Tampilkan postingan dengan label Album Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Album Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 25, 2008

Pengecut Itu Menteror Keluarga

Sebuah pesan pendek masuk dalam telepon genggamku, "...(sayang teks sudah kehapus)...umi malu punya anak kayak kamu." (?) Pengirimnya tertulis nomor kakak yang paling aku sayangi.

Ah, aku gak berpikir terlalu jauh!

Sehari setelah itu, saat aku sedang menghadiri ujian doktor temanku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, masuk nomor telepon kakakku itu. Aku ambil dan sudah siap dengan sumpah serapah. Namun, yang terdengar adalah suara ibuku, tanpa memberi kesempatan untuk menjawab, "...umi diteror!" Klik, telepon mati. Waduh!

Usut punya usut, apa penyebabnya? Rupanya setelah tampil sebagai peserta dan ikut berkomentar dalam acara Debat TV-One, keluarga ketua Front Pembela Islam (FPI), menteror keluargaku. Aku yang dalam acara Debat itu berada di pihak penentang SKB (Surat Keputusan Bersama), dianggap memojokkan para pembela tindakan kekerasan atas nama Tuhan dan Agama Islam.

Saat itu, aku berkomentar menanggapi Mahendratta, yang berada di pihak penerima SKB, "puas...puas...mengambil istilah Thukul, udah keluar SKB? Sekarang bagaimana cara mengawasi orang-orang Ahmadiyah? Apakah orang salat akan ditongkrongi, siapa yang nongkrongi, polisi, pemerintah MUI atau FPI? saya yakin anda tak akan puas, dikasih ati (SKB), pasti minta rempelo!"

Rupanya pernyataan itu dijadikan dasar, untuk menteror Ibu dan kakakku, aku dianggap membela akidah yang sesat (Ahmadiyah).

Pembela FPI dan keluarganya, telah berlaku pengecut. Apa tidak berani menghadapi aku, toh aku yang berbuat dan berkata begitu, aku siap mempertanggujawabkan semua yang aku ucapkan. Bahkan sebaiknya anda menonton lebih lengkap acara itu. Karena pada komentar kedua, dan terakhir menjelang acara itu, saya sempat melontarkan pernyataan, "...biar seribu nabi palsu dinyatakan, semuanya tak mengurangi kemuliaaan Nabi Muhammad."

Tapi kenapa orang-orang yang mengaku "Islam" lebih senang berbuat kekerasan dan kezaliman pada orang lain, bahkan menebar teror secara pengecut?

Acara Debat di TV-One, hanyalah sebuah tontonan, semua pihak bahkan tidak puas. Kelompok Ahmadiyah, merasa tak mendapat porsi yang layak dalam acara itu. Kelompok pro-SKB, yang tampak serius dalam acara itu, lengkap dengan teriakan takbir, juga tampak tak puas.

Saya tahu, acara di TV memang dikemas untuk sebuah tontonan. Kebetulan saya kenal sang produser dan juga beberapa teman yang bekerja di TV itu. Bahkan, orang-orang yang berada di pro SKB, banyak saya kenal mulai dari Alfian Tanjung, Dosen Uhamka, Zaky dan temen teman dri Gerakan Pemuda Islam (GPI). Kami masih bisa bersalaman, setelah acara selesai.

Namun, orang-orang yang menerima informasi setengah-setengah dan berpikiran picik tak mampu menangkap isyarat itu. Puluhan pesan pendek beredar, ada yang menuduh saya sebagai pengkhianat dan dajal, ada pula (Fauzan Al-Anshari) yang menuduh saya tak sopan menunjuk aktifis-aktifis "Islam" dengan tangan kiri saya pada acara debat itu. Saya memang tak bisa meminta semua orang memahami posisi dalam televisi, debat dan sikap saya dalam berbangsa ini.

Saya apreciated dengan TV-One, sebaiknya memang kekerasan, bisa dipindahkan ke tempat yahg lebih elegan dengan debat, dan dialog, yang bisa ditonton banyak orang. Sehingga TV kita tak lagi menampilkan adegan kekerasa, seperti yang dilakukan FPI, LPI di Monas, 1 Juni lalu, Polisi di berbagai tempat dan juga kawan-kawan mahasiswa. Mari kita selesaikan persoalan bangsa ini dengan dialog. Jangan ada yang merasa paling benar, sehingga negeri ini selalu dilemahkan dan pihak asing yang mengincar kekayaan alam, saat kita sebagai bangsa sedang lemah dan kocar-kacir.

