Selasa, Desember 30, 2008

Kota Yang Menghidupkan Air


Banjarmasin, Balikpapan dan Palembang menghidupkan kembali air sebagai bagian dari kehidupan kota. Majalah TEMPO memilih tiga kota itu sebagai tokoh arsitektur 2008.

Indonesia negara kepulauan, tidak bisa dipisahkan dengan air. Tujuh belas ribu lebih pulau dipersatukan oleh 3,1 juta kilometer kubik perairan teritorial. Sumber air datang dari gunung, sungai, danau dan laut. Banyak kota yang dibikin di dekat sumber-sumber air tersebut, hampir 300 kabupaten dan kotamadya dari 472 tersebar di pesisir, sisanya berada di daerah aliran sungai dan pegunungan.

Pada masa lalu dan masih terasa hingga kini sumber-sumber air itu menjadi berkah bagi masyarakat dan segala makhluk hidup yang berada di dekatnya. Namun, karena air seringkali difitnah dan disia-siakan, yang pada awalnya merupakan berkah menjadi sumber petaka. Kota-kota dan pemukiman penduduk hancur tergerus saat air melimpah ruah, dan krisis air bersih baik saat hujan apalagi musim kemarau. Rob di bagian utara Jakarta atau banjir di Kota Malang, Jawa Timur beberapa pekan lalu cukup mempritahinkan. Karena letak kota dingin di Jawa Timur itu di ketinggian 667 di atas permukaan laut.

Di Indonesia, sungai lebih banyak menjadi bagian belakang rumah tangga dan pabrik. Sehingga menjadi tempat pembuangan limbah, baik sampah industri rumah tangga, maupun logam beracun sisa pabrik. Tak heran jika seringkali terdengar penduduk yang terdampak limbah terserang berbagai macam penyakit, atau matinya makhluk hidup lainnya, seperti ikan dan biota yang ada.

Saat ini, seiring menguatnya otonomi daerah mulai timbul kesadaran pentingnya, menghidupkan air. Kota-kota yang berada di sekitar sumber air tersebut berbenah menjadikan daerahnya layak untuk kehidupan, sekaligus mencegah bencana yang bisa datang tiba-tiba.

Berbekal kesadaran dari daerah-daerah yang menghidupkan air itulah Majalah Tempo memilih tokoh-tokoh di balik perubahan tersebut. Bersama tim juri pemilihan tokoh arsitektur versi Tempo 2008, Nirwono Yoga, Yori Antar, dan Bambang Eryudhawan, majalah ini mencari model pembangunan kawasan pemukiman kota dengan basis air.

Arsitektur dalam pemilihan ini bukan dalam arti sempit, sebuah model bangunan, tetapi dalam arti luas yaitu lanskap sebuah kawasan pemukiman di kota yang mengalami perubahan karena ada unsur air yang kuat disana. Begitu juga dengan tokoh, bukan sekadar arsitek dalam arti lulusan jurusan arsitektur perguruan tinggi, tetapi orang yang menggerakkan dan memberi inspirasi bagi perubahan sebuah kawasan pemukiman tersebut.

Ada lima kreteria suatu tata ruang kota dengan konsep kota air, bisa berupa di daerah pinggiran sungai atau pantai (laut). Transformasi perubahan pemukiman itu terjadi karena partisipasi publik, ruang atau kawasan itu bisa diakses langsung oleh masyarakat, hijau, memiliki pengelolaan air dan pembuangan limbah yang baik serta terpadu. Kreteria tersebut bukan asal comot, namun juga berkaitan dengan ditetapkannya 2008 sebagai tahun sanitasi internasional. Serta penghargaan yang diberikan Departemen Pekerjaan Umum terhadap penilaian kinerja pemerintah daerah akhir November lalu.

Nah, lima kreteria itu diharapkan bisa memenuhi standar kualitas hidup daerah yang berubah tersebut menjadi kawasan yang bersih, sehat, hijau dan menghargai kearifan lokal. Adanya partisipasi publik menempati urutan tertinggi dalam penilaian itu diikuti public realm (akses publik), go green (hijau), pengelolaan air dan limbah.

Tarakan, Balikpapan dan Banjarmasin mewakili Kalimantan berdasarkan unsur air sangat kuat di tiga kota itu. Surabaya dipandang kota yang paling tepat mewakili Pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia, Jawa dengan alasan ada usaha birokrasi setempat mengajak masyarakat ikut bersama menjaga sungai, istilahnya jogo kali Palembang mewakili Pulau Andalas alias Sumatera, karena kota itu punya ciri khas yang berhubungan dengan air.

Juri menganggap ada kota yang hidup dari air. Artinya, kalau tidak ada air kota itu mati. Jadi hidup matinya kota tersebut tergantung air, seperti Banjarmasin, Palembang, dan Surabaya. Sisi lain kota-kota pantai, Balikpapan, dan Surabaya. Kecuali Surabaya, di kota yang lainnya sungai tidak berperan penting.

Soal peran pemerintah dan masyarakat. Pada Kota Palembang, Surabaya, Banjarmasin, dan Balikpapan peran pemerintahnya kuat. Palembang, Surabaya dan Tarakan ada unsur target untuk meraih penghargaan Adipura. Pada Balikpapan dan Banjarmasin pada awalnya peran pemerintah kuat, kemudian masyarakat ikut berperan serta. Bahkan disitu muncul tokoh-tokoh yang menggerakkan masyarakat.

Setelah melakukan reportase dan sejumlah wawancara dengan sumber-sumber di daerah tersebut pilihan mengerucut menjadi lima kota : Balikpapan, Banjarmasin, Palembang, Tarakan dan Surabaya. Lalu dua kota terakhir tersingkir dengan alasan yang berbeda. Tarakan dianggap terlalu luas cakupannya, karena sebuah pulau yang baru dibangun kembali oleh walikotanya, Jusuf Serang Kasim. Sedangkan Surabaya, baru merupakan proses belum ada hasilnya, itupun karena peran birokrasi pemerintahan kota setempat.

Kampung Atas Air Margasari di Balikpapan, dulunya, kawasan seluas 10 hektar dengan 140 rumah merupakan daerah kumuh dengan pengaturan tata ruang yang amburadul. Saat air surut, sampah rumah tangga menumpuk, karena laut menjadi satu-satunya tumpuan tempat pembuangan. Namun, kebakaran pada 1992 mengubahnya. Arbain Side, 46 tahun, seorang bekas lurah Margasari merelokasi 200 keluarga keturunan Bugis, yang tinggal di situ.

Arbain tak membuang suku yang biasa hidup di laut, tetapi mengenalkan hidup dengan lingkungan tertata baik. Gagasan itu ternyata didukung pemerintah pusat dan daerah. Hasilnya tak mengecewakan, kini kawasan itu tertata rapi dan bersih dengan suasana laut yang indah. Tiap rumah ada fasilitas mandi cuci kakus dengan memperhatikan estetika lingkungan, terdapat pula saluran khusus pembuangan limbah yang tersalurkan ke tempat penampungan sementara, lalu masuk mesin pengurai menjadi cairan ramah lingkungan.

Ada yang dibuang ke laut dalam keadaan sudah bersih terkadang dipergunakan petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api. Kini Arbain dipercaya pemerintah kota untuk mengubah 20 kawasan kumuh. Balikpapan kini tengah menuju waterfront city, kawasan air menjadi muka kota itu.

Masih di Kalimantan, Kampung Mahligai, di Kelurahan Sei Jinggah Kota Banjarmasin pada 1987 terbilang pemukiman tidak sehat, tidak bersih, akses jalan tak karuan dan rawan kejahatan. Namun berubah sejak Fatturahman, tokoh masyarakat setempat turun tangan menata menjadi kawasan yang bersih dan sehat. Hasilnya Kampung Mahligai dinyatakan sebagai pemukiman terbersih dan hijau pada tahun 2005 di Kota Banjarmasin. Bahkan Rumah Toga Kampung Mahligail mewakili model perumahan lestari Kalimantan Selatan, ke tingkat nasional. Memang saat Tempo meninjau pekan lalu beberapa bagian kota terendam banjir, tapi Kampung Mahligai, selamat.

Benteng Kuto Besak dan Pasar 16 Ilir Palembang, Sumatra Selatan juga termasuk kawasan yang berubah drastis. Kawasan ini sebelumnya merupakan pusat buah di kota Palembang dan tempat pemukiman padat dengan gubuk yang kumuh. Hanya tukang buah dan orang yang terpaksa karena ingin menyeberang ke Ulu. Karena disini sangat becek, bau dan penuh pelaku tindak kriminal yang tak segan-segan menunjam orang dengan senjata tajam.

Namun, sejak setelah Eddy Santana Putra memimpin Kota Palembang pada 2003, gubuk-gubuk kumuh dibongkar, Benteng Kuto Besak yang dibangun pada 1780 dipugar, Pasar baru 16 Ilir dibangun, taman di pinggir sungai selebar 500 meter dibuat bersih dan nyaman. Kawasan itu kini menjadi kebanggaan wong Plembang. Warga bisa berkumpul menikmati Sungai Musi mengalir dengan jembatan Ampera yang sebagai ciri khas kotanya. Tak heran jika pemerintahnya berani menjadikan sebuah undangan wisata, Visit Musi 2008. Berbagai event internasional digelar yang terakhir Festival perahu naga akhir November 2008 lalu. Palembang kembali ke jati diri sebagai disebut Venice from the east. Kisah kota sungai, atau kota de stad der twintig eilanden (kota 20 pulau) masih bisa dijual sebagai cerita wisata.

Jika menengok kisah sukses kota-kota di pinggir sungai dan tepi pantai di dunia, seperti Bangkok, Thailand, Istanbul Turki dengan Sungai Bosfurus, Shanghai Cina yang dalam dua tahun mengubah sungainya atau Venesia di Italia yang terkenal dengan wisata kanal membelah kota. Negeri jiran Singapura pun dalam waktu yang singkat berhasil mengubah pinggiran sungai menjadi tempat piknik yang enak, ikan di dalamnya tampak hidup berseliweran.

Memang, jika melihat tiga kota yang menjadi pilihan Tempo masih jauh dari seperti contoh kota di manca negara itu. Tetapi melihat perkembangannya sudah pada posisi yang benar. Nah, diharapkan contoh sebuah kawasan pemukiman di tiga kota pilihan Tempo di atas, dapat menginspirasi kota-kota lain yang memiliki sungai atau pantai mulai mengingat kembali air yang ada di sekitarnya bisa menjadi amat berguna, menjadi berkah bagi kehidupan warganya bukan malah menjadi musibah. (***)

Rabu, Desember 03, 2008

Alternatifnya Megawati-Sultan Hamengkubuwono X

Jika menilik hasil polling selama sebulan, 50 persen lebih pengunduh blog ini, tak menemukan pasangan yang cocok yang kami tawarkan dalam jajak pendapat selama sebulan. Mengapa? Mungkin profil Megawati Sukarnoputri yang One Woman Show, saat dulu sempat dua tahun memimpin negeri ini, atau namanya yang terlalu besar untuk pendampingnya.

Alternatif calon pilihan pengakses, untuk Megawati Sukarnoputri melanggeng kembali ke RI 1 adalah Sultan Hamengkubuwono X. Hampir 30 persen memilih Sultan Yogyakarta ini. Memang popularitas Sultan saat ini tengah menanjak untuk melawan presiden incumbent Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), serta calon dari militer lainnya.

Jika Megawati berpasangan dengan Sultan, suara memang diperkirakan akan kuat melawan SBY siapapun pasangannya. Namun, apakah Sultan mau jadi nomor dua? Ini belum dikonfirmasikan. Pasangan Mega-Sultan, adalah alternatif melawan calon-calon asal militer yang terbukti membawa negeri ini terus diasmbang kehancuran. Namun, Mega sendiri, juga tak membawa bekal apa-apa, karena saat memimpin negeri ini, hanya menjual aset-aset negara.

AT, 4 Desember 2008

Selasa, Desember 02, 2008

Lurah Hamili Perawan

Sebuah media ibukota memasang headline dalam surat kabar yang terbit pagi ini "Lurah Jakarta Hamili ABG". Di depanku duduk dua perempuan berjilbab berseragam pemerintah daerah DKI Jakarta, tampak dari emblem di pundak kirinya, memegang selembar koran tersebut. Mereka berdua membicarakan lurah yang menghamili anak "perawan" itu.
"Ah, memang anaknya aja yang mau,"seorang yang memakai rok panjang berkomentar, sambil membali-baikkan koran ke halaman sambungannya.
"Iya, apa lagi kan sudah dibayar Rp 5 juta, cuma dikasih ke mucikarinya,"sambung seorang yang memakai celana panjang.
"Wah, lulusan IPDN lagi,"kata sambung menyambung.
"Ah, lelaki mah, biasa melakukan itu,"ujarnya.

Pembicaraan soal lurah terhenti, mereka bicara masalah lain. Seorang diantaranya menelepon lewat telepon genggamannya. "O, itu yang diceritakan semalam,"ujarnya.

Ceritanya, menurut koran yang saya baca, setelah turun dari kereta api, seorang siswi SMA di Cengkareng Jakarta Barat berusia 16 tahun itu ditiduri Sang Lurah Tambora. Jakarta Barat, enam bulan silam. Lurah itu mengaku membayar Rp 5 juta pada kawan sang korban. Dalam sebuah hotel di bilangan Grogol, sang korban diserahkan dan "digagahi" Lurah itu lalu memberin ongkos pada korban Rp 200 ribu.
Terbongkarnya perbuatan sang lurah, karena ibunya curiga pada perut anaknya semakin hari semakin membuncit, belum lagi permintaan pembelian pembalut tiap bulan tak ada lagi. Di minta tanggung jawab, sang lurah hanya "hooh". Namun, janji hanya sebatas mulut. Informasi lewat radio dengkul pun terdengar luas, akibatnya Selasa kemarin (2/12/08) masyarakat bergerak, unjuk rasa ke kantor lurah dan camat setempat, minta lurah tersebut dipecat. (diringkas dari Warta Kota, 3/12/08 hal-1-19).

Pembicaraan soal lurah berlanjut, saat kereta AC dari Depok Lama menuju Jakarta Kota memasuki stasiun Pasar Minggu. " Kasihan ya, cuma soal begituan karirnya rusak, padahal masih bisa jadi camat,"kata ibu berok panjang.

"Ia, dia itu gak mikirin anak isterinya, orang tuanya udah sekolain tinggi-tinggi ke IPDN, malah begitu,"seorang menyaut.

Institut Pendidikan Dalam Negeri yang kini berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri--yang memproduksi calon birokrat, memang hanya sering mendapat predikat memalukan. Mulai dari kekerasan senior terhadap yunior yang menyebabkan kematian, sampai bikin ribut di sekitar kampus terpadunya di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.

Tentu tak semua lulusan IPDN/STPDN seperti Lurah Tambora itu atau para pelaku tindak kekerasn. Masih banyak birokrat yang mau menjaga "harga diri"nya dari perbuatan tercela, korupsi atau tindak kekerasan. Sayangnya disiplin "ala militer" yang diterapkan di sekolah tersebut terbukti tidak mampu, membuat birokrat sipil menjadi lebih baik, terhormat dan mau menjaga martabatnya.

Aku turun di Stasiun Gondangdia, pehawai negeri berseragam itu entah kemana? Padahal itu waktu kerja, sekitar pukul 09.00 pagi. Mudah-mudahan tak meneruskan gosip-gosip lurah yang suka "makan" anak orang.

Jakarta, 03/1/08
A.T

Sabtu, November 29, 2008

Belum Bisa Kawin

Setelah melepas lelah, karena menikmati kehidupan malam di Legian, Bali, tidur terasa nikmat. Memang kenikmatan baru terasa setelah merasakan kelelahan. Lelah karena kerja atau keriaan.

Menikmati Sanur Beach Hotel, berenang, mengobrol, main di laut dan sauna, pantas kita nikmati sesekali. Temen-temen harus cek-out, dan terbang ke ibukota, Jakarta. Dengan mobil sewaan, mereka mampir di Titiles, sebuah toko penganan yang menjual bahan-bahan daging dalam kemasan, seperti abon, dendeng dan sosis. Jenisnya pun bermacam-macam, mulai dari ikan, sapi, ayam sampai babi. Aku hanya ikut, ke Denpasar, mau menjenguk sepupu yang tinggal di ibukota Pula Bali.

Selesai belanja di toko yang memelihara lima singa dan seekor harimau Jawa, aku masih ikut mobil sewaan itu. Sambil mengingat-ingat jalan-jalan di Denpasar, akhirnya ku putuskan berhenti di perlimaan (klo di Bandung disebut prapatan lima, lucu ya). Tepatnya, di ujung Jalan Teuku Umar dan Jln. Imam Bonjol, aku berjalan sedikit. Bali sulit sekali mencari angkutan umum (angkot),

Ku temui tiga mobil angkutan umum suzuki 1000, warna krem muda. