Senin, Juli 21, 2008

Jaga Tulisan!

Beberapa hari setelah seorang panitia menyampaikan undangan diskusi buku seorang kawan yang rajin menulis, Septiawan Santana K, saya bertemu dengan seorang kawan yang ikhlas. Ternyata, kawan lama saya itu kini sudah dipanggil “Habib SBY”. Memang, saat bertemu sudah berkopiah putih, memakai baju ghamis (baju panjang putih khas orang Arab) dan semacam selendang putih.

Saat bertemu sang “habib” itu langsung nyerocos, “masih kerja di dunia jurnalistik, kan?”
Saya mengangguk.
“Tahu apa arti tulisan?”katanya.
“Jaga Tuh Lisan! Nah, jadi kalau nulis jangan sembarangan, sama seperti ngomong (lisan) jangan asal ngejeplak!”
Waduh! K.O, gue.

Nah, judul buku yang kini sekarang kita bahas berkait seperti cerita di atas. Menulis Itu Ibarat Ngomong.

Judul ini bukan sekadar comot atau untuk menarik orang untuk membeli atau membacanya. Tapi sebuah makna yang mendalam, jika kita mau memahaminya. Memang menulis itu adalah terjemahan dari omong-omong, yang disusun berupa huruf-huruf.

Jika omongan hanya berguna untuk yang mendengar (tidak tuli), tulisan bahkan berguna bagi semua orang, juga untuk orang yang buta (bila sudah di-braille-kan), dan bisa dibacakan (di Wyata Guna biasanya adanya relawan reading). Bahkan dengan tingkat buta hruf yang sudah semakin kecil, sebuah tulisan menjadi berguna. Coba lihat, (jika kita mau memperhatikan keadaan sekitar), tukang becak, yang menunggu penumpang, masih membaca sobekan koran.

Maaf, saya pun, jika sedang ke toilet, lebih senang membaca, sampil menunggu pup tuntas. Apa jadinya bila saya bicara sendiri saat “nongkrong”.

Memang, pada masa lalu terkenal sastra lisan. Namun, bisa hilang tanpa jejak bila yang melisankan itu tak ada lagi, atau lupa. Tapi, tulisan, di dinding piramid di Mesir, misalnya, atau dalam peti Yesus, menyisakan ilmu pengetahuan (penelitian dan perkembangan lainnya). (Lihat lampiran tulisan Kuburan Yesus, Menurut Cameron, Majalah Tempo, 11 Maret 2007, hal.114).

Kitab-kitab suci buku-buku hadits atau wahyu, menunjukkan bahwa omongan (sabda) orang-orang “suci” atau “pesuruh” Tuhan perlu dikumpulkan dan dituliskan. Apa jadinya bila sampai saat ini, Al-Qur’an, Injil, Weda, Tripitaka atau lainnya cuma lisan-lisan yang katanya…katanya?

Secara judul saya sepakat Menulis Itu Ibarat Ngomong. Karena tulisan adalah kumpulan omong-omong. Buku yang dikemas secara apik dan trendi (bukan singkatan salah satu calon Walikotan Bandung), tentu akan membuat orang lebih banyak menulis dibanding omong-omong tok. Jika omong-omong cuma menjadi ghost ships (kapal setan)- yang berlayar sekehendak nafsu yang mengatakannya, maka tulisan adalah cara mengerem atau mengendalikannya.

Karena dalam tulisan ada perenungan (kembali) dari sekadar omong-omong. Bisa perenungan yang berasal langsung dari pikiran seseorang atau karena masukan berasal dari referensi yang ia temui kemudian. Prinsip menulis itu ibarat ngomong, memudahkan seseorang untuk mau menulis, seperti mudahnya (selama tak terganggu saluran suaranya) orang itu ngomong.

Berkembangnya blogger kini, menunjukkan bahwa menulis hampir sama kebutuhannya dengan ngomong. Sehingga, nanti tak ada lagi orang yang bilang, “aku gak bisa nulis!”

Menulis bagian dari menjaga omong-omong, Jaga Tuh Lisan!

Mulailah menulis pikiranmu, sekarang juga.

Ahmad Taufik
Untuk diskusi buku Menulis Itu Ibarat Ngomong, Milad Unisba, Bandung, 14 Agustus 2008


Lampiran 1

Kuburan Yesus, Menurut Cameron

Kuburan Yesus Kristus dan sembilan anggota keluarganya ditemukan para pembuat film di Talpiot, Yerusalem. Kontroversi merebak. Bisa jadi, sekadar sensasi.

AHAD lalu, jutaan pasang mata menyaksikan siaran internasional Discovery Channel, siaran khusus film dokumenter penemuan kuburan Yesus Kristus dan keluarganya. Pembuat film Kanada kelahiran Israel, Simcha Jacobovici, dan sutradara asal Hollywood, James Cameron, mengklaim: tulang-belulang dalam peti mati (osarius) yang mereka temukan 27 tahun lalu di Talpiot, Yerusalem, milik Yesus Kristus dan sembilan anggota keluarganya.

Kuburan itu ditemukan saat mereka mendapati sebuah gua ketika membongkar reruntuhan sebuah apartemen di selatan kota tua Yerusalem. Gua tua yang diperkirakan berusia 2.000 tahun lebih itu menyimpan sepuluh peti mati. Pada salah satu peti itu tercantum nama “Yesus putra Yusuf”. Sedangkan pada dua peti lain tercantum nama Maria. Mereka yakin temuan itu adalah peti mati dari Bunda Maria dan Maria Magdalena.

Dalam konferensi pers di New York, Amerika Serikat, Senin pekan lalu, dua insan film itu menyitir prasasti di kuburan yang menunjukkan 6 dari 10 peti itu sebagai peti mati dari Yesus, Bunda Maria, Maria Magdalena, Matius, Josa (Yusuf, saudara Yesus), dan Judah (kemungkinan anak Yesus). Mereka menyertakan arkeolog, ahli statistik, dan spesialis urai golongan darah (DNA) yang memastikan keaslian belulang tersebut. Sudah diperkirakan penayangan itu akan menghebohkan, bahkan bisa mengguncang keyakinan penganut agama Nasrani.

Selama ini dipercayai Yesus tidak dikuburkan dalam peti. Karena Yesus wafat pada Sabtu, dan dalam kepercayaan Yahudi di masa Yesus hidup, Sabtu hari libur, tak mungkin ada pembuat peti mati pada saat itu. Di samping itu, orang Yahudi umumnya tidak pernah memakai peti mati. Jenazah biasa dipikul ke kuburan, di atas tandu sederhana.

Dalam Injil Lukas dan Matius disebutkan pada masa itu ada dua jenis kuburan. Orang biasa dikubur di bawah tanah tanpa memakai tanda. Sedangkan keluarga mampu, seperti Yusuf dari Arimatea, membuat gua yang digali di dalam liang karang. Gua ini dijadikan tempat pemakaman keluarga. Pada saat kuburan keluarga telah penuh dengan tulang-belulang, barulah tulang-belulang itu dipindahkan ke dalam peti batu yang disebut ossuari.

Dalam kitab Injil Matius itu dijelaskan bahwa seorang kaya murid Yesus, Yusuf Arimatea, pergi menghadap penguasa yang menyalib Yesus, Pilatus, meminta mayat gurunya. Yusuf mengkafani mayat Yesus dengan kain putih dan menguburnya di dalam sebuah bukit yang baru digalinya, lantas menutup dengan batu besar.

Bunda Maria dan Maria Magdalena dalam Injil itu dijelaskan duduk di depan kubur itu, hingga akhirnya terjadi gempa bumi yang menggulingkan batu tersebut dan menunjukkan kebesaran Tuhan. Yesus bangkit ke langit, begitulah yang tertulis dalam Injil dan dipercaya umat kristiani.

Menurut teolog asal Jerman, Paul Althaus, dalam Jesus: God and Man, kuburan Yesus tak akan bisa bertahan di Yerusalem selama satu hari, bahkan satu jam. Banyak yang tak menghendakinya. Sebaliknya, menurut Doktor John Crossan, salah satu yang percaya adanya kuburan itu, hukum Romawi pada waktu itu melarang penguburan Yesus. Karena itu, ia dikuburkan di makam tak bernama. Kuburan itulah milik Yusuf Arimatea yang diduga ditemukan Cameron dan kawan-kawan.

Guru besar Universitas Bar-Ilan, yang juga pernah menjadi ketua tim penggalian kuburan itu, Amos Kloner, tak percaya. “Nonsens, dan klaim itu tak berdasarkan bukti. Hanya untuk jualan film tersebut,” katanya. Menurut Kloner, tak ada yang baru dalam film dokumenter itu. “Semuanya sudah dipublikasikan dan tak ada dasar mereka menyatakan makam tersebut identitas Yesus dan keluarganya,” ujarnya.

Apa pun, yang jelas, The Burial Cave of Jesus menimbulkan reaksi di berbagai belahan dunia, seperti halnya film The Da Vinci Code dan The Passion.

Ahmad Taufik (The Jawa Report, Christian News Wire, ChristianAnswer.net, Mangucup.org, Ynetnews)

Senin, Juli 14, 2008

100 Tahun M.Natsir : Membela dengan Akal

Mohammad Natsir saat di Bandung mengelola Majalah Pembela Islam dengan A. Hassan. Adu argumen dengan Bung Karno soal nasionalisme dan Islam.

Gajah mati meninggalkan gading, penulis mati meninggalkan artikel-artikelnya. Mohammad Natsir, yang tahun ini diingatkan 100 tahun kelahirannya, meninggalkan sepenggal sejarah sebagai seorang pengelola majalah, tempat menuangkan pemikiran hasil intelektualitas dan kegelisahannya.

Kepindahannya ke Bandung pada 1927 untuk menuntut ilmu di Algemene Middelbare School (AMS) 2, setingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) sekarang mempertemukan M. Natsir dengan guru agama yang mendirikan Organisasi Persatuan Islam (Persis), Ahmad Hassan. Selepas itu, Natsir muda yang menolak beasiswa pemerintah kolonial Belanda meneruskan pendidikan tinggi ke Leiden, malah mengelola Majalah Pembela Islam bersama gurunya.

Majalah seukuran 12 cm x 19 cm yang terbit sebulan sekali, boleh dikata sebagai media yang sarat dengan berbagai perdebatan dan pemikiran. Mulai dari urusan fiqih, petentangan antar aliran agama dan golongan, sampai ke urusan politik dan kebangsaan. Tak heran begitu “beratnya” Madjallah Comite “Pembela Islam” (begitu yang tertulis dalam halaman depannya), semua penulis menggunakan nama samaran atau inisial. Beberapa penulis luar pengelola mencantumkan nama aslinya. Nama-nama penulis yang menggunakan nama inisial antara lain A.H, AL, AM, WS dan MS. Sedangkan penulis luar yang mencantumkan nama asli antara lain Moenawwar Chalil, ulama dari Kendal Jawa Tengah, dan Abikoeso Tjokrosoejoso, aktivis PSII (Partij Sarekat Islam Indonesia).

Nama terang M.Natsir hanya ditemukan sekali dari 71 edisi Pembela Islam, yaitu edisi 66, saat majalah tersebut terbit kembali setelah “tidur” beberapa bulan. Dalam artikel “Didikan Islam” Natsir mencantumkan jabatannya sebagi Ketoea “Pendidian Islam” Bandoeng, tulisannya tampak seperti bahan pidato. Isinya, meminta perhatian para pembaca kaum muslimin untuk memperhatian pelajaran dan pendidikan untuk meningkatkan mutu intelektualitas diri dan bangsa terjajah yang bercita-cita untuk merdeka.

Nama samaan dan inisial pada masa itu, bisa dimaklumi saat bangsa ini sedang bergerak, Indonesia belum menyatakan proklamasi kemerdekaannya. Ancaman hukuman delik pers (pers delict) pengelola dan penulisnya, serta dan penghentian penerbitan sangat mungkin terjadi. Penggunaan nama samaran, menurut Guru Besar Luar Biasa jurusan Sejarah Univeritas Padjadjaran Bandung, Profesor Dadan Wildan Annas, karena kondisi politik saat itu dan untuk menyembunyikan diri dari serangan lawan-lawan politiknya. “Saya kira wajar,”katanya.

Namun, walaupun memakai inisial nama, bisa dilihat dari anatomi tulisan. A.H atau gurunya A.Hassan, umumnya mengulas masalah fiqih, antar aliran Islam dan golongan kaum muslimin. A.H banyak mengkritik kaum alawiyin (Ba”alwi), yang selalu meminta kedudukan lebih tinggi dalam urusan agama Islam. Tampak A.Hassan, sangat pro Al-Irsyad dan kaum Wahabi yang tak sejalan dengan Ar-Rabitah Alawiyin , Ba’alwi dan aliran Islam mazhab Syafii yang banyak dianut di Indonesia.

Sedangkan A,M atau A.Moechlis, nama samaran Natsir, lebih banyak mengulas masalah politik, kebangsaan dan Islam yang lebih luas. Misalnya perdebatannya soal nasionalisme dan Islam dengan Soekarno, saat ayah Megawati itu dibuang ke Ende, sekarang di Nusa Tenggara Timur atau kritiknya terhadap, yang dia sebut kaum bid’ah dalam pergerakan kemerdekaan menuju Indonesia merdeka. Kaum bid’ah yang disebut Natsir yaitu mereka yang suka mengadakan kegiatan maulud, pesta besar khatam Qur’an anak-anaknya dan pesta perkawinan yang berlebih-lebihan. Dalam PSII yang dianggap Natsir banyak bergabung kaum bid’ah juga tak lepas dari kritikannya. Antara lain dalam edisi 62, Pembela Islam, Natsir menulis, “kalau pergerakan politiek Islam membenarkan kaoem ahli bid’ah masoek djadi anggotanya, apakah beda pergerakan politiek Islam ini dengan partij politik jang berasas kebangsaan jang menerima anggotanja dari orang-orang Islam tjap “hanya bibir?”

Menurut Profesor Dadan, tulisan-tulisan Natsir dalam Pembela Islam penuh argumentasi, bahasanya teratur, halus, dan tajam sindirannya. Natsir menempatkan Islam bukanlah semata-mata suatu agama, tetapi juga "pandangan hidup" yang meliputi politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. “Perbedaan karakter antara tulisan, kalau A. Hasan utamanya kajian tentang keagamanan. Natsir menulis berbagai pemikiran bebas mengulas pergerakan dan politik Islam dalam dan luar negeri. Namun, Natsir selalu meminta ijin gurunya, A. Hassan,”ujarnya.

