Minggu, November 09, 2008

Agar Sehat di Tempat Kerja


Peran dokter semakin penting dalam menjaga kesehatan para pekerja. Harus turun ke lapangan, tak bisa hanya di belakang meja.

Buruh pengeboran itu datang ke dokter dengan keluhan sesak napas dan kemampuan gerak tubuhnya melambat. Dokter Jusuf, yang memeriksa pria 29 tahun bernama Sumantri itu, merujuknya ke rumah sakit agar menjalani pemindaian. Hasilnya, paru Sumantri terlihat mulai mengeras. Dia terbukti terkena asbestosis--penyakit karena menghirup serat asbes yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut (fibrosis) di dalam paru.

Asbestosis membuat jaringan paru-paru tidak dapat mengembang dan mengempis dengan baik. “Jika tak segera ditangani, bisa mengakibatkan kematian,” kata dokter Jusuf. Beruntung Sumantri bukan perokok sehingga terhindar dari penyakit kanker paru-paru. Seandainya tak memeriksakan diri lebih awal, Sumantri juga bisa terkena mesotelioma peritoneal--penyakit ganas dan tak bisa disembuhkan lantaran menghirup asbes dalam jangka waktu lama.

Kasus yang menimpa Sumantri, menurut Suryo Wibowo, seorang dokter spesialis kesehatan kerja (occupational medicine), merupakan salah satu dari lima jenis penyakit akibat kerja. Masih ada penyebab lain: fisik, biologis, ergonomi, dan psikososial.

Bagi seorang dokter kesehatan kerja, penelusuran riwayat si pasien, baik pekerjaan maupun kehidupan sehari-harinya, merupakan langkah penting agar bisa mengambil tindakan yang tepat. Dokter kesehatan kerja bukan hanya bertugas menyembuhkan pasien. Mereka juga harus mencegah agar penyakit tidak menyebar dan menurunkan kemampuan kerja seseorang ataupun pekerja lain.

Bila suatu kantor atau perusahaan meminta pemeriksaan kesehatan tahunan, seorang dokter kesehatan kerja wajib hukumnya turun ke lapangan. “Tak bisa hanya di belakang meja menganalisis data kesehatan pekerja,” ujar dokter Suryo.

Tatkala karyawan bagian produksi mengeluh sakit pinggang, misalnya, dokter kesehatan kerja harus melakukan survei secara langsung untuk mengetahui cara mereka bekerja. “Rupanya karena mesin di bagian produksi didatangkan dari Eropa,” dokter Suryo menambahkan. “Ukuran tingginya standar orang Eropa, sehingga timbul ketidaksesuaian antara mesin dan manusia.”

Posisi bekerja yang tidak ergonomis itulah yang menyebabkan sakit pinggang. Untuk mengatasinya, tak perlu diberi obat atau tindakan medis lain. “Jalan keluarnya, misalnya, pekerjanya harus pakai dingklik,” kata kandidat doktor kesehatan kerja itu.

Dalam kasus Sumantri, asbestosis dapat dicegah dengan mengurangi kadar serat dan debu asbes di lingkungan kerja. Pekerja bisa diwajibkan memakai alat pelindung diri agar tak menghirup debu tersebut. Untuk mengurangi risiko terjadinya kanker paru-paru, para pekerja yang berhubungan dengan asbes dianjurkan berhenti merokok.

Agar sumber penyakit tak menyebar ke pihak keluarga, setiap pekerja disarankan mencuci pakaian kerjanya di pabrik dan menggantinya dengan pakaian bersih saat kembali ke rumah. Semua pakaian kerja tidak ada yang dibawa pulang dan pekerja membersihkan diri atau mandi sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Bahaya lain yang sering terjadi pada pekerja, terutama di tempat pembakaran, adalah terhirupnya gas karbon monoksida. Gas yang dihasilkan dari proses oksidasi bahan bakar yang tidak sempurna itu biasanya tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak menyebabkan iritasi. Gas beracun tersebut memasuki tubuh melalui pernapasan dan diserap ke dalam peredaran darah.

Karbon monoksida akan berikatan dengan hemoglobin (yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh) menjadi carboxyhemoglobin. Gas itu mempunyai kemampuan berikatan dengan hemoglobin 240 kali lipat kemampuannya berikatan dengan oksigen.

Persaingan berebut hemoglobin ini akan menyebabkan pasokan oksigen ke seluruh tubuh menurun tajam sehingga melemahkan kontraksi jantung dan menurunkan volume darah yang didistribusikan. Konsentrasi rendah (< 400 ppmv ambient) dapat menyebabkan pusing-pusing dan keletihan. Adapun konsentrasi tinggi (> 2.000 ppmv) dapat menyebabkan kematian. “Padamnya listrik di Carrefour Ratu Plaza, Jakarta Selatan, yang menyebabkan para karyawannya pingsan, merupakan salah satu contohnya,” ujar dokter Suryo.

Penyakit akibat kerja bukan hanya terjadi pada pekerja kerah biru, tapi juga bisa terjadi pada pegawai kantoran. Dokter Suryo, misalnya, menunjuk pasiennya: seorang sekretaris yang terkena penyakit carpal tuner syndrome--suatu keadaan terjadinya peningkatan penekanan saraf pada pergelangan tangan yang mengakibatkan iritasi dan kelelahan pada ruam di antara jari tangan.

Gejalanya berupa rasa nyeri, terbakar, serta kesemutan di jari-jari dan tangan yang terkadang menjalar ke siku. Senut-senut kian terasa di malam hari, bahkan kadang bisa membangunkan penderita. Orang yang berisiko terkena penyakit itu adalah pengguna komputer yang melakukan gerakan berulang pada pergelangan tangan. Namun peringkat tertinggi dalam daftar kesehatan kerja, menurut dokter Suryo, berupa keluhan nyeri punggung dan bahu.

Lantaran kebutuhan memenuhi persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja itulah, tenaga medis kesehatan kerja mulai dilirik. Pertemuan ISO on Occupational Health and Safety Management di Jenewa, Swiss, September 1996, mengatur penerapan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja secara internasional merupakan salah satu syarat bagi semua jenis industri. Dua tahun setelah itu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mulai berencana mengembangkan program pendidikan spesialis kedokteran okupasi.

Program itu awalnya hanya berupa kursus-kursus singkat untuk tenaga medis yang sudah ada. “Saya angkatan kedua spesialis kedokteran kesehatan,” ujar dokter Suryo, yang baru lulus tahun lalu. Di Amerika Serikat, kedokteran kesehatan sudah mulai dikembangkan sejak 1970-an. Saat itu didirikan The National Institute for Occupational Safety and Health.

Dalam perkembangannya, dokter kesehatan kerja tak hanya dilibatkan dalam penanganan kesehatan pekerja semata. Mereka juga ikut serta dalam merancang pabrik. Dokter okupasi harus melihat data pekerja. Contohnya, pegawai dengan tubuh paling gemuk harus bisa melewati pintu darurat atau gang-gang di sekitar mesin jika terjadi situasi gawat di pabrik tersebut.

“Kami harus dilibatkan untuk mengurangi risiko jika terjadi sesuatu,“ kata dokter Suryo. Bila terjadi kebakaran, harus dipersiapkan pula jalur evakuasi. “Jangan sampai terjadi tabrakan atau bahaya lain karena adanya bahan kimia yang terbawa angin,” dia menambahkan. Dengan melibatkan dokter okupasi, risiko terganggunya kesehatan akibat kerja diharapkan bisa dikurangi. Tempat bekerja seyogianya memang tak menjadi sumber duka para pekerja.

Ahmad Taufik


Infografik

Pekerja dan penyakitnya:


1. Dokter: risiko tertular penyakit infeksi, misalnya HIV, hepatitis, dan tuberkulosis. Terpajan bahan-bahan kimia, seperti reagen di laboratorium, obat-obatan, gas anestesi, dan desinfektan.

2. Pialang saham: gangguan pada otot dan tulang karena kerja berulang, nyeri bahu dan leher karena mengempit gagang telepon, gastritis, tuli karena suasana bursa yang hiruk-pikuk, serta stres.

3. Jurnalis: tertular penyakit ketika mengunjungi daerah endemik ataupun kecelakaan kendaraan bermotor. Stres saat mengejar sumber berita. Gangguan pada otot dan tulang karena mengangkat kamera yang berat.

4. Sekretaris: carpal tunnel syndrome karena posisi tangan pada waktu mengetik yang tidak ergonomis dan kelelahan pada mata karena terlalu lama menatap layar monitor.

5. Guru/pendidik/trainer: gangguan pernapasan karena kualitas udara yang buruk bila ruang kelas bocor.

6. Pelukis: kerusakan saraf karena terpajan bahan kimia yang terdapat pada
cat dan pelarut cat.

7. Pustakawan: gangguan saluran pernapasan karena kualitas udara ruangan yang buruk. Carpal tunnel syndrome karena mengambil dan menaruh buku-buku yang berat.

8. Buruh percetakan: tuli karena bisingnya suara mesin cetak, keracunan timbel kronik yang mengakibatkan disfungsi sistem saraf, dan disfungsi ginjal.

9. Satuan pengamanan/security: stres karena panas serta keracunan karbon monoksida kronik dan gas buangan kendaraan bermotor.

10. Analis kimia: pajanan terhadap reagen, katalisator, pelarut di laboratorium, dan senyawa-senyawa kimia yang terbentuk pada berbagai reaksi kimia. (AT)

dimuat Majalah Tempo edisi 10-16 November 2008.

Rabu, November 05, 2008

Pertolongan Pertama pada Stroke


Abdurahman, 43 tahun, pernah punya kebiasaan menyiapkan jarum di dekat tempat tidurnya. Dia bukan sedang menjalankan “laku” untuk mendalami ilmu tertentu. Jarum itu adalah alat pertolongan pertama. “Jika terserang stroke, saya atau istri siap bertindak,” katanya. Tapi itu dulu.

Rahman pernah terpengaruh berita yang luas beredar di mailing list mengenai pertolongan pertama pada stroke. Di dalam tulisan yang tak ketahuan asalnya itu dinyatakan, bila terkena serangan stroke, segera tusukkan jarum ke 10 ujung jari tangan. Titik penusukan kira-kira satu sentimeter dari ujung jari. Gunanya agar darah keluar dan penderita serangan stroke segera pulih kembali.

Sepintas, cara ini masuk akal. Sebab, jika orang terkena stroke, terjadi pembekuan darah ke otak. Nah, tusukan itu mengakibatkan reaksi dari pembuluh darah, sehingga kembali lancarlah aliran darah.

Pengertian stroke adalah hilangnya sebagian fungsi otak secara mendadak atau tiba-tiba akibat sumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak. “Nah, jika serangan stroke karena pembuluh darah pecah, penusukan justru mempercepat kematian,” kata dokter ahli stroke, Salim Harris. Dengan kata lain: jangan percaya pada saran tak berdasar seperti itu. Risikonya terlalu besar.

Lalu Salim, yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Cabang Jakarta, menunjukkan cara penanganan stroke sebelum pasien dibawa ke dokter. Pertama, pasien diletakkan dalam posisi tidur telentang dan diberi bantal hingga kepala membentuk sudut elevasi sekitar 30 derajat. Ini memberikan kesempatan agar aliran darah balik ke arah bawah tubuh. Setelah sekitar 30 menit, baru si pasien dibawa ke rumah sakit.

Justru si penderita jangan didudukkan atau digerakkan bagian tubuh lainnya--seperti saran di milis. Sebab, bila itu dilakukan, si pasien akan makin kekurangan oksigen. “Karena tiap gerakan membutuhkan oksigen. Sedangkan saat terserang stroke, tubuh sedang kekurangan oksigen,” ujar Salim.

“Jangan diberi minum, termasuk air gula. Walaupun bisa, jangan dibiarkan jalan atau duduk di mobil,” ujarnya. Minuman dikhawatirkan merusak organ tubuh lainnya, dan jika masuk ke paru-paru malah bisa berakibat infeksi. Pokoknya, posisi yang terbaik adalah terbaring dengan bantal di kepala seperti disebut di atas.

Larangan lain adalah memberikan obat-obatan darah tinggi. Menurut Salim, tekanan darah yang ekstrem tinggi ataupun rendah sama bahayanya bagi penderita serangan stroke.

Karena itu, jika pasien terserang stroke, harus dilihat dulu penyebabnya secara keseluruhan. “Saya saja sebagai dokter harus melihat hasil CT scan untuk mengambil langkah atau terapi yang tepat. Tak bisa dengan cara ditusuk-tusuk jari atau telinganya,” ujarnya. Pemindai (CT scan) merupakan pemeriksaan standar terbaik (baku emas) untuk stroke.

Dalam serangan stroke terkenal istilah “time is brain” dan “the golden hour”. Makin cepat pengobatan makin meminimalkan gejala sisa dari stroke. Masa jeda penyelamatan, yang dikenal dengan istilah jendela terapi (therapeutic window) stroke, adalah enam sampai delapan jam setelah serangan. Penanganan dini yang benar setidaknya akan mengurangi angka kecacatan penderita serangan stroke hingga 30 persen.

Memang wajar jika stroke menjadi momok bagi banyak orang. Sebab, stroke bersama penyakit jantung koroner termasuk penyakit kardiovaskuler pembunuh nomor satu di dunia. Diperkirakan setiap tiga menit satu orang meninggal akibat penyakit tersebut. Ganasnya penyakit ini menjadi penyebab utama kecacatan pada orang dewasa.

Pada penderita stroke akan terjadi penurunan kualitas hidup sangat besar. Penderita juga sangat bergantung pada keluarga atau orang di sekitarnya. Kecacatan yang terjadi bisa bersifat permanen sehingga menimbulkan masalah lain yang tidak kalah peliknya.

Ahmad Taufik
di muat di Majalah Tempo edisi 3-9 November 2008 (Infokes)

Senin, Oktober 27, 2008

Nur Hidayat Calon Presiden



Siapa calon presiden 2009-2014? Jajak pendapat (Polling) yang dikelola blog ini, memilih Nur Hidayat sebagai calon Presiden mendatang.

Nur Hidayat dipilih 48 persen pengunduh, mengalahkan tiga kandidat lainnya. Ratna Sarumpaet satu-satunya perempuan yang berpotensi menjadi Calon Presiden, dipilih 17 persen, angka yang sama diperoleh calon muda bekas aktivis mahasiswa ITB, Fadjroel M. Rachman. Kivlan Zein, satu-satunya calon militer, hanya dipilih 15 persen pengeklik.