Jakarta, 26 Juni 2008

"Saya yang masih dirundung sedih" (tapi saya bisa menerima ini, sebagai sebuah resiko, jalan hidup saya, yang mungkin tak dimengerti banyak orang, bahkan saya sendiri pun tak mengerti)--aku cuma mau mengalir seperti air.

Rabu, September 05, 2007

Haul ke-11- Sayyid Abubakar aljufri

Sambutan Keluarga besar Almarhum Sayyid Haji Abubakar bin Salim Aldjufri

Assalamu’alaikum warahmantullahi wa barakatuh,

Imam Ali Zainal Abidin cicit Rasulullah Muhammad SAW yang hidup pada tahun 38 – 95 Hijriyah, menulis sebuah do’a, ‘’O, Tuhan! Kau mengutus Muhammad sebagai pembawa risalah-Mu. Dengan kecintaan-Mu padanya dan keluarganya. Kau mengilhaminya dengan ilmu yang luar biasa dan menjadikan kami dengan kehormatan sebagai pewaris ilmunya. Dan menjadikan ilmu (hikmah) sebagai kekuatan kami dengan maksud memuliakan kami atas mereka yang tidak diberi kemampuan memahaminya. O, Tuhan! Karena Engkau yang menjadikan akal kami mampu memahaminya, dengan kasih dan sayang-Mu telah mengajarkan keutamaan-keutamaan pada kami, berkahilah Muhammad, penyeru kami, keluarganya dan pemelihara risalahnya.’’

Imam Ali Zainal Abidin adalah cucu Imam Ali bin Abi Thalib pasangan hidup Fatimah Az-Zahra, anak Rasulullah Muhammad SAW. Imam Ali Zainal Abidin adalah satu-satunya cucu Rasulullah yang dengan kuasa Allah SWT hidup dan terhindar dari pembantaian keji Yazid bin Muawiyah . Coba anda bayangkan apabila Imam Ali Zainal Abidin ikut terbunuh di Padang Karbala (sekarang berada di wilayah Irak), tak ada lagi penerus risalah Rasulullah Muhammad SAW. Kita akan hidup di dalam kegelapan, tak ada pegangan untuk membedakan mana yang benar, dan mana yang samar-samar dan mana yang salah. Semua bisa dimanipulasi, karena ada pepatah mengatakan ‘buku sejarah tergantung yang berkuasa’.

Tetapi, sejarah adalah sejarah, apapun kalau dimanipulasi akan terkuak juga mana yang benar dan mana yang salah. Akhirnya, karena ancaman dan tekanan yang begitu kuat, pegangan Imam Ali Zainal Abidin adalah do’a, bermunajat kepada Allah. Sehingga beliau digelari As-Sajjad yang artinya orang yang tekun bersembah sujud kepada Allah SWT.

Imam Ali Zainal Abidin tak mau tahu urusan politik, karena posisinya sebagai pembawa risalah Rasulullah SAW, dianggap ancaman terhadap penguasa yang memerintah secara zalim dan keluar dari ajaran Islam. Dengan cara bermunajat kepada Allah SWT, dan menyebarkan ajaran doa doanya diterima Allah SWT. Sehingga melalui anak cucu dan cicitnya yang disebut dalam Al-Qur’an dzuriyatnya, ajaran Rasullah menyebar ke seluruh bumi mulai dari Maroko sampai Merauke, dari California sampai Kalipasir dan juga sampai Greenland (tanah hijau) di ujung benua Amerika sana sampai di tanah Sunda ini.

Nah, dari anak cucu Imam Ali Zainal Abidin yang selalu dikejar-kejar penguasa yang benci pada keluarga Rasulullah menyebar ke seluruh jagat, membawa risalah. Para Habaib yang hidup di Indonesia ini juga bagian dari anak cucu Rasulullah. Termasuk diantaranya yang sedang kita peringati haul-ke 11 ini, Habib Abubakar bin Salim Al-Jufri.

Doa adalah jembatan, bukan hanya untuk yang telah meninggalkan kita, tetapi juga untuk kita yang juga akan meninggalkan dunia ini. Dalam kesempatan ini salah satunya kita bisa berdoa bersama-sama untuk yang sudah tiada dan yang akan segera tiada.

Atas kehadiran saudara-saudara kami se iman dan se bangsa dalam acara ini.