Memang keras kritik Natsir dan kawan-kawan terhadap kaum nasionalis atau aliran Islam yang tak sejalan dengan pemikiran dan kelompoknya dalam Pembela Islam. Namun, tak sampai menyuruh membunuh, mensesatkan atau meminta satu golongan keluar dari Islam seperti yang terjadi akhir-akhir ini terhadap Ahmadiyah. Termasuk dimotor oleh kumpulan aktivis warisan Natsir, Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII).

Tak jelas kenapa Natsir memilih nama samaran A.Moechlis? Yang terang, anak sulung pasangan Natsir dan Nurnahar, baru lahir 20 Maret 1936, bernama Siti Moechlisah.

Seperti urusan nama samaran, untuk mendapatkan jejak sepenggal sejarah saat Natsir mengelola Pembela Islam sejak 1932 juga tak mudah. Pengurusan Pusat Persis di Bandung (viaduct) yang didatangi Tempo, hanya memiliki foto copy majalah tersebut, mulai edisi 59, dan tak lengkap pula. Ketua Umum PP Persis, Shiddiq Amien berencana menyimpan dan mengumpulkan semua edisi Pembela Islam sejak lama. Bahkan sudah menyiapkan satu ruangan di lantai II untuk menyimpan seluruh koleksi majalah itu. Tapi usahanya tak kunjung selesai. ”Banyak keluarga yang masih tidak rela dan memilih menyimpan (majalah itu) di rumah. Padahal tidak di baca, kalau, disini (di kantor PP Persis) kan, bisa banyak orang yang mengaksesnya,”katanya.

Begitu juga tempat bersejarah saat Pembela Islam dikelola, juga tak bersisa. Dalam majalah itu sampai terbitan ke 65, tertulis alamat pengelola Pembela Islam Jalan Lengkong Besar No.90 Bandung. Saat Tempo menyusuri jalan tersebut dari nomor 88 langsung lompat ke nomor 92. Namun, diantara dua rumah itu ada sebuah rumah dalam gang buntu kecil, tak ada nomornya, Cuma tertulis Panti Pijat Mitra Sehat, di dalam rumah tampak tiga perempuan pemijat berkaos tank top, banyak sepeda motor parkir di tempat itu. Tak seorangpun mau memberikan keterangan pemilik sebelumnya. “Kami tak tahu pak,”ujar salah seorang di tempat itu. Menurut Dedy Rahman, anak perintis Pesantren Persis Jalan Pajagalan, Bandung, Abdurahman, Jalan Lengkong Besar Nomor 90, kini menjadi gedung Universitas Pasundan, setelah sebelumnya pernah menjadi hotel. “Lengkong besar, hanya sebagai tempat tempat pengajian dan berdakwah, semacam kantor surat menyurat majalah Pembela Islam,”kata Dadan.

Kantor Pembela Islam lain yang tercantum dalam majalah mulai edisi 66 tertulis Pangeran Soemedangweg 39 Bandung. Tempat itu kini dikenal sebagai Jalan Oto Iskandar Dinata No 233, menjadi bangunan kantor bank dan sudah dipugar total. “Tempat ini Natsir muda sering berdiskusi dengan A Hasan, Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus, tiga tokoh penting Persatuan Islam,”ujar Dadan.

Majalah itu dijual di luar Indonesia enam nomor seharga f 2.50 dan di dalam negeri f 2, sama dengan tarif kamar kelas I Hotel Pasoendan, Jln. Kwitang 17, Batavia Centrum, yang mengisi iklan pada edisi 66 Pembela Islam.

Dari banyak perbedaan dan diskusi dengan Sukarno, dalam tulisannya di Pembela Islam edisi 59, Natsir sepakat dengannya menentang wanhoopstheorie, yang dianut Soetomo. Menurut Natsir, wanhoop atau pergerakan politik berdasarkan keputusasaan, merugikan. ‘’Karena di dalam keadaan poetoes asa itoe orang melakoekan sesoeatoe dengan tiada mempergoenakan otaknja, fikirannja jang sehat. Orang jang berwanhoop ini tentoe akan membentoerkan kepalanja di dinding.’’

Sebuah sikap dan nasihat yang ditinggalkan Natsir untuk kita semua dan juga tauladan bagi pergerakan Islam tentunya.

Ahmad Taufik, Ahmad Fikri dan Alwan Ridha Ramdani (Bandung)
edisi edit dimuat Tempo 20 Juli 2008

Rabu, Juni 25, 2008

Pengecut Itu Menteror Keluarga

Sebuah pesan pendek masuk dalam telepon genggamku, "...(sayang teks sudah kehapus)...umi malu punya anak kayak kamu." (?) Pengirimnya tertulis nomor kakak yang paling aku sayangi.

Ah, aku gak berpikir terlalu jauh!

Sehari setelah itu, saat aku sedang menghadiri ujian doktor temanku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, masuk nomor telepon kakakku itu. Aku ambil dan sudah siap dengan sumpah serapah. Namun, yang terdengar adalah suara ibuku, tanpa memberi kesempatan untuk menjawab, "...umi diteror!" Klik, telepon mati. Waduh!

Usut punya usut, apa penyebabnya? Rupanya setelah tampil sebagai peserta dan ikut berkomentar dalam acara Debat TV-One, keluarga ketua Front Pembela Islam (FPI), menteror keluargaku. Aku yang dalam acara Debat itu berada di pihak penentang SKB (Surat Keputusan Bersama), dianggap memojokkan para pembela tindakan kekerasan atas nama Tuhan dan Agama Islam.

Saat itu, aku berkomentar menanggapi Mahendratta, yang berada di pihak penerima SKB, "puas...puas...mengambil istilah Thukul, udah keluar SKB? Sekarang bagaimana cara mengawasi orang-orang Ahmadiyah? Apakah orang salat akan ditongkrongi, siapa yang nongkrongi, polisi, pemerintah MUI atau FPI? saya yakin anda tak akan puas, dikasih ati (SKB), pasti minta rempelo!"

Rupanya pernyataan itu dijadikan dasar, untuk menteror Ibu dan kakakku, aku dianggap membela akidah yang sesat (Ahmadiyah).

Pembela FPI dan keluarganya, telah berlaku pengecut. Apa tidak berani menghadapi aku, toh aku yang berbuat dan berkata begitu, aku siap mempertanggujawabkan semua yang aku ucapkan. Bahkan sebaiknya anda menonton lebih lengkap acara itu. Karena pada komentar kedua, dan terakhir menjelang acara itu, saya sempat melontarkan pernyataan, "...biar seribu nabi palsu dinyatakan, semuanya tak mengurangi kemuliaaan Nabi Muhammad."

Tapi kenapa orang-orang yang mengaku "Islam" lebih senang berbuat kekerasan dan kezaliman pada orang lain, bahkan menebar teror secara pengecut?

Acara Debat di TV-One, hanyalah sebuah tontonan, semua pihak bahkan tidak puas. Kelompok Ahmadiyah, merasa tak mendapat porsi yang layak dalam acara itu. Kelompok pro-SKB, yang tampak serius dalam acara itu, lengkap dengan teriakan takbir, juga tampak tak puas.

Saya tahu, acara di TV memang dikemas untuk sebuah tontonan. Kebetulan saya kenal sang produser dan juga beberapa teman yang bekerja di TV itu. Bahkan, orang-orang yang berada di pro SKB, banyak saya kenal mulai dari Alfian Tanjung, Dosen Uhamka, Zaky dan temen teman dri Gerakan Pemuda Islam (GPI). Kami masih bisa bersalaman, setelah acara selesai.

Namun, orang-orang yang menerima informasi setengah-setengah dan berpikiran picik tak mampu menangkap isyarat itu. Puluhan pesan pendek beredar, ada yang menuduh saya sebagai pengkhianat dan dajal, ada pula (Fauzan Al-Anshari) yang menuduh saya tak sopan menunjuk aktifis-aktifis "Islam" dengan tangan kiri saya pada acara debat itu. Saya memang tak bisa meminta semua orang memahami posisi dalam televisi, debat dan sikap saya dalam berbangsa ini.

Saya apreciated dengan TV-One, sebaiknya memang kekerasan, bisa dipindahkan ke tempat yahg lebih elegan dengan debat, dan dialog, yang bisa ditonton banyak orang. Sehingga TV kita tak lagi menampilkan adegan kekerasa, seperti yang dilakukan FPI, LPI di Monas, 1 Juni lalu, Polisi di berbagai tempat dan juga kawan-kawan mahasiswa. Mari kita selesaikan persoalan bangsa ini dengan dialog. Jangan ada yang merasa paling benar, sehingga negeri ini selalu dilemahkan dan pihak asing yang mengincar kekayaan alam, saat kita sebagai bangsa sedang lemah dan kocar-kacir.

Jakarta, 26 Juni 2008

"Saya yang masih dirundung sedih" (tapi saya bisa menerima ini, sebagai sebuah resiko, jalan hidup saya, yang mungkin tak dimengerti banyak orang, bahkan saya sendiri pun tak mengerti)--aku cuma mau mengalir seperti air.

Spanyol: Saatnya Tim Matador

Spanyol kembali mengentak menjelang Euro 2008. Sang “pecundang abadi” ingin mengakhiri paceklik gelar.

**-
PASE lo que pase, Espana Siempre, apa pun yang terjadi selalu Spanyol. Begitulah bunyi slogan yang tertulis di badan bus tim banteng matador itu. Bus ini melalui kota-kota di Benua Eropa dari Spanyol menuju Neustift, Austria, menempuh 1.800 kilo meter.
Manajer tim Luis Aragones seolah ingin mengumumkan maklumat: Spanyol bukan lagi tim yang panas menjelang kompetisi tapi melempem pada saat laga. Sudah tidak terbilang berapa kali peak performance tim ini tercapai sebelum kejuaraan.
Menjelang Piala Eropa kali ini, Spanyol kembali menggetarkan. Pada akhir Mei, mereka menang 2-1 atas Peru. Sebelumnya, David Villa menendang satu gol ke gawang juara Piala Dunia 2006, Italia. Selama 14 kali pertandingan terakhir, Spanyol belum pernah kalah.
Masyarakat Spanyol menanggapi hasil spektakuler itu dengan dingin. Karena itu, jangan berharap ada dukungan berlebihan. Di Madrid saja, tak tampak spanduk dukungan penyemangat.
“Fanatisme orang Spanyol terhadap tim nasionalnya tidak berlebihan,” ujar Sahat, staf atase kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Madrid lewat telepon hubungan luar negeri kepada Yugha Erlangga dari Tempo. Bahkan di pusat pelatihan tim Matador, 19 kilometer dari Madrid, La Srozas tak banyak menyedot pendukung. “Padahal tempat itu cuma 15 menit perjalanan dari pusat kota,” katanya.
Tapi bukan berarti mereka tidak memberikan dukungan saat timnya berlaga di Austria-Swiss. Tiket jatah Spanyol sudah ludes jauh-jauh hari.
Pencinta bola yang tak pergi memilih berkumpul di bar-bar menonton pertandingan melalui televisi layar lebar. Cara lain pendukung tim Spanyol untuk memecut semangat tim matador, menurut Sahat, mereka tak akan menggunakan kaus tim nasional sebelum kesebelasan kesayangannya lolos dari babak penyisihan grup.
“Nah, euforia baru muncul jika tim nasional menjadi juara grup. Warga Madrid berpawai menggunakan mobil mengibarkan bendera Spanyol dan spanduk bertulisan: Espana Campeon, Spanyol juara,” katanya.
Aragones pantas jika ia optimistis bisa mengakhiri paceklik gelar. Timnya bertabur bintang dunia. Delapan belas pemainnya berasal dari klub papan atas Eropa. Empat di antaranya adalah tulang punggung Liverpool: kiper Jose Reina, bek Alvaro Arbeloa, gelandang Xabi Alonso, dan striker Fernando Torres, serta Cesc Fabregas, gelandang jagoan dari Arsenal.
Masih ada mesin gol Valencia, David Villa, serta gelandang andal Barcelona, Andres Iniesta dan Xavi. Di barisan pertahanan, ada Carles Puyol (Barcelona) dan Sergio Ramos (Madrid).
Taktik yang bakal diterapkan Aragones adalah memasang seorang ujung tombak dengan empat penyerang di lapis kedua. Di sini duet Torres dan Villa akan banyak berperan menghidupkan rentakan tarian flamenco di lapangan rumput.
Main bagus tentu juga akan diikuti bonus yang besar. Masing-masing pemain tim Spanyol dijanjikan bonus 214 ribu euro (Rp 3 miliar) jika menjadi juara Euro 2008. Nilai itu lebih kecil dari iming-iming saat Piala Dunia 2006, 540 ribu euro.
Tentu bukan cuma uang yang dikejar. Para pemain berharap saat pulang kampung disambut teriakan Espana campeon, bukan tim pecundang abadi.

BOKS PROFIL

PELATIH
Luis Aragones

Ia pernah menuai kontroversi pada saat Piala Dunia 2006. Luis Aragones, 69 tahun, ingin memompa semangat pemainnya, Jose Antonio Reyes. Namun caranya dengan menyebut penyerang Prancis Thiery Henry sebagai kotoran hitam. Itulah noda yang ditorehkan Aragones.
Ia hampir kembali kehilangan posisinya ketika Spanyol hanya mendapat tiga poin dari tiga pertandingan perdana kualifikasi Piala Eropa 2008 setelah dikalahkan Irlandia Utara dan Swedia. Setelah itu, tim matador ini ngamuk dan meraih 25 poin dari sembilan pertandingan, sehingga menjadi juara grup.
Penyerang terbaik Spanyol pada zamannya itu mulai melatih setelah gantung sepatu pada 1974. Pelatih temperamental ini telah 13 kali ganti klub, sebelum menukangi Spanyol pada 2004. Gelar tertinggi sebagai pelatih diraihnya tatkala membawa Atletico juara La Liga pada 1977. Selain itu, Aragones juga pernah empat kali juara Piala Spanyol bersama Atletico dan Barcelona.

PEMAIN KUNCI
Fernando Torres
Setelah bersinar di musim pertamanya bersama Liverpool, Torres, 24 tahun, menghadapi Piala Eropa 2008 ini dengan kondisi puncak. Pemain dengan keterampilan tinggi ini lincah bergerak dan sangat berbahaya di depan gawang. Ia mencetak tiga gol di Piala Dunia 2006, dan di Liga Inggris musim ini ia mengoleksi 23 gol, ditambah enam lagi di kompetisi Liga Champions.

Cesc Fabregas
Salah satu gelandang paling bersinar di Eropa saat ini. Pemain berumur 21 tahun ini menjadi andalan Arsenal, baik di Liga Inggris maupun kompetisi Eropa. Tapi ia masih berjuang mencetak gol pertamanya dalam pertandingan internasional.

Carles Puyol
Pemain gondrong ini sangat dingin dalam menghalau serangan lawan. Ia menjadi kapten Barcelona ketika menjadi juara Liga Spanyol dua musim berturut-turut pada 2005 dan 2006, serta Liga Champions 2006. Puyol sudah 60 kali memperkuat tim nasional.

Tim
Kiper: Iker Casillas (kapten), Pepe Reina, dan Andres Palop
Bek: 2 Raúl Albiol, 3 Fernando Navarro, 4 Carlos Marchena, 5 Carles Puyol, 11 Joan Capdevila, 15 Sergio Ramos, 18 Alvaro Arbeloa, 20 Juanito
Gelandang: 6 Andrés Iniesta, 8 Xavi Hernandez, 10 Cesc Fàbregas, 12 Santi Cazorla, 14 Xabi Alonso, 19 Marcos Senna, 22 Ruben de la Red
Penyerang: 7 David Villa, 9 Fernando Torres, 16 Sergio Garcia, 17 Daniel Guiza, 21 David Silva

PREDIKSI
Juara grup, tapi kalah di final melawan Jerman

PIALA EROPA
Tampil: 8 kali
Prestasi: Juara 1964, runner-up 1984

PIALA DUNIA
Tampil: 12 kali
Prestasi: Peringkat keempat (1950)

PERINGKAT FIFA
Sekarang: 4
Tertinggi: 2 (Desember 1994)
Terendah: 25 (Maret 1998)
***-/**

Pijat ala Pascasarjana

Salah pijat bisa berakibat fatal. Program Pascasarjana Ilmu Faal dan Kedokteran Olahraga Universitas Padjadjaran memberikan pelatihan pijat yang benar.
------

Agustina sudah merasakan nyeri di bagian sendi dan pinggangnya selama sepuluh tahun belakangan ini. Perempuan 37 tahun tersebut tak tahan bila harus berdiri lama-lama. Akibatnya, panggul bagian kirinya sakit. Betis dan lututnya pun bengkak dan biru. Dia dulu memang pernah terpeleset di tangga kantor hingga jatuh terduduk setelah tubuhnya kehilangan keseimbangan menapaki beberapa anak tangga. Agustina pun sudah sering memeriksakan diri, tapi dokter tak menemukan kelainan. Sempat pula dia dipijat ke tukang urut, hasilnya malah membuat badannya tambah mudah lelah dan tak bisa berjalan terlalu jauh.

Keluhan Hendarto lain lagi. Pria 42 tahun itu semula merasa kepalanya agak pening. Lalu arek Suroboyo itu minta tukang pijat langganannya mengurut bagian tengkuknya. Alih-alih sembuh, sakit kepala tambah berat. Esoknya bibirnya malah mencong setengah sentimeter dari bentuk semula. Dokter mendiagnosisnya terkena serangan stroke.

Pijat memang tidak bisa sembarang. Bila salah, akibatnya bisa seperti Agustina dan Hendarto. Untunglah, keduanya termasuk yang tertarik pada undangan program Pascasarjana Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jurusan Ilmu Faal dan Kedokteran Olahraga. Pertengahan Mei lalu, untuk kedua kalinya jurusan ini membuka pelatihan pijat untuk umum di Balai Kesehatan Umum Sport Medicine Fakultas Kedokteran selama tiga hari berturut-turut. Agustina dan Hendarto menjadi dua contoh kasus salah pijat.

“Pelatihan pijat ini sebenarnya kami gelar untuk mendapat tenaga pemijat menghadapi Pekan Olahraga Nasional di Kalimantan Timur, Juli mendatang,” Kepala Bagian Ilmu Faal Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Profesor Doktor Ambrosius Purba, menjelaskan. Terapi pijat yang diberikan pada pelatihan itu mulai masase olahraga, relaksasi, penyembuhan, pijat bayi, hingga pijat untuk ibu hamil. Itu masih ditambah dasar pemahaman anatomi, fisiologi olahraga, etika dan kebersihan masase, cedera olahraga, serta teori dasar pijat kesehatan. “Kami akan terus melangsungkan pelatihan bagi masyarakat umum tentang cara memijat yang benar dan bermanfaat,” ujar Purba.

Purba ingin menunjukkan bahwa pijat harus sesuai dengan ilmu medis. Orang yang mudah terkena cedera otot, seperti atlet, tidak bisa sembarang dipijat. Di Jurusan Ilmu Faal dan Kedokteran Olahraga Pascasarjana Kedokteran Universitas Padjadjaran, ilmu pijat itu termasuk mata kuliah penting. Lulusannya tentu bisa menguasai ilmu pemijatan dan bisa menyembuhkan orang dengan masase.

Hasilnya bisa dilihat pada Agustina. Dia diminta berbaring. Bagian lutut dan betisnya yang pernah bengkak diurut. Lalu kakinya ditarik, kemudian direnggangkan. Adapun untuk bagian pinggang, pasien harus tidur menelungkup. Pinggang diurut dan kedua kakinya ditarik. “Terapinya tak lama, cuma semenit, tapi sakit selama 10 tahun langsung hilang. Benar-benar cespleng,” kata Agustina. Ya, maklum pemijatnya sudah tingkat pascasarjana.

Lalu bagaimana dengan Hendarto. Menurut Purba, salah pijat memang bisa berakibat stroke. “Pembuluh darah tersumbat gara-gara salah pijat. Ini akibat yang paling parah,” ujarnya. Dan yang menimpa Hendarto bisa dikatakan satu dari 1.000 kasus yang ada.

Nah, untuk perawatan stroke, terapi pijat dilakukan di seluruh badan. Tujuannya agar jika terjadi penyumbatan pada pembuluh darah dapat terdeteksi dan peredaran darah bisa kembali lancar. Dengan demikian, organ-organ tubuh dan jaringan saraf pun mendapat suplai makanan dan energi untuk membangun kembali fungsi saraf yang pasif akibat serangan stroke. “Yang terpenting, pelaku terapi adalah orang yang mengerti benar,” kata Purba.

Asal pijat, menurut Purba, juga bisa merusak sistem metabolisme tubuh. Bisa dibayangkan, betapa gawat akibatnya. Bila metabolisme terganggu, mulai proses pencernaan makanan sudah tidak benar. Dampaknya beruntun. Bagian-bagian tubuh tidak menerima suplai oksigen dan energi, yang bila tidak segera diperbaiki akan mengakibatkan kerusakan organ atau jaringan tertentu.

Yang paling banyak terjadi adalah kerusakan otot dan terpuntir akibat salah pijat. Untuk itu, perlu disimak prinsip yang benar, yaitu memijat ke arah jantung. Sebab, dalam pembuluh darah manusia terdapat klep-klep yang mengarah ke jantung. Jika dilakukan terbalik, bisa berakibat klep tidak mengarah ke jantung. Aliran darah bukan hanya tak lancar, bahkan bisa tersumbat.

Untuk itulah, pemijat juga wajib mengenal ilmu anatomi tubuh, seperti letak, bentuk, dan susunan tubuh manusia serta hubungan antarbagian yang ada di dalamnya. Fisiologi, ilmu yang mempelajari fungsi atau kerja tubuh manusia dalam keadaan normal, juga harus dimengerti. “Ini syarat pemijat melakukan terapi,” ujar Purba.

Teknik memijat yang benar, menurut dia, mirip prinsip olahraga, yaitu dari pemanasan hingga pendinginan. “Dalam massage dikenal effleurage, yaitu teknik menggosok atau pemanasan sebelum memijat. Setelah selesai juga harus dilakukan pendinginan,” kata Purba menjelaskan.

Sementara itu, bagi olahragawan, masase sebenarnya amat diperlukan untuk mengembalikan kebugaran dan melawan kelelahan. Sebab, olahraga merupakan usaha fisik yang besar, bahkan kadang berlebihan. Tubuh pun mengalami defisit oksigen dan kelebihan asam laktat. Dengan demikian, beberapa bagian badan terasa pegal, linu, hingga sakit.

Jenis terapi masase bagi olahragawan pun berbeda bergantung pada jenis bidangnya. Menurut guru besar fisiologi manusia dari Universitas Advent Indonesia, Bandung, Albert Hutapea, untuk cabang senam non-body contact, hanya butuh 10 menit. Adapun bagi atlet angkat besi, perlu pemijatan khusus pada punggung serta otot besar tangan dan kaki yang lebih lama.

Adapun menurut pakar kedokteran olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Neng Tike Kartinah, pijat kesehatan terbagi atas dua bagian besar. “Bagi orang sakit atau cedera, pijat bisa untuk penyembuhan, sedangkan untuk yang sehat, pijat berguna untuk kebugaran,” kata dokter lulusan pascasarjana yang kini sedang mendalami terapi pijat air (hydromassage) itu.

Bagi rehabilitasi medis seseorang, fungsi pijatan untuk memecahkan asam laktat yang tertimbun akibat sisa pembakaran dalam tubuh. Menurut Prabowo, dokter spesialis rehabilitasi medis dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, masase yang benar akan membuat asam laktat hancur sehingga peredaran darah lancar. “Ini merangsang pembentukan hormon endorfin, yang membuat tubuh menjadi bugar dan daya tahan tubuh meningkat,“ kata Prabowo. “Idealnya, pemijatan yang benar tak akan menimbulkan rasa sakit.”

Tidak mengherankan bila penggemar pijat menganggap pijat sebagai “candu”. Sebab, setelah dipijat, tubuh terasa nyaman. Ini pas benar dengan asal kata “pijat”. Menurut Albert, pijat berasal dari bahasa Arab, mash, atau massien dari bahasa Yunani, artinya menekan dengan lembut. Teknik ini dulunya berasal dari cara manusia memanipulasi rasa sakit dalam tubuhnya dengan mengelus-elus bagian yang sakit.

Ahmad Taufik, Widiarsi A. (Bandung)

Dua Kali Sehari, Sepanjang Hayat

Baru setengah pengidap HIV yang mendapatkan pengobatan. Itulah yang terungkap dalam pertemuan delapan negara berpenduduk mayoritas muslim tentang penggunaan obat HIV/AIDS, antiretroviral, di Bogor dua pekan lalu. Padahal antiretroviral merupakan satu-satunya cara pengidap HIV positif untuk bertahan hidup.

-------

Tepat pukul sembilan pagi alarm telepon seluler berbunyi nyaring persis suara jam weker. Shanti Sardi buru-buru merogoh tas tangan. Perempuan 28 tahun itu mengambil kotak plastik kecil merah muda seukuran telapak tangan. Dari dalam kotak, perempuan kelahiran Riau itu mengambil tablet lonjong berwarna putih. Sesaat kemudian, lep…, butiran itu masuk mulut.

Alarm dari telepon selulernya kembali mengingatkannya untuk menelan pil kecil tersebut 12 jam kemudian. Demikian dia ulangi terus, sepanjang hari, seumur hidup. Ketepatan minum obat itu harus akurat persis timbangan emas. Sebab, pil yang bernama antiretroviral atau ARV itu hanya bisa berfungsi baik bila diminum reguler dan tepat waktu. Bila lupa atau bolong-bolong, bisa fatal akibatnya bagi penderita. “Pil ini seperti penyambung nyawa kami,” kata Shanti kepada Tempo, Rabu pekan lalu.

Shanti adalah salah satu pengidap human immunodeficiency virus (HIV) positif yang memberikan testimoni dalam seminar tentang pemberdayaan orang yang hidup dengan HIV dua pekan lalu. Pesertanya perwakilan dari delapan negara berpenduduk mayoritas muslim, yakni Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Turki, Iran, Nigeria, dan Mesir. Kesamaan negara-negara tersebut adalah masih kecilnya penggunaan antiretroviral bagi pengidap HIV.

Shanti pun menceritakan kisah hidupnya dengan terbuka. Dia tertular virus itu dari suaminya. Tiga tahun silam, suami Shanti terserang panas tinggi, lalu tak sadarkan diri. Sang suami pun dirawat di rumah sakit di Kepulauan Riau. Dokter di sana mendeteksi suaminya terkena toksoplasma, penyakit yang diakibatkan parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini dapat ditularkan oleh semua jenis satwa, seperti kucing, burung, ikan, kelinci, anjing, babi, dan kambing. Selain itu, parasit ini terdapat pada daging dan telur setengah matang serta buah atau sayuran yang tercemar tinja hewan. “Dokter saraf bilang dia mungkin sudah mengidap HIV,” kata Shanti.

Perkiraan dokter ternyata benar. Suami Shanti tertular virus “pembantai” imunitas tubuh tersebut. Dokter pun meminta Shanti, yang saat itu tengah mengandung anak kedua, agar diperiksa. Benar. Shanti pun sudah tertular virus itu. “Rasanya mau kiamat, putus asa, karena yang saya tahu penyakit itu mematikan dan tak ada obatnya,” katanya berkisah.

Beruntung, Shanti bertemu dengan Koordinator Layanan HIV/AIDS Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Profesor Samsuridjal Djauzi. Setelah diperiksa, Shanti, yang saat itu hamil empat bulan, masuk tahap konseling program pencegahan untuk ibu hamil, yang disebut prevention of mother-to-child HIV transmission. Sejak masuk program tersebut, Shanti memperoleh terapi antiretroviral. Ia pun meminum obat itu dua kali, pagi dan malam.

Semula, bayinya diperkirakan lahir pada September dengan cara operasi caesar. Tapi, karena ia minum obat tersebut, sang bayi lahir prematur akhir Juni secara normal. Pekan ini, bayi perempuan yang lahir sehat itu--tak terinfeksi HIV--berusia tiga tahun. Shanti pun makin bersemangat menjaga kesehatan. “Sampai kini, sudah tiga tahun lebih saya hidup normal,” katanya.

Itu berbeda dengan suaminya. Sejak mereka bercerai, sang suami tak minum obat teratur, hingga meninggal setahun lalu, akibat toksoplasma yang makin ganas. “Dulu saya yang mengingatkan dan minum obat sama-sama. Sejak berpisah, ia ceroboh, bolong-bolong minum obatnya,” katanya. Padahal ia sudah sempat sehat dan kembali bekerja.

Kesetiaan pengidap HIV pada antiretroviral memang harus sangat tinggi. “Tak boleh putus di tengah jalan,” kata ahli HIV/AIDS, Profesor Zubairi Zoerban. Antiretroviral itu berguna menghambat perkembangbiakan sekaligus menurunkan jumlah virus, sehingga kekebalan tubuh pun meningkat. “Antiretroviral amat bermanfaat menekan angka kesakitan dan kematian akibat HIV/AIDS,” kata Zubairi.

Infeksi oportunistik seperti toksoplasma, tuberkulosis, hepatitis C, dan herpes bisa dicegah. Maklum, pengidap HIV tidak punya daya tahan sama sekali bila diserang infeksi, sekecil apa pun. Menurut Wakil Ketua Yayasan Pelita Ilmu, Hussein al-Habsyi, antiretroviral mengubah HIV dari mematikan menjadi bisa dikendalikan.

Antiretroviral sendiri ditemukan di Brasil pada 1993. Sebelum penemuan itu, hanya 25 persen orang yang terinfeksi HIV mampu bertahan hingga lima tahun setelah dinyatakan positif mengidap HIV. Namun, sejak antiretroviral digunakan pada 1993-1994, tercatat 47 persen penderita bisa hidup normal lebih panjang.

Di Indonesia, antiretroviral paten impor mulai masuk pada 1996. Obat tersebut dijual Rp 8,5 juta untuk kebutuhan sebulan. Lima tahun kemudian, masuk antiretroviral impor generik dari India dengan harga Rp 850 ribu. Sejak 2003, yang generik mulai diproduksi PT Kimia Farma. Harganya Rp 380 ribu untuk kebutuhan sebulan. Setahun kemudian, pemerintah mulai memberikan subsidi untuk pembelian antiretroviral. Bahkan, menurut Zubairi, pemerintah juga memberikannya gratis kepada pengidap HIV melalui 257 rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat rujukan di seluruh Indonesia.

Menurut data terakhir Departemen Kesehatan, lebih dari 200 ribu orang Indonesia rawan tertular HIV. Yang dimaksud kelompok rawan antara lain orang yang menggunakan narkotik melalui alat suntik atau berhubungan seks secara tidak aman. Sedangkan yang terinfeksi HIV/AIDS berjumlah sekitar 20 ribu orang. Tapi hanya separuhnya yang sudah mendapat antiretroviral.

Kecilnya penggunaan antiretroviral juga tampak pada negara-negara peserta seminar. Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), hanya tiga juta pengidap HIV di delapan negara itu yang memperoleh antiretroviral. Sedangkan sekitar 6,7 juta orang penderita lainnya belum terjangkau obat itu. Padahal di negara-negara Eropa Barat sudah sekitar 90 persen pengidap HIV mendapat pengobatan antiretroviral. Untuk itulah lembaga seperti Yayasan Pelita Ilmu, selain bergerak di bidang pendampingan untuk penderita HIV/AIDS, juga memperjuangkan perluasan penggunaan antiretroviral.

Shanti, yang juga aktif di Yayasan Pelita Ilmu sebagai Koordinator Ikatan Perempuan Positif (HIV/AIDS) Indonesia, tak lelah berbagi pengalaman soal antiretroviral. “Saya berharap bisa mendorong mereka tetap bersemangat dan hidup optimistis,” katanya. Bahkan ibu dari dua anak itu telah menikah lagi dengan laki-laki penderita HIV/AIDS. Yang penting, kata dia, keduanya tak putus menggunakan antiretroviral dan menerapkan pola hidup sehat dengan makan makanan bergizi.

Ahmad Taufik


INFOGRAFIS

Manfaat ARV
- Mengurangi angka kesakitan dan kematian
- Menurunkan jumlah virus
- Meningkatkan kekebalan tubuh
- Mengurangi risiko penularan

Tip Tetap Sehat dengan HIV
- Semangat dan disiplin.
- Jika memungkinkan, ada PMO (pengawas minum obat).
- Antiretroviral diminum pada waktu yang sama setiap hari.
- Harus selalu tersedia antiretroviral di mana pun penderita berada.
- Bawa obat ke mana pun pergi.
- Pergunakan peralatan (jam, telepon seluler) yang bisa menjadi alarm (pengingat waktu) yang dapat diatur pada setiap waktu minum obat.
- Pengobatan lain yang tak kalah penting adalah pengobatan suportif, seperti pengaturan diet, istirahat, olahraga, pengobatan psikologis, serta pendekatan keagamaan/spiritual. Kondisi psikologis yang terjaga baik akan membentuk sikap positif dan selalu berjiwa optimistis.

(dimuat majalah Tempo, edisi 23-29 Juni 2008)

Kamis, Juni 12, 2008

Kisah Keluarga Penderita Kanker

Seorang bapak, berusia sekitar 70 tahun, warga Blok A, Jakarta Selatan, mengontak ku lewat telepon kantor, minta ketemu. "Isteri saya sakit kanker yang perlu pengobatan,"katanya.
Sekitar dua jam kemudian tiba di kantor, hampir sejam lebih lambat dari janji semula. "Saya terhalang macet, akibat ulah FPI di Jalan Sudirman,"ujarnya. Sebenarnya, kemacetan itu, karena peserta aksi unjuk rasa pembubaran ahmadiyah, yang didominasi orang-orang berjubah, berencana memnjenguk pimpinan FPI, Riziq Shihab di tahanan narkoba Polda Metrojaya.
Rambut putih di kepala dengan kaca mata, masih tampak bersemangat. Walaupun nafasnya terengah-engah saat naik satu lantai. Bapak itu dan keluarganya memang sudah sejak sebulan belakangan ini intensif menghubungiku setelah membaca artikel yang dimuat di Majalah Tempo "Menggempur Kanker Lewat Dubur." Dimuatnya artikel ini memang banyak permintaan pembaca untuk bisa bertemu atau mengontak dokter dimaksud, Yanto Lunardi Iskandar. tapi Bapak yang satu ini yang paling gigih.
Dia sudah dua kali menghubungi dokter di rumah sakit sumber waras, walaupun tak diterima dengan baik. Ia bahkan bertemu pasien di rumahnya di Bandung. Sedangkan Lunardi, sampai kini belum ketahuan, karena ia hanya bisa di kontak lewat email, yang juga jarang dibalasnya. Profesor Lunardi memang tinggal di Paris, Perancis dan Maryland, Amerika Serikat.
Pak itu menceritakan kisah isterinya yang sakit kanker, karena ada mis informasi saat mengobati kanker payudara. "Saya sudah 49 tahun hidup bersama dia, saya tak bisa hidup tanpa dia, saya bersedia apapun mencari pengobatan untuk dia,"katanya sambil menitikan air mata di depanku.
Dia sudah frustasi, dan ia berharap Dokter Lunardi bisa menjadi salah satu jalan untuk pengobatan isterinya. "Saya minta anda menghubungi Dokter Lunardi dan mamu menjadikan istri saya sebagai pasiennya, walaupun sebagai percobaan,"ujarnya lagi.
Kabarnya, Profesor Lunardi akan datang pada Bulan Juni ini. Ada seminar di Bali dan acara di Jakarta atau Bandung. Mudah-mudahan harapan itu masih ada dan datang kepadanya.

13 Juni 2008

Jumat, Mei 23, 2008

Berkat Air Seni Perempuan Hamil

PROFESOR Yanto Lunardi Iskandar tahu benar, air seni perempuan hamil muda dapat dimanfaatkan menjadi obat kanker termutakhir. Ini bukan main-main, karena lelaki kelahiran Jatinegara, Jakarta Timur, 57 tahun lalu itu bukan orang sembarangan. Kiprahnya dalam penelitian virus hampir 30 tahun. “Saya sudah memasuki masa pensiun,” katanya. Lunardi selama ini bekerja di Institut Virologi Universitas Maryland, Amerika Serikat, bersama Profesor Robert Charles Gallo, penemu virus penyebab penyakit akibat penurunan kekebalan tubuh (HIV/AIDS).

Pada pertengahan April lalu, Lunardi berkunjung ke Indonesia selama sepekan. Warga negara Prancis dan Amerika Serikat itu menjadi pembicara dalam simposium tentang hormon manusia dan sel induk (stem cell) di Rumah Sakit Immanuel, Bandung. Lunardi juga bertemu dengan pasien dan kerabatnya. Tatkala ditemui Tempo di rumah temannya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, pria berperawakan kecil tapi tegap ini sedang memberikan terapi dan tusuk jarum. “Akupuntur itu hobinya, tapi cuma untuk kerabatnya,” ujar Andini Muksin Rustandi, pasiennya.

Hidupnya dihabiskan di luar negeri. Karena lama belajar dan mengajar di Universitas Sorbonne, Paris, Lunardi mendapat kewarganegaraan Prancis. Juga berkat kemampuannya dalam penelitian virus yang melemahkan kekebalan tubuh itulah, Amerika pun memberinya status warga negara. Sebaliknya, kewarganegaraan Indonesia miliknya dicabut pemerintah.

Lunardi mengaku tak ingin kembali dan tinggal di Indonesia. “Indonesia kan tak mengakui dwikewarganegaraan. Lagipula, saya biasa di luar negeri, dan kalau di sini kendalanya banyak sekali, termasuk cuaca,” katanya. Dia mengaku seperti akan meleleh bila terkena sinar matahari tropis. Namun Lunardi tetap berniat membantu Indonesia di bidang kesehatan.

Bantuannya jelas diperlukan. Penelitiannya tentang virus bermuara pada temuan obat kanker bagi pengidap penurunan kekebalan tubuh. Namun peptide matermin--nama obat itu--juga bisa digunakan untuk mengobati kanker secara umum.

Penemuan itu berawal dari penelitian virus para pengidap virus pemusnah kekebalan tubuh. “Kami punya 7.000 pasien AIDS,” ujar Lunardi.

Nah, pada penderita terinfeksi HIV/AIDS, Yanto Lunardi selalu menemukan kanker yang mempercepat kematian pasien itu, namanya Kaposi sarcoma. Kanker temuan Yanto itu, dalam dunia kedokteran, dipatenkan dengan nama KSY-1. “Y di situ huruf awal nama saya, Yanto,” katanya.

Lunardi dan kawan-kawan melakukan penelitian untuk mencari cara membunuh kanker itu. Ratusan monyet yang menjadi obyek penelitian mati karena wabah penyakit gondongan. Lalu percobaan beralih ke tikus. Hasilnya memuaskan. Ekstrak human chorionic gonadotropin (hCG)--jenis hormon peptide yang dihasilkan embrio baru hasil pembuahan atau dari bagian tertentu plasenta--berhasil membuat sel kanker melakukan bunuh diri massal. Zat tersebut bisa ditemukan dalam air seni perempuan hamil di bawah tiga bulan.

Dalam pembuatannya, gonadotropin itu dibekukan selama 24 jam, lalu disimpan dua hari di dalam laboratorium. Kemudian diberikan sejumlah zat antara lain sodium azide, dipurifikasi, dan dipanaskan dalam suhu 67 derajat Celsius, selama satu jam. Ekstrak human chorionic gonadotropin, yang menyandang nama peptide matermin kini tengah menunggu dipasarkan kepada khalayak penderita kanker dan HIV/AIDS.

Berkat temuannya, nama Lunardi tercatat dalam jurnal ternama bidang kesehatan, New England Journal of Medicine, edisi Maret 2008. Dia juga digadang-gadang sebagai kandidat penghargaan Nobel untuk kesehatan tahun ini.

Lunardi berharap peptide matermin yang ditemukannya juga dapat digunakan untuk pengobatan kanker di Indonesia. “Saya sedang melakukan negosiasi, semoga bisa dijual murah dan bermanfaat bagi banyak orang,” ujarnya.

Ahmad Taufik
(dimuat di Majalah Tempo)

Menggempur Kanker Lewat Dubur

Andini Muksin Rustandi menderita komplikasi sakit jantung, ginjal, dan diabetes. Terakhir dia didiagnosis kanker paru. Hidupnya berubah setelah bertemu Profesor Yanto Lunardi Iskandar, ahli virulogi dan kanker, orang Indonesia berkewarganegaraan Amerika Serikat dan Prancis. Rustandi menjadi pasien pertama pengobatan kapsul yang mengandung sejenis hormon peptide, yang dimasukkan lewat anus. Obat temuan Lunardi sudah disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat, dan siap-siap disebarkan untuk publik.

PERJALANAN penyakit Andini Muksin Rustandi hampir sepanjang sejarah hidupnya sendiri. Lelaki kelahiran Bandung itu kini berusia 67 tahun. Sejak usia sekolah dasar, Rustandi sudah didiagnosis menderita pembengkakan otot jantung karena klep organ pemompa darah itu bocor.

Ketika sakitnya mulai serius, dokter penyakit dalam memberinya obat. Selama dua puluh tahun, Rustandi mengkonsumsi produk farmasi. Komplikasi pun terjadi. Ginjalnya rusak. Cuci darah pun harus dilakoni. Diabetes ikut bersarang di tubuhnya. “Akibatnya, saya sering pingsan,” kata Rustandi.

Pada Juni 2007, Rustandi mengeluh sesak berat. Dia dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Hasil evaluasi dokter ahli jantung Achmad Fauzi Yahya menyebutkan Rustandi menderita dilated cardiomyopathy, sejenis payah jantung dengan penyebab yang belum jelas. Bekas pengusaha perkebunan teh itu disarankan Fauzi ke rumah sakit pusat jantung di Bangkok, Thailand, untuk mendapat terapi sel induk (stem cell). Jenis pengobatan ini memang terbukti mampu mereparasi otot jantung yang sudah rusak. “Pilihannya waktu itu cuma dua, stem cell atau cangkok jantung. Kalau cangkok, wah, berat buat saya. Saya pilih terapi sel induk,” ujarnya.

Tatkala diperiksa secara teliti sebelum mendapat terapi sel induk, dokter paru di rumah sakit Bangkok samar-samar mendeteksi ada yang aneh di paru Rustandi. Ahli payah jantung di Thailand menenangkan Rustandi agar tak khawatir, dan menyatakan tidak ada masalah dengan parunya. Namun hasil rekam alat pemindai (CT scan) menunjukkan ada tumor segede bola pingpong bersembunyi di bagian belakang paru kanannya. Menurut ahli paru Rumah Sakit Pusat Bangkok, Sermkit Watanawaroon, gumpalan itu dipastikan 95 persen tumor ganas.