Kenapa hanya empat orang itu yang diusung sebagai kandidat? Alasan pertama, keempat orang ini punya modal semangat. Mereka tak mampu membuat iklan di televisi, tak memiliki partai sebagai “kendaraan” politik mereka. Tiga orang sipil yang menjadi calon merupakan “korban” orde baru.

Ratna Sarumpaet, sempat ditahan beberapa bulan menjelang kejatuhan Soeharto, karena menggerakkan masyarakat melawan diktator orde baru itu. Fadjroel Rachman ditahan tiga tahun, saat memprotes kehadiran Menteri Dalam Negeri Rudini di kampus ITB, Bandung. Saat itu Rudini menjaga kebijakan pertanahan rezim orde baru yang merugikan rakyat. Nur Hidayat divonis 19 tahun penjara, karena dituduh terlibat pemberontakan di Talangsari Lampung. Nur Hidayat diberi amnesti oleh pemerintahan Habibie setelah Soeharto tak lagi berkuasa.

Lalu kenapa ada Kivlan Zein? Memang Kivlan Zein punya sejarah negatif, menggerakan Pam Swakarsa melawan gerakan pro demokrasi, setelah Soeharto tumbang (1998). Namun, Kivlan dikhianati atasannya Wiranto dan ia berani melawan. Dibandingkan Wiranto dan Prabowo, Kivlan saat ini termasuk tentara yang berani “terbuka” dan mengakui kesalahan yang pernah diperbuat di masa lalu.

Siapa Nur Hidayat?

Dalam tulisan Al-Chaidar dalam buku Tragedi Lampug Berdarah, disebutkan Nur Hidayat Assegaf lahir di Kuningan Cirebon Jawa Barat tanggal 26 Maret 1959. Nur Hidayat yang dikenal sebagai pimpinan (amir musyafir) Front Komando Mujahidin (FKM) dalam peristiwa Talangsari ini. Dulu ia pernah bekerja pada kantor Bea dan Cukai di Pulau Karimun Jawa, Riau. Ia juga seorang karateka tingkat nasional. Ia berhenti kerja dan kembali ke Jakarta.

Selama menganggur ia sempat bergaul dengan para preman di sekitar Pasar Santa, Jakarta Selatan. Lalu bersama “preman” yang sadar mengkaji ke-Islam-a, lalu menguasai masjid Santa. Jamaah masjid itulah kemudian sepakat “hijrah” ke Lampung membentuk komunitas masyarakat yang lebih Islami. Pada tahun 1983 Nur Hidayat diangkat sebagai Panglima Selatan.

Pada saat membuat komunitas itulah, tahun 1989 Nur Hidayat dan kawan-kawan diganggu pihak aparat “keamanan” setempat. Lalu terjadi tindak kekerasan, dan berakhir dengan pembantaian warga Talangsari oleh tentara. Ada tentara yang menjadi korban, tetapi rakyat yang hanya bersenjata parang, dan panah dari jeruji sepeda, banyak yang tewas, bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan dan anak-anak.

Nur Hidayat divonis 19 tahun penjara dengan tuduhan subversif. ditahan di LP Cipinang, Jakarta, dan bebas mendapat amnesti (pengampunan) dari Presiden BJ Habibie pada 1998, setelah menjalani hukuman sembilan tahun lebih. Nur Hidayat, tidak seperti para teroris yang membunuh orang tak bersalah atau turis, yang ia lawan tentara dan kesewenang-wenangan penguasa. Pantas saja jika pengunjung blog ini memilihnya menjadi salah satu calon presiden. Selamat berjuang!

(AT/27 Oktober 2008)

Minggu, Oktober 26, 2008

Obat yang Meracuni

Adnan Buyung Nasution pernah menderita penyakit aneh. Tujuh dokter gagal mendiagnosisnya. Obat yang ditenggaklah penyebabnya.


Adnan Buyung Nasution tampak mahir melakukan gerakan yoga di lapangan rumput rumahnya di Pasar Jumat, Jakarta Selatan. Ketika ditemui Tempo, Rabu dua pekan lalu, dia terlihat lebih segar. Rambutnya, yang putih keperakan, dicukur pendek. Ketika itu, dia sedang bersiap-siap pergi ke Ujung Kulon selama tiga hari tiga malam bersama tujuh rekannya untuk bertualang--demikian katanya. “Abang mau refreshing dulu.”

Penampilannya itu sungguh jauh berbeda dibanding dua bulan lalu. Ketika itu, banyak yang mengira Buyung sudah tak bakal ada di tengah-tengah kita lagi. “Saya sempat berdoa waktu itu, ya Allah, kalau belum takdir, kembalikan kesehatanku. Tapi, kalau sudah takdir, ambillah, ikhlas aku, ambil dengan tenang, damai, tanpa rasa takut dan sakit,” katanya.

Penyakitnya itu datang tiba-tiba: gatal-gatal sekujur tubuh, dari ujung jari kaki sampai batok kepala, dan kulit terkelupas hingga belang-belang. “Belum pernah saya alami sebelumnya,” kata Buyung memperlihatkan bekas berupa bintik-bintik hitam yang masih tampak di tubuhnya.

Ketika itu, sudah berbagai dokter spesialis didatangi, seperti dokter khusus penyakit orang tua (geriatri) serta spesialis alergi dan kulit. Dari tujuh dokter, tidak ada satu pun yang bisa mengobatinya. “Diagnosis mereka, karena saya banyak pikiran. Bagaimana enggak berpikir? Banyak masalah harus dipecahkan, apalagi saya anggota Dewan Pertimbangan Presiden,” katanya.

Bahkan beberapa dokter menduga penyakit Buyung itu akibat “dibikin” orang alias kena santet. “Yang ini saya enggak percaya,” katanya. Buyung sempat dikira terkena virus yang menyerang daya tahan tubuh (HIV) dan penyakit kulit berbahaya yang mengenai saraf.

Belum sembuh dari serangan gatal, sebulan kemudian muncul serangan berikutnya: sakit perut dan buang-buang air besar. “Semalam bisa sepuluh kali. Pagi-pagi bangun tidur saya pingsan, lalu pingsan lagi saat di meja makan,” katanya.

Buyung dilarikan ke sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Namun, seusai dia diobservasi, dokter tetap tidak bisa menemukan penyakitnya. ”Hanya dibilang peradangan perut. Sebabnya apa, dokternya juga tidak tahu,” ujarnya.

Berkat bantuan sejawatnya, Nono Anwar Makarim dan istri, Buyung disarankan ke dokter ahli kanker (onkologi) di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura, Ang Peng Tiam. “Karena rekomendasi Nono, saya langsung diterima. Kalau orang lain, bisa menunggu satu-dua bulan,” katanya.

Dokter Ang, menurut Buyung, geleng-geleng kepala melihat kondisinya yang lemah tanpa tenaga sama sekali. Di sana, Buyung mendapat pemeriksaan menyeluruh selama dua minggu: darah, feses, dan air kencing. Tubuhnya dipindai. “Saya bersih, alhamdulillah. Tadinya dikira kanker. Karena peradangan di perut, ada dugaan tumor ganas,” ujarnya.

Apa kesimpulan Ang? Buyung keracunan obat. Pasiennya itu terlalu banyak mengkonsumsi obat. Maklum, dia bisa menenggak 15 butir tiap hari, pagi, siang, dan malam, untuk berbagai penyakitnya. Padahal bisa jadi ada obat yang bertentangan. Lama-kelamaan, semua itu menyebabkan Buyung pingsan dan tekanan darahnya rendah sekali, 80/40. Berat badannya turun 15 kilogram dalam sebulan. “Kalau orang lain, sudah ‘lewat’,” katanya.

Buyung tidak hanya punya jam terbang lama di ruang sidang, tapi juga untuk urusan mengkonsumsi obat. Maklum, dia sudah lama punya riwayat penyakit darah tinggi dan jantung. Pada 1990, dia menjalani operasi bypass jantung di Belanda. Waktu itu, dia sedang “dibuang” selama tujuh tahun oleh rezim Orde Baru. Hidup di negara orang, dia melarat. Sekolah pun tak kunjung selesai, gara-gara profesornya sakit. “Saya frustrasi, depresi berat, dan kena serangan jantung,” kisahnya.

Pada 2000, Buyung kembali kena serangan jantung, dan dibawa ke Australia untuk dipasangi stent--semacam silinder supermungil untuk membuka pembuluh darah jantung yang tersumbat. Nah, hitung saja, sudah berapa lama Buyung “bergaul” dengan obat-obatan tekanan darah tinggi dan jantung.

Sebelum seluruh tubuhnya dihajar gatal dan buang-buang air besar, obat-obatan yang dikonsumsi Buyung itu sebenarnya sudah menyampaikan pesan kepada tubuhnya. Dia awalnya terkena gatal “hanya” di kaki hingga paha, pada Februari 2007. Sejak saat itu, pasukan obatnya bertambah dengan obat alergi, antara lain Celestamin, Bestalin, Claritin, dan Medixon. Sedangkan obat jantung yang ditenggak di antaranya Plavix, Diovan, Lasix, dan Imdur. “Semua obat alergi disuruh stop oleh dokter, enggak boleh dipakai lagi. Hanya obat jantung yang masih boleh diminum,” katanya.

Apa yang menimpa Buyung mengingatkan kita pada hakikat obat itu sendiri. Ya, obat adalah racun. Ia bisa menyembuhkan, sekaligus meracuni. Tubuh pun bisa mengalami alergi atau bereaksi negatif--seperti gatal-gatal di sekujur tubuh yang menimpa Buyung--terhadap obat yang selama ini menyembuhkannya.

Menurut dokter spesialis alergi dan imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Iris Rengganis, reaksi tubuh seperti itu bisa akibat obat yang tidak cocok dengan kondisi badan atau bertentangan dengan jenis obat lain. Itu yang disebut reaksi anafilaktik, yaitu tubuh bereaksi terhadap obat sebagai benda asing yang masuk ke dalam tubuh. “Karena itu, harus segera diberikan suntikan adrenalin. Jika terlambat, bisa meninggal,” katanya.

Ada juga obat yang diberikan hanya sedikit tapi tubuh sensitif terhadapnya. Misalnya obat tuberkulosis. Tubuh yang sensitif terhadap obat itu langsung bereaksi. Penggunaannya dalam jangka lama akan berefek samping ke organ hati. Akibatnya, pasien akan tampak kuning. “Bisa merusak ginjal atau lever,” kata dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Ari Fahrial Syam.

Obat yang dikonsumsi dalam dosis berlebih atau dalam jangka waktu lama juga bisa sangat berbahaya. Misalnya pemberian antibiotik. Lamanya penggunaan antibiotik juga bergantung pada penyakitnya. Biasanya dokter sudah menentukan dosis yang harus dihabiskan sesuai dengan aturan. Jika aturan dilanggar, kuman, virus, atau penyebab penyakit lainnya menjadi resisten terhadap antibiotik tersebut.

Setiap obat memang punya “karakter” sendiri. Reaksi pada tubuh yang berbeda ada kemungkinan juga berlainan. Apalagi untuk obat yang sudah dikonsumsi bertahun-tahun oleh penderita penyakit kronis, yang bisa berdampak negatif pada tubuh. Yang muncul bisa berupa gatal-gatal, bisul, dan lain-lain.

Kalau sudah demikian, menemukan penyebab asalnya tidak mudah. Itu terbukti dengan kasus Buyung. Tujuh dokter tak bisa menyimpulkan apa penyebab gatal di sekujur badannya itu.

Sejak dokter meminta Buyung menghentikan konsumsi obat-obat alergi, kondisinya membaik. Semua dugaan akan penyakit misterius, dan berbahaya, pupus sudah. Berat badannya bertambah. Kini bahkan dia berada pada kondisi ideal: berat 60 kilogram dengan tinggi 167 sentimeter. “Sudah bagus, ideal sekali. Kalau dulu, sampai 70 kilogram. Suka capek,” katanya.

Nah, untuk menjaga kebugarannya pada usia 74 tahun, Buyung lari seminggu tiga kali. Yoga, yang ditekuninya sejak 30 tahun lalu, tetap dijalankan. “Yang penting sekarang rehabilitasi,” katanya. Menurut Mauly Nasution, anaknya, dokter juga melarang Buyung mengkonsumsi durian, cokelat, daging kambing, dan wine. “Maklum, kondisi tubuh Ayah sudah tak sekuat dulu,” katanya.

Ahmad Taufik, Iqbal Muhtarom

Dimuat Majalah Tempo Edisi 27 Oktober-2 November 2008

Kamis, Oktober 23, 2008

Nurhidayat Memimpin Polling


Dua hari lagi polling calon presiden alternatif ditutup. Sampai saat ini dari empat calon pilihan Nurhidayat, memimpin suara, 19 suara. Di urutan kedua muncul tokoh muda lain, Fadjroel rachman, dua urutan berikutnya, Ratna Sarumpaet dan Kivlan Zein.

Kenapa hanya empat calon itu pilihan blog ini?

Siapa Nurhidayat?

Nantikan dua hari lagi?

Info pertama : Nurhidayat divonis hukuman penjara 19 tahun oleh Rezim Soeharto, karena perlawanannya di Lampung pada 1989. Tentu saja, lebih lama dari semua calon Presiden yang sudah mencalonkan diri.

Lebih Sehat Dirawat di Rumah



Bila sakit berlanjut, jangan menyerahkan pasien pada dokter untuk dirawat di rumah sakit. Menurut penelitian Perkumpulan Perawatan dan Bantuan Kesehatan Amerika Serikat, pasien akan lebih sehat jika dirawat di rumah sendiri.

Lembaga itu telah meneliti gejala tersebut di kawasan pinggiran dan perkotaan di delapan negara bagian di Amerika Serikat selama tiga tahun terakhir. Terbukti, kesehatan pasien akan lebih baik bila dirawat di rumah ketimbang di rumah sakit. Karena perawatan di rumah menjauhkan pasien dari dunia orang sakit di rumah sakit. Di rumah, pasien akan termotivasi segera sehat karena di sekitarnya juga orang-orang sehat.