Kami keluarga mengucapkan banyak terima kasih.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wa barakatuh.

Kebon Pala, 2 September 2007.

Atas nama keluarga besar Sayyid haji Abubakar bin Salim Aldjufri

***

Sekelumit tentang Almarhum Habib Abubakar bin Salim Al-Jufri

Almarhum Habib Abubakar bin Salim Al-Jufri adalah keturunan ke-36 dari Rasulullah Muhammad SAW berdasarkan garis Imam Hussein, buah perkawinan Fatimah Az-Zahra dengan Imam Ali Bin abi Thalib. Menurut sejarah, pada akhir abad ke-19 datanglah ke Pulau Jawa tiga orang pemuda Abdurachman, Umar dan Mohammad, putera-putera dari Habib Abdul Kadir Al-Djufri dari Sewun, Hadramaut (sekarang berada di Republik Yaman). Ketiganya dari Pulau Jawa berangkat ke Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur dan berusaha dalam peternakan dan perdagangan hewan. Muhammad dan Umar membuat syarikat Firma Mohammad Aldjufri yang berhasil menjadi perusahaan besar di bidang perdagangan hewan sampai dengan tahun 1957. Sedangkan Abdurrahman lebih banyak mencurahkan waktunya untuk dakwah di Pulau Sumba ditunjang oleh kedua saudaranya. Ketiganya meninggal dan dimakamkan di Surabaya.

Tentang keluarga Al-Jufri terekam dalam Buku Sejarah Republik Indonesia tentang kepulauan Sunda Kecil yang diterbitkan oleh Kementerian Penerangan R.I. Kalau di daerah Sumba kini lebih kurang ada ratusan ribu orang penduduk yang menganut agama Islam dan mempunyai 2 buah sekolah madrasah, maka ini dapat dimengerti karena pada abad XX datang lagi seorang bernama Mochamad bin Aldjufri, seorang Arab pedagang hewan yang terbesar di daerah Sumba hingga sekarang ini.

Almarhum Habib Abubakar Al-Djufri ini adalah putera kandung dari Syarifah Sidah binti Mohammad Al-Djufri dan Habib Salim bin Abdurrahman Al-Djufri. Lahir di Gresik, Jawa Timur 21 Desember (17 Sya’ban) 1926. Anak ketiga dari sebelas bersaudara ini belajar di perguruan Al-Khairiyah dan Islamic Middlebare School di Surabaya. Ia sempat mencicipi sekolah singkat di International Marketing, Colombo Plan, Indian Institute of Foreign Trade, New Delhi, India.

Tamat sekolah, ia tertarik pada dunia pendidikan dan menjadi penilik sekolah Arab English School di Pandaan, Malang. Namun, seperti keluarganya yang lain akhirnya terjun juga dalam dunia usaha, tahun 1942 menjadi sekretaris Persatuan Pedagang Asia. Ketika Jepang berkuasa Abubakar Al-Djufri menjabat kepala Gudang Bongkar Muat perusahaan Ganebo. Juga aktif dalam Keibodan, 1944. Ketika Revolusi Kemerdekaan Indonesia pecah ia menggabungkan diri dalam Barisan pemberontakan Rakyat Indonesia, pimpinan Bung Tomo. Selain itu, ia menjadi wartawan berbagai media yang pro Republik Indonesia sampai tahun 1948. Pekerjaan wartawan ditekuninya pula sampai masa tuanya. Ia adalah wartawan Kantor Berita Antara dengan kode D-13, 1975-1980.

Almarhum Al-Habib Haji Abubakar Aljufri lalu aktif menekuni pekerjaannya sebagai pedagang sapi, dan pekerjaan jasa lainnya. Pemilik ranch di di Pare-pare Sulawesi Selatan dan Sumba, NTT ini juga menjadi penghubung utama para pedagang, petani dan pemerintah Indonesia dengan negara-negara di Timur Tengah. Organisasi Abubabar Aldjufri tak terbilang banyaknya, ia menjadi perintis beberapa asosiasi, antara lain menjadi ketua Pepehani, hampir sepanjang hayatnya, Ketua Indonesian Man Power Association (IMSA)-Perusahaan Pengerah tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri- , Gabungan Penguisaha ekspor Indonesia (GPEI), Ketua Kamar Dagang Indonesia untuk Timur Tengah, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), dan lain sebagainya. Karena aktifnya, beliau pernah memimpin delegasi petani Indonesia di Irak, dan akrab dengan Saddam Hussein.

