Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan

Senin, September 22, 2008

Melebur Bersama Scat dan Lagu Cinta

Vokalis jazz Al Jarreau berkolaborasi dengan gitaris jazz yang lebih dikenal sebagai pelantun lagu romantis, George Benson. Penonton serasa ikut tampil bersama mereka.

***
“Jakartaa…, Indoooooonesiaaaa.” Dua kata ini menyelip dalam scat singing--improvisasi vokal menirukan suara instrumen musik--khas Al Jarreau, yang meluncur dalam jeda dan diikuti penonton. Terdengar gemuruh tawa. Penyanyi kelahiran Wisconsin, Amerika Serikat, 68 tahun lalu itu juga ikut terbahak.

Bunyi-bunyian dan kata-kata di mulut Jarreau memang menjadi ornamen yang memikat. Di telinga terdengar ritmis dan harmonis. Dari olah vokal Jarreau, jazz seolah kembali ke sejarah awal kemunculannya, dari kaum budak asal Afrika yang bekerja di Amerika pada abad ke-19. Waktu itu musik masih merupakan sarana untuk mengadu, mengeluh, dan membicarakan nasib, sekaligus menghibur diri dalam impitan kehidupan. Berbeda dengan masa kini--ketika jazz sering diposisikan sebagai musik kaum kelas atas.

Bukan hanya ceracau dan tiruan bunyi alat musik, jari-jari Jarreau begitu dinamis, tak bisa diam. Kadang dia seperti memegang grip di gagang gitar--jemarinya seolah “mengeritingkan” dawai. Panggung yang minim dekorasi menjadi hidup. Tapi tentu saja panggung bisa menjadi apa pun, sebab dia adalah legenda. Dia telah menyabet tujuh penghargaan Grammy dalam periode empat dasawarsa, di kategori jazz, R&B, dan pop (dia satu-satunya penyanyi pria yang berhasil merajai tiga kategori yang berbeda ini).

Pertunjukan seusai salat tarawih di Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu dua pekan silam itu dibuka dengan Breezin’. Nomor legendaris George Benson, remake dari karya Bobby Womack, ini merupakan lagu pertama dalam album kolaborasi Jarreau dan Benson, Givin’ It Up. Jarreau dengan piawai “memverbalkan” Breezin’, sedangkan Benson merenyahkannya dengan petikan dawai Ibanez hollow body-nya yang memang terdengar empuk, dan sesekali menambahi dengan vokalnya.

Usai satu lagu, Benson mundur ke belakang panggung, scat singing Jarreau makin hidup dengan Your Song, We’re in This Love Together, Cold Luck, Mornin’, Take Five, Midnight Sun, dan medley cantik “campursari” Agua de Beber serta Mas Que Nada.
Benson muncul lagi, bersanding dengan Jarreau, melantunkan Long Come Tutu. Lagu ini dipersembahkan untuk uskup penggerak perdamaian asal Afrika Selatan, Desmon Tutu.

Lalu panggung berganti pemilik. Kali ini Benson melantunkan lagu-lagu cinta yang akrab di telinga penonton, seperti Nothing’s Gonna Change My Love for You, In Your Eyes, dan The Greatest Love of All. Tampak semua penonton berdiri mengikuti musisi kelahiran Pittsburgh, Amerika Serikat, 65 tahun silam itu. Mereka seperti melebur bersama musik yang dimainkan. Mungkin mereka punya perasaan serupa: kenangan dimabuk cinta pada 1980-an. Ya, siapa yang tidak kenal--meski boleh juga tak suka--dengan lagu-lagu cinta abadi itu.

Tak sekadar menyanyi, setelah membawakan In Your Eyes, Benson bercerita. Dia bertemu seorang perempuan di bar hotel tempatnya menginap. Dia masuk ke bar, namun tak ada yang mengenalnya. “Lalu saya menyanyikan sepotong bait In Your Eyes. Perempuan itu langsung menyahut, ‘O, ya, malam ini George Benson tampil.’ Ternyata orang lebih kenal lalu-lagu saya daripada orangnya, ha-ha-ha...,” katanya.

Kolaborasi Jarreau dan Benson makin seru di tiga lagu terakhir. Seolah ada interaksi tiga pihak: musisi, musik, dan penonton. Masing-masing punya improvisasi sendiri, namun terasa padu.

Penampilan mereka berdua di Jakarta--yang diselenggarakan oleh promotor Buena Production--merupakan persinggahan terakhir di Asia untuk mempromosikan album Givin’ It Up, yang dirilis pada 2006. Sebelumnya mereka tampil di Seoul, Manila, Beijing, Shanghai, Hong Kong, dan Bangkok. Secara terpisah, baik Jarreau maupun Benson sudah pernah menggelar pertunjukan di Jakarta.

Pertunjukan kolaborasi mereka memang menghibur, meski ada yang menganggap kurang maksimal, atau ada yang menilai duet yang sedikit dipaksakan. Bagaimanapun, Jarreau dan Benson adalah kolaborasi manis sekaligus bernilai komersial, setelah karier mereka melampaui puncak. Musik pop dengan sentuhan jazz yang mereka sajikan cocok untuk pasar “dewasa kontemporer”.

Dan penonton pun tak beranjak sampai pertunjukan benar-benar usai, saat Every Time You Go Away, karya Daryl Hall yang sempat dipopulerkan oleh Paul Young, berkumandang: Every time you go away/You take a piece of me with you....

Ahmad Taufik
(dimuat di MBM Tempo 22-28 September 2008)

Sabtu, Agustus 16, 2008

The Beatles van Bandung

G-Pluck, grup musik asal Bandung, terpilih sebagai satu-satunya band dari Asia yang tampil dalam Beatles Week di Liverpool. Menjiplak pun butuh keseriusan.

**--
Come on…, come on…, come on…, come on…, bye…, yeah…. Begitulah Twist and Shout dibawakan oleh John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr.
Mereka menggebrak suasana ketika tampil di panggung Sasana Budaya Ganesha, Bandung, awal Juni lalu. Setelah itu, berturut-turut grup itu muncul dan tampil prima di Cirebon, Semarang, Yogyakarta, dan juga Planet Hollywood, Jakarta, sepanjang Juli ini.

The Beatles kembali? Tidak, ini hanya “reinkarnasi”-nya. Namun gaya bermusik mereka, suara vokalis--Paul McCartney dengan logat Irlandia dan John Lennon dengan aksen British-- gerakan, hingga kostum, semua mirip The Beatles. Padahal keempat pria itu adalah urang Bandung asli yang tergabung dalam G-Pluck. “Dari fashion dan musiknya, mereka habis-habisan menjiplak The Beatles,“ kata pengamat musik Denny Sakrie.