Karena itulah Kongres Amerika mendukung pelayanan kesehatan di rumah dibandingkan di rumah sakit. Sebab, selain tanpa biaya rawat inap, perawatan di rumah berdampak positif bagi pasien.

(dimuat di Info kesehatan Majalah Tempo 25 September 2008)

Mencegah Stroke Berulang


Mempertahankan tekanan darah tetap rendah terlalu lama setelah serangan stroke justru berisiko terjadinya stroke ulang. Untuk mengatasinya, menurut Doktor Salim Yusuf dari The Population Health Research Institute, Hamilton Health Sciences and McMaster University, Kanada, perlu diberikan telmisartan.

Yusuf membagi 20 ribu pasien sembuh stroke dalam dua kelompok. Satu kelompok menggunakan telmisartan 80 miligram setiap hari selama 15 hari, dan grup lain menggunakan obat kosong (plasebo). Hasilnya, ternyata pengguna telmisartan selama dua setengah tahun tak terkena stroke ulang, penyakit jantung, dan kencing manis (diabetes). Sedangkan pada kelompok plasebo masih ditemukan risiko serangan stroke ulang.

(dimuat Info Kesehatan di Majalah Tempo, 25 September 2008)

Senin, Oktober 20, 2008

Janji Politik dan Mimpi Jadi Isteri Kedua

Empat tahun mengelola negara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih mendapat hati di kalangan "rakyat". Minimal di hati budeku.

Minggu, pertengahan Oktober, setelah beristitahat dari piket menerbitkan edisi empat tahun pemerintahn SBY-JK, bude ku asal Malang, Jawa Timurn datang berkunjung ke rumah. Kami berdua sempat berbincang-bincang.

"Anakku, baru menjanda setahun sudah dapat suami,"katanya,"aku sudah sepuluh tahun menjanda belum dapat-dapat suami baru juga."

"Aku mau menjadi isteri kedua SBY,"ujarnya melanjutkan.

"Kalau aku menjadi isteri kedua SBY, aku yakin Ibu Ani akan pakai jilbab, dan SBY tak duano menjadi presiden kembali dan diberi limpahan rahmat dan berkah oleh Allah. Aku menyimpan sejumlah doa yang akan ku berikan padanya,"katanya.

"SBY masih tetap yang terbaik untuk menjadi presiden ke depan,"ujarnya.

"Aku sebagai manula, akan mendapat Rp 150 ribu, tiap bulan,"katanya. Ya, tanteku kelahiran tahun 1934, dan masih gagah untuk ukuran orang seumurannya. Walaupun, ada beberapa penyakit, seperti diabetes misalnya.

Budeku begitu terpesona dengan sosok SBY, bukan karena sama-sama berasal dari Jawa Timur, tetapi karena janji-janji politik dan kesejahteraan yang diimpikan rakyat. "Coba bayangkan, mana ada presiden yang kasihkan kompor ke rakyat, belum lagi program BLT (Bantuan Langsung Tunai), jadi pantaslah SBY memerintah kembali. Mudah-mudahan pada kesempatan kedua pemerintahannya menjadi lebih baik dari sebelumnya,"katanya.

Aku hanya bisa mengangguk. "Soal isteri kedua SBY, aku hanya guyon lo, mas,"katanya.

Jakarta, 20 Oktober 2008
A.Taufik


Sabtu, Oktober 18, 2008

Dari Suami ke Ideologi


CALON KUHP baru mungkin akan menjadi kabar buruk bagi para suami. Mereka yang dianggap memaksa istrinya bersebadan, sementara si istri menolak, bisa dihukum. Rumusan delik ini tak ada dalam KUHP sekarang. Yang ada hanya delik pemerkosaan lelaki terhadap perempuan yang bukan istrinya. Rupanya, kata-kata “yang bukan istrinya” ditiadakan. Alhasil, pemerkosaan bisa dianggap terjadi pada semua perempuan.

Banyak yang menentang rumusan delik baru itu. Alasannya, urusan suami-istri adalah urusan rumah tangga, yang tak perlu dicampuri polisi. Tapi kalangan aktivis perempuan menganggap pasal itu penting. Menurut mereka, pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan suami terhadap istri tergolong kejahatan.

Memang, menurut Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan di Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Abdul Gani Abdullah, soal marital rape ini masih menjadi perdebatan. Delik begitu dipengaruhi oleh hukum liberal. “Kalau mau diakomodasi, mestinya delik serupa bisa pula dilakukan istri terhadap suami,” ujar Abdul Gani.

Dalam RUU KUHP, rumusan harus adanya ikatan perkawinan dalam kasus perzinaan juga dihapuskan. Itu berarti dua orang dewasa yang berlainan jenis kelamin dan sama-sama belum menikah, bila berhubungan seksual, bisa dipidana. Ini bisa terjadi pada kasus kumpul kebo (samen leven), yang menurut KUHP tak bisa dihukum. Tapi delik kumpul kebo dalam RUU KUHP bersifat aduan. Artinya, harus ada pengaduan dari keluarga ataupun masyarakat.

Selain memperluas rumusan delik susila, RUU KUHP mengukuhkan berlakunya pidana adat di daerah. Misalnya, seseorang yang berbuat asusila atau memasuki tempat suci yang dilarang bisa dikenai pidana tambahan sesuai dengan hukum adat di daerah itu. “Aturan ini berguna untuk mengantisipasi pemberlakuan otonomi daerah,” kata anggota tim penyusun RUU KUHP, Andi Hamzah.

Yang tak kalah menarik, RUU KUHP mencoba “meluruskan” berbagai delik keamanan negara, yang semasa Orde Baru gampang ditimpakan pada mereka yang berani mengkritik pemerintah. Umpamanya pasal tentang penyebaran kebencian (hatzaai artikelen). Dulu, delik ini bersifat formal. Artinya, kalau seseorang dianggap--anggapan ini pun dimonopoli pemerintah--menghina pemerintah, ia bisa diadili. Tapi, dalam RUU KUHP, delik itu diubah menjadi bersifat materiil. Ini berarti harus bisa dibuktikan apakah perbuatan orang itu benar-benar menimbulkan kebencian.

Contohnya adalah yang pernah terjadi pada peristiwa 27 Juli 1996 di markas PDI. Mereka yang mengutarakan pendapatnya secara kritis atau berideologi berbeda dengan ideologi negara mestinya tak dihukum, kecuali bila perbuatan orang itu lantas menimbulkan kerusuhan di masyarakat. “Yang membuat kerusuhan itu yang bisa dihukum,” ujar Andi Hamzah, mantan jaksa yang pernah menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kejaksaan Agung.

Adapun soal hukuman mati, ternyata RUU KUHP tak mencantumkannya lagi sebagai pidana tertinggi. Hukuman mati dijadikan pidana khusus, yang hanya dijatuhkan pada kasus kejahatan sadistis dengan banyak korban. Pelaksanaan hukuman mati pun dibuat tak gampang. Bila terpidana mati selama 10 tahun di penjara bisa berkelakuan baik, hukumannya bisa diubah menjadi seumur hidup.

--artikel enam tahun silam, dimuat Majalah Tempo edisi 14 Januari 2002--

Hukum pun Terlanda Otonomi

RUU KUHP, yang sudah 20 tahun digarap, dituntut untuk menampung syariat Islam. Bisakah hukum di daerah berbeda dengan hukum nasional?


SEBENTAR lagi Indonesia akan punya hukum pidana buatan sendiri. Dengan demikian, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) warisan parlemen Belanda pada akhir abad ke-19, yang diberlakukan di Indonesia sejak tahun 1918, tinggal sejarah. Rancangan undang-undang (RUU) pengganti KUHP segera dirampungkan oleh Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Rencananya, RUU itu akan disampaikan ke Presiden pada akhir Januari 2002, untuk kemudian diajukan ke DPR.

Namun, calon hukum pidana nasional ciptaan dalam negeri itu punya ganjalan serius. Kini RUU KUHP, yang sudah memuat ratusan pasal pidana, dituntut pula untuk mencantumkan syariat (hukum) Islam, dalam hal ini pidana Islam--menggunakan istilah pidana pada hukum Barat. Tentu hal ini amat mengentak. Bagaimana mungkin hukum pidana yang berlaku untuk semua warga Indonesia dan di wilayah Indonesia akan memuat hukum pidana khusus bagi kalangan Islam?

Selama ini, sejak Indonesia merdeka, praktis pidana Islam tak diberlakukan. Sedangkan hukum perdata Islam--juga dengan terminologi perdata hukum Barat--tetap dilaksanakan melalui pengadilan agama. Perkara perdata Islam menyangkut perkawinan (termasuk perceraian), waris, wasiat, hibah, dan wakaf. Tak aneh, bila pidana Islam diberlakukan, orang pun membayangkan hukuman yang menyeramkan, seperti rajam bagi pelaku perzinaan dan potong tangan terhadap pencuri.

Secara formal, baru Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang menuntut pemberlakuan pidana Islam. Hal itu bisa dimengerti lantaran Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Aceh telah memberikan keleluasaan bagi daerah Serambi Mekah itu untuk mengatur dirinya sendiri, termasuk menerapkan syariat Islam. Di Aceh, kabarnya, sedang disiapkan peraturan daerah yang disebut Qanun untuk mengatur syariat Islam.

Namun, selain di Aceh, ternyata tuntutan syariat Islam bergema di Provinsi Sulawesi Selatan serta di Kabupaten Cianjur dan Garut di Jawa Barat. Memang, tuntutan di ketiga daerah ini belum dituangkan lewat undang-undang, tapi baru secara politis, antara lain lewat gelombang demonstrasi ke DPRD.

Tak terbayangkan bila daerah lain menuntut hal serupa. Padahal, secara teoretis, kalau urusan hukum (dan peradilan) serta keuangan, keamanan, dan luar negeri ditangani langsung oleh daerah, itu mirip ciri-ciri negara federal.

Salah seorang anggota tim penyusun RUU KUHP, Andi Hamzah, mengaku tak sependapat bila hukum pidana suatu daerah berbeda dengan hukum nasional. Sekadar persoalan kecil yang bisa terjadi: bagaimana bila orang yang dituduh melakukan delik di daerah itu berasal dari daerah lain? “Hukum pidana tak bisa diotonomikan. Harus ada unifikasi, satu hukum pidana untuk seluruh Indonesia,” kata Andi Hamzah.

Kalaupun mau dicari perbandingannya, Andi menambahkan, itu seperti yang diterapkan Cina, dengan membolehkan daerah otonom menambah beberapa pasal untuk tindak pidana tertentu. “Itu pun harus disetujui dulu oleh DPR pusat,” ujarnya. Bisa pula daerah melengkapinya dengan pidana tambahan, misalnya denda. Contohnya adalah hukuman khusus di Bali bagi pelaku yang menyetubuhi hewan. Bali boleh menerbitkan peraturan daerah bersanksi denda untuk delik tersebut.

Lain lagi pendapat koordinator Konsorsium Reformasi Hukum Nasional, Firmansyah Arifin. Menurut Firmansyah, sebaiknya syariat Islam jangan ditilik dari aturan materiil berupa pasal-pasal dan ancaman hukumannya, tapi dikaji dari sisi spiritnya, seperti asas keadilan, persamaan hukum, dan toleransi. “Kalau pemahaman spirit syariat Islam yang dikedepankan, tentu tak mengkhawatirkan,” ujar Firmansyah.

Sementara itu, Kepala Hubungan Masyarakat Pemerintah Daerah Aceh, M. Nasir Jamil, menyatakan bahwa Qanun belum disiapkan untuk mengatur hukum pidana Islam seperti potong tangan dan rajam. “Aceh masih bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi, hukumnya akan disesuaikan dengan KUHP nasional,” ujar Nasir.

Kontan pernyataan Nasir ditentang oleh salah seorang anggota tim penyusun Qanun Aceh, Al Yasa Abu Bakar. Kata Al Yasa, tak ada masalah bila hukum pidana di Aceh berbeda dengan KUHP nasional. “Kalau KUHP bisa menampung aspirasi masyarakat Islam, kami akan merujuknya. Kalau tidak, hukum yang berlaku di sini yang digunakan, sesuai dengan wewenang otonomi khusus Aceh,” ujar ahli hukum Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, Aceh itu.

Dengan catatan, kata Al Yasa, syariat Islam hanya berlaku bagi pemeluk Islam. Bagi nonmuslim tetap berlaku hukum pidana nasional. Bagaimana bila terjadi benturan antara syariat Islam dan KUHP?

Agaknya, tuntutan pemberlakuan syariat Islam, menurut Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan di Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Abdul Gani Abdullah, akan diakomodasi dalam RUU KUHP. Alasannya, RUU KUHP yang sudah digarap sejak 20 tahun lalu itu belum mengantisipasi perubahan politik yang terjadi secara drastis setelah Orde Baru tumbang, termasuk perkembangan otonomi khusus Aceh dan pemberlakuan syariat Islam. Lagi pula, “Urusan perdata Islam dan pengadilan agamanya kan sudah jalan. Tinggal sekarang pidana Islamnya,” kata Abdul Gani.

Adapun soal posisi syariat Islam, menurut Abdul Gani, itu akan menjadi semacam aturan khusus (lex specialis) terhadap KUHP, yang merupakan aturan umum (lex generalis). Aturan khusus dimaksud tak lain Qanun di Aceh ataupun Perbasus di Papua. “Daerah tetap menjalankan KUHP nasional, bersamaan dengan hukum khusus mereka. Kalau aturan khusus sudah diakomodasi dalam KUHP, tentu tak perlu lagi ada penamaan syariat Islam,” kata Abdul Gani, yang juga guru besar hukum Islam di IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

Ahmad Taufik, Darmawan Sepriyossa (Jakarta), Zainal Bakri (Lhokseumawe)

---ini tulisan 6 tahun yang lalu, dimuat Majalah Tempo, 14 Januari 2002--

Cuci Tangan demi Sehat

Jangan pernah sepelekan cuci tangan pakai sabun. Menurut data Badan Kesehatan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WHO), lebih dari 3,5 juta anak setahun tak sempat merayakan ulang tahun kelima, karena penyakit yang disebabkan oleh tangan kotor. Untuk itulah, Rabu pekan ini, kegiatan tersebut untuk pertama kalinya diperingati sebagai Hari Cuci Tangan dengan Sabun Sedunia.