Di Timur Tengah juga beliau pendukung aktif perjuangan kemerdekaan Palestina, dan dikenal dekat dengan pemimpin PLO, Yasser Arafat. Sayyid Abubakar Aldjufri juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Surabaya pada tahun 1951. Di samping itu tidak melupakan tugas yang dikerjakan nenek moyangnya berdakwah untuk kaum papa di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), ia tergabung dalam satuan ulama untuk daerah tersebut.

Ayah 15 orang anak ini meninggal di Jakarta pada 1996, di rumah isterinya Syarifah Fadilah binti Hasan bin Agil dan Zahra binti Abubakar Alhabsyi, putri Kebon Pala Tenabang. Sayyid Abubakar Aldjufri dikuburkan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta Pusat.

***

Senin, Mei 07, 2007

Haji Abubakar Aldjufri

Tenar Karena Ternak

Melawan cukong-cukong ternak Indonesia di Hongkong, sudah dilakukan Abubakar Aldjufri pada tahun 1973. "Perdagangan ternak kini betul-betul dikuasai cukong-cukong yang berpangkalan di Hongkong. Bukan dalam bentuk penanaman modal langsung tapi berujud monopoli dan diskriminasi angkutan laut,"ujarnya. (Rubrik Ekonomi Bisnis, Majalah Tempo, 23 Juni 1973, hal.39). Saat itu Abubakar menjadi Ketua Gabungan Eksportir Ternak Indonesia (Indapta), sebuah asosiasi 65 pedagangan ternak pribumi Indonesia.

Kekesalan Abubakar Aldjufri pada cukong-cukong ternak, wajar, karena akibatnya, pengusaha yang tergabung dalam Indapta makin lama jumlahnya makin berkurang. Dari 65 anggota yang masih dapat beroperasi tinggal 15 perusahaan. Duapuluh eksportir daerah beralih usaha, dan 30 eks anggota Indapta menjadi komisioner dan berfungsi sebagai orang kepercayaan eksportir yang mendapat modalnya dari Hongkong.

Abubakar Aldjufri dengan perusahaannya Fa. Aldjufri merupakan salah satu perintis ekspor ternak ke luar negeri, terutama Hongkong. Tiap tahun ekspor ternak Indonesia meningkat. Namun, belakangan yang menikmati keuntungan hanyalah para cukong asal Hongkong dan Singapura. Jika para cukong licik itu dapat diberantas, Abubakar yakin lebih banyak dollar dan rupiah mengalir masuk ke kantong eksportir-eksportir maupun petani-petani ternak di Nusa Tenggara Barat, Timur dan pulau dewata. Tapi nyatanya, kenaikan itu tidak dengan sendirinya menguntungkan para eksportir dan peternak Indonesia.

Perjuangan Abubakar untuk membela para peternak Indonesia, selain untuk perusahaan yang dirintis keluarganya, juga kelangsungan hidup para eksportir, peternak Indonesia, dan pemasukan devisa yang tak kecil. Padahal saat itu andalan ekonomi Indonesia, hanyalah berasal dari minyak. Namun, pada 1979, pemerintah melarang ekspor ternak, dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Abubakar tak putus asa, ia terus berjuang dan membentuk organisasi Pedagang Hewan Nasional Indonesia (Pepehani). Maksudnya, ada para peternak dan pedagang hewan tak dirugikan.

Tak heran sebelum meninggalnya, jika setiap Ramadhan, Idul Fitri, maupun Idul Adha, nama Abubakar Aldjufri, selalu dikutip media massa, mengenai stabilitas harga daging dan perdagangan ternak untuk kebutuhan masyarakat. Biasanya, Abubakar berhadapan dengan birokrat pemerintah yang memeras pedagang, lewat keribetan birokrasi dan pungutan-pungutan liar yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi.

Almarhum Habib Abubakar bin Salim Al-Jufri adalah keturunan ke-36 dari Rasulullah Muhammad SAW. Menurut sejarah, pada akhir abad ke-19 datanglah ke Pulau Jawa tiga orang pemuda Abdurachman, Umar dan Mohammad, putera-putera dari Habib Abdul Kadir Al-Djufri dari Sewun, Hadramaut (sekarang berada di Republik Yaman). Ketiganya dari Pulau Jawa berangkat ke Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur dan berusaha dalam peternakan dan perdagangan hewan. Muhammad dan Umar membuat syarikat Firma Mohammad Aldjufri yang berhasil menjadi perusahaan besar di bidang perdagangan hewan sampai dengan tahun 1957. Sedangkan Abdurrahman lebih banyak mencurahkan waktunya untuk dakwah di Pulau Sumba ditunjang oleh kedua saudaranya. Ketiganya meninggal dan dimakamkan di Surabaya.