Eit.., jangan terburu-buru meremehkan mereka. G-Pluck jelas tak asal menjiplak The Beatles. Buktinya, mereka terpilih menjadi satu-satunya band di Asia yang mendapat kesempatan tampil dalam Beatles Week Festival, ajang perayaan The Beatles terbesar di dunia, di Liverpool, Inggris, 20-26 Agustus mendatang. Dalam acara tersebut, akan tampil 200 grup, namun hanya 40 yang boleh menggelar pertunjukan langsung, termasuk G-Pluck, yang mendapat kesempatan tampil live tujuh kali dalam lima hari festival itu digelar.

Tidak cuma itu, G-Pluck mendapat kehormatan unjuk gigi di The Cavern Club, sebuah klub yang “sakral” bagi The Beatles dan Beatlesmania. The Cavern yang terletak di Jalan Mathew 10, Liverpool, itu merupakan klub yang menjadi titik awal sukses The Beatles. Sebab, ketika main di klub itu pada 9 November 1961, Brian Epstein, bos toko musik North End Music Store, menonton The Beatles dan memutuskan menjadi manajernya. Epsteinlah yang berhasil membawa The Beatles masuk dapur rekaman untuk pertama kali pada 1962. “Bagaimana kami tak bangga bisa tampil di Cavern,” kata Awan Garnida, pentolan G-Pluck.

Sebelum sampai ke The Cavern Club, perjalanan G-Pluck sendiri dalam menjiplak The Beatles sungguh panjang dan berliku. G-Pluck berdiri tujuh tahun lalu, tapi para personelnya sudah hampir 15 tahun memainkan lagu-lagu The Beatles. Selama masa itu, setiap anggota band juga berusaha “bermetamorfosis”. Awan Garnida, pemimpin dan pemain bas, berjuang mirip Paul McCartney, Wawan menjadi George Harrison, Adnan Sigit berusaha mereplika John Lennon, dan Beni Pratama penggebuk drum meniru Ringo Starr, lengkap dengan berewoknya.

“Tapi kami hanya meniru saat tampil di panggung, tidak dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Awan. Ya, G-Pluck mengadopsi mulai dari cara dan gaya bermain gitar, pakaian, peralatan band, tone musik, sampai ceplas-ceplos cara omong personel The Beatles, lengkap dengan dialek Inggrisnya. Bahkan sampai kesalahan George Harrison saat main musik, mereka tiru juga. Beberapa kesalahan lain yang ditiru G-Pluck antara lain dalam lagu Let It Be, All You Need is Love, Slow Down. “Ini agar kami tampil sempurna,” kata Awan

Perjuangan meniru juga dilakukan oleh personel G-Pluck dalam cara memainkan alat musik. Awan, yang tidak kidal, berusaha bermain bas dengan tangan kiri. Mereka juga memesan gitar untuk Wawan sama dengan gitar yang dimainkan George Harrison, langsung dari pabriknya di Jerman. Begitu juga dengan bas yang dimainkan Awan, dipesan langsung dari pabriknya, Hofner, di Jerman. Jenisnya pun sama dengan yang dimainkan McCartney, yaitu lefthanded 500/1 –vintage 63, yang diboyong pulang dengan harga US$ 300 ribu (sekitar Rp 2,75 miliar).

Meniru baju agar benar-benar mirip dengan yang dikenakan The Beatles saat manggung juga tak mudah. Mereka tak segan mencari-cari sampai ketemu penjahit yang tepat. Menurut Awan, yang paling sulit adalah meniru kostum Sgt. Pepper’s--baju ala tentara--yang dikenakan The Beatles. Sedangkan untuk tampil di Liverpool, G-Pluck telah memesan seperangkat kostum langsung dari penjahit yang membuat baju The Beatles.

Butuh waktu lima tahun untuk melakukan semua proses peniruan hingga mirip benar dengan The Beatles. G-Pluck melakukannya dengan mengacu pada lagu-lagu, footage, film, dan wawancara dengan The Beatles. “Yang paling sulit adalah menginterpretasikan penampilan grup pada era pertengahan hingga 1969, karena The Beatles tampil live terakhir pada 1966 sebelum bubar pada 1970,” ujar Awan.

Sebenarnya, peniruan The Beatles bukan hal baru. Banyak grup musik yang lebih dahulu melakukannya, seperti Bharata Band, Mat Bitel, Silver Beat. Tapi peniruannya hanya sebatas pada lagu-lagu dan kostum. Tak ada yang sampai seserius dan setotal G-Pluck. “Kami hadir sebagai pelipur dahaga para Beatlesmania yang biasanya hanya bisa melihat dari klip atau kaset. Paling tidak mereka bisa terhibur dengan menonton ’reinkarnasi’ The Beatles,” ujar Awan.

Pernyataan Awan memang bukan omong kosong. G-Pluck bermain apik tampil menghibur 90 menit nonstop membawakan 33 lagu The Beatles hampir tanpa cacat di lapangan Sasana Ganesha Bandung dalam acara Road to Liverpool. “Saya semula tidak tahu seperti apa G-Pluck. Namun, setelah menyaksikan sendiri, saya salut. Mereka membawakan semuanya secara sempurna,” ujar Desi Rosanti, 24 tahun, penonton yang mengaku fan berat The Beatles.

Meniru grup band atau penyanyi asing memang bisa digunakan sebagai penawar rindu para penggemar di sini. Seperti G-Pluck menghibur Beatlesmania itu. Bahkan, menurut Denny, band imitasi berbagai kelompok musik asal Eropa atau Amerika pernah berkembang pesat pada 1970-an. “Hampir semua band maupun penyanyi individu saat itu nyontek dari luar,” katanya.

Lalu pada 1980-an, Sys N.S., mantan penyiar radio Prambors yang sekarang menjadi politikus, mencoba menghidupkan kelompok-kelompok musik tiruan dalam sebuah parade. Ada Acid Speed Band yang meniru The Rolling Stones, Cockpit pimpinan Fredy Tamaela mirip Genesis. Ketika itu Gito Rollies dinobatkan sebagai Jim Brown, Ikang Fawzi sebagai Rod Stewart. “Saya pernah melihat situs Genesis, Cockpit dari Indonesia masuk daftar peniru yang baik,” ujar Denny.

Sampai saat ini pun masih cukup banyak band di Indonesia yang meniru kelompok dari mancanegara, meski kebanyakan tak diakui. Namun, dari semua peniruan, G-Pluck tak tertandingi. Menurut Denny, kelompok itu benar-benar mengambil “jalan Beatles”, tak sekadar musik “rasa” Beatles. Hal itu terbukti dari respons penggemar The Beatles. Desi Rosanti, misalnya, sampai meneteskan air mata melihat penampilan The Beatles, eh, G-Pluck.

Mungkin hanya satu yang sedikit berbeda. G-Pluck lebih sopan ketimbang The Beatles. Awan “Mc Cartney” tak lupa memohon doa restu kepada para penggemarnya dalam setiap pementasan sebelum G-Pluck berangkat ke Liverpool, 15 Agustus nanti. “Semua izin dan lain sebagainya sudah beres, kami berdelapan (anggota band dan kru) siap berangkat,” ujar Awan. Mudah-mudahan saja, G-Pluck mendapat keuntungan seperti The Beatles ketika manggung di The Cavern Club.