Menurut dokter spesialis penyakit perut dan pencernaan (gastroenterohepatologi) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Ari Fahrial Syam, perilaku mencuci tangan sangat penting untuk mencegah penyakit. Infeksi saluran pencernaan, seperti diare, merupakan salah satu penyakit akibat tidak mencuci tangan dengan benar. Misalnya, seseorang setelah buang air besar atau kecil, tangannya membawa bakteri, bisa berupa cacing atau bakteri lainnya.

Begitu juga tangan yang tercemar setelah memegang sesuatu, misalnya komputer atau barang-barang yang dipegang banyak orang. “Nah, saat makan, karena tak mencuci tangan yang benar, bakteri masuk ke dalam mulut dan saluran pencernaan yang kemudian mengakibatkan sakit,” kata Ari.

Diare menjadi penyebab kematian kedua yang paling umum pada anak-anak usia di bawah lima tahun. Ada 30 penelitian yang dipublikasikan Jurnal Kedokteran Inggris (British Medical Journal) pada November 2007, yang membuktikan cuci tangan dengan sabun dapat memangkas angka penderita diare hingga 50 persen. Berdasarkan penelitian tersebut, mencuci tangan dengan sabun, 44 persen lebih efektif menurunkan angka penderita diare dibanding cuci tangan dengan air olahan untuk minum (39 persen) dan sanitasi (32 persen).

Penyakit lain yang mudah muncul akibat tidak cuci tangan dengan sempurna adalah infeksi saluran pernapasan atas, seperti flu atau batuk. “Bersin, membersihkan ingus di hidung, atau melakukan kontak tangan dengan orang yang tercemar virus akan menyebabkan penyakit itu,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia itu.

Infeksi saluran pernapasan atas merupakan penyebab utama kematian anak-anak di bawah lima tahun. Mencuci tangan dengan sabun melepaskan patogen (kuman penyakit) pernapasan yang terdapat pada tangan serta menghilangkan kuman lainnya, terutama virus entrentic yang menjadi penyebab penyakit tersebut.

Penelitian lain yang dipublikasikan Cochrane Library Journal edisi Oktober 2007 menemukan mencuci tangan dengan air dan sabun adalah cara sederhana dan efektif untuk menahan virus infeksi saluran pernapasan atas, dari virus flu sehari-hari hingga virus pandemik yang mematikan. Penelitian di Pakistan membuktikan mencuci tangan dengan sabun mengurangi infeksi saluran pernapasan yang berkaitan dengan infeksi paru (pneumonia) pada anak di bawah lima tahun hingga lebih dari 50 persen.

Penelitian juga membuktikan, selain diare dan infeksi saluran pernapasan, penggunaan sabun dalam mencuci tangan mengurangi penyakit kulit, infeksi mata, seperti trakom dan cacingan.

Dokter Ari mengingatkan membersihkan tangan sebaiknya dengan air mengalir. “Jangan air yang menetap, apalagi di tempat kecil,” katanya. Selain itu, lap sebaiknya yang sekali pakai, jangan yang digunakan berkali-kali, apalagi dipakai orang lain. “Khawatir justru setelah mencuci tangan dengan benar, karena lapnya kotor, malah menimbulkan penyakit,” ujarnya.

Penetapan Hari Mencuci Tangan dengan Sabun Sedunia 15 Oktober merupakan hasil pertemuan tahunan Air Sedunia, Agustus lalu, di Stockholm, Swedia, seiring dengan penunjukan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa 2008 merupakan Tahun Sanitasi Internasional.

Di Indonesia, pemerintah meluncurkan Kampanye Nasional Cuci Tangan Pakai Sabun sejak April 2007. Menurut Deputi II Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Dokter Emil Agustiono, kampanye itu merupakan upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat. Tujuan akhirnya mewujudkan masyarakat Indonesia sehat pada 2010. Semoga ini bukan sekadar lip service dan kampanye klise.

Ahmad Taufik

(dimuat majalah Tempo edisi 10-17 Oktober 2008)

Berdamai dengan Asam Urat

Asam urat bukan sekadar penyakit persendian, tapi bisa menyerang jantung dan ginjal. Karena gaya hidup tak sehat, jumlah penderitanya makin meningkat.

Wakil Direktur PLN Rudiantara kini lega, walaupun dia harus berpantang menyantap sejumlah makanan yang pernah menjadi kegemarannya. “Saya kini tak lagi makan jeroan atau produk yang terfermentasi dan diasinkan. Kacang-kacangan juga saya batasi," ujarnya. Namun itu pengorbanan yang tidak seberapa bila dibanding rasa nyeri luar biasa yang menyerang beberapa persendiannya hingga dua bulan lalu. Dia sampai tidak bisa bergerak. "Bagian yang terserang bengkak-bengkak dan rasanya ngilu," kata Rudiantara kepada Gabriel Wahyu Titiyoga dari Tempo.

Riwayat penyakit asam uratnya memang bukan hal baru, yaitu bercokol sejak 1992. Kegemarannya bermain sepak bola juga semakin menambah risiko asam urat. Sebab, ada semacam kristal yang mengendap di sendi-sendi yang pernah mengalami trauma akibat olahraga tersebut. Meski kerap terserang ngilu persendian, Rudi biasanya tak terlalu menghiraukannya. Hingga pada 2004, lututnya dioperasi. “Dari sana keluar kristal-kristal berbentuk seperti kapur,” katanya.

Menurut Rudi, penyakit asam urat yang menyerang dirinya itu disebabkan oleh kemampuan metabolisme organ tubuh yang kurang baik. Purin--turunan nukleoprotein, yaitu salah satu komponen asam nukleat yang ada di inti sel-sel tubuh--yang seharusnya dikeluarkan lewat air seni atau keringat tidak maksimal terbuang. Akhirnya dia bercampur darah dan mengendap di persendian.

Purin sendiri sebenarnya sudah ada dalam tubuh manusia dan semua makanan dari sel hidup, yaitu tanaman dan hewan. Jadi asam urat secara alamiah merupakan hasil metabolisme--sehingga setiap orang memiliki asam urat, tapi kadarnya tak boleh berlebih. Karena tubuh menyediakan 85 persen senyawa purin untuk kebutuhan sehari-hari, hanya butuh 15 persen purin dari makanan.

Nah, karena purin merupakan hasil dari metabolisme tubuh, Doktor Bambang Setiyohadi mengingatkan, orang dengan kadar asam urat tinggi harus hati-hati dengan penyakit yang berhubungan dengan metabolisme. Apa saja? Jantung, kencing manis, dan penyakit yang berdampak langsung pada ginjal. “Yang paling kami takutkan, asam urat itu mengendap di ginjal. Kalau cuma di sendi menjadi rematik, orang cuma enggak bisa jalan. Tapi, jika mengendap di ginjal, bisa bikin gagal ginjal, cuci darah, akibatnya bisa meninggal,” kata Ketua Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini. Karena itu, kadar asam urat tinggi tak bisa disepelekan agar purin tak mengendap di ginjal.

Asam urat, menurut dokter spesialis reumatologi ini, asalnya dari dalam darah, masuk ke dalam sendi, lalu dibuang lewat ginjal. “Makanya orang dengan sakit ginjal kadang-kadang asam uratnya tinggi, bukan karena ginjalnya menghasilkan asam urat, tapi karena asam uratnya tak bisa dibuang,” ujar Bambang.

Secara umum manusia mengeluarkan asam urinat--sebelum menjadi purin--sebagian besar lewat ginjal dan 80 persen keluar bersama air seni. Sebagian besar sisanya diubah oleh metabolisme dan sebagian kecil diubah oleh bakteri usus. Dengan menjaga pola makan sehat, limbah purin yang melalui ginjal berjumlah 400 sampai 500 miligram per 24 jam. Bila diet lebih ketat lagi, limbah yang keluar 700 miligram. Penimbunan terjadi jika produksi asam urat berlebih dan limbah yang keluar lebih sedikit.

Selain itu, asam urat tinggi biasa menyerang laki-laki, yang cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Adapun pada perempuan, asam urat tinggi menyerang setelah menopause. Ini karena perempuan dilindungi hormon estrogen--yang mampu membantu membuang purin--sedangkan laki-laki tidak. Nah, setelah menopause, hormon tersebut tak lagi hadir.

Tempat nongkrong yang disukai asam urat terutama di pangkal jempol kaki, pergelangan kaki, dan lutut. Bila sudah parah, bisa juga bersarang di pergelangan tangan dan siku. Operasi, seperti yang dialami Rudi, menurut Bambang, tidak menjamin asam urat yang mengkristal tak tumbuh lagi. “Operasi mengeluarkan kristal cuma bersifat kosmetik,” ujarnya.

Menurut dokter yang biasa menangani penderita asam urat, Suryo Wibowo, seseorang dengan kadar asam urat tinggi di dalam darahnya disebut hyperuricemia, yang digolongkan primer dan sekunder. Yang primer tidak diketahui penyebabnya, karena terkait dengan faktor genetik atau hormonal.

Adapun yang sekunder, penyebabnya bisa diketahui. Misalnya pada pasien kanker yang mendapat kemoterapi, sel-sel kanker banyak yang mati, yang normal pun sebagian mati. Sel yang mati ini pecah, inti selnya pecah, DNA-nya keluar, purinnya juga keluar. “Nah, ditambah purin dari makanan, tambah tinggilah kadar asam urat,” dia menjelaskan.

Kadar asam urat yang tinggi juga bisa berubah menjadi penyakit darah tinggi, menyerang jantung, menyebabkan stroke, kencing manis, dan merembet ke organ tubuh lainnya. Dalam kasus penyakit jantung koroner, asam urat menyerang endotel--lapisan bagian paling dalam pembuluh darah besar. Jika endotel mengalami disfungsi atau rusak, akan menyebabkan penyakit jantung koroner. “Ini terjadi terutama berkaitan dengan kolesterol,” kata Suryo.

Karena itu, pemeriksaan penyakit asam urat harus komprehensif. “Harus dilihat penyulitnya,” katanya. Jika penyulitnya ada pada sendi atau radang sendi--dikenal sebagai gout--yang memeriksa adalah ahli reumatologi. Bila efek sampingnya ke ginjal, harus dikonsultasikan ke ahli urologi. Jalan keluarnya bisa dengan operasi (dibedah) atau ditembak. “Memang tumpang-tindih. Sebagai dokter, kalau ketemu pasien dengan hasil cek asam urat tinggi, harus berpikir balik, jangan-jangan pada pasien itu ada gangguan jantung, kencing manis, atau ginjal,” ujarnya.

Nah, tentu saja, yang terpenting adalah menjaga kadar asam urat agar berada di batas normal: 7 miligram per 100 mililiter. Caranya, baik menurut dokter Bambang maupun Suryo, adalah menjalani pola makan sehat dengan menghindari makanan dan minuman dengan kadar purin tinggi. Apa saja? Jeroan, udang, cumi, kepiting, kerang, ikan teri, makanan kaleng, seperti sarden dan kornet, serta minuman beralkohol. “Saya tak akan memberi obat dulu. Jika berhasil dengan diet, ya, diet saja cukup,” kata Bambang.

Melihat penyebab utama penyakit asam urat adalah pola makan tak sehat, tak mengherankan bila jumlah penderitanya cenderung meningkat--sejalan dengan gaya hidup modern yang cenderung tak sehat. Baru-baru ini ada kabar bahwa hasil pemeriksaan kesehatan calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Minahasa, Sulawesi Utara, 2009, sebanyak 80 persen mengidap penyakit asam urat.

Ini jelas berkaitan dengan asupan makanan mereka. Menurut penelitian ahli reumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Profesor Harry Isbagio, penduduk di daerah Manado-Minahasa memiliki prevalensi tinggi terjangkit penyakit asam urat. Ini karena kebiasaan mereka mengkonsumsi makanan laut tertentu dan alkohol. Di dunia, suku bangsa yang paling tinggi prevalensi asam uratnya adalah suku Maori di Selandia Baru.

Ahmad Taufik

Infografik

Golongan Makanan

- Purin tinggi (150-800 miligram per 100 gram makanan): hati, ginjal, otak, jantung, paru, dan jeroan lain, udang, remis, herring, sarden, dendeng, kornet, abon, ragi, serta makanan dalam kaleng.
- Purin sedang (50-150 miligram per 100 gram makanan): ikan (yang tidak termasuk golongan di atas), daging sapi, kacang-kacangan kering, kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur, daun singkong, daun pepaya, kangkung.
- Purin rendah (0-50 miligram per 100 gram makanan): keju, susu, telur, sayuran (bukan golongan purin sedang), buah-buahan.

Tip Menjaga Kadar Asam Urat:
- Pilihlah makanan Anda.
- Turunkan berat badan.
- Perbanyak minum air putih.

(dimuat Majalah Tempo Edisi 10-17 Oktober 2008)

Jumat, Oktober 17, 2008

Toriq Hadad : Antara Stroke dan Buah Hati

Dua tahun setelah Tempo dibredel, pada 1996 saat main Tenis di lapangan tenis tak jauh dari rumahnya di kawasan Pamulang, Tangerang, darah keluar dari hidungnya. Mimisan? Hus! Bukan. Pembuluh darah pecah. Ketika dibawa ke rumah sakit, dokter menemukan penyumbatan. Toriq Hadad divonis kena bloedrek alias darah tinggi.

Boleh dikata, lelaki kelahiran Surabaya, Jawa timur 22 April 1960 terkenal menjaga pola hidup sehat, tidak merokok, minum-minuman beralkohol, menjaga makanan dan banyak berolah raga dibanding rekan-rekan jurnalis lainnya. Maklum Toriq pernah memegang rubrik olah raga di Majalah Tempo sebelum dibredel.

Apakah sakit darah tinggi gara-gara tempo dibredel? “Bisa juga karena stress gak bisa nulis, campur aduk, capek juga, kondisi keuangan gak jelas pula,”ujar pria lulusan Institut “Publisistik” Bogor (IPB).

Tak salah menjelang Tempo terbit kembali, 1998, GM mengajak bertemu. Dalam pertemuan itu, bercerita dihubungi Menteri Penerangan Yunus Yosfiah untuk menerbitkan Tempo kembali. Yunus mensyaratkan GM yang memimpin majalah itu, walau hanya sebentar. “GM sebenarnya sudah males, tapi karena desakan banyak pihak dan syarat itu dia sepakat,”katanya.

Dalam pertemuan berdua itu GM bercerita tentang rencana kepemimpinan di Tempo mendatang. “Setelah dia memimpin sebentar, dilanjutkan oleh BHM, saya diminta menjadi Redaktur Eksekutif,”katanya. TH, begitu nama singkatanya, memang termasuk anak “emas” yang dipersiapkan GM ke depan. “Proses kaderisasi sudah lama dilakukan dalam institusi Tempo. Memilih BHM sebagai pemred, itu sudah disiapkan sejak lama. Tidak tiba-tiba. Tidak bisa hanya satu orang di Tempo memilih satu orang. Semua ditetapkan dalam proses, bersama-sama,”ujar GM dalam pertemuan besar dengan awak Tempo bulan lalu.

Hadiah ulang tahun kedua Tempo terbit, Toriq kena serangan stroke ringan. Gara-gara pengobatan bloedrek yang tak tuntas. Dokter memutuskan harus operasi by-pass jantung. Bekas pemain bola kesebelasan Pasuruan itu segera diterbangkan ke Epworth Hospital Melbourne. Tepat Hari Angkatan Bersenjata, 5 Oktober 2000 operasi dimulai, dan sukses. “Sekitat ingga minggu saya di negeri kanguru,” katanya.

Ada duka, datang pula suka. Ndilalah empat tahun setelah itu, 2004, setelah 15 tahun menikah sejak 1988, isterinya Devi A.Sari melahirkan putera, Hafez Mohamad Hadad. Setelah sebelumnya, sempat keguguran lima kali. “Saat itu mungkin sudah punya cukup waktu luang, untuk memikirkan keluarga dan uang yang cukup, kalau dulu saat Tempo dibredel bener-bener jungkir balik,”kata Toriq. Alhamdulillah!

--original version-- dipersembahkan untuk 10 tahun Tempo terbit kembali--

10 Tahun Tempo Kembali : Diaspora, Bertahan Melawan Rayuan Rezim

Diaspora, Bertahan Melawan Rayuan Rezim

Selasa, 21 Juni 1994, menjadi hari kiamat bagi sebagian awak Majalah Tempo. Tak terbayangkan tempat mencari nafkah tiba-tiba diputus mendadak oleh pemerintah. Padahal, pemerintah saja belum sanggup mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran yang semakin hari semakin tinggi. “Saya sedih sekali, saya menangis di rumah. Saya merasa sia-sia, seolah perjuangan kami menaikkan martabat bangsa tidak dihargai pemerintah,”ujar Yuli Ismartono. Saat Tempo dibredel wartawati perang itu menjabat koordinator liputan luar negeri.

Usaha Tim tiga dan Tim lima yang dibentuk direksi dan karyawan untuk mencari penerbitan baru pengganti wadah mengais rejeki, tak menampakkan hasil yang memuaskan. Pemerintah melalui Departemen Penerangan yang dipimpin Menteri Harmoko, masih marah. Karena awak Tempo beserta elemen masyarakat lainnya turun ke jalan memprotes pembungkaman itu. “Memang, begitu dibredel, kami melawan,”kata Toriq Hadad, Kepala Biro Jakarta waktu itu.

Politik penjajah, divide et impera, pecah belah pun menjadi taktik. Tim 3 yang beranggota direksi ; Mahtoem, Heri Komar, dan Lukman Setiawan didekati konglomerat kolega Cendana, Bob Hasan membuat majalah “pengganti”, Gatra. Bob yang sudah “membina” sejumlah awak Tempo, menjiplak abis perwajahan majalah berita mingguan nomor wahid di Indonesia zaman itu. Termasuk “merampok” karyawan dan beberapa aset lainnya. “Teman-teman yang sudah di sana duluan, nge-move, saya nggak tahu motivasinya, uang atau entah apa?. Gak semua orang Tempo bisa masuk, tapi dilitsus. Yang di-blacklist adalah teman-teman penandatangan Deklarasi Sirnagalih dan yang terlibat peristiwa Bandung,”kata Moebanoe Moera.

Deaklarasi Sirnagalih 7 Agustus 1994 adalah pendirian Aliansi Jurnalis Independen (AJI), tandingan organisasi wartawan buatan pemerintah Persatuan wartawan Indonesia (PWI), sedangkan Peristiwa Bandung yang disebut Kang Banoe itu terjadi selepas Tempo dibredel. Pasukan Kantor Biro Tempo di Bandung, mengibarkan bendera hitam setengah tiang, tanda berkabung. Kebetulan Soeharto berkunjung ke kota kembang, meresmikan proyek pesawat Tetuko di IPTN. Mobil rombongan pemimpin rezim orde baru itu melewati kantor biro Tempo di Jalan Pasteur, waktu itu Kepala bironya Happy Sulistyadi. “Ributlah intel-intel dan pihak berwajib di Bandung, Happy pun sempat diperiksa Bakorstanasda Jawa Barat,” ujar Banoe.

Dua direksi yang disebut dukuan sekarang sudah almarhum, menjadi pemimpin tertinggi di perahu baru buatam rezim Suharto itu. Tapi tak semua orang bisa dibeli. “Buat apa bergabung dengan Gatra, banyak yang bisa kita lakukan di luar ; bikin buku atau apa saja,”kata Liston P. Siregar, seperti ditirukan Tri Watno Widodo, bagian pra cetak Tempo.

Tri dan teman-teman lain yang menolak bergabung dengan raja perambah hutan lebih baik hidup berserakan. “Kami tak mau hidup di atas penderitaan orang lain, dan tunduk pada penindasan,”ujar lelaki yang bergabung di Tempo sejak 1983. Bagai air mengalir, semua orang bergerak mencari penghidupan, sesuai pergaulan masing-masing. “Di masa pembredelan itu, kita bergerak sendiri-sendiri,”ujar Yusril Djalinus. Menurut Andi Reza Rohadian yang kini bekerja di Majalah Trust, pasca dibredel, Goenawan Mohamad (GM) menyediakan sekoci-sekoci. “Ada yang ke Swa, Forum, bahkan ke majalah Medika,” katanya.

Dua kelompok besar membagi bekas Tempo. Pertama, gerombolan X-T (eks Tempo) dipimpin R Ahmed Kurnia Soeriawidjaja alias Utun bersama Rudi P. Singgih, menggarap Koran milik TNI AD, Jayakarta, lalu Sinar Pagi Minggu, lembaran kriminal di Media Indonesia yang terbit tiap Rabu, Delik sampai Majalah Pilar yang bermarkas di sebuah bedeng di kawasan Sudirman Central Bisnis Distrik, Jakarta Selatan, milik Artha Graha.

Gerombolan kedua berkumpul di Tebet Timur Dalam, bergabung dalam PT. Reksa Mitra Berjaya (RMB). Disanalah bercokol Sri Malela Mahargasarie, Ivan Haris Prikurnia dan kawan-kawan. “Tebet itu awalnya tempat pengungsian, lebih dari 100 orang Tempo, yang nggak mau ke Gatra atau nggak punya pilihan lain karena masalah umur dan skill. Tebet menjadi rumah idealisme kami. Dalam perjalanannya, ternyata menjadi rumah bisnis yang menjanjikan,”ujar Banoe. Bagi bekas disainer grafis Tempo Mulyawan, Tebet seperti Tempo adalah sebuah padepokan dunia persilatan, “ada pendidikan, pelatihan, dan juga penghianatan.”

Dari Tebet menggarap sejumlah proyek antara lain Media Indonesia edisi Minggu, konsultan in house magazine, percetakan buku dan rencana menerbitkan majalah, sebagai core bisnis. Menurut Bambang Aji, dalam setahun, omset yang diraup Tebet sekitar Rp 1 miliar. Antara lain dari kontrak mengelola Media Indonesia Minggu sekitar Rp 65-70 juta sebulan. “Saya appreciate sekali sama Surya Paloh saat itu berani melawan Departemen Penerangan dengan mempekerjakan para eks Tempo,” kata Malela. Bahkan Media Indonesia sempat mendapat teguran dari orde baru, karena menulis dengan keras menjelang ulang tahun Soeharto.

Proyek-proyek lain seperti media internal perusahaan, Majalah Arwana, laporan keuangan perusahaan, promo kit, sablon kaus, sampai membuatkan makalah jenderal-jenderal di Lemhanas. “Gaji kami dikumpulin, termasuk sumbangan dari teman-teman yang bekerja di Neraca dan Forum, lalu dibagi rata,”ujar Banoe.

Remahan lain, selain dua besar itu memang Harian Neraca dan Majalah Forum. Toriq bersama Isma Sawitri, Liston, Dwi Setyo Irawanto alias Siba dan Muhammad Cholid. Harian milik Sekretaris Jenderal PWI, almarhum Zulharmans. Nyonya Zulharman yang memimpin koran ekonomi itu, menerima para eks Tempo dengan sistem kontrak per enam bulan. “Kami mengisi halaman satu, penilaiannya bagus. Memang, disitulah kembali menjadi reporter dan menulis sendiri. Tulisan diedit oleh Mbak Isma,”ujar Toriq.

Namun, belakangan setelah 13 orang eks Tempo keanggotaannya di PWI dicabut, Ibu Zulharmans juga ditekan PWI dan Departemen Penerangan untuk memecat dan tidak memperkerjakan orang-orang eks Tempo. Setiap rapat Ny. Zulharman disinggung, dan sehingga pada kontrak enam kedua tak diperpanjang. “Saya termasuk yang dipanggil langsung oleh ibu Zulharmans menceritakan mengenai tekanan itu. Tapi dari Neraca, hingga kini kami mendapat hubungan baik dengan pemrednya Masmiar Mangiang,”katanya.

Kekejaman PWI dan Deppen mengusik hak hidup orang memang keterlaluan. Seorang kawan eks Tempo yang tak lagi bergelut di dunia jurnalistik, tapi di bursa saham, juga diusulkan dipecat dari tempat kerjanya. “Rezim orde baru memang sejak awal nggak suka dengan semua yang tidak tunduk,”ujar disainer grafis Susthanto, yang masuk Tempo sejak 1985. Banyak perusahaan menolak berkonsultasi dengan PT.RMB ketika mengetahui karyawannya adalah para eks tempo. “Bukopin, pernah hampir kontrak, tapi batal ketika tahu kami bekas Tempo,” kata Malela. Tapi seperti, kata GM, “gak ikut tunduk, ga patheken!”

Sikap tak mengenal menyerah membuat orang Tempo bisa hidup menyebar kemana-mana. Selain Majalah Forum, Matra, D&R, Tabloid Kontan, ada yang ke TV 3 Malaysia, BBC London, SCTV, koresponden Jawa Pos di Los Angeles, Filipina dan Australia. “Yang penting pergaulan,”ujar Bandowo, 63 tahun, bagian “super” umum di Tempo yang bisa mengerjakan apa saja serta ikut menolak tunduk dalam tekanan.

Agar Tempo tetap dikenang saat tiada, Yusril Djalinus, Toriq Hadad, Saiful Ridwan, GM dan rekan-rekan dari Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bermarkas di Utan Kayu 68 H, merintis situs berita berbahasa Indonesia pertama, Tempo Interaktif. Di gedung tempat kursus bahasa Inggris di Jalan Proklamasi 72, Jakarta Pusat, Toriq membuat pasukan terdiri dari lima mahasiswa dan seorang wartawati Bernas Yogyakarta, Purwani Diyah Prabandari, kini Kepala Biro Tempo di Yogyakarta. Belakangan Bambang Budjono alias Bambu, Wahyu Muryadi yang ada di Forum, dan disainer grafis Gilang Rahadian alias Ugi datang bergabung. Selain terbit di dunia maya, Tempo Interaktif diterbitkan cetak, berbentuk jurnal. Untuk praktisnya, satu cerita utama lainnya wawancara. “Maklum kami memperkerjakan mahasiswa,”ujar Toriq.

Kamis, 21 Mei 1998, Suharto menyatakan mengundurkan diri, setelah huru hara politik dan ekonomi melanda negeri. Peringatan empat tahun pembredelan Tempo 21 Juni 1998, tak lagi cerita tentang kisah duka, tapi sebuncah harapan untuk bisa terbit kembali. “Saya percaya setelah Tempo dibredel itulah beginning of the end dari Suharto,” ujar Yuli Ismartono.

Zulkifli Lubis dan Sekretaris Direksi Nike Rorimpandey mengundang rekan-rekan eks Tempo yang tak bergabung ke Majalah Gatra di Teater Utan Kayu. Dari sanalah dicari kesepakatan untuk menerbitkan kembali Tempo. Sebelumnya Menteri Penerangan Kabinet Presiden B.J.Habibie, Yunus Yosfiah, bertemu dengan eks petinggi Tempo untuk mengembalikan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) Tempo yang pernah “dirampas” Menteri Penerangan Harmoko.

Pendapat karyawan bekas Tempo terbelah. Yang sudah mapan di tempatnya saat itu, tak menginginkan Tempo terbit lagi. “Sudah-lah biarkan Tempo jadi legenda,”ujar pihak yang tak setuju Tempo terbit kembali dengan berbagai alasan. Ada yang sudah terikat janji di tempat, seperti Kontan. “Secara moral nggak enak juga untuk meninggalkan Kontan. Kalau semua orang Kontan pergi, bagaimana? Kami merasa hutang budi juga sama Jakob Oetama,”kata Susthanto. Ivan Haris yang sudah asyik di Majalah Forum juga tak setuju. “ Lebih baik Tempo menjadi monumen perjuangan melawan orde baru. Kalau mau, bikin nama baru, jangan Tempo,” katanya.

Begitu juga teman-teman yang merasa sudah firm dengan majalah yang tengah meroket saat itu D&R, pimpinan Bambu. Walaupun Bambu sendiri setuju Tempo terbit kembali. “Tempo harus terbit kembali untuk memberikan berita yang bisa dipercaya masyarakat d itengah banyaknya media-media berita dengan berjuta kepentingan,”katanya. Bambu sendiri tak bergabung ke Tempo, karena bertanggung jawab memimpin Majalah D&R sampai tutup setahun kemudian.

GM, sebenarnya juga termasuk orang yang ragu Tempo terbit kembali, apalagi pake SIUPP segala. “Sebetulnya, ada dilema ketika mau terbit kembali. Kami sudah sepakat dengan AJI, bahwa Tempo kalau terbit lagi tidak usah pakai SIUPP. Tapi, waktu itu kondisi belum memungkinkan. Teman-teman AJI sempat protes, mereka bahkan sempat berniat menggugat Tempo. Tapi, kami putuskan terus terbit,”ujarnya.