Tentang keluarga Al-Jufri terekam dalam Buku Sejarah Republik Indonesia tentang kepulauan Sunda Kecil yang diterbitkan oleh Kementerian Penerangan R.I. Kalau di daerah Sumba kini lebih kurang ada ratusan ribu orang penduduk yang menganut agama Islam dan mempunyai 2 buah sekolah madrasah, maka ini dapat dimengerti karena pada abad XX datang lagi seorang bernama Mochamad bin Aldjufri, seorang Arab pedagang hewan yang terbesar di daerah Sumba hingga sekarang ini.

Almarhum Habib Abubakar Al-Djufri ini adalah putera kandung dari Syarifah Sidah binti Mohammad Al-Djufri dan Habib Salim bin Abdurrahman Al-Djufri. Lahir di Gresik, Jawa Timur 21 Desember (17 Sya’ban) 1926. Anak ketiga dari sebelas bersaudara ini belajar di perguruan Al-Khairiyah dan Islamic Middlebare School di Surabaya. Ia sempat mencicipi sekolah singkat di International Marketing, Colombo Plan, Indian Institute of Foreign Trade, New Delhi, India. Tamat sekolah, ia tertarik pada dunia pendidikan dan menjadi penilik sekolah Arab English School di Pandaan, Malang. Namun, seperti keluarganya yang lain akhirnya terjun juga dalam dunia usaha, tahun 1942 menjadi sekretaris Persatuan Pedagang Asia.

Ketika Jepang berkuasa Abubakar Al-Djufri menjabat kepala Gudang Bongkar Muat perusahaan Ganebo. Juga aktif dalam Keibodan, 1944. Ketika Revolusi Kemerdekaan Indonesia pecah ia menggabungkan diri dalam Barisan pemberontakan Rakyat Indonesia, pimpinan Bung Tomo. Selain itu, ia menjadi wartawan berbagai media yang pro Republik Indonesia sampai tahun 1948. Pekerjaan wartawan ditekuninya pula sampai masa tuanya. Ia adalah wartawan Kantor Berita Antara dengan kode D-13, 1975-1980.

Almarhum Al-Habib Haji Abubakar Aljufri lalu aktif menekuni pekerjaannya sebagai pedagang sapi, dan pekerjaan jasa lainnya. Pemilik ranch di di Pare-pare Sulawesi Selatan dan Sumba, NTT ini juga menjadi penghubung utama para pedagang, petani dan pemerintah Indonesia dengan negara-negara di Timur Tengah.

Organisasi Abubabar Aldjufri tak terbilang banyaknya, ia menjadi perintis beberapa asosiasi, antara lain menjadi ketua Pepehani, hampir sepanjang hayatnya, Ketua Indonesian Man Power Association (IMSA)-Perusahaan Pengerah tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri- , Gabungan Penguisaha ekspor Indonesia (GPEI), Ketua Kamar Dagang Indonesia untuk Timur Tengah, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), dan lain sebagainya. Karena aktifnya, beliau pernah memimpin delegasi petani Indonesia di Irak, dan akrab dengan Saddam Hussein. Di Timur Tengah juga beliau pendukung aktif perjuangan kemerdekaan Palestina, dan dikenal dekat dengan pemimpin PLO, Yasser Arafat. Karena dekatnya, saat anak perempuan terakhir lahir dinamai Leila, diambil dari nama seorang pejuang perempuan Palestina Leila Khalid.

Sayyid Abubakar Aldjufri juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Surabaya pada tahun 1951. Di samping itu tidak melupakan tugas yang dikerjakan nenek moyangnya berdakwah untuk kaum papa di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), ia tergabung dalam satuan ulama untuk daerah tersebut.

Ayah 15 orang anak ini meninggal di Jakarta pada 1996, di rumah isterinya Syarifah Fadilah buah hati pasangan Hasan bin Agil dan Zahra binti Abubakar Alhabsyi, putri Kebon Pala Tenabang, Jakarta Pusat. Sayyid Abubakar Aldjufri dikuburkan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta Pusat. (AT)