daerah yang menghidupkan air itulah Majalah Tempo memilih tokoh-tokoh di balik perubahan tersebut. Bersama tim juri pemilihan tokoh arsitektur versi Tempo 2008, Nirwono Yoga, Yori Antar, dan Bambang Eryudhawan, majalah ini mencari model pembangunan kawasan pemukiman kota dengan basis air.

Arsitektur dalam pemilihan ini bukan dalam arti sempit, sebuah model bangunan, tetapi dalam arti luas yaitu lanskap sebuah kawasan pemukiman di kota yang mengalami perubahan karena ada unsur air yang kuat disana. Begitu juga dengan tokoh, bukan sekadar arsitek dalam arti lulusan jurusan arsitektur perguruan tinggi, tetapi orang yang menggerakkan dan memberi inspirasi bagi perubahan sebuah kawasan pemukiman tersebut.

Ada lima kreteria suatu tata ruang kota dengan konsep kota air, bisa berupa di daerah pinggiran sungai atau pantai (laut). Transformasi perubahan pemukiman itu terjadi karena partisipasi publik, ruang atau kawasan itu bisa diakses langsung oleh masyarakat, hijau, memiliki pengelolaan air dan pembuangan limbah yang baik serta terpadu. Kreteria tersebut bukan asal comot, namun juga berkaitan dengan ditetapkannya 2008 sebagai tahun sanitasi internasional. Serta penghargaan yang diberikan Departemen Pekerjaan Umum terhadap penilaian kinerja pemerintah daerah akhir November lalu.

Nah, lima kreteria itu diharapkan bisa memenuhi standar kualitas hidup daerah yang berubah tersebut menjadi kawasan yang bersih, sehat, hijau dan menghargai kearifan lokal. Adanya partisipasi publik menempati urutan tertinggi dalam penilaian itu diikuti public realm (akses publik), go green (hijau), pengelolaan air dan limbah.

Tarakan, Balikpapan dan Banjarmasin mewakili Kalimantan berdasarkan unsur air sangat kuat di tiga kota itu. Surabaya dipandang kota yang paling tepat mewakili Pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia, Jawa dengan alasan ada usaha birokrasi setempat mengajak masyarakat ikut bersama menjaga sungai, istilahnya jogo kali Palembang mewakili Pulau Andalas alias Sumatera, karena kota itu punya ciri khas yang berhubungan dengan air.

Juri menganggap ada kota yang hidup dari air. Artinya, kalau tidak ada air kota itu mati. Jadi hidup matinya kota tersebut tergantung air, seperti Banjarmasin, Palembang, dan Surabaya. Sisi lain kota-kota pantai, Balikpapan, dan Surabaya. Kecuali Surabaya, di kota yang lainnya sungai tidak berperan penting.

Soal peran pemerintah dan masyarakat. Pada Kota Palembang, Surabaya, Banjarmasin, dan Balikpapan peran pemerintahnya kuat. Palembang, Surabaya dan Tarakan ada unsur target untuk meraih penghargaan Adipura. Pada Balikpapan dan Banjarmasin pada awalnya peran pemerintah kuat, kemudian masyarakat ikut berperan serta. Bahkan disitu muncul tokoh-tokoh yang menggerakkan masyarakat.

Setelah melakukan reportase dan sejumlah wawancara dengan sumber-sumber di daerah tersebut pilihan mengerucut menjadi lima kota : Balikpapan, Banjarmasin, Palembang, Tarakan dan Surabaya. Lalu dua kota terakhir tersingkir dengan alasan yang berbeda. Tarakan dianggap terlalu luas cakupannya, karena sebuah pulau yang baru dibangun kembali oleh walikotanya, Jusuf Serang Kasim. Sedangkan Surabaya, baru merupakan proses belum ada hasilnya, itupun karena peran birokrasi pemerintahan kota setempat.