Rencana terapi sel induk terpaksa ditunda, hingga kanker diangkat. Rustandi pun minta waktu konsultasi dengan dokter dan keluarganya di Tanah Air. Dokter di rumah sakit Bangkok memberinya waktu dua minggu. Jika lebih dari itu, mereka khawatir kankernya menjalar ke mana-mana.

Ternyata Fauzi, dokter ahli jantung yang biasa menanganinya, melarang Rustandi dioperasi. Alasannya, jantung ayah delapan anak itu lemah. Pendapat sama juga dikatakan dokter langganannya di Jakarta, Yan Djukardi, dari Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta Barat. “Nggak mungkin kamu dioperasi. Operasi paru itu besar, jantungmu sudah tak begitu kuat,” Rustandi menirukan pendapat Yan.

Perbedaan pendapat antara dokter rumah sakit di Bangkok dan di Indonesia membuat Rustandi bingung. Dalam kegalauan, warga Ciumbeuleuit, Bandung, itu kembali ke Jakarta. “Saya berkonsultasi kembali ke dokter Yan. Dia menyarankan, saya mencari jalan yang tidak konvensional,” kata Rustandi. Yan pun memperkenalkan Rustandi dengan Yanto Lunardi Iskandar, profesor dari Universitas Sorbonne, Paris, yang sedang berkunjung ke Indonesia.

Pertemuan Rustandi dengan Lunardi pada Juli 2007 hanya singkat. Profesor asal Indonesia yang kini punya kewarganegaraan Prancis dan Amerika Serikat ini segera kembali ke negara Barack Obama. Rustandi diperiksa, darahnya diambil. “Sampel darah saya dibawa ke Amerika untuk diteliti,” katanya.

Dua pekan setelah membawa darah Rustandi, Lunardi memberikan obat. “Tapi obat ini masih dalam percobaan klinis, belum resmi, dan belum diluncurkan. Mau tidak?” Lunardi menawarkan. Artinya, Rustandi menjadi pasien (baca: manusia) pertama yang “diuji coba” dengan obat temuan Lunardi. Rustandi mengiyakan saja. Toh, dokter sudah memvonis, hidupnya tinggal empat bulan lagi. “Lantaran dijamin dokter Yan, saya percaya saja,” katanya.

Lunardi memang dikenal sebagai peneliti kanker darah (hematolog) dan ahli kanker (onkolog) top di Amerika dan Prancis yang menjadi peneliti di Universitas Maryland. “Kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa menolong saya. Saya serahkan saja nasib saya ke dia,” katanya.

Lunardi memberikan 100 butir kapsul kepada Rustandi. Istimewanya, kapsul itu tidak ditenggak, melainkan harus disusupkan melalui liang dubur, dua kali sehari. Cara pengobatan seperti ini biasanya diterapkan pada bayi, yang memang belum bisa menelan obat. “Saya merasa sehat kembali. Padahal waktu itu saya sudah batuk-batuk sampai keluar darah,” katanya.

Merasa tak ada keluhan, satu setengah bulan kemudian Lunardi kembali memberi Rustandi 1.000 butir kapsul yang dia gunakan hingga sekarang. Sepuluh bulan sudah Rustandi menggunakan obat pemberian Lunardi. Vonis hidup empat bulan terlewati sudah. Dia tak perlu lagi cuci darah. Pasalnya, menurut Lunardi, obat tersebut bisa meregenerasi sel, termasuk sel darah.

Apa sih isi kapsul ajaib itu? Namanya peptide matermin. Ini nama paten zat yang terdiri dari bahan alami dengan kandungan asam amino di bawah 50 kilodalton--di atas 50 kilodalton menjadi polypeptide atau protein. Lunardi sudah berhasil membuat sintetiknya.

Secara alamiah, peptide matermin terdapat pada air kencing perempuan dalam tiga bulan pertama kehamilan. Sebab di dalamnya terkandung human chorionic gonadotropin (hCG), jenis hormon peptide yang diproduksi embrio yang baru, hasil pembuahan dan bagian tertentu dari plasenta. Hormon tersebut sangat berguna bagi tubuh, karena dapat membantu perkembangan sel yang masih muda supaya tumbuh dengan baik. “Jadi, zat yang mengandung unsur tersebut bisa membunuh sel kanker dan juga memperbaiki sel yang rusak, seperti jantung Rustandi,” tutur Yanto.

Obat tersebut, menurut Lunardi, sudah disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika dan dewan kesehatan di sana (NHI). Artinya, ramuannya sudah diakui layak digunakan untuk manusia. “Brand-nya dimiliki Universitas Maryland dan segera diluncurkan untuk masyarakat. Sekarang masih negosiasi harga. Saya sih ingin murah, biar bisa dipakai banyak orang,” katanya.

Memang tak lazim obat kanker dimasukkan lewat dubur. Biasanya obat dimasukkan lewat mulut atau disuntikkan melalui pembuluh darah, yang biasanya disebut kemoterapi. “Kemo itu seperti racun. Kalau kita menggunakannya dengan dosis besar, paling masuknya ke target hanya satu persen. Sisanya lebih banyak singgah di mana-mana. Residunya itu bahaya sekali. Bisa membunuh jaringan jantung, paru-paru, otak, hati, dan ginjal,” katanya.

Kemoterapi juga mengakibatkan rasa sakit tak terperi. Diakui onkolog dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Aru Wisaksono Sudoyo, kadang kala rasa panas atau terbakar menyergap tubuh pasien setelah pemberian obat melalui pembuluh darah. “Rasa sakit yang hebat dapat terjadi bila obat bocor keluar dari pembuluh darah,” kata Aru. Hal lain yang tak menyenangkan pada sesi kemoterapi, jarum harus terpasang selama proses infus berlangsung, biasanya beberapa jam sampai setengah hari.
Nah, tujuan cara pengobatan dengan memasukkan kapsul melalui dubur, menurut Lunardi, agar isinya langsung masuk ke pembuluh darah. Sebab, kalau melalui lambung, akan terganggu enzim, sehingga kandungannya tak murni lagi. “Lambung itu seperti tempat sampah, selain juga fungsinya banyak, kadang-kadang terganggu oleh obat-obatan lain yang sangat beracun,” ujarnya.

Rustandi mengakui, sejak menggunakan peptide pemberian Lunardi, dia merasa sehat. Bahkan Rustandi tetap berolahraga, jalan di treadmill. Lalu bagaimana kanker pada parunya? Memang belum dicek, karena Rustandi belum boleh terkena radiasi, apabila harus dilihat dengan pemindai. “Tapi, saya merasa fit,” ujarnya.

Ahmad Taufik

Infografik:
Cara Kerja Kapsul Peptide

(Gambar: organ tubuh manusia: anus, pembuluh darah, jantung, paru, hati, dan lain-lain. Kapsul dimasukkan lewat anus. Lalu isinya menyebar melalui pembuluh darah sehingga membuat sel kanker di paru hancur)

Kapsul mengandung peptide matermin.

Peptide matermin punya kemampuan seperti sel induk yang mampu mereparasi sel rusak dan menghancurkan yang jahat.

Setelah masuk ke pembuluh darah, akan mengalir ke seluruh tubuh.

Pada organ yang terkena kanker, peptide matermin mampu membuat sel kanker melakukan bunuh diri massal.
***-/**

(dimuat di Majalah TEMPO)
berhubung banyak permintaan kontak profesor Lunardi, saya cuma punya kontak email ; drlunardi@gmail.com

Profesor Susan Shu-wen Tai : Mendeteksi Lebih Dini

Angka resmi tiap tahun menunjukkan sekitar 800 ribu orang di Indonesia menderita berbagai jenis kanker. Taipan pendiri Lippo Grup, Mochtar Riady, memboyong seorang perempuan asal Taiwan, Susan Shu-wen Tai, mengepalai sebuah lembaga yang menggunakan nama konglomerat itu, Mochtar Riady Institute for Nanotechnology. “Penggunaan nama saya itu agar anak cucu saya nanti tidak menutup pusat riset itu, karena dianggap tak menguntungkan,”kelakar Mochtar saat mendampingi profesor asal Leeds University, Inggris, Rabu pekan lalu di lantai 17 Hotel Aryaduta, Jakarta.

Pertemuan Mochtar dengan Profesor Susan berawal dari kunjungannya ke Shanghai, Cina pada 2006. Saat itu Mochtar bersama Profesor Yohanes Surya—salah seorang pendiri pusat riset Nano Mochtar, mencari perabotan buat laboratorium. Bertemulah dengan Susan, penjual mikroskop merk Philips. Kepada Mochtar, Susan justru melarang membeli produk dagangannya. “Saya heran dia penjual, saya mau beli malah gak boleh,”katanya.

Kesan kejujuran dan kecerdasan Susan itu membekas dalam diri Ketua Majelis Wali Amanat Mahasiswa Universitas Indonesia. “Sekalian saja saya tawarkan memimpin proyek riset Nanotechnology di Indonesia,”ujar ayah James Riady. Akhirnya Doktor dari Univeritas Berkeley, Kalifornia, Amerika Serikat itu boyongan memimpin proyek riset termutakhir di Indonesia. “Saya ingin berkontribusi membantu rakyat Indonesia di bidang teknologi dan kesehatan,”katanya.

Pekan ini bertepatan dengan ulang tahun taipan kelahiran Malang, Jawa Timur ke-79, sejumlah ahli kanker dan nanotechnology dari mancanegara diundang Profesor Susan ke Karawaci, Banten, untuk pembukaan pusat riset nanotechnology dan simposium riset kanker. Siang itu perempuan cantik yang mengenakan gaun serba putih dengan blazer rajutan merah muda memberikan wawancara terbatas pada sejumlah jurnalis, termasuk Tempo. Tata bahasa Inggrisnya sempurna, walaupun tetap terasa aksen tiongkoknya saat akhir kalimat, ha. Di bawah ini petikan wawancaranya :

Kenapa Nanotechnology?
Nanotechnology adalah studi fungsi unit paling kecil dari suatu benda, dan unit terkecil di dalam sebuah sel plasma pembawa sifat (gene). Teknologi itu juga menyediakan semua informasi mengenai gen yang berkembang dalam tubuh manusia.

Dimana kedudukan pusat riset ini di Indonesia?
Riset pengembangan teknologi nano ini tak begitu banyak di dunia, di Asia, hanya ada di Singapura, Cina dan kini di Indonesia.

Apa gunanya bagi Indonesia?
Dengan populasi 220 juta orang, Indonesia tentu saja ada gangguan yang serius dengan kesehatan masyarakat, terutama kanker, yang menjadi salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. Angka resmi ada 800 ribu orang terkena berbagai variasi kanker tiap tahun. Nah, diagnosa dini dan pengobatan yang efektiv diperlukan untuk mengawasi penyebarannya. Disinilah Riset kanker dibutuhkan untuk berbagai aspek penting, termasuk mengetahui pola gen kanker yang masih belum diketemukan.

Apa fokus yang akan diteliti?
Lembaga ini dan lembaga riset kanker yang akan dibuka pada Juni tahun depan (2009) awalnya akan fokus pada studi kanker hati (Hepatocellular carcinoma, HCC). Kanker ini selalu berkembang mengikuti virus hepatitis yang sangat umum terjadi di Indonesia. Jika seseorang terinfeksi virus hepatitis B dan atau C, dia juga berpotensi resiko penyakit hati yang lebih berat.
Dengan pendekatan sains (nanotechnology) dapat diprediksi jika gen pembuat virus tersebut ditemukan lebih awal, dapat dicegah berkembangnya dalam tubuh pasien kanker hati menjadi penyakit hati yang lebih berat. Pola gen pasien dapat membantu dokter untuk menduga tingkat penyakit itu, dan mengobatinya dengan tepat. Selain kanker hati pusat riset ini nantinya akan mempelajari kanker usus, payudara, otak dan lainnya.

Berguna bagi Ilmuwan Indonesia?
Saat ini ada tujuh orang Indonesia yang bekerja bersama saya. Diharapkan selain, ahli-ahli kanker Indonesia yang bekerja di luar negeri kembali ke Indonesia, tiap tahun setelah pusat riset kanker dan nanotechnology berjalan menghasilkan lima ribu dokter dalam bidang ini. Dokter kanker yang mengetahui konsep nano teknologi.

(dimuat di Majalah TEMPO)

Kebangkitan Gagasan Pluralis

Nurcholish Madjid menyodorkan ide Islam yang universal, inklusif. Tapi beberapa gagasannya pada 1970-an membuat ia dicap penyambung lidah Orde Baru.

PADA 2 Januari 1970, di sebuah diskusi di Jalan Menteng Raya 58, seorang pemuda mengungkapkan sesuatu yang tidak saja baru bagi audiens di hadapannya, tapi juga bagi dirinya. Ia Nurcholish Madjid, usianya 31 tahun, dikenal karena aktivitasnya di Himpunan Mahasiswa Islam dan tulisan-tulisannya tentang Islam.

Hari itu ia membawakan makalah dengan judul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. ”Sekularisasi tidaklah dimaksudkan penerapan sekularisme dan mengubah kaum muslimin menjadi kaum sekularis. Tapi dimaksudkan untuk menduniakan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk mengukhrowikannya,” begitu ia mencoba menjelaskan posisinya.

Nurcholish mungkin sudah berubah. Dua tahun lalu ia dalam sebuah tulisannya menggarisbawahi perbedaan antara westernisasi dan modernisasi dalam Modernisasi Adalah Rasionalisasi, Bukan Westernisasi. Dan kali itu, ia menyodorkan sekularisasi sebagai solusi. Sebagian orang meliriknya sebagai mujadid. Tapi sebagian lagi, termasuk di antaranya para modernis, memandangnya telah melangkah terlalu jauh. Bahkan Menteri Agama pertama, Profesor H M. Rasjidi, menganggapnya terpengaruh doktrin Barat.

Dalam waktu singkat kedudukannya dalam dunia politik Indonesia pada 1970-an itu pun dipertanyakan. Pandangannya sebelum berkunjung ke Amerika Serikat (1968) berbeda dengan sekembalinya dari tanah Abraham Lincoln itu. Pengaruh Amerika? Yang terang, gagasan dan pikirannya semakin jelas ketika ia menyodorkan ide “Islam Yes, Partai Islam No”. Gagasan yang kemudian membuat ia dicap sebagai penyambung lidah Orde Baru untuk menggembosi Partai Persatuan Pembangunan, yang mengusung Islam sebagai dasar partai.

Politik Orde Baru yang represif terhadap Islam waktu itu menimbulkan antipati di kalangan muslim. Tapi Cak Nur--begitu ia biasa disapa--seakan tak begitu ambil pusing dengan dikotomi pro dan antipemerintah ini. Nurcholish, yang telah mengantongi gelar doktor dari Universitas Chicago serta aktif di dunia akademis dan tulis-menulis, pun tampak semakin matang dengan gagasan-gagasannya. Di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 21 Oktober 1992, di hadapan 400 orang yang hadir, ia menyampaikan pidato kebudayaannya yang berjudul “Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia untuk Generasi Mendatang”.

Ada kontroversi yang hampir sama dengan tahun 1970-an kembali muncul. Cak Nur memiliki jangkauan lebih luas dan lebih filosofis. Bekas Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam itu mengolah gagasannya tentang Islam sebagai agama yang hanîf dan inklusif serta melancarkan kritik keras terhadap gejala fundamentalisme dan radikalisme agama. Ia melontarkan gagasan tentang kepasrahan sebagai inti dasar keislaman. Islam dalam pandangannya bukan hanya sebutan khusus bagi suatu agama, melainkan juga sebutan yang berlaku untuk semua bentuk keberagamaan berdasarkan kepasrahan terhadap kebenaran mutlak.

Menurut dia, beragama yang benar adalah yang al-hanifiyyat al-samhah--mencari kebenaran yang lapang dan toleran, tanpa kefanatikan, dan tidak membelenggu jiwa.

Gagasan tersebut ia gali dari khazanah klasik Islam--dalam hal ini pemikiran Ibnu Taimiyyah--dan juga Al-Quran serta hadis yang dalam beberapa kesempatan berbicara tentang warisan Nabi Ibrahim, millati Ibrahim, yang mengalir dalam tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam. Pada dasarnya, Cak Nur hanya ingin menghilangkan efek buruk yang lahir dari sikap fanatik.

Ridwan Saidi termasuk salah seorang politikus yang sejak dulu keberatan dengan pandangan Cak Nur itu. Ia menilai, “Masalah kerukunan beragama di Indonesia lebih berkadar sosial-politik. Nah, Nurcholish mencari jawab persoalan ini dari segi teologi. Kalau mencari jawab dengan teologi, larinya akan ke pandangan filosofi. Jadi enggak ketemu."

Terlepas dari segala kontroversi dan penolakan, suatu diskursus panjang telah disulut Nurcholish. Menurut dosen Universitas Islam Negeri Jakarta, Bahtiar Effendy, gagasan Nurcholish turut mendorong terjadinya transformasi pemikiran dan praktek politik Islam di Indonesia. *


(dimuat dalam edisi khusus Majalah Tempo 100 tahun Kebangkitan Nasional)

Hanya Ada satu Kata, Thukul

"bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata : lawan!”


Bagian akhir puisi bertajuk Peringatan yang dibuat di Solo 1996, lebih dikenal dari sang penyair penciptanya, Wiji Widodo nama asli lelaki kelahiran Kampung Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963, Wiji Thukul. Bahkan ketidakhadirannya hingga kini tak menjadi buah bibir.

“…kalimat pendek itu menunjukkan pilihan hidup Wiji Thukul…bukan pilihan yang mudah Wiji Thukul telah membayarnya dengan mahal, dia telah menjadi korban praktek penghilangan orang,”tulis Direktur Komisi Korban Kekerasan dan Orang Hilang, Munir—yang akhirnya juga menjadi korban, meninggal diracun—dalam pengantar buku kumpulan Puisi Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru.

Sosok Thukul—nama itu kini digunakan seorang komedian terkenal berwajah ndeso asal Semarang, Riyanto— awalnya hanya dikenal kalangan aktivis gerakan mahasiswa di Jawa Tengah dan Yogyakarta. “Kami sering menginap di rumahnya di kawasan kumuh di Solo, saat memperjuangkan tanah rakyat yang tenggelamkan rezim Soeharto dalam proyek Kedung Ombo,”kata bekas Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), Budiman Sudjatmiko.

Karena seringnya menginap dan berinteraksi dengan para aktivis, seniman pelo (cadel) bergabung dengan partai ‘haram’ pimpinan Budiman. “Semua kekuatan harus bersatu untuk melawan rezim otoriter dan militeristik, katanya, dan Thukul memimpin Jaringan Kerja Kesenian Rakyat, sayap seniman PRD,”ujar Budiman.

Puisi-puisi Thukul lalu menjadi salah satu slogan dalam gerakan mahasiswa, petani maupun buruh. “Kata-kata baris akhir dalam puisi Peringatan itu bagi gerakan sama saja dengan slogan saat Proklamasi dulu, merdeka atau mati,”ujar Budiman yang kini Ketua Umum Relawan Pejuang Demokrasi, sayap pemuda Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Budiman dan kawan-kawan tak melupakan Wiji Thukul. “Saya ditangkap setelah peristiwa 27 Juli 1996, Thukul tak pernah ketemu dan menghilang sejak 1998,”katanya.

Thukul termasuk seniman yang tak sepakat pekerja seni alergi pada politik. “Dengan tidak tahu soal politik kita mudah saja dipermainkan. Kita harus jadi pelaku, bukan objek,”katanya dalam wawancara di buku terbitan Indonesia Tera, Juni 2000.(hal.170).

Selain catatan keseharian yang ada di sekelilingnya, semangat perlawanan tampak dalam puisi-puisi ayah Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah. Dalam puisi berjudul Sajak Suara, Thukul, menulis ;

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
disana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!


Memang suara tak bisa diredam dan dipenjarakan. Tapi pemilik suara itu bisa dihilangkan, walaupun puisinya masih tetap menjadi ikon semua gerakan dan aksi unjuk rasa. Dalam sajak berjudul Udara, penyair drop out jurusan tari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Solo (1982) sudah menghirup aroma maut.

dari udara sama
dihirup
udara di kampung udara di kuburan
menyambut kematian!
begitu miskin
milik kita kalimat berat
selamat datang!


(dimuat di edisi khusus Majalah TEMPO 100 tahun Kebangkitan Nasional)

Potret Rendra Dalam Pembangunan

Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur,
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum


Hendardi, 50 tahun, masih ingat Sajak Anak Muda yang dibawakan penyair Willibrordus Surendra Broto Rendra atau lebih dikenal sebagai W.S Rendra menjadi inspirasi melawan rezim militer orde baru. “Waktu itu saya baru masuk menjadi mahasiswa baru, kakak angkatan kami ditangkapi dan ditahan, militer masuk ke dalam kampus,”katanya.

Dalam keadaan tekanan seperti itu puisi-puisi Rendra, menurut mahasiswa Jurusan Teknil Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1978, membangkitkan semangat. “Puisi-puisinya mendengung saat happening art dan mimbar bebas di kampus,”ujar Hendardi.

Puisi-puisi itu pula, menurut bekas Ketua Dewan Mahasiswa ITB, yang membuatnya bertahan aktif dan tak kenal menyerah. Hendardi dan kawan-kawan menjadikan puisi Rendra bagian dari pleidoi para aktivis mahasiswa angkatan 1978 yang diadili, antara lain seperti ; Herry Akhmady, Rizal Ramly dan Indro Tjahyono.

Puisi-puisi Rendra yang biasa dibacakan saat demonstrasi dan mimbar bebas itu pada 1980 diterbitkan oleh Lembaga Studi Pembangunan, dalam sebuah buku kumpulan puisi Potret Pembangunan dalam Puisi. Isinya tentu saja situasi dan keadaan politik sejak 1973, saat sang Burung Merak, masih di Yogyakarta, sampai 1978, saat marak demonstrasi menentang ketimpangan pembangunan dan ketidakadilan. Bahkan sajak-sajak Rendra masih terasa mengedor-gedor semangat aktivis mahasiswa pertengahan 1980-an.

Olah vokal dan ekspresi gerak Rendra masih membayang hingga kini. Bahkan sejumlah penyair di Bandung, pada pertengahan 1980-am, masih tampak meniru-niru gerak dan olah vokal lelaki kelahiran 7 November 1935 di Solo itu. Di lapangan Basket kampus ITB atau di depan Masjid Salman Jalan Ganesha, Bandung, seorang seniman Sujiwo Tedjo, tampak faseh saat membawakan puisi Rendra dalam sebuah panggung di pertengahan 1980-an. “Puisi-puisi Rendra yang dibacakan saat mimbar bebas biasanya yang punya ruh perlawanan, bukan puisi-puisi cinta yang mendayu-dayu,”ujar Hendardi.

Pada masa awal Rendra berkarya sering menulis cerpen dan esei yang dimuat di berbagai majalah: Mimbar Indonesia, Siasat, Kisah, Basis, Budaya Jaya. Kemudian baru menulis drama dan puisi. Satu dramanya, Orang-Orang di Tikungan Jalan (1954) mengantarkannya meraih hadiah dari Departemen P & K Yogya, waktu itu. Lalu kumpulan sajaknya, Ballada Orang-Orang Tercinta (1957) dan Empat Kumpulan Sajak (1960) adalah sajak-sajak yang paling laku dibaca pada periode 50-an.

Olah vokal dan gerak sarjana muda Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu memang terus bertambah matang saat menimba ilmu di American Academy of Dramatical Arts, Amerika Serikat. Tiga tahun disana, warna Rendra makin kentara, nadanya terbuka, mudah dicerna, dan urakan. Tampak misalnya dalam sajak Rick dari Corona ;

Betsyku bersih dan putih sekali
lunak dan halus bagaikan karet busa.
rambutnya merah tergerai
bagai berkas benang-benang rayon warna emas.
dan kakinya sempurna
singsat dan licin
bagaikan ikan salmon


Namun, panasnya suasana kampus pada 1970-an Rendra melupakan segala kegenitannya pada lawan jenis, serta mengusungnya masuk ke lingkungan perguruan tinggi. Pendiri Bengkel Teater Yogya itu diundang membaca sajak di banyak kampus. Kepiawaiannya mengolah vokal dan gerak mengundang mahasiswa berteriak dan gema tepukan. A.Teeuw dalam kata pengantar buku ini mengakui Rendra Sang Penyair adalah seorang pemberontak, seorang yang selalu sibuk dengan melonggarkan kungkungan dan pembatasan-pembatasan. Karena itulah penyuka oral Hitler dan Bung Karno sempat mencicipi jeruji tahanan pada masa itu. Karyanya dipandang banyak menyuarakan suara protes dan gejolak keberanian para aktivis. Misalnya dalam Sajak Mata-mata;

Ada suara bising di bawah tanah,
ada suara gaduh di atas tanah,
ada ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah,
ada tangis tak menentu di tengah sawah.
Dan, lho, ini di belakang saya,
ada tentara marah-marah.


Kumpulan sajak Potret Pembangunan dalam Puisi menjadi lebih berarti saat dibacakan di hadapan khalayak ramai. Bahkan lebih hidup dari sekedar propaganda yang menempel di dinding-dinding kampus. Penyair sekaligus dramawan yang sudah banyak menghasilkan karya ini, benar-benar memberikan ruh pada sebuah protes, dalam Aku Tulis Pamplet ini ;
Aku tulis pamplet ini
karena lembaga-lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah.
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan,
menjadi peng-iya-an.

Membuang Kayu Lapuk

Elisabeth, pasien penyakit paru-paru busuk sehat kembali setelah dioperasi kapal medis Amerika Serikat. Kini hidupnya melayani umat.

Jangan pernah menyerah. Renova Elisabeth Pangabean, 31 tahun membuktikan kekuatan kata itu untuk menyembuhkan diri dari penyakitnya. Ibu dari dua putra ini kini kembali hidup normal dan kembali sehat menjadi aktivis gereja melayani umat. Siapa sangka tiga tahun silam dua paru-paru sebelah kanannya pernah diambil oleh tim dokter dari Kapal USNS Mercy.

Riwayat penyakit Bebet-begitu panggilannya di kalangan keluarga- bermula saat masih duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Farmasi di Sumatera Utara. Perempuan kelahiran kota rambutan Binjai, sekitar 21 kilometer dari ibukota Sumatera Utara itu sering bartuk-batuk di malam hari. Sebagai anak yatim, dan keterbatasan biaya, batuk-batuk itu tak diobati secara intensif.

Penyesalan baru terjadi dua tahun setelah usai sekolah dan melamar pekerjaan. Semua tes untuk masuk sebuah perusahaan farmasi besar di Jakarta sudah lulus dijalani. Namun saat tes kesehatan anak keempat dari lima bersaudara itu batuk-batuk, dan di dalam paru-parunya ditemukan cairan yang cukup banyak. “Akibat itu saya tak diterima,”katanya pada Tempo lewat saluran telepon pekan lalu.

Bebet lalu periksa ke rumah sakit, Dokter di RS Mitra Keluarga menemukan abses pada paru-paru kamar bawah, putusannya harus dioperasi. Tak puas dengan informasi itu, dia cek kepada tiga dokter di rumah sakit yang berbeda, di Jakarta dan Tangerang, Banten. Bebet memutuskan kembali ke Binjai bekerja sebagai asisten apoteker.

Di Binjai, Bebet berobat pada Dokter Spesialis paru Tamsil Syafiuddin, gratis. Karena tak punya biaya, Dokter Tamsil tak menyarankan operasi pemotongan paru. Karena penyakitnya sudah parah Bebet mulai sering muntah darah dan masuk rumah sakit dua pekan lamanya jika batuknya mulai tak berhenti. “Setahun sudah sampai empat kali muntah darah,”katanya.

Dua tahun menjelang pernikahan, pada 12 Juli 2000, Bebet memeriksakan diri ke Island Hospital, Penang, Malaysia. Dokter dato Zainuddin Wazir yang memeriksanya memberi saran yang sama, operasi paru, jika tidak, akan terjadi pendarahan tiap bulan tanpa henti. Setelah kalkulasi biaya dengan nilai tukar rupiah ke ringgit Rp 2.500/ringgit, biaya operasi dan finishing mencapai Rp 250 juta.

Elisabeth melupakan niatnya, lebih memilih kawin pada Agustus 2002. Saat mengandung anak pertama, Bebet sempat tiga kali masuk rumah sakit karena sakit parunya. Cara caesar diambilnya saat melahirkan, begitu juga saat mengandung anak kedua, dua kali dia masuk rumah sakit. Surat juga dikrimkan ke juragan Microsoft, Bill Gates, tanggapannya, yayasan nir laba yang dikelola Bill & Melinda Gates Foundation hanya untuk penyakit infeksi karena HIV/AIDS, kesehatan reproduksi dan anak, serta tak melayani permintaan perseorangan.

Kehidupan tambah berat, ibunya meninggal pada 2005. Dua minggu kemudian yatim piatu itu kembali muntah darah, ditambah mental yang sedang tak sehat, Bebet dirawat di rumah sakit. Dokter menyatakan paru-paru dalam kondisi yang paling buruk, dan saran dokter tetap, operasi.

Dalam kondisi sulit, adiknya, Jordan membawa majalah Tempo bekas, ada sebuah artikel Pada Sebuah Kapal (edisi, 20 Maret 2005), menarik perhatiannya, berkisah tentang sebuah kapal, rumah sakit terapung milik Amerika Serikat USNS Mercy yang membantu mengobati warga korban tsunami Aceh, termasuk mengoperasi tumor ganas. Sayang kapal itu sudah pergi dari Aceh. Saat itu Bebet berdoa semoga kapal mundur kembali.

Ndilalah, dua hari pulang dari rumah sakit, terjadi gempa di Nias. Bebet menonton dalam liputan 6 SCTV, tentang kapal Mercy yang mundur dan kembali ke Nias. Liputan yang sama ditonton Bebet di televisi yang berbeda Indosiar dan Metro TV. Tanpa membuang waktu Bebet dan keluarga berangkat ke Nias, berharap bisa diobati.

Saat sampai di Nias, ia cuma bertemu tentara Australia. Tak lama kemudian bertemu dokter tentara AS. Tapi dia menolak menerima Bebet. Lalu Bebet bertemu dengan seorang dokter Indonesia yang juga membantu di Nias. Setelah beberapa orang mendesak dokter AS itu akhirnya mau mengangkut Bebet dan suaminya dengan helikopter yang tersedia di lapangan terbang setempat. Langsung di bawa ke USNS Mercy. Tepat turun dari helikopter, Bebet muntah darah.

Tanpa banyak tanya, Bebet langsung diisolasi dalam sebuah ruangan. “Menurut dokter AS, prosedurnya demikian, kawatir ada kuman atau virus yang menyebar ke rumah sakit terapung itu,”cerita Elisabeth. Di ruang itu, paru-paru Bebet dikeringkan, agar saat dioperasi tak menjalar ke paru-paru lain. Dari hasil pemeriksaan paru-paru kanan bawah bebet 100 persen rusak, sedangkan kanan tengah 10 persen. “Namun, kedua paru itu harus diambil, kata mereka,”ujar Bebet.

Setelah tiga hari Bebet dioperasi sekitar tujuh jam, dua parunya diambil. Kini dia hidup normal, sehat, melayani umat gereja Komunitas Imamat Rajani. “Saya tak pernah batuk lagi, bahkan juga tak pernah kena flu,”katanya.

Dokter Tamsil, yang dulu merawat Elisabeth, mengakui ibu dua anak itu kini sehat setelah paru-parunya dibuang. “Memang, paru-paru Elisabeth itu ibarat kayu dimakan rayap, sudah lapuk. Jalan yang terbaik yang dibuanglah sudah tak berguna,”kata dokter spesialis paru lulusan Fakultas kedokteran Universitas Indonesia dengan logat Melayu Medan.

Menurut Tamsil yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, keadaan paru-paru Bebet, berasal dari penyakit tuberkolosis –TBC- yang tak tuntas diobati. “Jadinya infeksi dan kena kuman hingga seperti itu,”katanya. Penyakit TBC kini masih menjadi pembunuh nomor tiga di Indonesia. “500 orang Indonesia meninggal tiap hari akibat penyakit ini,”katanya.

Bakteri TB, yang berbentuk batang dan bertahan hidup sampai berbulan-bulan di lingkungan kering, mudah disebarkan lewat batuk, bersin, dan ludah. Seseorang akan terinfeksi bila terjadi kontak dekat secara terus-menerus dengan penderita. Sebab itu, bila dalam sebuah keluarga ada seseorang yang terjangkiti TB hendaknya segera berobat. Sambil diobati, gizi makanan penderita harus baik dan istirahat cukup. Anak-anak juga hendaknya dijauhkan dari penderita.

Sebenarnya, selama daya tahan tubuh kuat dan bakteri yang masuk tidak terlalu banyak, beberapa bakteri dengan sendirinya akan mati oleh serangan sel darah putih. Komplikasi yang bisa terjadi pada penderita TB antara lain pleurel effusion (pengumpulan cairan di antara paru-paru dan dinding rongga dada) atau pneumothorax (terdapat udara di antara paru-paru dan dinding rongga dada). Keadaan akan fatal kalau kerusakan paru-paru sudah luas. TB ada kalanya dapat menjalar ke organ tubuh lain melalui aliran darah.

Jutaan manusia sebenarnya hidup dengan kuman TB tanpa harus menjadi sakit. Namun suatu saat bila daya tahan tubuh menurun, kuman tubercle dapat bangkit memperbanyak diri kembali, kemudian menyerang masuk ke bagian lain dari paru-paru. Pada taraf ini penderita masih merasa sehat sampai gejalanya muncul, misalnya saat fungsi pernapasan terganggu, batuk, dan muntah darah. Itulah yang terjadi pada Bebet.

Elisabeth, menurut dokter yang kini bertugas di Rumah sakit Pirngadi, Medan, kini tak lagi memiliki dua paru-paru yang diambil itu. “Namun dia tetap bisa hidup normal, 55 persen paru-paru saja sudah cukup,”kata Tamsil.

Ahmad Taufik (hasil editan dimuat edisi khusus TEMPO 100 tahun Kebangkitan Nasional)

Minggu, April 27, 2008

Rusa Ditangkar, Rusa Dibakar

Nafsu memang tak bisa dibendung. Entah apa yang terpikirkan dibenak Presiden Abdurrahman Wahid, sehingga ingin mencicipi daging rusa yang lepas berkeliaran di Istana Bogor. memang ada-ada saja. Mungkin teringat mumpung jadi, emang enak jadi pejabat.

Dikabarkan rusa-rusa di istana Bogor kerkurang karena diambili para pejabat. Salah duanya adalah Presiden Abdurrahman Wahid dan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab. Menurut kabar tersebut Gus Dur ambil dua dan Alwi satu.

Namun ketika ditanya mengenai hal tersebut, Dharmawan Ronodipuro mengaku tidak tahu menahu masalah rusa dari istana Bogor tersebut. “Saya bahkan baru dengar berita ini dari kamu,” kata Dharmawan. Dharmawan yang kepala biro humas dan media massa kantor kepresidenan menyatakan “sampai sekarang saya belum tahu masalah ini.”

Setelah dikontak, Dharmawan menanyakan masalah tersebut ke staf di istana. Dan jawaban staf istana juga sama, belum tahu. “Saya sudah tanya staf di sini,” kata Dharmawan. “Dan mereka menjaba belum pernah dengar kabar itu,” lanjutnya saat dikontak lagi, mengacu pada kabar Gus Dur mengambil dua rusa dari istana Bogor.

Dan sampai sekarang Dharmawan mengaku kalau tidak melihat rusa di halaman dan kebun istana negara. Bahkan dia juga mengaku telah minta staf untuk mengecek apakah ada rusa di istana negara. Dan mereka memang belum melihat ada rusa di sekitar istana negara. “Kalau monyet banyak,” gurau Dharmawan.

Sementara tentang rusa yang diambil Alwi Shihab, Dharmawan menyarankan agar ditanyakan langsung ke Alwi atau ke orang Deplu.

Ada kabar menarik Menteri Luar Negeri Alwi Shihab memelihara rusa dari halaman istana Bogor. Sayangnya dua ekor rusa yang diberi salah satu diantaranya mati. Nampaknya, Alwi tidak tahan juga melihat ratusan ekor rusa berkeliaran bebas di halaman istana Bogor, dalam satu kesempatan ia kesengsem ingin memeliraha rusa itu di halaman rumahnya di Ciganjur, Jakarta Selatan. Sayangnya, apa salah makan, atau bahkan dimakan, salah satu rusa yang dimintanya itu dikabarkan mati.

Menurut cerita Afandi Kepala Sub Bagian Peralatan dan Perawatan, orang yang mengurusi rusa-rusa di halaman Istana Bogor mengatakan sekitar lebih dari dua bulan lalu, sekitar bulan Mei, Alwi Shihab, yang Menteri Luar Negeri melayangkan surat kepada Sekretaris Presiden untuk meminta dua ekor rusa yang bahasa latinnya axis-axis.

Surat itu kemudian ditindaklanjuti dengan survai dari staf Istana Bogor ke kediaman Alwi Shihab yang direncanakan akan dipakai untuk memelihara rusa asal perbatasan Nepal dan Belanda itu. Memang baik perorangan atau pun lembaga, dapat memperoleh rusa Bogor, karena memang jumlahnya yang sudah overpopuled, asal memenuhi syarat memiliki halaman yang luas untuk memelihara rusa-rusa tersebut. Semakin luas halaman, akan semakin banyak dia memperoleh rusa-rusa itu, asal permohonannya direstui oleh Skretaris Presiden. Karena izin untuk mendapatkan untuk memperoleh rusa itu harus seizin Sekretaris Presiden, kata Afandi.

Rusa-rusa di Istana Bogor itu pada awalnya hanya tiga ekor. Rusa itu dibawa oleh Sir Thomas Rafles, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, sekitar tahun 1811. Dari tiga ekor kemudian berkembang biak, dan sampai sekarang telah mencapai 800 ekor. Menurut Afandi jumlah itu sudah terlalu banyak, karena untuk lahan sekitar 28, 4 hektar, seharusnya hanya didiami oleh sekitar 600 rusa.

Untuk itu memang, pihak istana Bogor, melayani pihak-pihak tertentu yang berminat menangkarkan rusa-rusa itu. Asalkan memenuhi syarat, dari lahan yang ditempati rusa dan mendapatkan izin dari Sekretaris Presiden. Setelah diperoleh izin itu, rusa kemudian akan diantar oleh staf Istana Bogor, sampai ke tujuan. “Ini agar kami bisa mengetahui, rusa-rusa itu tidak untuk dibuat sate,” kata Afandi.

Lalu bagaimana jika kemudian rusa yang dipelihara itu mati. Menurut Afandi tidak ada aturan yang mengatur itu. Jadi pemilik rusa yang baru itu, jika tidak meminta izin lagi, dan disetujui dapat minta ganti. “Biasanya kalau sudah gagal, izin tidak akan diberikan lagi,” kata Afandi.

Panas, Menjelang Sidang Umum MPR

Arifin Panigoro, datang memenuhi undangan PPSK - UGM, Yogyakarta. Ia datang bersama Nazarudin dan Meliono, dua-duanya alumni ITB. Hadir pada acara itu Amien Rais, Sofyan Effendi dan Affan Gafar atau juga ada yang lain. Mereka lalu membicarakan keprihatina negeri ini. Kemudian Arifin mengusulkan kepada Amien Rais untuk menyusun kekuatan rakyat, semacam peoples power-nya Philipina. Tapi pertemuan yang dianggap rahasia itu bocor, rupanya, Sofyan ini melaporkan kepada seseorang.

Akhirnya Arifin dipanggil dan diperiksa aparat keamanan, dituduh mendalangi dan mendanai demonstrasi dan menggalang rakyat untuk menumbangkan Suharto. Arifin yang juga anggota MPR tidak bisa menghadari acara Sidang Umum MPR. Berdasarkan ‘gentlemen agreement’ atau ‘proposal’ semula, antara Sjafrie Syamsudin dengan pihak Arifin pemeriksaan Arifin, akan dihentikan setelah sidang umum MPR. Upaya pemeriksaan Arifin dimaksudnya agar ia tidak hadir dalam SIUM dan tidak berbuat macam-macam, yang amat dikhawatirkan terjadi pada SIUM ini.

Tapi ternyata, bukan hanya sampai selesai SIUM dan Arifin akan dibebaskan, kasusnya akan berlanjut. ‘’Saya sudah dinyatakan sebagai tersangka, kasusnya pasal-pasal tentang makar,’’kata Arifin.

Seorang yang dekat dengan Arifin, dan kabarnya juga dekat dengan Pangdam Jaya, Sjafrie Syamsuddin, juga menyangkan Sjafrie. ‘’Janjinya, setelah SIUM semua selesai, tapi nyatanya berlanjut. Ini pasti ada yang ikut ‘main’. Saya terima kabar, dugaannya Prabowo, ikut main,’’kata sumber itu.

Entah apa maksudnya. Tapi yang jelas, Arifin, yang setiap hari harus melaporkan diri ke Mabes Polri, kecewa berat. Namun begitu ia masih bisa tertawa-tawa juga. ‘’Ya, pasrah saja,’’katanya. Ia mengharapkan gelombang protes mahasiswa semakin meluas, apalagi setelah Bob Hasan menjadi menteri, dan juga masih bertenggernya Abdul Latief dan Haryanto Danutirto dalam kabinet sekarang ini. ‘’ Gelombang protes akan semakin banyak. Seharusnya mahasiswa menyiapkan patung-patungan Bob Hasan, Abdul Latief, dan Haryanto Danutirto, selain Suharto, yang patungnya sudah dibakar mahasiswa Yogya. Yang pasti Bob jadi sasaran tembak utama para pemrotes,’’katanya.

Sedangkan Meliono, adiknya bekas menteri Transmigrasi dan PPH Siswono Yudohusodo, juga sudah dinyatakan sebagai tersangka, dalam kasus menghina presiden. Ini berkaitan dengan kehadirannya bersama Arifin ke PPSK UGM Yogyakarta dan penandatanganan alumni ITB menolak Suharto menjadi presiden kembali periode 1998-2003. Apa yang dilakukan Meliono sekarang. ‘’Sudah-lah, saya mau cooling down dulu,’’katanya.

Sabtu, April 26, 2008

Pengakuan Pembunuh Matori A.Djalil

Ketika ditemui TEMPO di ruang pemeriksaan Kejahatan Keras, Reserse Polda Metro Jaya, Achmad Tazul Arifin alias Sabar, 34 tahun sedang tertidur disofa warna hijau tua. Badannya yang kurus ditekuk menelungkup ke samping dengan tangan masih terborgol di samping dengkul. Ketika dibangunkan, Achmad Tazul Arifin, tergagap dan duduk di sofa. Di bawah meja warna cokelat tua, terdapat piring berisi bekas somay yang masih meninggalkan sisa beberapa potong somay, bekas makan Sabar.

Di dalam ruangan selebar tiga kali empat meter Tazul Arifin dijaga oleh satu orang petugas reserse berpakaian preman. Sedangkan dipintu masuk ruang Jatanras ada dua polisi dua polisi duduk seperti resepsionis. Seorang perwira polisi kemudian membangunkan Tazul. Perwira itu bertanya mengenai kasus peledakan BCA Hayam Wuruk, 15 April 1999 lalu. Apa benar kamu berada di lantai dua? kata perwira polisi itu. Tazul mengiyakan. Ada pertanyaan lain, apa yang kamu bawa waktu perampokan itu. Belati atau parang? Dijawab oleh Sabar, “belati.” TEMPO kemudian mengimbuhi pertanyaan, apa benar kamu yang disebut Piping, sekali lagi jebolan Akademi Management Indonesia angkatan 1985 itu mengiyakan.

Pertanyaan perwira polisi itu untuk men-cross cek pengakuan tersangka perampokan BCA yang sudah tertangkap. Di dalam BAP itu ada nama Rojak, Mustaqin dan Rajito yang sudah ditangkap polisi. Masih dalam BAP kasus pengeboman dan perampokan BCA itu disebutkan ada 25 tersangka yang ikut serta. Achmad Tazul Arifin disebut-sebut dalam BAP pada urutan ketiga dengan nama Piping. Piping berada di urutan nomor tiga setelah Amir (alias Umar, disebut sebagai pimpinan Kelompok Angkatan Mujahidin Islam Nusantara), dan Jaya. Di depan cetak nama Piping diberi tanda, dan oleh polisi dikatakan ini nama-nama yang diberi tanda polisi memberi tahu bahwa tanda itu untuk membedakan orang yang berbahaya.

Saat itulah kemudian TEMPO mewawancarai Achmad Tazul Arifin, pria yang berambut cepak keriting, berkulit sawo matang, dengan tinggi badan 160 cm yang mengaku sudah punya empat orang anak. Dalam wawancara itu tidak nampak wajah sedih atau menyesal dari Tazul. Ia malah nampak berusaha bercerita kronologis. Ia terkadang mencoba mengelak dari pertanyaan apa yang menjadi target dibalik usaha pembunuhan Matori Abdul Djalil itu. Berikut wawancara khusus dengan Achmad Tazul Arifin.

Tazul Arifin ditangkap pada hari Kamis 9 April pukul 23.00 WIB. Setelah sebelumnya jajaran Reserse Mobil pimpinan Kapten Syafii pagi hari subuh sudah menggeledah rumah BTN di Total Persada Raya, Blok I.2 nomor 12, Keluruhan Doyong, Jatiuwung, Tangerang. Tetapi pada saat penggerebekan itu Tazul tidak berada di tempat. Baru malam harinya, ketika Tazul pulang dengan sepeda motor bebek, polisi meringkusnya.


Polisi mengatakan Anda termasuk kelompok AMIN yang ikut merambok dan mengebom BCA Hayam Wuruk?

Benar. Tetapi kelompok AMIN sendiri sudah bubar setelah perampokan BCA itu.

Mengapa sampai bisa bubar?

Anggota Amien yang berjumlah 40 orang tersebar kemana-mana. Saya sendiri sempat kabur ke Jawa, ke Semarang. Tiga bulan kemudian saya balik lagi ke Jakarta dan menemui Assadulah tempat saya mengaji.

Bagaimana sebenarnya Anda bisa bergabung dengan kelompok AMIN itu?

Assadulah ada ketika kelompok AMIN juga ada. Assadulah ini kelompok pengajian, saya ikut mengaji. Di pengajian itu ada Muh. Ichwan alias Muh. Sholeh alias Zulfikar dan Assadul alias Ahmad Riadi. Masuk pengajian itu saya dibaitkan dengan motto mendengar dan taat.

Anda sudah merasa akan masuk kelompok pengajian tertentu yang menyimpang dari pengajian umum?

Pada awalnya pengajian-pengajian biasa, pengajian Al Qur’an. Memang kemudian kok menjadi radikal, radikal membela Islam. Assadulah sering berbicara agar semua peraturan harus peraturan Islam.

Maksudnya ingin memperjuangkan berdirinya Negara Islam Indonesia, seperti ramai dikabarkan, atau punya induk organisasi lain?

Bukan. Kalau perjuangan membuat negara itu terlalu jauh. Kami berusaha memasyarakatkan Islam dikalangan kami sendiri saja.

Berapa anggota pengajian ini?


Anggota Assadulah itu saya tidak tahu jumlahnya. Karena saya hanya mengaji kepada Assadulah. Di samping Assadulah ada Zulfikar itu. Pimpinan itu yang mungkin tahu siapa-siapa saja muridnya.

Anda sudah kenal dengan Assadulah dan Zulfikar?

Assadulah alias Ahmad Riadi itu saya kenal sebagai pegawai Departemen Sosial Pusat. Zulfikar kenal dengan saya setelah saya kembali dari Semarang. Ketika saya tanyakan perkembangan keadaan dan bagaimana yang saya harus lakukan, Assaulah mengatakan agar saya mengikuti Zulfikar. Saya ikut dengan Zulfikar.

Bagaimana hubungan Kelompok AMIN dan Assadulah itu?

Dari pengajian itu, kemudian saya diperintahkan oleh Assadulah untuk ikut AMIN. Mereka sepertinya sudah punya link. Saya diperintahkan oleh Assadulah, saya nurut masuk kelompok AMIN.

Anda masuk kelompok AMIN yang latihan militer di Maseng, Caringin, Bogor?

Iya. Sekitar satu bulan sebelum perampokan BCA 15 April 1999 itu.

Dikelompok AMIN kabarnya Anda menjadi pelatih lempar sangkur, dan panjat tali karena Anda bekas anggota Menwa ketika mahasiswa?

Semua anggota AMIN ikut latihan melempar belati. Saya pernah ikut pencinta Alam Kampala dan Menwa juga. Saya bisa panjat tambang montenering. Saya bawahan dikelompok AMIN. Danru (Komandan Regu) saya Rojak. Katanya ada empat Danru yang lain, salah satunya yang saya masih ingat Danru Jais. Danru-Danru ini dibawah Komandan Amir alias Umar.

Kelompok Amir itu yang kemudian merampok Bank BCA. Anda sendiri dapat berapa uang?


Saya tidak dapat apa-apa. Setelah perampokan saya langsung ke Jawa, AMIN bubar.

Anda pernah ketemu anggota AMIN yang lain?

Tidak pernah.

Bagaimana dipengajian kok bisa ada senjata?

Saya juga tidak tahu senjata itu berasal dari mana. Kalau pimpinannya pasti tahu.

Lalu siapa yang memerintahkan membunuh Matori Abdul Djalil?


Setelah saya ikut dengan Zulfikar, saya disuruh nunggu. Saya sendiri punya usaha dagang makanan kecil di Cibitung. Sampai pada hari Kamis 2 April lalu, sekitar pukul 15.00 WIB saya diundang ke rumah Zulfikar. Saya diundang di rumahnya Zulfikar di Gang Buaya I, Tanah Abang. Nomor rumahnya saya lupa. Di sana sudah ada Assabulah, Zulfikar, dan Sarmo.

Apa yang dibicarakan di rumah Zulfikar itu?

Zulfikar bilang ini kamu ‘kan bisa naik motor bantuan Sarmo untuk menghabisi orang PKI yang menyusup ke kelompok Islam. Ini STNK-nya, kunci motor, dan uang untuk bensin Rp 400 ribu.

Anda tidak tanya, siapa orang PKI yang disusupkan ke kelompok Islam itu?

Tidak.

Kapan Anda survey ke rumah Matori?

Seharusnya hari Jum’at sudah survey. Sarmo minta hari Jum’at untuk survey, tetapi saya bilang saya tidak bisa, saya masih ada pekerjaan. Akhirnya disepakati hari Sabtu pukul 10.00 WIB di depan Rumah Sakit Pondok Indah. Pada waktu itu diserahkan senjata dan dua pager. Pada saat survey ke rumah di Tandjung Mas itu Sarmo memberitahu bahwa yang dituju Matori. Sarmo sendiri sepertinya sudah hapal jalan-jalannya, mungkin dia sudah survey terlebih dahulu.

Mengapa setelah tahu Matori Abdul Djalil yang jadi sasaran Anda tidak berusaha mencegah?

Saya harus patuh. Apalagi Sarmo bersemangat sekali. Saya terpengaruh dia. Saya juga tidak enak, saya sudah diserahi motor, sudah dikasih uang. Di dalam hati kecil saya, bicara mudah-mudahan tidak jadi-tidak jadi.

Benarkah targetnya membunuh? Lantas mengapa tidak menggunakan pistol saja?

Targetnya memang membunuh. Kalau masalah golok, itu atas permintaan Sarmo sendiri. Pada rapat hari Kamis itu, Sarmo usul untuk pake golok saja. Alasannya biar enggak bunyi. Rapat setuju.

Mengapa Matori Abdul Djalil harus dibunuh?

Katanya orang PKI. Saya tidak tahu. Mungkin kalau Zulfikar tertangkap dia pasti tahu. Kalau saya pelaksana saja, saya patuh.

Bagaimana Anda ketemu pada hari minggu untuk merencanakan membunuh Matori?

Saya ketemu Sarmo di pos, dekat Rumah Sakit Pondok Indah, sekitar jam 06.00 WIB. Sarmo mengenakan kaos dan celana training seperti orang habis lari-lari. Dari sana saya berboncengan ke Tandjung Mas. Setelah melewati 20 meter di samping rumah Matori, Sarmo bilang sudah kami di sini saja. Tunggu di sini, siapin pistolnya, kalau ada orang mengejar, kata Sarmo sambil menepuk paha saya yang masih duduk di motor. (tangan Sarmo yang diborgol menirukan tangan Sarmo yang menepuk-nepuk). Sarmo berjalan berbalik arah ke rumah Matori. Saya sendiri tidak tahu bagaimana kejadiannya, saya siap di motor.

Tiba-tiba Sarmo sudah dibelakang motor dan diteriakin rampok-rampok. Saya sendiri tidak sempat lagi mengambil senjata. Saya pegang stang motor, motor jalan. Massa terus mengejar, Sarmo panik minta di mana pistol-di mana pistol. Pada saat Sarmo menarik tas itu motor terjatuh. Pada akhirnya saya lari-lari. Saat itu tas dan pistol sudah ditangan Sarmo.

Pada saat lari-lari masuk jalan desa, ada tukang ojek. Tukang ojek itu kemudian kami paksa mengantar ke depan jalan. Kemudian saya dan Sarmo ada angkotan kota, saya berdua naik angkot. Tetapi kemudian massa mengejar, kami turun dari angkot. Turun dari angkot Sarmo mengacung-acungkan pistol dan menembak ke atas. Massa kelihatan marah mengejar Sarmo yang membawa senjata. Pada waktu itu massa tidak ada yang memperhatikan saya, saya lari tanpa dikejar.

Kemana Anda lari setelah itu?

Saya lari, terus, lalu ada jalan kecil saya masuk. Kemudian ada angkot saya naik. Dari angkot itu saya turun.

Di mana itu?

Lupa. Lalu saya naik taksi menuju rumah Abdul Azis di Kedoya.

Siapa Abdul Azis itu?

Abdul Azis salah satu anggota Assubulah yang saya kenal. Dari rumah Abdul Azis saya ceritakan kejadian itu. Abdul Aziz kemudian menelpon Zulfikar. Kemudian saya diajak oleh Abdul Aziz naik motor ke Masjid Ataqwa di Kemanggisan, di sana ternyata saya bertemu dengan Zulfikar. Kepada Zulfikar saya ceritakan kejadian-kejadian, bahwa motor tertinggal, Sarmo dikejar-kejar massa. Dari Zulfikar itu saya diberitahu bahwa Sarmo mungkin mati dikeroyok massa. Kemudian kami pulang dan istirahat di rumah Abdul Aziz.

Kabarnya celana yang ada noda darah ditemukan di Kedoya dan baju Anda ditemukan di Cengkareng?

Celana ditempat Abdul Aziz. Baju memang disimpan di rumah saudara saya di Cengkareng.

Apakah Anda tidak melarikan diri ke luar kota misalnya?

Besok harinya dari rumah Abdul Aziz, Abdul Aziz menelpon Assadulah. Kemudian saya berboncengan motor dengan Abdul Aziz ke Senen. Tempatnya di bawah toko buku walisongi, Gunung Agung, saya ketemu Assabulah. Dari Assabulah itu saya tahu bahwa Sarmo sudah mati. Assabulah kemudian memberi lagi uang kepada saya, katanya ini untuk lari, uangnya sebesar Rp 400 ribu. Pada waktu itu saya bilang, tidak usah memberi saya uang. Karena saya patuh kepada Assabulah. Jadi saya tidak enak menerima uang itu. Tetapi diminta untuk diterima, katanya untuk lari.

Mengapa kemudian Anda tidak lari seperti yang disarankan Assabulah?

Dari Senen itu kami berpencar. Saya masih sempat membonceng Abdulah Aziz, kemudian saya berpisah. Perasaan saya mulai tidak enak. Dalam hati saya lebih baik saya bertanggungjawab saja. Itu yang membuat saya tidak lari ke luar kota.

Bagaimana ceritanya Anda sampai ditangkap polisi?

Saya ditangkap polisi ketika pulang ke rumah naik sepeda motor. Saya habis jalan-jalan, lihat-lihat. Saya ditangkap polisi.

Bagaimana Ada senjata-senjata api di rumah Anda?

Senjata-senjata api itu tidak tahu asalnya dari mana. Tetapi saya diberi oleh Zulfikar, katanya di suruh merakit pistol. Kebetulan ada teman dari teknik yang bisa merakit. Jadi rencananya mau dirakitkan. Psitol itu ‘kan belum jadi.

Anda gunakan untuk apa uang yang dari Assabulah?

Uang itu belum saya gunakan. Uang itu ‘kan disita polisi. Jadi tidak benar kalau polisi bilang uangnya hanya Rp 130 ribu. Uangnya masih ada Rp 300 ribu lebih. Karena saya baru pake uang itu sekitar Rp 50 ribu.

(Pewawancara Edy Budiyarso untuk TEMPO)