GM mendengar suara arus bawah, yang ingin Tempo kembali hadir di tengah-tengah bangsa Indonesia yang sedang mengalami perubahan. Soleh, staf pelayanan perpustakaan misalnya, berjanji akan menyembelih kambing kalau sampai Tempo terbit lagi. “Masak orang kecil saja berani. Kami malah takut,”ujar pemimpin redaksi Tempo.

Pegawai lainnya, Tri Watno bahkan siap menerbitkan Tempo dalam bentuk foto copy, Jika tak ada yang berani menerbitkan Majalah Tempo kembali. “Dari pada diterbitkan orang lain yang tak punya tanggung jawab moral, mending kami bekas Tempo yang nerbitin lagi,”ujarnya kepada penulis waktu itu.

Mulyawan, termasuk orang bekas Tempo yang tak punya sikap. “Terbit lagi syukur, tidak juga tidak apa-apa. Saya memutuskan untuk tetap di Forum saja ketika Tempo menawarkan bergabung lagi,”ujarnya. Mulyawan yang kini bekerja sebagai disainer grafis Majalah Trust berharap bekas Menteri Penerangan Harmoko besok masih bisa membaca kecap dapur Tempo ini. “ Jadi dia bisa tahu. Orang-orang eks Tempo yang menjadi orang hebat di dunia media Indonesia. Kita sebagai orang eks Tempo masih memiliki kebanggaan,”katanya. Bravo.

--original version--edisi edit dimuat Majalah Tempo 20-27 Oktober

Rabu, September 24, 2008

Waspadai Sakit Usai Lebaran dan Tips Sehat Berlebaran

Seusai Lebaran, berbagai penyakit meningkat, termasuk stroke. Makanan dan kegiatan tak terkontrol menjadi penyebab utamanya.
**-
LEBARAN baru sepekan lewat. Tapi Tri Widodo, 45 tahun, harus masuk rumah sakit karena tifus. Dua bulan dia tak bisa bekerja, 21 hari terbaring di rumah sakit, selebihnya dirawat di rumah. “Kayaknya saya kelelahan. Selepas puasa, aktivitas saya langsung digenjot sepuas-puasnya, terutama olahraga kesukaan saya, bulu tangkis,” katanya. Sedangkan makanan yang masuk tak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan.

Itu cerita setahun lalu. Menjelang hari raya Idul Fitri ini, ada baiknya mengingat kisah itu. Sebab, menurut para dokter, banyak orang jatuh sakit setelah berlebaran--terutama seminggu sesudahnya. “Meningkat. Umumnya berhubungan dengan penyakit akibat tidak terkontrolnya makan,” kata dokter spesialis gastroenterohepatologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Ari Fahrial Syam.

Sudah tradisi, saat Lebaran segala macam makanan lezat, gurih, dan manis tersedia, baik di rumah maupun tempat yang dikunjungi untuk silaturahmi. Misalnya opor ayam, aneka kue kering dan basah, sirup, sampai minuman bersoda. Nah, jika tergoda mengkonsumsi secara berlebihan, dipastikan penyakit segera menghampiri.

Menurut Ari Fahrial yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), ada tiga kelompok penyakit yang umumnya terjadi pasca-Ramadan dan Idul Fitri. Pertama, penyakit yang timbul pada saat mudik Lebaran, karena berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Dalam hal ini, penyakit yang banyak ditemukan adalah diare. “Karena pada saat mudik orang mengkonsumsi makanan mungkin tanpa memperhatikan kualitas dan kebersihannya,” kata Ari.

Lalu yang berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan atas. Setelah puasa, orang masih lelah, kemudian datang Idul Fitri. “Nah, pada saat berlebaran, mereka kurang istirahat. Dalam keadaan tubuh tidak fit, orang mudah tertular penyakit dari orang lain,” tutur ahli biologi molekuler ini. Penyakit yang gampang menular antara lain flu, batuk, pilek, dan infeksi saluran pernapasan.

Kelompok kedua, penyakit yang muncul karena kambuh. Orang yang sudah memiliki penyakit biasanya bisa mengontrol makanan selama berpuasa. Namun, ketika Lebaran tiba, makanan kurang terkontrol dengan dalih “mumpung Lebaran”, misalnya. Penyakit yang biasanya kambuh antara lain kencing manis (diabetes), hipertensi, kolesterol tinggi, kegemukan (obesitas), dan asam urat. “Seminggu pertama setelah Lebaran, banyak pasien yang datang ke rumah sakit karena stroke,” kata lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1990 ini. Menurut Ari, sudah seperti kebiasaan, jumlah orang terkena stroke pasca-Lebaran meningkat.

Kolesterol tinggi memang ditengarai sebagai pemicu berbagai gangguan kesehatan seperti hipertensi, gangguan jantung, hingga stroke. Walau sebenarnya kolesterol merupakan unsur yang dibutuhkan tubuh, kadar yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai penyakit. Kadar kolesterol orang sehat berada di bawah 200 mg/dL, dengan kadar kolesterol jahat (LDL) di bawah 130, dan kolesterol baik (HDL) di atas 40. “Penyebab hipertensi antara lain, makanan asin yang dikonsumsi berlebihan,” kata dokter Ari.

Sedangkan pada penderita kencing manis, ketika berpuasa, gula darahnya terkontrol. Namun, tatkala Lebaran tiba, begitu banyak variasi makanan manis. Jika kita tak dapat menahan diri, gula darah pun meningkat. Diabet kambuh. “Asam urat juga kambuh, akibat makan makanan berpurin tinggi seperti usus, ati, ampela, paru, dan otak,” ujar Ari.

Terakhir, kelompok penyakit yang terjadi akibat kurangnya memperhatikan kebersihan lingkungan. Karena tidak ada pembantu, rumah ditinggal mudik dalam keadaan kotor. Ada genangan air, makanan yang tercecer dimakan tikus, dan sampah yang banyak mengundang lalat. Padahal lalat membawa berbagai penyakit infeksi usus, dari diare sampai yang berat seperti demam tifoid. Tikus dapat menyebabkan demam kuning atau leptospirosis. Nyamuk Aedes aegypti bisa membawa virus DHF, penyebab demam berdarah.

Bagaimana cara mengatasinya? Ari menyarankan agar memperhatikan makanan dan minuman pada saat mudik. Dalam perjalanan, jangan mengkonsumsi makanan jika tak yakin atas kualitas dan kebersihannya. Kalaupun ingin membawa dari rumah, harus diperhatikan paling tidak makanan itu bisa tahan 6 hingga 8 jam setelah dibuat. Jangan sampai masakan yang sudah rusak atau basi dimakan.

Bagi orang yang berpenyakit kronis, Lebaran bukanlah kesempatan melepaskan kendali selepas-lepasnya. Justru kesehatan yang sudah diraih selama sebulan berpuasa wajib dipertahankan. “Jangan karena merasa sehat, lepas, selepas-lepasnya. Bahayanya di situ,” tutur Ari.

Selain itu, banyak juga orang yang berupaya melawan rasa lelah dengan minum vitamin C dosis tinggi. Menurut Ari, penggunaan suplemen juga harus diperhatikan efek sampingnya. Suplemen yang cocok untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lain. “Kalau memang merasa asupan makanan tak mencukupi, silakan saja minum suplemen, tetapi harus hati-hati,” ujarnya.

Sebenarnya, penyakit yang timbul akibat merayakan hari raya atau hari libur besar merupakan gejala umum di dunia. Misalnya, ketika Natal, thanksgiving, atau tahun baru, biasanya orang lebih membuka keran kontrol diri. Lebih berbahaya bila orang tidak hanya makan makanan berlemak, terlalu asin dan manis, serta dalam jumlah berlebihan, tapi juga menenggak minuman beralkohol. Ditambah lagi, tingkat depresi biasanya juga meningkat bila musim hari raya atau liburan tiba.

Penyakit yang timbul akibat itu semua antara lain dehidrasi--karena terlalu banyak mengkonsumsi zat amfetamin (ekstasi)--sakit kepala, mulut kering, sensitif cahaya lampu, mudah terangsang, dan ketagihan tidur (mengantuk). “Di mana pun berada, semuanya kembali berpulang pada apa yang dikonsumsi saat liburan atau hari raya,” kata Ari. Salah satu penghulu umat Islam, Imam Ali bin Abi Thalib, pun sudah memberikan nasihat, tak ada kesehatan bagi orang yang banyak makan.

Ahmad Taufik

Tips Sehat Berlebaran

- Tetap mempertahankan cara mengontrol makan seperti saat berpuasa Ramadan. Jangan lepas kendali.
- Istirahat cukup, karena perjalanan mudik atau berkeliling silaturahmi yang melelahkan, tubuh rawan tertular penyakit.
- Minum air putih cukup, 8-10 gelas sehari.
- Banyak mengkonsumsi buah dan sayur.
- Bagi yang punya penyakit kronis, perhatikan stok obat, berjaga-jaga bila di tempat mudik obat yang rutin dikonsumsi tak tersedia.
- Olahraga 30 menit setiap hari, lima hari dalam seminggu.

(dimuat Majalah Tempo yang terbit 25 September)-edisi dipercepat

Senin, September 22, 2008

Operasi Gratis buat Si Miskin

Warga tak mampu bisa mendapat pelayanan kesehatan gratis, bahkan sampai operasi jantung. Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, melakukan hal itu. ------

Dedi Subandi merasa bersyukur. “Sudah tenang, masalah yang selama ini membebani saya sudah terangkat,” katanya. Dia mengaku tak lagi stres karena sudah terbebas dari sakit dada yang terus menderanya selama dua tahun belakangan.

Untuk pergi atau pulang, warga Jalan Jurang, Bandung, itu harus istirahat 10 menit setelah melalui jalan tanjakan, untuk mengurangi rasa sakitnya. Padahal, untuk melewati gang rumahnya, ada beberapa tanjakan. Maklum saja, karena Dedi tinggal di daerah padat, yang hanya bisa dilalui sepeda motor dan pejalan kaki.

Karena tak tahan, Dedi, yang bekerja sebagai tenaga keamanan parkir sepeda motor di kampus Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat. Tiap periksa, Dedi harus merogoh koceknya Rp 40 ribu buat dokter dan Rp 300 ribu untuk menebus obat. Padahal upah yang diterima Dedi sebagai pegawai lepas hanya Rp 300 ribu sebulan. Biayanya memang besar, karena penyakitnya juga tak main-main. Dokter menvonisnya sakit jantung.

Melihat penderitaan Dedi yang tak kunjung berujung, keluarga mendorongnya agar melakukan pemeriksaan tuntas ke Rumah Sakit Hasan Sadikin menggunakan fasilitas untuk orang miskin. Istrinya bergerak cepat mengurus segala surat yang diperlukan, mulai rukun tetangga, rukun warga, kelurahan, kecamatan, sampai pemerintah daerah.

Akhir Juli lalu tim dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin memeriksa Dedi menyeluruh selama sepekan. Setelah dimasukkan kateter untuk meneropong jantungnya, ternyata kondisinya sudah payah. “Ketiga pembuluh koronernya menyempit dan tersumbat, jalan satu-satunya operasi bypass,” ujar dokter ahli jantung Achmad Fauzi Yahya.

Dua pekan setelah pemeriksaan komplet, Dedi mulai masuk rumah sakit. Setelah tiga hari menunggu, Dedi masuk ruang operasi. “Saya lihat ada 15 dokter yang menangani,” katanya kagum. Mulai yang periksa gigi, mata, sampai bagian dalam lainnya. Alhamdulillah, operasi lancar.

Akhir Agustus lalu, dia sudah kembali ke rumahnya yang hanya seukuran 3 x 4 meter. “Inilah hasilnya,” ujarnya sambil memperlihatkan bekas pembedahan di bagian kaki dan dada yang masih belum mengering kepada Tempo pekan lalu.

Dedi termasuk beruntung, karena bisa melakukan operasi bypass gratis lantaran biayanya ditanggung Jaminan Kesehatan Masyarakat. Padahal uang yang dibutuhkan untuk membayar operasi mencapai Rp 70 juta. “Untuk obat-obatan lanjutan, seperti obat pengencer darah, diambil dari zakat para dokter di sini,” ujar Fauzi.

Keberuntungan juga datang pada Erna Mulyani, 21 tahun. Berkat penanganan tim poli jantung Rumah Sakit Hasan Sadikin, kini penjaga toko di Ciparay, Kabupaten Bandung, itu sudah bisa tersenyum. Dua juga sudah bisa lari pagi. Dia tak lagi merasakan nyeri di dada kirinya. Jauh berbeda dengan beberapa bulan lalu. Saat itu ia hanya bisa terkapar jika dada kirinya ngilu tak keruan hingga sulit bernapas.

Riwayat kesehatan Erna ternyata sudah buruk sejak kecil. Itu terlihat dari bentuk dadanya yang menggembung seperti dada burung. Namun, karena hanya anak seorang buruh tani, ia tak bisa berbuat banyak. Selepas sekolah menengah kejuruan di Baleendah, Erna melamar kerja sebagai buruh ke beberapa pabrik yang tak jauh dari rumahnya. Tapi dia tak diterima dengan alasan kesehatan.

Akhirnya ada sebuah toko yang menerimanya bekerja tanpa tes kesehatan. Nah, dengan uang yang tak seberapa, Erna baru berani memeriksakan diri ke dokter umum. Dokter mendiagnosisnya sakit paru. Namun, setelah minum obat, kesehatan Erna tak juga ada perkembangan. Ini yang mendorongnya memeriksakan diri lebih komprehensif. Akhirnya, setelah dilakukan foto rontgen, ternyata bukan parunya, tapi jantungnyalah yang bermasalah.

Dokter menyuruh Erna melakukan operasi. Namun, bukan perkara mudah, selain takut pada pisau bedah, operasi jantung butuh duit yang tak sedikit, sekitar Rp 58 juta.

Lalu Erna dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin. Di sana dokter mendeteksinya terkena atrial septal defect, suatu penyakit jantung bawaan yang terjadi karena adanya lubang pada sekat serambi kiri dan kanan jantungnya sehingga membuat jantung jadi membesar.