Kampung Atas Air Margasari di Balikpapan, dulunya, kawasan seluas 10 hektar dengan 140 rumah merupakan daerah kumuh dengan pengaturan tata ruang yang amburadul. Saat air surut, sampah rumah tangga menumpuk, karena laut menjadi satu-satunya tumpuan tempat pembuangan. Namun, kebakaran pada 1992 mengubahnya. Arbain Side, 46 tahun, seorang bekas lurah Margasari merelokasi 200 keluarga keturunan Bugis, yang tinggal di situ.

Arbain tak membuang suku yang biasa hidup di laut, tetapi mengenalkan hidup dengan lingkungan tertata baik. Gagasan itu ternyata didukung pemerintah pusat dan daerah. Hasilnya tak mengecewakan, kini kawasan itu tertata rapi dan bersih dengan suasana laut yang indah. Tiap rumah ada fasilitas mandi cuci kakus dengan memperhatikan estetika lingkungan, terdapat pula saluran khusus pembuangan limbah yang tersalurkan ke tempat penampungan sementara, lalu masuk mesin pengurai menjadi cairan ramah lingkungan.

Ada yang dibuang ke laut dalam keadaan sudah bersih terkadang dipergunakan petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api. Kini Arbain dipercaya pemerintah kota untuk mengubah 20 kawasan kumuh. Balikpapan kini tengah menuju waterfront city, kawasan air menjadi muka kota itu.

Masih di Kalimantan, Kampung Mahligai, di Kelurahan Sei Jinggah Kota Banjarmasin pada 1987 terbilang pemukiman tidak sehat, tidak bersih, akses jalan tak karuan dan rawan kejahatan. Namun berubah sejak Fatturahman, tokoh masyarakat setempat turun tangan menata menjadi kawasan yang bersih dan sehat. Hasilnya Kampung Mahligai dinyatakan sebagai pemukiman terbersih dan hijau pada tahun 2005 di Kota Banjarmasin. Bahkan Rumah Toga Kampung Mahligail mewakili model perumahan lestari Kalimantan Selatan, ke tingkat nasional. Memang saat Tempo meninjau pekan lalu beberapa bagian kota terendam banjir, tapi Kampung Mahligai, selamat.

Benteng Kuto Besak dan Pasar 16 Ilir Palembang, Sumatra Selatan juga termasuk kawasan yang berubah drastis. Kawasan ini sebelumnya merupakan pusat buah di kota Palembang dan tempat pemukiman padat dengan gubuk yang kumuh. Hanya tukang buah dan orang yang terpaksa karena ingin menyeberang ke Ulu. Karena disini sangat becek, bau dan penuh pelaku tindak kriminal yang tak segan-segan menunjam orang dengan senjata tajam.

Namun, sejak setelah Eddy Santana Putra memimpin Kota Palembang pada 2003, gubuk-gubuk kumuh dibongkar, Benteng Kuto Besak yang dibangun pada 1780 dipugar, Pasar baru 16 Ilir dibangun, taman di pinggir sungai selebar 500 meter dibuat bersih dan nyaman. Kawasan itu kini menjadi kebanggaan wong Plembang. Warga bisa berkumpul menikmati Sungai Musi mengalir dengan jembatan Ampera yang sebagai ciri khas kotanya. Tak heran jika pemerintahnya berani menjadikan sebuah undangan wisata, Visit Musi 2008. Berbagai event internasional digelar yang terakhir Festival perahu naga akhir November 2008 lalu. Palembang kembali ke jati diri sebagai disebut Venice from the east. Kisah kota sungai, atau kota de stad der twintig eilanden (kota 20 pulau) masih bisa dijual sebagai cerita wisata.

Jika menengok kisah sukses kota-kota di pinggir sungai dan tepi pantai di dunia, seperti Bangkok, Thailand, Istanbul Turki dengan Sungai Bosfurus, Shanghai Cina yang dalam dua tahun mengubah sungainya atau Venesia di Italia yang terkenal dengan wisata kanal membelah kota. Negeri jiran Singapura pun dalam waktu yang singkat berhasil mengubah pinggiran sungai menjadi tempat piknik yang enak, ikan di dalamnya tampak hidup berseliweran.