Ahmad Taufik, Alwan Ridha Ramdani dan Rana Akbari Fitriawan (Bandung)

Sabtu, April 26, 2008

Menonton Nostalgia 80-an

Penampilan Duran Duran masih prima. Penonton cuma menikmati nostalgia.

Romulo Radjidin, 44 tahun tampak sumringah setelah pertunjukkan grup band asal Birmingham, Inggris, Duran Duran di ruang pertunjukkan Jakarta Convention Centre, Senayan, Selasa malam pekan lalu. Pemilik nama beken Lilo, gitaris KLA Project, yang top pada akhir 1980-an dengan tembang Yogyakarta, merasa wajib nonton pertunjukkan ini. “Kehidupan musikku bersama era Duran Duran,”katanya.

KLA lahir 1988, ketika hampir delapan tahun Duran Duran menguasai aliran musik. “Duran Duran yang mengusung new wave dan punk, kami mengusung new romantic, lebih sendu dari Duran Duran di era itu,”ujar Lilo.

Lagu Duran Duran menguasai ruang-ruang diskotik di pertengahan 1980-an. Lilo menyebut musik yang enak untuk fashion show. “Duran Duran memang bisa masuk ke lantai disko pada masa itu, tapi bukan musik disko,”katanya. Duran Duran, diambil dari nama dr Durand Durand dalam film fiksi ilmiah besutan sutradara Roger Vadim, Barbarella. Grup itu dibentuk saat John Taylor, Nick Rhodes bertemu dengan penggebuk drum Roger Taylor usai sebuah pesta. Simon Le Bon juga gabung atas anjuran bekas pacarnya yang bekerja di klub malam Rum Runner, London. Wajarlah nuansa pesta atau klub malam mewarnai kelompok musik ini.

Musik Duran Duran sejak awal termashur hingga album terakhir Red Carpet Massacre, selain ngebeat dipuji Lilo hebat dengan ramuan campuran digital synthesizers. “Duran Duran tuh bener-bener gila nge-remix berbagai suara, tapi tak meninggalkan ciri khas musik masa 80-an. Itu, kelebihannya,”ujarnya.

Selain musik yang boleh dibilang maju era itu, lirik lagu-lagu Duran Duran seperti bertutur. Untuk mengungkapkan cinta Duran Duran tak langsung bilang, “aku jatuh cinta padamu, atau aku suka kamu,” tapi ungkapan perasaan seperti srigala kelaparan
“In touch with the ground,
I'm on the hunt I'm after you,
Smell like I sound,
I'm lost in a crowd,
And I'm hungry like the wolf,
dalam lagu Hungry Like A Wolf di album kedua bertajuk Rio yang dirilis 1982. “Lirik-lirik Duran Duran bertata bahasa apik, edukatif, walaupun gak puitis banget,”kata Lilo.

Dalam lagu maupun pertunjukkan Duran Duran juga selalu membawa pesan-pesan positif, tampak pada lagu Rio, New Religion atau Save The Prayer. Di Senayan, sebelum melantunkan lagu Ordinary World vokalis Simon Le Bon, sempat menyerukan perdamaian. “Kita cukup prihatin dengan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia yang bisa kita lihat di televisi. Kini saatnya, kita saling berpegangan tangan untuk perdamaian,"katanya kontan disambut tepukan penonton.

Sambutan kaum yang beranjak mapan, orang-orang seumuran Lilo dan tak jauh di bawahnya. “Dulu, ketika Duran-Duran manggung disini 14 tahun yang lalu, kami cuma bisa nonton di teve. Sekarang, kami udah bisa nonton dan bayar sendiri,”kata salah seorang personil kelompok nyanyi parodi Project P, Udjo Karim, 37 tahun

Memang, nostalgia 80-an itulah yang dibidik oleh Nepathya. “Apalagi 80-an sekarang lagi naik daun, pasti laku,”kata Rinny Noor sang promotor. Malam itu, lebih dari 3.000 orang nonton pertunjukan bertiket seharga Rp 750 ribu – Rp 2 juta. Tak seperti Beyonce atau Mariah Carey, yang minta perlakuan khusus, Duran Duran cuma minta dicariin wine tahun 1980-an. “Kami tak bisa penuhi, susah carinya,”ujar Rinny.

Penampilan prima Le Bon dan kawan-kawan, mengalahkan panggung minimalis yang hanya dengan backdrop deretan gedung jangkung. Lampu yang didominasi warna ungu dan jingga, sesekali warna kuning, merah cukup untuk menampil sosok Duran Duran seutuhnya. Lampu blitz berulang-ulang dengan bunyi seperti klik kamera berulang-ulang mengukuhkan pendapat Lilo, musih untuk fashion. Sesuai pula dengan tema album barunya, pembantaian di karpet merah, cerita kejadian tragis di catwalk. Semua itu membuat penonton terkesiap.

Dari 20 lagu yang dinyanyikan malam itu, beberapa lagu baru dicomot dari Red Carpet Massacre yang kaya melodi, tapi justru tak mendapat sambutan hangat. Namun saat lagu Notorious, Wild Boys, Rio, The Reflex maupun Come Undone dilantunkan penonton menyambutnya. Bahkan belasan penonton di samping kanan panggung nampak berdiskoria.

Pertunjukkan Duran Duran tak cuma menjadi bahan tontonan jika penyelenggara lebih sedikit kreatif. Misalnya, menyulap balai sidang jadi lantai disko. Karena grup ini lebih cocok sebagai musik pengiring. Namun Lilo tak sepakat dengan kesimpulan itu. “Duran Duran tetap band yang pantas ditonton, dan penampilan kali ini asyik banget,”ujarnya.

Ahmad Taufik (edisi edit dimuat di Majalah TEMPO)

Rabu, Maret 05, 2008

Rolling Stones di The Rock

Grup musik cadas "The Rolling Stones", Kamis malam (29/11) muncul di The Rock Café, Kemang, Jakarta Selatan. Tentu saja bukan grup musik di bawah pimpinan Mick Jagger, yang muncul, tapi Acid Speed Band, "Rolling stones"nya Indonesia.

Dengan tiket Rp 75 ribu, penikmat lagu-lagu Rolling Stones bisa menikmati sekitar 25 lagu. Cuma acara yang direncanakan mulai pukul 21.00 baru main satu setengah jam kemudian, ketika, ruang telah terisi penuh, bahkan sampai banyak yang berdiri di depan panggung.

Rico, "Mick Jagger"nya Acid sudah tak lincah lagi. Karena tubuhnya, tampak tambun. Walaupun begitu, suaranya, masih mampu mengajak hadirin The Rolling Stones Nite berjingkrak dan bernyanyi bersama-sama. Sesekali vokalis itu maju ke meja panggung dan melompat-lompat bagai salah satu lagu Rolling, "Jumping jack Flash", yang malam itu juga dinyanyikannya.

Hadirin kebanyakan berusia 40 tahun ke atas. "Ya, kami bernostalgia, karena saat grup ini ngetop kami sedang berusia muda,"ujar Steve, 45 tahun. Reputasi Acid Speed Band juga bukan kelompok musik baru. Grup yang dulunya bernama Cikini Stones Compleks, sudah malang melintang membawakan lagu-lagu Rolling Stones sejak 25 tahun yang lalu. Bahkan saat manggung HUT ke-17 Rolling stones di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, yang rusuh, kelompok ini menjadi salah satu "bintang". Terutama karena wajah vokalisnya, Rico, yang mirip dengan vokalis Rolling Stones, Mick Jagger.

Walau waktu sudah menunjukkan hampir pukul 01.00 dini hari, para penonton belum beranjak pulang. Lagu "Ruby Tuesday" yang semula direncanakan sebagai penutup konser itu batal. Karena penonton masih minta tambah lagi. Pain it Black. Begitulah Acid memungkaskan pertunjukkannya.

Mafia Dalam Balutan Humor

Perang antar Gangster di Hongkong mengantarkan seorang anak gadis blasteran Cina-Korea Aryong, harus meninggalkan Pulau yang kini dimiliki China itu. Gara-garanya anak mafia Hongkong itu membunuh salah satu kepala gangster saingan ayahnya.

Di Korea Selatan, Aryong, yang dimainkan baik artis cantik Shu Qi dititipkan kepada pimbinan mafia Korea yang punya hubungan bisnis dengan ayahnya. Alih-alih seram karena perang antar geng, justru film My Wife is a Gangster 3 lucu banget. Bumbu humornya pun tak dibuat-buat seperti film Warkop DKI atau film-film Hongkong lainnya.

Adegan lucu ringan, berawal dari perintah kepala Mafia Korea kepada seorang preman di bawahnya. Preman itu merasa dirinya "besar kepala", selalu mendapat tugas besar, melukai, bahkan membunuh korbannya. Semula ia merasa dilecehkan, karena diperintahkan harus menjadi guide, tamu dari Hongkong. Namun, karena perintah bos besar ia tak berani menolak. Di Bandara, dengan dua anak buahnya yang sangar tapi bloon ia menungu sang tamu dengan nama di atas secarik kertas. Tunggu punya tunggu tamu ang dicari tak datang, tak dinyana begitu juga seorang perempuan yang mencari-cari penjemputnya, karena ia dipesan akan dijemput dan buta di Korea. Ternyata mereka berada di sebelahnya. Tahu tamunya perempuan kepala preman Ki Chul dimainkan artis Korea Lee Bum Soo, membusungkan diri akan menjaganya sepenuh hati.

Kelucuan yang membuat terpingkal-pingkal baru terjadi gara-gara salah paham. Karena Ki Chul tak bisa Bahasa Cina, sebaliknya Aryong juga tak mengerti Bahasa Korea. Ki Chul, menyewa penterjemah seorang perempaun, yang sangat takut dengan preman. Setiap omongan Ki Chul yang kasar diterjemahkan baik-baik ke Aryong, begtiu juga jawaban Aryong yang ketus diterjemahkan dengan terjemahan yang sopan.

Namun, belakangan Ki Chul cuma preman ayam sayur. Dalam sebuah kejadian bentrokan dengan preman, Ki Chul babak belur, sebaliknya Aryong dengan tendangan yang dahsyat mampu menekuklutut mafia saingan teman ayahnya itu. Gara-gara Aryong, Ki Chul yang semula nomor buncit mendapat tempat nomor satu di kalangan gangster Korea. Sebaliknya kini perterjemah Aryong, sudah berani berbuat kurang ajar kepada Ki Chul dengan mengatasnamakan Aryong. Kelucuan-kelucuan akibat terjemahan itulah yang bikin film buatan Sutradara Korea, Jo Jin-Kyoo, ini segar. Selamat menonton.

Televisi : Kecerewetan Ala Silat Lidah

Acara bincang-bincang ini menjual kecerewetan perempuan. Pernah diperingatkan karena terlalu vulgar.

JULIA Perez mendapat kartu kuning. Beberapa saat kemudian, “hukuman” artis seksi ini bertambah menjadi kartu merah. Tapi anehnya, Jupe--demikian dia biasa dipanggil--tidak menyesal, malah terus nyerocos berbicara. ”Wah, padahal gue paling jago bicara ginian,” katanya tak mempedulikan peringatan “wasit”.

Lho, kok bicara? Memang, Julia bukan sedang bermain sepak bola. Dia menjadi salah satu pembicara dalam acara bincang-bincang televisi bernama Silat Lidah. Talk show yang ditayangkan di ANTV setiap Kamis pukul 10 malam ini punya aturan main unik. Pembicara yang kelewat vulgar dalam menjawab, bicaranya tidak henti, atau memaki, akan mendapat peringatan kartu kuning atau merah. Bila terkena kartu merah, pembicara tidak diizinkan berkomentar untuk putaran berikutnya.

Nah, ketika itu Julia mendapat kartu kuning, lalu merah, karena dia melakukan gerakan asosiatif. Topik yang sedang dibicarakan adalah seks oral. Makanya, Julia terus bicara--dia merasa ahli dalam topik ini--meskipun sudah disemprit Irwan Ardian, sang host. Namun tidak hanya Julia yang dihentikan, episode Silat Lidah yang berbicara tentang seks oral itu yang batal ditayangkan. “Kami buang, takut vulgar,” kata Produser Eksekutif Silat Lidah ANTV, Kelly da Cunha.

Silat Lidah bisa dikatakan berbeda dibanding format acara bincang-bincang televisi lainnya. Tak seperti Empat Mata yang menjual kelucuan dan ke-ndeso-an Tukul Arwana, Silat Lidah mengekspos kecerewetan enam panelis yang semuanya perempuan. Empat panelis tetap, yaitu Ratna Sarumpaet, Ria Irawan, Melissa Karim, dan Julia Perez. Dua sisanya adalah bintang tamu yang disesuaikan dengan topik yang dibicarakan.

Acara berdurasi satu jam itu dipimpin seorang moderator sekaligus tuan rumah acara: Irwan Ardian. Dia tidak hanya bertugas mengatur lalu lintas pembicaraan--yang kadang chaotic dan luar biasa ribet karena harus “mengendalikan” mulut perempuan-perempuan cerewet--tapi juga bertindak seperti penguasa. “Saya dirancang menggunakan power of man,” kata Irwan yang juga penyiar radio Indika itu.

Selain itu, Irwan juga harus menetralkan acara. Maklum, sering kali komentar dan pendapat panelis terlalu tajam dan ceplas-ceplos. Mereka kadang saling menimpali kata, tanpa menunggu saatnya dipersilakan bicara. Untuk itulah Irwan selalu bilang “jangan pernah sakit hati” pada setiap jeda atau di akhir acara.

Irwan juga satu-satunya yang memegang skenario. Sehari sebelum rekaman, dia sudah mendapatkan surat-surat atau email berisi topik bahasan. Yang dibahas beragam, mulai dari kehidupan pasangan, politik, gaya hidup, hingga tren. Dia juga sudah diberi tahu siapa panelis tamunya. Sedangkan keempat panelis tetap baru tahu topik yang dibahas sekitar setengah jam sebelum pengambilan gambar.

Jadi, sangat kelihatan siapa panelis yang komentarnya tajam berbobot atau asal seru saja. Juga tampak siapa yang menguasai persoalan atau sekadar ikut bicara. Tapi Julia, yang sering dianggap sebagai panelis yang paling tak berotak, tidak menghiraukan soal wawasan. “Aku nggak merasa dibego-begoin. Saya jujur, polos, apa adanya, nggak munafik,” tangkisnya.

Mungkin karena terlalu “apa adanya”, tayangan yang sudah memasuki bulan kelima ini pernah diperingatkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Komisi itu menilai Silat Lidah terlalu vulgar, karena membicarakan hubungan seksual laki-laki perempuan secara terbuka. Salah satu tayangan yang diperingatkan adalah pengalaman pengirim surat, ketika bercinta dengan istri, anaknya masuk ke kamar tidur mereka. “Padahal sih bukan vulgar, tapi memang membicarakan soal organ tubuh di masyarakat kita yang dianggap masih porno,” ujar Kelly.

Ya, paling tidak, Silat Lidah bisa menjadi pilihan pemirsa ketimbang menonton sinetron yang isinya pasangan selingkuh dan orang marah-marah melulu.

Ahmad Taufik dati majalah Tempo edisi 28 Januari-3 Feb 2008

Panggung Magis Ciptaan Bjork

Konser Bjork di Jakarta memukau. Meski aneh, penampilan dan vokalnya terasa mistis, sekaligus memikat.


Lapangan di gedung Tennis Indoor, Gelora Bung Karno, Jakarta Selatan, tiba-tiba seperti menghamparkan ritual voodoo. Pemimpin upacara magis kuno yang berakar di Afrika itu adalah penyanyi asal Islandia, Bjork Gudsmundottir.

Perempuan 42 tahun itu berdiri di pusat panggung, mengenakan busana jingga bercampur putih dengan gelombang lebar di dua sisinya, persis suwir-suwir sirip ikan maskoki. Dia dikelilingi sepuluh pemain instrumen musik tiup berbagai ukuran, masing-masing membawa bendera merah di punggungnya, seperti pasukan berkuda dari Wales. Para pembawa bendera ini menari dengan gerakan seperti tak beraturan, mengikuti “perintah” sang pemimpin, yang mengeluarkan suara melengking tapi seirama dengan nada-nada aneh. Mirip rapalan mantra primitif.

Upacara itu mencapai klimaksnya ketika guntingan kertas warna-warni, asap kabut, dan sinar laser menghujani penonton. Musik berirama cepat. Bjork merampungkan nyanyian--dan perannya dalam--Declare Independence, lagu dari album terakhirnya, Volta (2007). Lagu ke-19 ini sekaligus menutup konser Bjork the Volta Tour di Jakarta, Selasa pekan lalu. Selama sekitar 90 menit, Bjork memukau lebih dari 3.000 penonton. Seperti di album-albumnya, dia bukan hanya menyanyi; dia berbisik, melolong, menjerit. Suaranya juga kerap mengeluarkan bunyi-bunyian primitif khas aneka perkusi. Dan seperti berbagai klip videonya, aksi panggungnya sarat aksi teatrikal. Semua dikemas menjadi pertunjukan yang aneh, tapi memukau. Pokoknya: Bjork banget.

Bjork adalah fenomena multitafsir. Seorang penonton bilang, “Memang ini musik orang sakit jiwa.” Andi, vokalis band /rif yang sengaja datang dari Bandung, menyebut musik Bjork sebagai etnik modern, campur jazz, tradisional, rock, brutal heavy metal, dan techno. Boleh juga ditambahkan beberapa genre lagi, seperti elektronik, ambient, eksperimental. Terserah. Toh, musik perempuan yang sudah 13 kali menjadi nomine Grammy Award itu memang biasa dimasukkan ke kategori berbeda-beda. Tidak seperti Celine Dion, misalnya, yang pasti masuk kategori pop. Atau Norah Jones, yang setidaknya bisa ke golongan jazz.

Atmosfer pertunjukan Bjork bisa bergerak dari keheningan di altar gereja hingga konser panas dan berkeringat di malam hari, atau gairah ajip-ajip di ruang “dugem” (dunia gemerlap hiburan malam). Walau dengan gerakan yang itu-itu saja: tangan seperti mengiris-iris atau meliuk-liuk, entakan kaki dan goyangan kepala, Bjork, ajaibnya, bisa bergerak harmonis mengikuti bunyi-bunyi yang sepertinya musykil untuk diikuti dengan gerakan.

Selain musiknya, bagaimanapun, Bjork adalah tontonan. Panggungnya ditata apik. Di belakang tampak umbul-umbul merah kuning bergambar burung, katak, ikan, dan kadal. Di bagian tengah ada pemain alat musik tiup serta peralatan musik elektronik. Di depan terkembang tiga layar televisi besar. Di layar inilah sesekali dipertontonkan jari-jemari pemain band yang sibuk menyentuh-nyentuh antarmuka alat musik elektronik, yang berfungsi mirip turntable di diskotek-diskotek tapi bisa menghasilkan aneka bunyi, dari yang primitif hingga modern dan futuristik.

Harap maklum dengan semua itu. Selama 31 tahun bermusik, Bjork memang besar dari aksi panggung ketimbang rekaman. “Kalau sedang pengambilan gambar untuk klip, yang saya bayangkan juga saat saya beraksi di panggung,” katanya.

Menurut Adrie Subono dari Java Musikindo, promotor yang mendatangkan Bjork, ada 15 ton peralatan yang dibawa Bjork untuk sekali pertunjukan di Jakarta. “Ini peralatan terberat selama saya mendatangkan grup-grup musik asing ke Indonesia,” katanya. My Chemical Romance, yang baru bulan lalu tampil di sini, cuma membawa peralatan seberat lima ton.

Dalam wawancara dengan media Australia, Bjork mengatakan ingin pertunjukannya dalam rangkaian tur Volta “seperti orkes simfoni di dalam ruangan, tapi dengan suasana ritual primitif di alam terbuka”. Dia--yang selalu menjawab pertanyaan dengan ungkapan-ungkapan tidak biasa--menganggap turnya kali ini sebagai yang “paling kelaki-lakian”. “Primitif, kasar, dan sangar,” katanya. Barangkali dia ingin berekspresi habis-habisan. Sebab, rencananya, setelah tur kali ini, dia memutuskan untuk menyepi dalam waktu lama. Dia punya alasan. Anak keduanya, Isadora Bjarkardottir Barney, yang lahir dari hubungannya dengan Matthew Barney, akan memasuki usia sekolah. Dia akan berkonsentrasi mendampingi Isadora.

Bjork tak pernah menutupi berbagai penafsiran terhadap dirinya, juga karyanya. Dia memang punya wajah beragam. Dia mengenakan gaun seperti angsa ketika menghadiri upacara penyerahan piala Oscar. Dalam album Medulla, yang ada hanya suaranya, tanpa musik. Dia juga bermain dalam beberapa film, di antaranya Dancer in the Dark, yang disutradarai Lars von Trier. Beberapa kali memukul wartawan, tapi dia juga mengunjungi korban tsunami di Aceh pada 2006. Dia pernah mendapat kiriman bom; pelakunya kemudian bunuh diri. “Orang selalu menilai saya dengan serius, sampai melupakan humor dan kelucuan,” katanya dalam sebuah wawancara.

Hidup baginya seperti parodi. Dia, misalnya, beranggapan bahwa setiap orang adalah biseksual, sehingga ketika memilih pasangan, sejenis atau tidak, itu tergantung keberanian orang memilih sisi yang mana. Dia juga melihat manusia sebagai anggota persukuan. Dia mengaku bahwa menulis lirik adalah peristiwa emosional--banyak lagunya yang didasari peristiwa tragis, seperti tsunami dan percobaan pembunuhan terhadapnya--tapi kadang proses kreatifnya juga tak seserius itu. Misalnya soal judul album Volta. “Saya selalu mencoba mencari judul album lagu dari bahasa Latin atau lainnya, asalkan bukan Inggris,“ katanya. Dia menemukan di Google, Volta adalah ilmuwan Italia penemu baterai.

Mengejar Bjork manggung di Indonesia, menurut Adrie, gampang-gampang sulit. Dia malah tidak menyangka Bjork menerima tawaran manggung di Jakarta--selain di Jakarta, di Asia, Bjork hanya tampil Hong Kong dan Shanghai. Syarat-syarat yang diminta memang berderet, seperti tak ada konferensi pers, tak ada sesi pemotretan, tak boleh ada kamera saat pertunjukan. Tapi Adrie oke saja.

Ya, mestinya memang tak perlu terlalu serius melihat Bjork. Meski musiknya aneh, seaneh orangnya, penampilannya tetap bisa dinikmati oleh orang yang tak berbekal pengetahuan musik. Orang bisa enjoy dengan konsernya tanpa kesulitan, tidak seperti memahami konser musik klasik, misalnya. Dan tampaknya semua penonton bisa mengunyah--tentu dengan cara masing-masing--pertunjukan malam itu. “Susah mendapatkan pertunjukan musik seperti ini, bener-bener unik,” kata Fachri Albar, anak rocker gaek Ahmad Albar.

Pertunjukannya bisa membuat trance, meski penonton tidak ikut bernyanyi seperti dalam pertunjukan musik lainnya. Mungkin karena kental aroma mistis dan ambient--seperti melayang-layang--dalam lagu-lagunya. Dengan menutup mata sebentar, dan memusatkan konsentrasi ke alunan musik, orang pun terjerumus ke dalamnya. Beberapa penonton yang “kerasukan” mencari tempat di bagian belakang yang lebih luas, untuk bisa menyalurkan gerakan dan keliaran mereka, mengikuti gerakan dan bunyi yang dihasilkan Bjork dan band-nya.

Ahmad Taufik dari majalah Tempo edisi 18-24 Feb 2008

Televisi : Tembok, Lubang, dan Basah

Hole in the Wall acara di televisi yang membutuhkan reaksi cepat dan kreativitas para pemainnya. Menghibur dan lucu, meskipun tiruan.

Jawa, ini nama orang, bertubuh tambun. Nelly Anne bertubuh kecil dan mungil. Mereka berdua harus melewati lubang berbentuk aneh-aneh pada tembok yang akan muncul dan menghampiri mereka dalam 10 detik. Kedua pemain tentu saja tak tahu seperti apa bentuk lubang tersebut. Jawa dan Nelly harus bereaksi cepat dan tepat agar bisa meloloskan diri dari lubang. Jika tidak, si pemain akan tersangkut tembok, terseret, dan masuk ke kolam berisi air. Kalah dan basah pula.

“Hadapi tembok Anda,” demikian kata pembawa acara Pandji Pragiwaksono memberikan aba-aba. Lalu muncullah tembok dengan dua lubang panjang, meliuk-liuk dan miring ke kiri, bergerak cepat menghampiri Jawa dan Nelly. Kedua pemain bergoyang-goyang mengatur bentuk badan agar bisa lolos. Bluss…! Siapa yang basah kecebur? Bukan Jawa yang gendut seperti perkiraan banyak orang yang hadir di studio 1 RCTI dua pekan lalu, melainkan si imut Nelly. Kakinya terseret tembok dan kecebur ke dalam kolam berisi air.

Begitulah model acara Hole in the Wall yang ditayangkan RCTI. Permainan ini dilakukan oleh dua regu, masing-masing terdiri atas tiga orang, yang ditantang meloloskan diri dari lubang--dengan bentuk tak terduga, kadang kacau-balau--di tembok yang berjalan menghampiri pemain. Tantangannya bertingkat, dari satu pemain, dua, lalu tiga. Untuk melipatgandakan nilai, ada tantangan doublespeed: tembok berjalan lebih cepat, dan megawall, dengan pemain ditutup matanya dan harus melewati lubang hanya berdasarkan petunjuk dua temannya. Baik yang menang maupun yang kalah mendapat hadiah sejumlah uang.

Permainan yang ditayangkan setiap sore mulai Senin hingga Jumat sejak tiga bulan lalu ini ternyata cukup menarik perhatian. Sebab, selain berbeda dengan acara game lain di televisi, Hole in the Wall ini lucu. Penonton terpingkal-pingkal melihat pemain mematut-matutkan bentuk badan demi bisa melewati lubang tembok yang bergerak menghampiri. Tak jarang pemain harus berpelukan, saling tindih, bahkan ada yang digendong. Adegan tertabrak tembok hingga kecebur kolam juga tak kalah konyolnya. Untuk itulah peserta harus siap tampil “gila”. “Saya tidak mau pemain tampil standar,” kata Pandji, yang juga sering memprovokasi pemain.

Seperti acara lain bila mulai naik daun, jam tayang Hole in the Wall pun ditambah. Sejak akhir Januari lalu, muncul edisi Mom. Pemainnya ibu-ibu. “Ternyata yang ibu-ibu lebih heboh,” kata Muhammad Razif Soekansah, produser acara ini.

Sayangnya--seperti sudah bisa ditebak--permainan ini bukan ide orisinal Indonesia. Hole in the Wall adalah permainan asli Jepang, negara asal permainan lucu, unik, dan kreatif, seperti Benteng Takeshi dan Masquerade. Namanya Haneru No Tobira atau Human Tetris Game. Selain diekspor ke Indonesia, permainan ini sudah diadaptasi di beberapa negara, termasuk Channel 9 Australia mulai Januari lalu. Di sini, hak tayang permainan ini dibeli dari Fremantle Media, perusahaan yang memiliki paten beberapa acara, seperti Indonesian Idol.

Bedanya, di sini ongkos produksinya lebih ditekan. Untuk sekali tayang Rp 60 juta. Di Jepang, temboknya lebih kukuh. Di Indonesia, tembok dibuat dari bahan gabus tebal, sehingga tak jarang tembok hancur atau patah setelah menabrak pemain. Yang berbeda juga, di sini ada segmen untuk ibu-ibu. “Di Jepang tidak ada,” ujar Razif. Tapi di Jepang ada segmen khusus bikini, yang sedap dipandang.

Ahmad Taufik dari Majalah Tempo edisi 11-17 Feb 2008

Rabu, November 28, 2007

Jazz Goes to Campus 2007 :Jazz, Bazzar dan Asem Keringat

Salah satu pertunjukkan jazz tertua digelar di Kampus UI Depok. Penontonnya membludak, kebanyakan menikmati jazz pop.

Udara yang pekat, tanpa angin tak menyurutkan semangat orang-orang datang ke perhelatan ke 30 Jazz Goes to Campus 2007 di Kampus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, pinggiran kota Jakarta, Ahad, dua pekan lalu.
Sejak pukul 09.00, suasana kampus sudah ramai. Banyak jalan ditutup ke tempat itu. Bahkan di luar kampus, jalan menuju pusat pendidikan itu macet. Di dalam kawasan pertunjukkan yang dibatasi dengan terpal plastik warna biru, tampak berbagai stand, mulai dari kaos, souvenir, cakram padat (disc) sampai sate padang meramaikan tempat itu. Suasana bazzar sangat kental. “Ada 63 stand,”ujar Anita, seorang panitia.
Sambil kipas-kipas, dan mengusap keringat penonton yang kebanyakan kaum muda-mudi tumplek di depan dua panggung terpisah; Celebration Stage dan Inspiration Stage menikmati berbagai jenis musik jazz. Mulai dari yang pop, fussion, dixie, swing, groovy sampai yang jazzy banget. “Inspiration Stage merupakan panggung yang memberikan kesempatan kepada penonton untuk lebih dekat kepada yang main. Sedangkan Celebration Stage lebih seperti konser,”kata Ketua Panitia Christa Sabathaly.
Di panggung Celeberation yang menampilkan Ireng Maulana, Idang Rasyidi, Andien, Tompi, Benny Likumahuwa, Iga Mawarni dan grup lainnya lebih semarak dan padat. Sedangkan di panggung Inspiration yang menampilkan Syaharami, Balawan, Sol Project dan kelompok jazz lainnya, tak sebanyak panggung satunya. Pembagian panggung sebenarnya punya maksud, inspiration bagi penikmat benar-benar jazz, sedangkan celebration buat penggemar jazz populer.
Pada awal pertunjukkan para penonton bisa duduk di taman-taman rumput atau di tengah lapangan, di depan panggung, bahkan lebih banyak yang pergi berbelanja di counter-counter bazzar. Namun, sejak Tompi tampil, menjelang sore, keadaan sudah padat, para penonton sudah tak bisa rileks lagi, semua berdiri. Bau asem keringat menusuk saat berbaur, karena udara terbuka yang tanpa angin. “Hebat UI, Hebat,”kata Ireng Maulana sambil melemparkan karcis Jak Jazz buat penonton.
“Saya sejak pertama kali acara ini diadakan pada 1977, dan tiga tahun pertama mengisi acara ini, saya terkesan sekali,”kata Ireng memuji perhelatan yang bisa menyedot banyak pengunjung. Sosialisasi musik jazz ke kampus ini digagas Chandra Darusman , terbukti berhasil menarik minat banyak sponsor pendukung, juga jumlah pengunjung yang terus bertambah setiap tahunnya. Dulu pada awalnya di gelar di Kampus Salemba, Jakarta Pusat. “Waktu itu Chandra masih main. Kami diajaknya, Yuk kita main. Yuk kita nge-jam bareng, waktu itu masih pakai tikar. Bagus, sekali, tujuannya mengenalkan jazz ke masyarakat,”kenang Ireng. Karena tempatnya kecil di Salemba, menurut Ireng, penonton sampai naik ke atas genteng.
Jazz Goes to Campus boleh dibilang even musik jazz terbesar dan nomer dua tertua di dunia. Karena kelahirannya hanya berselang setahun setelah North Sea Jazz Festival Belanda yang merupakan even musik jazz tertua dan terbesar di dunia.
Dalam perjalanannya festival Jazz FE UI ini telah menghadirkan sejumlah musisi ternama dunia seperti Bob James, Dave Koz, Claire Martin Quintet, Ron Reeves, Los Cabaleros, Coco York, Mike Del Ferro hingga Curtis King. Dari negeri sendiri ada Bubi Chen, Benny Mustafa, Benny Likumahua, Yopie Item, Ireng Maulana & Friends, Ermy Kullit, Elfa Secoria, Krakatau, Indra Lesmana Reborn, Riza Arshad, Tohpati, SimakDialog, Donny Suhendra, Iga Mawarni, Syaharani, hingga Tompi. “Tujuan pertama memang memperkenalkan Jazz. Yang main waktu pertama kali di bawah pohon, itu sudah meninggal semua. Tapi spiritnya tetap ada,”kata Idang Rasjidi yang hanya absen sekali selama keberadaan festival ini.
Musik Jazz berkembang di Universitas Indonesia tak lepas dari kendali pemerintahan orde baru yang menerbitkan kebijakan apolitis mahasiswa dan kampus (NKK-BKK) pada 1978. Sedangkan kampus-kampus lain, seperti ITB Bandung dan UGM Yogyakarta musik itu tak begitu berkembang, karena mahasiswanya masih sibuk “melawan” pemerintah. Jazz juga dianggap milik “kaum elit”.
Padahal sejarah jazz yang lahir di Amerika Serikat 1868, dan berkembang pada 1917, justru dimainkan kaum kulit hitam di New Orleans. Mereka main di bar, rumah judi dan tempat bordil (pelacuran) yang tumbuh disana.
Di Indonesia, musik ini dikembangkan oleh Jack Lesmana dengan mendirikan sekolah musik pada awal 1970-an. Chandra Darusman, Abadi Soesman, Benny Likumahua, dan anak sendiri Indra menjadi “kelinci” percobaan yang meneruskan sehingga musik ini berkembang pesat. Anak muda, begitulah sasaran Jack menularkan jazz. Chandra membawanya ke kampus UI.
Salah satu keunggulan Jazz Goes to Campus adalah melahirkan grup jazz anyar, lewat jazz competition yang digelar beberapa hari sebelum pertunjukkan akbar. Hasilnya tak jelek, misalnya Witry and friends juara pertama tahun ini yang tampil awal di panggung selebriti, suaranya empuk jazzy dan sang penyanyi cabtik pula. Cuma sayangnya, kelompok ini masih menyanyikan lagu-lagu asing.
Berbeda dengan Tompi yang energik, dengan modal ketenarannya saat ini, berani tampil membawakan lagu Balonku Ada Lima, dan Ketahuan milik Matta dalam balutan jazz. “Memang ada beberapa band yang pronounciation-nya sengaja dibikin-bikin biar terkesan bule, keren. Kalo menurut gue, kalo berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kalo nyanyinya enak, tetap enak kok,”kata dokter yang sudah tampil tiga kali di tempat yang sama.
Banyak tampilnya jazz pop membuat Imam Sasongko, 49 tahun, kecewa. Penonton yang membawa serta istrinya, dosen Politeknik Negeri Jakarta mengaku ingin menikmati alunan Jazz mainstream. “Saya kurang puas dengan apa yang ditampilkan, terlalu populer. Mungkin wajar karena, yang datang anak-anak muda,”katanya.
Memang, sejak pagi hingga siang, selain penikmat jazz populer, perhelatan ini menjadi ajang kumpul-kumpul dan pacaran. “Aku kesini mau nonton aja. Kumpul sama teman-teman,”ujar Viki Fitriati, 16 tahun, yang mengaku bukan penggila jazz.
Salah seorang pianis yang tampil rapi solo Nial Djuliarso juga berharap sama seperti Imam. “Pemain sudah banyak. Saya berharap ada yang mengarahkan untuk lebih ke mainstream,”kata pemusik yang sudah kahot di manca negara.
Namun, seperti yang dikatakan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang memberikan orasi dan menyerahkan penghargaan kepada jazzer gaek Benny Likumahua, agar tak hanya sekadar mendengarkan musik. “Saya kira ini sesuatu produk maupun aktivitas yang bagus. Apresiasi anak muda terhadap seni. Sekarang gimana apresiasi itu tidak sekedar mendengar, tapi mencerminkan apresiasi rasa orang di dalam konteks memahami keadaan, mengantar seseorang membangun ekspresi, baik emosi, bicara rasa, bicara kegagalan, dan bicara keberhasilan,”ujarnya. Walah!

Ahmad Taufik, Bayu Galih

Beyounce : Good Morning Angel

Pertunjukan Beyounce bukan hanya mengandalkan suara emasnya. Tapi juga kemasan panggung dan show yang menghibur.

Busana tank top warna perak menyala sampai sejengkal di bawah ujung paha, dengan sayap sampai tanah dan lagu Crazy in Love, membawa Beyonce menggebrak “hanggar” Jakarta International Event and Convention centre, Mangga Dua Square, Jakarta. Sorot lampu terang dari berbagai sudut, seolah memperlihatkan ‘bidadari’ baru turun diantara cahaya matahari pagi. Penampilan awalnya tak ayal memancing teriakan histeris sekitar 5.000 penonton, “Beyonce…Beyonce….”
Di tengah lagu dari album Dangerously in Love, yang laku 300 ribu lebih hanya dalam waktu sepekan pada 2003, sayap busana bawah dilepas. Sehingga dia hanya mengenakan busana terbuka di bagian atas dan setengah paha di bagian bawah. Bahkan “robekan” di sisi kanan membuat roknya melambai-lambai saat kena angin memperlihatkan batas ujung stoking. Tak heran Malaysia “gerah” jika Beyonce tampil, dan mengundang protes kaum puritan agama negeri itu.
Memang hot penampilan Beyonce Giselle Knowles, begitu nama lengkap penyanyi kelahiran Houston, Texas, Amerika Serikat, tahun 1981, sepanjang pertunjukan. Lebih dari tujuh kali ganti busana, mulai dari hanya berkutang hitam dengan terusan panjang transparan ala penari perut , merah tua, sampai yang hanya mempertontonkan celana dalam warna emas, yang terkena efek angin di depan panggung.
Busana-busana itu menunjukkan penyabet Grammy Award 2006 untuk jenis lagu R& B benar-benar entertainer sejati, dan kepiawaianya sebagai disainer mengemas show apiknya. Tata panggung, latar belakang, efek cahaya dan sinar laser, penampilan serta suara prima menghapuskan kesan jorok seperti yang disandangnya selama ini. Terutama setelah tak sengaja, baju Beyonce tersingkap sehingga bagian terlarangnya bisa dilihat seluruh penonton di Kanada.
Adegan itu terekam kamera dan beredar di situs YouTube, sampai pekan lalu lebih dari 3 juta orang mengklik potongan rekaman itu. Tak heran dalam pertunjukkannya di Jakarta Beyonce tak mengizinkan media online merekam pertunjukkan dengan kamera. “Saya tak tau kenapa alasan Beyonce tak mau media online merekam dengan kamera selama pertunjukkan,”ujar kordinator media untuk media Daniel Tumiwa.
Dalam penampilannya di Jakarta pada The Beyonce Experience World Tour, bekas anggota kelompok vokal Destiny’s Child itu bukan hanya menunjukkan suara emasnya, tetapi keseluruhan pertunjukkanya. Sehingga saat Beyonce tak muncul ke panggung, tampilan penari, pemusik maupun backing vokalnya juga kuat mendukung, sehingga seakan tak ada jeda. Misalnya, saat lagu Check on It, penari latar menggunakan kaca pembesar berpakaian Sherlock Holmes, di layar belakang, tampak film digital tokoh macan kumbang Pink Panther. Memang film itu yang mengajak Beyonce ke dunia film, sekaligus sebagai soundtracknya. “Good Morning Angel,”begitulah suara sebelum “sang bidadari” muncul membasmi para penjahat dalam film itu.
Beyonce juga mampu berkomunikasi dengan penggemarnya. Bahkan Beyounce membiarkan para penonton menyanyi bersama-sama hampir satu lagu, dan pas. “Saya tak melihat kekurangan pertunjukan itu, perfect,”kata bekas penanyi AB Three, Lusi Rahmawati, sambil mengajukan dua jempol tangannya.
Hadirnya Beyonce ke Jakarta adalah buat gigihnya Rinny Noor dari Nepathya Entertainment. “Saya ngejar dia sejak Juni baru dapat kepastian 25 September lalu, setelah dia switch tak tampil di Malaysia,”katanya. Rinny tak tahu pasti alasan Beyonce memilih tampil di Jakarta. Kabarnya, selain soal kritikan Islam puritan Malaysia tentang busana tampil, juga tak ada tempat yang pantas untuk show Beyonce.
Masalah tempat penampilan di JITEC juga menjadikan bahan kritikan aktifis politik Fadli Zon. “Sayang pertunjukan bagus seperti ini mustinya tampil di JHCC, bukan di gedung atas pertokoan seperti ini,”katanya. Fadli memboyong isteri dan anak gadisnya Syafa, 9 tahun, menonton di kelas festival. “Anak saya, penggemar berat Beyonce dia hapal semua lagu-lagu yang dinyanyikan tadi,”katanya. Bravo Beyonce !