Sebulan setelah mendaftar, Erna dijadwalkan dioperasi pada 21 Agustus. Tim poli jantung Rumah Sakit Hasan Sadikin memutuskan mengambil tindakan operasi penutupan sekat jantung. “Kalau terlambat, sudah, tidak dapat dioperasi,” kata dokter Rama Nursjiwan. Ongkos operasi senilai Rp 54 juta menjadi nol rupiah berkat Jaminan Kesehatan Masyarakat. “Sekarang sudah lumayan. Lebih fit. Saya bisa segera bekerja lagi,” ujarnya.

Seorang pasien lagi adalah tukang batu--sebut saja bernama Asep--yang terkena serangan jantung. Ketika dokter meminta persetujuannya melakukan intervensi jantung--pemasangan balon dan cincin (stent)--dia hanya diam, tegang. “Terserah dokter,” katanya singkat. Dokter pun meyakinkan semua tindakan medis benar-benar gratis. Stent dan balon sudah disuplai dari Departemen Kesehatan. Kuli bangunan itu akhirnya setuju.

Asep tak menduga sebelumnya, dapat memperoleh perawatan “mewah” cuma-cuma. Bila tak menggunakan Jaminan Kesehatan Masyarakat, biaya pemasangan stent butuh Rp 30 juta.

Dedi, Erna, dan Asep adalah tiga dari lima penderita jantung yang dioperasi gratis bulan lalu. Menurut Direktur Rumah Sakit Hasan Sadikin Profesor Cissy Kartasasmita, operasi jantung gratis bagi warga miskin memang mulai dilakukan lagi tahun ini. Beberapa tahun lalu sempat ada, tapi terhenti karena keterbatasan tenaga, dana, serta banyaknya peralatan yang rusak. Tahun ini ada beberapa tenaga baru di bagian jantung. Selain itu, rumah sakit mendapat tambahan dana subsidi.

Menurut Cissy, di masa mendatang, rumah sakit yang dipimpinnya akan menjadi beking Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta, untuk menangani pasien miskin melakukan operasi jantung. Maklum, Rumah Sakit Harapan Kita mulai kewalahan. “Apalagi penderita jantung di Jawa Barat termasuk tinggi. Setidaknya sekitar 7.000 orang per tahun,” katanya. Dari angka tersebut, sebagian besar merupakan penderita jantung koroner--penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia. Dengan bantuan intervensi kardiologi, angka kematian penderita mulai dapat ditekan.

Menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, setiap warga miskin yang memiliki kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat sebenarnya bisa dilayani. “Semua rumah sakit pemerintah harus melayani, untuk semua penyakit,” katanya kepada Rini Kustiani dari Tempo pekan lalu.

Anggaran yang disediakan pemerintah untuk program ini pada 2008, Rp 4,6 triliun, yang dialokasikan untuk 76,4 juta jiwa. Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Departemen Kesehatan Chalik Masulili menambahkan, 888 rumah sakit umum dan swasta bisa menerima peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat. Besaran dana yang disalurkan untuk peserta program Jaminan Kesehatan ini, 20 persen dari total anggaran Departemen Kesehatan. Dari jumlah itu, hanya dua persen digunakan untuk menangani penyakit yang membutuhkan penanganan serius atau operasi besar.

Ahmad Taufik, Widiarsi Agustina (Bandung)

Tumbuh dengan Kekuatan Lokal

Industri kreatif di beberapa daerah berkembang dengan jalannya masing-masing. Mengutamakan ciri khas setempat.


Lupakan Bandung. Industri kreatif di sana sudah karatan. Banyak kota lain di Indonesia punya kisah tak kalah menarik dibanding ibu kota Priangan itu. Ada fashion jalanan nun di Jember, juga industri kreatif yang tumbuh berdampingan dengan warisan kultural di Yogyakarta, atau Bali yang tak pernah berhenti berkreasi. Mereka berusaha tumbuh dan membesar dengan caranya masing-masing.


Jember
Fashion Jalanan

Jalan protokol di Kota Jember sepanjang 3,6 kilometer disulap menjadi catwalk. Peragawati dan peragawan memamerkan beragam busana yang terbuat dari bermacam bahan, termasuk dedaunan dan bulu-bulu. Mereka tampil berani dan atraktif. Para peraga itu tidak harus cantik dan tampan atau bertubuh langsing dan tegap. Mereka boleh pendek, gendut, dan memiliki ukuran tubuh apa adanya. Sekitar 200 ribu penonton tumplek blek memadati arena pertunjukan.

Itulah keramaian Jember Fashion Carnaval (JFC), yang digagas Dynand Fariz. Kemeriahan yang berlangsung pada awal Agustus lalu itu merupakan yang ketujuh kalinya. Meski Dynand mengaku tak menghitung pendapatan dari acara yang makin ramai tersebut, berkat karnaval busana itu, dia jadi pesohor. Dynand beberapa kali diundang ke Jakarta, sebagai salah satu wakil penggerak industri kreatif di daerah. Pria 45 tahun itu bahkan diberi kesempatan mempromosikan Jember Fashion Carnaval ke India dan Inggris.

Awalnya, ide Dynand tak lebih sebagai bahan tertawaan. Bagaimana mungkin memperkenalkan kota berpenduduk dua juta jiwa lebih di Jawa Timur yang dikenal sebagai “kota santri” itu dengan karnaval ala Rio de Janeiro, Brasil. "JFC ditanggapi negatif. Dianggap mimpi di siang bolong. Bertolak belakang dengan tradisi, budaya, religi masyarakat," kata Dynand.

Dasar Dynand ndableg, dia dan kawan-kawannya sesama alumnus Jurusan Seni Rupa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surabaya jalan terus. Dynand mencoba meyakinkan banyak pihak bahwa dunia mode dan fashion bukan monopoli kelas atas yang diperagakan di mal atau hotel berbintang. “Bisa dilakukan masyarakat bawah, di catwalk terbuka, seperti jalan raya,” kata Dynand. Bahan-bahannya pun bisa dibikin dari kain bekas, botol plastik, atau kulit, daun, dan akar tanaman. Semuanya dibikin secara kreatif-eksperimental.

Motivasinya satu: prihatin atas perkembangan daerahnya; banyak anak muda yang tak mampu melanjutkan sekolah dan tak memiliki masa depan jelas. "Saya bertekad membuat sesuatu yang melibatkan mereka dan menjadi kebanggaan diri dan masyarakat Jember."

Awalnya, Dynand memulai karnaval fashion dengan 45 orang berkeliling kampung dan alun-alun Jember pada 2002. Makin tahun pesertanya makin ramai dan meriah. Hingga pada 2007, ketika ada “Bulan Berkunjung ke Jember”, karnaval fashion menjadi salah satu acaranya. Dynand bercita-cita Jember menjadi kota wisata mode pertama di Indonesia.


Yogyakarta
Desain Lokal Kaya Sindiran

Kota gudeg ini sudah lama dikenal sebagai salah satu pusat industri kreatif, terutama kerajinan. Tapi budaya urban pun tak kalah punya pengaruh di kota yang masih punya “raja” ini. Dagadu, misalnya, sebuah bisnis kaus berbasis kata-kata lucu. Karena laku, bisnis ini kemudian diproduksi besar-besaran dan banyak ditiru. Bukan hanya batik dan kerajinan tradisional, Dagadu pun sudah menjadi salah satu identitas Yogyakarta.

Selain Dagadu, masih banyak industri kreatif yang menyerap budaya urban. Misalnya di ujung gang di Jalan Kaliurang Kilometer 7,8, Kabupaten Sleman. Di sana ada sebuah rumah mungil yang memproduksi beraneka desain grafis. Produknya dijual sampai ke Singapura. Indieguerillas, begitulah si pendiri--pasangan suami-istri Miko Bawono dan Santi Ariestyowanti--menamakan bisnisnya.

Mereka terilhami oleh cara gerilya tokoh revolusioner dari Amerika Latin, Che Guevara. “Model kerja kami pada awalnya kan bergerilya juga, dengan membaca buku, bahkan bolak-balik ke Jakarta, untuk melihat-lihat model desain. Sebab, waktu itu Internet belum masuk. Di Yogyakarta pun, buku soal desain grafis terbatas,” kata Santi.

Desain cover album milik grup musik Sheila on 7, Kisah Klasik, pada 1999, adalah bisnis pertama yang mampir. Karena grup band-nya terkenal, tawaran pun berdatangan. Tapi mereka menolak ketika diajak boyong ke Jakarta. Kenapa? Ya, karena mereka sudah punya komunitas di Yogyakarta--mereka punya bahasa dan guyonan yang sama serta tempat nongkrong seselera pula.

Tidak hanya menolak pindah ke Ibu Kota, gaya desain pun tak mau meniru tren yang ada di Jakarta. Desain Indieguerillas mencampurkan budaya lokal dan selera muda. Misalnya menggunakan tokoh Bagong yang mengenakan pakaian penyanyi rap. “Ada kesan lucu, ada sindiran,” kata Santi.

Modal? Jelas masih jadi masalah. Pada 2002, misalnya, dari hasil kumpul-kumpul dengan teman-teman, mereka menerbitkan majalah dua bulanan, Outmages, tapi macet karena kurang modal.

Toh, dengan semangat “kekeluargaan”, Indieguerillas tetap hidup, bahkan berkembang. Tak jarang, sekali pesanan bernilai puluhan juta rupiah. “Jika ada order, kami juga membaginya ke teman-teman. Kami yang menangani desain, teman percetakannya, fotografernya, dan sebagainya. Kolektiflah,” kata Santi. “Jadi, prinsipnya, kerja sambil menghidupi teman,” ujarnya.


Denpasar
Desa Masuk Kota

Desa Kertalangu terletak di Kota Denpasar, tepatnya di tepi Jalan Bypass Ngurah Rai. Lanskap seluas 80 hektare itu bukan desa “kesasar” masuk kota, tapi sengaja dibuat agar ciri pedesaan Bali--lengkap dengan sawah hijaunya--bisa hadir di kota itu.

Dan seperti layaknya Bali yang sudah banyak dikenal orang sebagai daerah wisata eksotis dan natural, Desa Kertalangu “didesain” sesuai dengan kriteria itu. Menurut penggagasnya, Dewa Gede Ngurah Rai, 43 tahun, kawasan yang mulai dibuka pada Juni 2007 itu berusaha mengawinkan upaya pelestarian pertanian, seni budaya, dan usaha kerajinan.

Di sana tersedia berbagai fasilitas, dari jogging track, pemancingan, pijat dan spa, restoran, panggung kesenian, sampai pasar seni. Masih ada kursus kilat membatik, membuat keramik, lilin, atau kerajinan gelas, dan aktivitas lain. Untuk sekadar menyusuri jogging track, pengunjung tidak dikenai bayaran. Tapi, jika mau ikut berbagai kursus, turis lokal harus membayar Rp 20 ribu, sedangkan turis asing US$ 7 atau hampir Rp 70 ribu.

Lahan yang digunakan merupakan milik para petani Desa Kesiman Kertalangu. Mereka sepakat tak menjual tanahnya dan bertahan sebagai petani. Mereka pun tetap mengerjakan sawah dan mengambil hasilnya. Tentu saja dengan tambahan kreativitas, yaitu menguji coba bibit unggul dan menerapkan pertanian organik.

Dewa Rai juga membangun fasilitas di atas lahan seluas tiga hektare agar lahan pertanian layak menjadi obyek wisata. “Kalau pertanian hilang, budaya Bali juga akan hilang. Kami tidak mau mengalami nasib seperti warga Betawi di Jakarta,” ujarnya.

Desa Kertalangu juga menjadi sebuah komunitas. Tenaga yang bekerja di berbagai fasilitas berasal dari desa itu, termasuk penari dan penabuh gamelan yang menghibur tetamu. Turis dapat mempelajari aneka kerajinan, menikmati suasana persawahan, dan menonton pertunjukan seni tradisional Bali. Pokoknya, Bali banget….

Ahmad Taufik, Mahbub Djunaidy (Jember), Rofiqi Hasan (Denpasar), Pito Agustin Rudiana (Yogyakarta)

(dimuat di Majalah Tempo 22-28 Sept 2008)

Melebur Bersama Scat dan Lagu Cinta

Vokalis jazz Al Jarreau berkolaborasi dengan gitaris jazz yang lebih dikenal sebagai pelantun lagu romantis, George Benson. Penonton serasa ikut tampil bersama mereka.

***
“Jakartaa…, Indoooooonesiaaaa.” Dua kata ini menyelip dalam scat singing--improvisasi vokal menirukan suara instrumen musik--khas Al Jarreau, yang meluncur dalam jeda dan diikuti penonton. Terdengar gemuruh tawa. Penyanyi kelahiran Wisconsin, Amerika Serikat, 68 tahun lalu itu juga ikut terbahak.

Bunyi-bunyian dan kata-kata di mulut Jarreau memang menjadi ornamen yang memikat. Di telinga terdengar ritmis dan harmonis. Dari olah vokal Jarreau, jazz seolah kembali ke sejarah awal kemunculannya, dari kaum budak asal Afrika yang bekerja di Amerika pada abad ke-19. Waktu itu musik masih merupakan sarana untuk mengadu, mengeluh, dan membicarakan nasib, sekaligus menghibur diri dalam impitan kehidupan. Berbeda dengan masa kini--ketika jazz sering diposisikan sebagai musik kaum kelas atas.

Bukan hanya ceracau dan tiruan bunyi alat musik, jari-jari Jarreau begitu dinamis, tak bisa diam. Kadang dia seperti memegang grip di gagang gitar--jemarinya seolah “mengeritingkan” dawai. Panggung yang minim dekorasi menjadi hidup. Tapi tentu saja panggung bisa menjadi apa pun, sebab dia adalah legenda. Dia telah menyabet tujuh penghargaan Grammy dalam periode empat dasawarsa, di kategori jazz, R&B, dan pop (dia satu-satunya penyanyi pria yang berhasil merajai tiga kategori yang berbeda ini).

Pertunjukan seusai salat tarawih di Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu dua pekan silam itu dibuka dengan Breezin’. Nomor legendaris George Benson, remake dari karya Bobby Womack, ini merupakan lagu pertama dalam album kolaborasi Jarreau dan Benson, Givin’ It Up. Jarreau dengan piawai “memverbalkan” Breezin’, sedangkan Benson merenyahkannya dengan petikan dawai Ibanez hollow body-nya yang memang terdengar empuk, dan sesekali menambahi dengan vokalnya.