Memang, jika melihat tiga kota yang menjadi pilihan Tempo masih jauh dari seperti contoh kota di manca negara itu. Tetapi melihat perkembangannya sudah pada posisi yang benar. Nah, diharapkan contoh sebuah kawasan pemukiman di tiga kota pilihan Tempo di atas, dapat menginspirasi kota-kota lain yang memiliki sungai atau pantai mulai mengingat kembali air yang ada di sekitarnya bisa menjadi amat berguna, menjadi berkah bagi kehidupan warganya bukan malah menjadi musibah. (***)

Rabu, Desember 03, 2008

Alternatifnya Megawati-Sultan Hamengkubuwono X

Jika menilik hasil polling selama sebulan, 50 persen lebih pengunduh blog ini, tak menemukan pasangan yang cocok yang kami tawarkan dalam jajak pendapat selama sebulan. Mengapa? Mungkin profil Megawati Sukarnoputri yang One Woman Show, saat dulu sempat dua tahun memimpin negeri ini, atau namanya yang terlalu besar untuk pendampingnya.

Alternatif calon pilihan pengakses, untuk Megawati Sukarnoputri melanggeng kembali ke RI 1 adalah Sultan Hamengkubuwono X. Hampir 30 persen memilih Sultan Yogyakarta ini. Memang popularitas Sultan saat ini tengah menanjak untuk melawan presiden incumbent Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), serta calon dari militer lainnya.

Jika Megawati berpasangan dengan Sultan, suara memang diperkirakan akan kuat melawan SBY siapapun pasangannya. Namun, apakah Sultan mau jadi nomor dua? Ini belum dikonfirmasikan. Pasangan Mega-Sultan, adalah alternatif melawan calon-calon asal militer yang terbukti membawa negeri ini terus diasmbang kehancuran. Namun, Mega sendiri, juga tak membawa bekal apa-apa, karena saat memimpin negeri ini, hanya menjual aset-aset negara.

AT, 4 Desember 2008

Selasa, Desember 02, 2008

Lurah Hamili Perawan

Sebuah media ibukota memasang headline dalam surat kabar yang terbit pagi ini "Lurah Jakarta Hamili ABG". Di depanku duduk dua perempuan berjilbab berseragam pemerintah daerah DKI Jakarta, tampak dari emblem di pundak kirinya, memegang selembar koran tersebut. Mereka berdua membicarakan lurah yang menghamili anak "perawan" itu.
"Ah, memang anaknya aja yang mau,"seorang yang memakai rok panjang berkomentar, sambil membali-baikkan koran ke halaman sambungannya.
"Iya, apa lagi kan sudah dibayar Rp 5 juta, cuma dikasih ke mucikarinya,"sambung seorang yang memakai celana panjang.
"Wah, lulusan IPDN lagi,"kata sambung menyambung.
"Ah, lelaki mah, biasa melakukan itu,"ujarnya.

Pembicaraan soal lurah terhenti, mereka bicara masalah lain. Seorang diantaranya menelepon lewat telepon genggamannya. "O, itu yang diceritakan semalam,"ujarnya.

Ceritanya, menurut koran yang saya baca, setelah turun dari kereta api, seorang siswi SMA di Cengkareng Jakarta Barat berusia 16 tahun itu ditiduri Sang Lurah Tambora. Jakarta Barat, enam bulan silam. Lurah itu mengaku membayar Rp 5 juta pada kawan sang korban. Dalam sebuah hotel di bilangan Grogol, sang korban diserahkan dan "digagahi" Lurah itu lalu memberin ongkos pada korban Rp 200 ribu.
Terbongkarnya perbuatan sang lurah, karena ibunya curiga pada perut anaknya semakin hari semakin membuncit, belum lagi permintaan pembelian pembalut tiap bulan tak ada lagi. Di minta tanggung jawab, sang lurah hanya "hooh". Namun, janji hanya sebatas mulut. Informasi lewat radio dengkul pun terdengar luas, akibatnya Selasa kemarin (2/12/08) masyarakat bergerak, unjuk rasa ke kantor lurah dan camat setempat, minta lurah tersebut dipecat. (diringkas dari Warta Kota, 3/12/08 hal-1-19).

Pembicaraan soal lurah berlanjut, saat kereta AC dari Depok Lama menuju Jakarta Kota memasuki stasiun Pasar Minggu. " Kasihan ya, cuma soal begituan karirnya rusak, padahal masih bisa jadi camat,"kata ibu berok panjang.

"Ia, dia itu gak mikirin anak isterinya, orang tuanya udah sekolain tinggi-tinggi ke IPDN, malah begitu,"seorang menyaut.

Institut Pendidikan Dalam Negeri yang kini berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri--yang memproduksi calon birokrat, memang hanya sering mendapat predikat memalukan. Mulai dari kekerasan senior terhadap yunior yang menyebabkan kematian, sampai bikin ribut di sekitar kampus terpadunya di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.

Tentu tak semua lulusan IPDN/STPDN seperti Lurah Tambora itu atau para pelaku tindak kekerasn. Masih banyak birokrat yang mau menjaga "harga diri"nya dari perbuatan tercela, korupsi atau tindak kekerasan. Sayangnya disiplin "ala militer" yang diterapkan di sekolah tersebut terbukti tidak mampu, membuat birokrat sipil menjadi lebih baik, terhormat dan mau menjaga martabatnya.

Aku turun di Stasiun Gondangdia, pehawai negeri berseragam itu entah kemana? Padahal itu waktu kerja, sekitar pukul 09.00 pagi. Mudah-mudahan tak meneruskan gosip-gosip lurah yang suka "makan" anak orang.

Jakarta, 03/1/08
A.T

Sabtu, November 29, 2008

Belum Bisa Kawin

Setelah melepas lelah, karena menikmati kehidupan malam di Legian, Bali, tidur terasa nikmat. Memang kenikmatan baru terasa setelah merasakan kelelahan. Lelah karena kerja atau keriaan.

Menikmati Sanur Beach Hotel, berenang, mengobrol, main di laut dan sauna, pantas kita nikmati sesekali. Temen-temen harus cek-out, dan terbang ke ibukota, Jakarta. Dengan mobil sewaan, mereka mampir di Titiles, sebuah toko penganan yang menjual bahan-bahan daging dalam kemasan, seperti abon, dendeng dan sosis. Jenisnya pun bermacam-macam, mulai dari ikan, sapi, ayam sampai babi. Aku hanya ikut, ke Denpasar, mau menjenguk sepupu yang tinggal di ibukota Pula Bali.

Selesai belanja di toko yang memelihara lima singa dan seekor harimau Jawa, aku masih ikut mobil sewaan itu. Sambil mengingat-ingat jalan-jalan di Denpasar, akhirnya ku putuskan berhenti di perlimaan (klo di Bandung disebut prapatan lima, lucu ya). Tepatnya, di ujung Jalan Teuku Umar dan Jln. Imam Bonjol, aku berjalan sedikit. Bali sulit sekali mencari angkutan umum (angkot),

Ku temui tiga mobil angkutan umum suzuki 1000, warna krem muda. Kosong, tak ada penumpang. Mereka menawariku untuk naik. "Ubung,"katanya. Aku menggeleng, "gak, mau ke Gajah Mada." Kataku menyebut nama jalan.
"O, langsung aja pak!"
"Saya mau ke jalan Arjuna,"kataku.
"Boleh."
"Berapa?"
"Lima belas ribu."
"Sepuluh aja."
"Hooh!"katanya.

Aku naik sendiri di kursi depan dekat sopir. Sang sopir masih muda, tanganya penuh tatoo, juga di dahi yang dututpi topi. Seperti biasa, di depan sopir ada bunga, sembahan, tanda syukur pada sang hyang.

"Kok, sepi?"
"Ya, beginilah, sekarang sepi orang lebih banyak orang naik motor, jarang yang naik angkot,"katanya. Dulu memang kendaraan umum antara Kereneng (tengah kota dekat jalan Diponegoro) dan Ubung (terminal bis), masih bemo. Dulu aku sering naik kendaraan itu saat di Denpasar.

Pas di depan pom bensin, sopir itu berbelok. "Isi dulu ya pak?" Dia mengambil dua lembar uang sepuluh ribuan lecek yang ada di atas dashbor. "Ya, dapet segini cuma bisa beli bensin."katanya. Ada lagi uang seribu rupia lecek juga tergolek tak jauh dari daun sesembahan.

"Penumpang sepi, bensin naik, berat,"ujarnya.
"sehari bawa pulang berapa?"
"Paling cuma enam ribu rupiah."
"Belum kawin ya?"
"Wah, boro-boro untuk kawin atau untuk keluarga, hidup sendiri saja susah,"katanya.

Denpasar, 30 November 2008
Ahmad Taufik

Bus Indonesia

Dua hari tak mengisi dialog angkot bukan karena tak pergi dengan angkot, namun karena deadline (wah, alasan!) serta lagi pusing nyiapin ujian advokat. Satu lagi alasan, lagi kerajingan facebook.He...he.

Pagi ini (Sabtu, 29 November 2008) aku sudah siap-siap ujian advokat. Pilihannya, naik bemo, kendaraan Jepang zaman baheula, yang selama hidup aku naiki belum pernah tabrakan atau kecelakaan. Pikiran lagi dipenuhi untuk ujian advokat, kembali ke rimba yang tak jelas, hukum.

Selepas ujian, yang bikin puyeng, waktu hampir pukul 14.30, ssaran kendaraan umum kali ini Metromini. Namun, kendaraan warna oranye jurusan Manggarai- Pulogadung tak penuh saat aku naiki di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Metromini, si raja jalanan, begitu pernah disebut, teringat Ramses, seorang supir metro mini yang "berhasil" membawa 33 orang menuju ke surga seketika, saat kendaraan seperempat bis itu nyemplung ke Kali Semper, Jakarta Utara.

Kenapa ke surga? Karena ada joke saat pastor atau khatib ceramah di gereja atau di masjid, orang-oang justru tertidur. Tapi saa, naik metro mini, mereka justru berdoa untuk keselamatan, bukankah jka orang mati dalam doa, apapun agama dan kepercayaannya akan masuk surga?

Lucunya, aku sempet ketemu saat singgah di Rumah Tahanan Salemba, Jakarta Pusat. Ramses mendekam di ruang sel khusus yang dikunci dua kali (double dir, istilahnya, kaena ada dua pintu besi yang dikunci dalam selnya). Ramses, di blok N, sel isolasi itu, menjadi kepala blok, voorman.

Setelah rapi-rapi mengambil akaan dan notebook, aku langsung cabut. Tujuannya Denpasar, da Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Sanur. Memang ini hari terakhir, mungkin aku juga tak dapat banyak prosesnya. Tapi tak apalah, organisasi yang berdiri 7 Agustus 1994 lalu, ada hubungan sejarah antara aku, dan pers Indonesia.

Naik, Kopaja 502 ke Gambir, tujuanya, bis Damri, arah Bandar Udara Sukarno Hatta (BUSH). Nah, dalam kendaraan nyaman denan tiket senilai Rp 20,000, inilah yang aku mau ceritakan. Bis tak terlalu penuh, ada sekitar enam bangku kosong. Sebelah kanan bangku seorang perempuan berkulit putih, mengenakan pakaian warna merah jambu muda. Di belakang terdengar suara perempuan bercakap minang, di depannya menelepon dengan aksen Sulawesi. Di sebelahnya, lelaki menggunakan handphone berbicara Bahasa Mandarin kepada lawan diseberang telepon genggamnya.

Seorang kenek, kondektur, berwajah brewok menagih uang ongkos dan membagikan karcis. Di dada ada emblem nama, Ujang Winata. Aku tersenyum, lalu terpikir pikiran iseng. Saat ia menagihku, aku tanya, "pak akpa hubunngannya dengan Tomi Winata?" Sang kenek hanya tersenyum, perempuan berbaju pink, tertawa. Tak ada masalah senyum sudah mengembang bukankah itu bagian dari sedekah? Ikut membahagiakan orang dan juga diri sendiri.

Dari bus Damri, tercermin Indonesia, segala suku, dan bangsa ada di situ, terbukti dari bahasa yang mereka gunakan dan wajah yang tampak. Semua diperlakukan sama, bayar Rp 20.000. Akankah nikmat jika, semua suku, agama, ras, dan status sosial diperlakukan sama di depan hukum dan kehidupan sosialnya. Untung, saja aku naik bis itu, bukan bis dengan label agama tertentu, karena saat masuk ke wilayah Tangerang, berlaku hukum syariat, yang bisa saja terjadi entah kapan, jika kita tak bisa menjaga harmoni di negeri ini.

Bis Indonesia itulah harapan kita semua, bukan bis yang melarang ahmadiyah, kafir (lain agama), orang beryoga, kepercayaan, beda mazhab tak boleh masuk ke sana.

BUSH, 29 November 2008
Ahmad Taufik

Rabu, November 26, 2008

Jalan Rusak di Depok

Hampir tiap hari jalurku adalah jalan kaki menuju angkutan kota (angkot) nomor 102 menuju Parung Bingung, setelah itu nyambung 03 menuju Depok.

Nah, pembicaraan di angkot aku mulai dari Selasa (25 November 2008).

Dari Parung Bingung, aku dapat tempat di belakang sopir. Di depan komplek perumahan Maharaja, dua orang ibu naik, seorang di belakang memojok, seorang lagi memakai jilbab warna putih duduk di depan, jok samping sopir.

Pembicaraan di mulai saat sopir mengomentari jalan yang sedang di beton di ujung Jalan Dewi Sartika. "Kayaknya beberapa bulan lalu jalan itu baru dibetulin deh,"katanya.
"Ya, gimana, abis, duit proyek dimakan orang pemkot,"ibu yang di sebelah sopir langsung nyamber pembicaraan itu.
"Saya kasih contoh misalnya, dapet proyek Rp 2 milyar, paling yang kami bawa Rp 1,3 milyar. Yang terjadi kontraktor ngurangi bestek, yang seharusnya 5 centimeter ketebalan beton, misalnya dibuat 3 centimener. Kami gak mau ngambil proyek yang begitu, menodai nama besar perusahaan kontraktor kami. Mending gak usah diambil,"ujarnya.
Ibu itu menyayangkan Walikota Depok, yang memaki simbol-simbol agama tapi tak bisa menertibkan bawahannya. "Malah lewat bawahannya, ikut merampok kami,"katanya lagi.
"Yach, klo gitu pemerintahan yang sekarang sama dong sama yang dulu, pada zaman korupsi merajalela,"sambung sopir angkot itu.

The angkot must go away. Akhirnya, sampai di depan ITC, ibu itu turun. Angkotpun masuk terminal, yang kumuh dan semrawut. Padahal hanya selemparan batu dengan Kantor Walikota. Istilah "bersih, peduli dan profesional," cuma sampai di mulut dan di spanduk yang berada di seantero Depok yang semakin semrawut dan kumuh. Bukankah, ada istilah, kebersihan itu sebagian dari iman? Apa yang pantas ditasbihkan pada orang yang bicara tapi tak melakukan?

26 November 2008
A.T