Usai satu lagu, Benson mundur ke belakang panggung, scat singing Jarreau makin hidup dengan Your Song, We’re in This Love Together, Cold Luck, Mornin’, Take Five, Midnight Sun, dan medley cantik “campursari” Agua de Beber serta Mas Que Nada.
Benson muncul lagi, bersanding dengan Jarreau, melantunkan Long Come Tutu. Lagu ini dipersembahkan untuk uskup penggerak perdamaian asal Afrika Selatan, Desmon Tutu.

Lalu panggung berganti pemilik. Kali ini Benson melantunkan lagu-lagu cinta yang akrab di telinga penonton, seperti Nothing’s Gonna Change My Love for You, In Your Eyes, dan The Greatest Love of All. Tampak semua penonton berdiri mengikuti musisi kelahiran Pittsburgh, Amerika Serikat, 65 tahun silam itu. Mereka seperti melebur bersama musik yang dimainkan. Mungkin mereka punya perasaan serupa: kenangan dimabuk cinta pada 1980-an. Ya, siapa yang tidak kenal--meski boleh juga tak suka--dengan lagu-lagu cinta abadi itu.

Tak sekadar menyanyi, setelah membawakan In Your Eyes, Benson bercerita. Dia bertemu seorang perempuan di bar hotel tempatnya menginap. Dia masuk ke bar, namun tak ada yang mengenalnya. “Lalu saya menyanyikan sepotong bait In Your Eyes. Perempuan itu langsung menyahut, ‘O, ya, malam ini George Benson tampil.’ Ternyata orang lebih kenal lalu-lagu saya daripada orangnya, ha-ha-ha...,” katanya.

Kolaborasi Jarreau dan Benson makin seru di tiga lagu terakhir. Seolah ada interaksi tiga pihak: musisi, musik, dan penonton. Masing-masing punya improvisasi sendiri, namun terasa padu.

Penampilan mereka berdua di Jakarta--yang diselenggarakan oleh promotor Buena Production--merupakan persinggahan terakhir di Asia untuk mempromosikan album Givin’ It Up, yang dirilis pada 2006. Sebelumnya mereka tampil di Seoul, Manila, Beijing, Shanghai, Hong Kong, dan Bangkok. Secara terpisah, baik Jarreau maupun Benson sudah pernah menggelar pertunjukan di Jakarta.

Pertunjukan kolaborasi mereka memang menghibur, meski ada yang menganggap kurang maksimal, atau ada yang menilai duet yang sedikit dipaksakan. Bagaimanapun, Jarreau dan Benson adalah kolaborasi manis sekaligus bernilai komersial, setelah karier mereka melampaui puncak. Musik pop dengan sentuhan jazz yang mereka sajikan cocok untuk pasar “dewasa kontemporer”.

Dan penonton pun tak beranjak sampai pertunjukan benar-benar usai, saat Every Time You Go Away, karya Daryl Hall yang sempat dipopulerkan oleh Paul Young, berkumandang: Every time you go away/You take a piece of me with you....

Ahmad Taufik
(dimuat di MBM Tempo 22-28 September 2008)

Kamis, September 11, 2008

Ramadan Terakhir “Para Mujahid”

Kejaksaan menangguhkan eksekusi tiga terpidana mati kasus Bom Bali I, yakni Amrozi, Imam Samudra dan Ali Ghufron alias Mukhlas hingga setelah lebaran. Berarti “kontrak hidup” ketiga pelaku bom bali 12 Oktober 2002, yang menewaskan 202 orang dan ratusan luka-luka itu, sudah bisa ditentukan. Kendati para pengacaranya meminta eksekutor menunggu keputusan uji materi Mahkamah Konstitusi mengenai cara pelaksanaan hukuman mati. Artinya, Ramadan ini adalah bulan puasa terakhir untuk mereka.

Ketiga “mujahid” itu, melalui kuasa hukumnya, resmi mengajukan uji materi dan formal atas Undang-Undang tentang Tata Cara Pelaksanaan Hukuman Mati. Dalam permohonan uji formal, mereka menilai pembentukan undang-undang tersebut tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945. Pembentukan undang-undang itu dilakukan dengan cara penetapan presiden yang disetujui Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong. Anggota DPR Gotong Royong juga ditetapkan dan diangkat presiden tanpa pemilihan umum sebagai mana ketentuan konstitusi. Mereka menilai materi Undang-Undang Hukuman Mati bertentangan dengan Pasal 28 (i) UUD 1945 karena menyiksa terhukum mati. Dalam ketentuannya disebutkan, hukuman mati dengan ditembak dilakukan dengan cara ditembak hingga mati. Cara ini dianggap akan menimbulkan penderitaan sebelum mati.

Sebenarnya penolakan hukuman mati dengan cara ditembak sudah sejak lama ditolak ketiga terpidana mati itu. Dalam tayangan eksklusif televisi swasta, ketiganya meminta hukuman mati dengan cara di pancung. Menurut mereka merasa hukuman pancung "lebih Islami". Walaupun apa yang mereka bilang sesuai ajaran Islam cara hukuman itu belum tentu benar. Tentu ada cara-cara hukuman yang berbeda di berbagai negara kini. Terlepas dari manusiawi atau tidak, jenis hukuman mati antara lain ; di depan regu tembak, kursi listrik, suntik mati dan lain sebagainya.

Memang lucu permintaan hukuman mati dengan cara dipancung. Jika mau dihukum pancung, seharusnya mereka melakukan perbuatan itu di Arab Saudi, atau di tempat tempat yang memberlakukan hukum pancung atas kejahatan seperti itu. Toh, di Arab Saudi misalnya, ada tempat-tempat yang mereka golongkan musuh, seperti Amerika Serikat, Australia dan Inggris. Misalnya (bukan menyarankan) perusahaan minyak negara-negara tersebut, kedutaan besar atau kantor-kantor perwakilan resmi pemerintah atau perusahaan milik negara tersebut.

Mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, juga merupakan kelucuan lain. Karena sebelumnya mereka menganggap pemerintahan Negara Republik Indonesia yang ada sekarang ini sebagai pemerintahan yang menjalankan hukum-hukum kafir otomatis dianggap pemerintah yang tak harus ditaati, sebagaimana ayat yang sering disitir kaum Assyariyah "taatilah Allah, Rasul dan ulil Amri diantara kamu."

Sebenarnya mempercepat hukuman mati ketiganya, menolong mereka ke puncak “kesyahidan”. Bidadari “impian” segera menjemputnya sesaat ajal lepas dari badan itulah yang mereka yakini. Jika mereka jadi dihukum mati, seperti permintaan mereka dalam sebuah tayangan khusus sebuah tevisi swasta, "tidak perlu kita tangisi." Karena, mereka merasa sebagai pejuang Islam.

Seharusnya, “kita” muslim kebanyakan yang tak sepakat dengan aksi segelintir orang itu pun tidak menjadikan mereka "pahlawan’ atau syahid, karena perbuatan mereka bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam yang luhur dan penuh ketauladanan, seperti yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat-sahabat setelahnya. Karena mereka bukanlah representasi pejuang Islam, walaupun dibela oleh sekelompok pengacara yang menamakan diri Tim Pembela Muslim.

Dalam ajaran Islam perbuatan mereka itu disebut al-harabah atau kejahatan terhadap ciptaan Allah . Dalam Quran Surat Al-Maidah ; ayat 33, disebutkan jenis hukuman terhadap pelaku terorisme. Terjemahannya ; "sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasulnya dan membuat kerusakan di bumi adalah, dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar."

Tafsir turunnya surat ini, menurut Buku Tafsir Nurul Quran, berkaitan dengan sekelompok orang kafir yang datang ke Madinah dan menjadi muslim. Mereka lelah dan sakit. Karena itu Nabi SAW memerintahkan agar mereka ditempatkan di daerah yang beriklim baik di luar kota Madinah. Mereka juga diizinkan memanfaatkan susu dari unta-unta zakat disana. Setelah mereka sehat kembali mereka menawan gembala-gembala muslim yang menggembalakan unta-unta tersebut yang tinggal disekitar tempat itu dan memotong tangan dan kaki mereka, membutakan mata serta merampok unta-unta mereka. Rasul memerintahkan menangkap mereka dan memperlakukan sama seperti yang mereka lakukan terhadap penggembala tersebut.

Pembalasan ini yang disebutkan dalam ayat di atas dihitung sebagai hak-hak Allah, dan mereka tidak diampuni, hukumannyapun tidak diubah (Athyabul Bayan). Dalam Tafir Al-Mizan, disebutkan bahwa pilihan salah satu hukuman dari keempat hukuman tersebut terserah kepada pemimpin kaum muslim. Jadi, meskipun para pemilik darah orang yang terbunuh memberikan maaf, namun salah satu dari hukuman tersebut harus dilaksanakan. Karena agar memberikan pelajaran pada masyarakat atau orang-orang yang jahat untuk melakkan kejahatan serupa.

Kejahatan seperti yang terjadi zaman Nabi itu, dalam masa yang lebih modern sekarang bisa digolongkan sama bila menggunakan bom, granat atau senjata api, seperti yang dilakukan ketiga terpidana mati terebut. Ayat tersebut menyebutkan subyek dan tujuan yaitu perang melawan masyarakat dan menyebarkan kerusakan di atas bumi. Hukuman berat di atas menunjukkan perhatian Islam pada permasalahan ini. Islam menegakkan prinsip tanggung jawab personal dan memandang serangan berupa apapun terhadap orang tak berdosa sebagai kejahatan besar.

Islam berorientasi pada perlindungan pada si lemah, tertindas. Umat Islam diharuskan senantiasa membela orang-orang tertindas. Namun tak boleh salah jalan (sesat) seperti yang dilakukan ketiga terpidana matinitu dan kelompok serupa dimanapun berada.

Syaik Muhammad Ali Tashkiri cendikiawan muslim yang baru-baru ini datang ke Indonesia dalam pertemuan cendikiawan Islam se-dunia, berpendapat bahkan perbuatan seperti itu tergolong terorisme. Menurut Tashkiri, salah satu golongan kejahatan dari enam golongan, yang termasuk dalam terorisme, antara lain ; pemboman atas area yang bependuduk menggunakan senjata kimia, menyerang kapal terbang sipil, bandara nasional kendaraan komersial dan turis dan metode-metode sejenisnya yang secara universal dikutuk dalam peperangan.

Sepantasnya Ramadan terakhir ini saatnya untuk bertobat, benar-benaqr bertobat (taubatan nasuha), meminta maaf kepada para keluarga korban yang dibomnya. Jika hukuman mati itu jadi dilaksanakan, mungkin menjadi “pelajaran” (ibrah) bagi kita semua dan orang-orang yang ingin coba-coba melakukan perbuatan seperti itu. Sebagai sesama muslim, walau tak sepakat dengan perbuatan itu, saya hanya bisa mengucapkan selamat jalan “para mujahid”, salam kepada 202 orang tak bersalah yang anda bunuh.

Ahmad Taufik,
Ketua Umum Garda Kemerdekaan

Rabu, September 10, 2008

Siaran Pers : Jangan Kebiri Suara dan Hak Rakyat

Syarat pengajuan calon presiden/wakil presiden (capres/cawapres) pada Pemilihan umum 2009 semakin berat. Jika pada Pemilu 2004, capres bisa diajukan oleh partai politik (parpol) atau gabungan parpol yang memiliki 15 persen kursi di DPR, untuk Pemilu 2009 cenderung ditingkatkan hingga 30 persen. Hal itu tercermin dari sikap fraksi-fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) saat membahas Rancangan Undang-Undang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (RUU Pilpres)-- (SP, 08/09/08).

Pembahasan pembatasan calon presiden di DPR tersebut, menurut kami adalah usaha-usaha mengebiri suara dan hak-hak politik rakyat. Seperti kita ketahui, mulai Pemilu 2004, rakyat bisa langsung memilih presiden dan wakilnya. Terbukti, bahwa Presiden dan wakil Presiden yang terpilih bukan berasal dari partai politik yang memperoleh suara kursi terbanyak. Artinya, rakyat memahami untuk memilih calon yang pantas untuk memimpin negeri ini. Terlepas dari salah atau benarnya person yang menjadi pilihannya tersebut, hak-hak politik dan suara rakyat ditampung dalam sistem politik yang demokratis.

Nah, dalam konstitusi kita saat ini disebutkan calon presiden dan wakil presiden berasal dari partai politik yang ada. Sampai saat ini ada 39 partai politik nasional peserta Pemilu yang boleh ikut serta dalam pemilihan calon legislatif 2009, nanti. Berapapun hasil peroleh kursi mereka di DPR nanti harus diapresiasi, karena itu berasal dari suara rakyat. Artinya, setiap partai politik jika mau mengajukan calon presiden dan wakilnya harus diterima.

Bisa saja calon presiden dan wakil dari partai politik adalah seorang yang yang dianggap mampu bisa memimpin negeri ini. Dibandingkan partai politik yang memperoleh kursi banyak di DPR, namun karena seleksi internal yang lemah dan banyak kepentingan, memiliki calon presiden dan wakil yang tak pantas untuk memimpin Indonesia. Nah, pembatasan calon presiden dan wakil yang kini tengah digodok oleh DPR saat ini, menurut calon presiden Ratna Sarumpaet, mengebiri hak politik dan suara rakyat.

DPR tak pantas mempersempit peluang rakyat memperoleh pemimpin yang baik yang pantas memimpin negeri ini, keluar dari krisis yang terjadi saat ini. Seharusnya DPR sebagai wakil rakyat memberi kesempatan pada rakyat untuk mendapatkankan banyak pilihan pemimpin yang pantas memimpin negeri ini. Jika DPR, yang saat ini membahas RUU Pilpres, karena kepentingan partai politiknya atau sekelompok kecil orang, masih berusaha mengebiri hak-hak politik dan suara rakyat. Maka, saya, Ratna Sarumpaet, menyerukan agar diadakannya Referendum. Biarkan rakyat yang memilih sendiri, toh pilihan ada di tangan rakyat nanti. Vox Populi, Vox Dei –suara rakyat, suara Tuhan.

Jakarta, 10 September 2004
Salam Demokrasi,

Ratna Sarumpaet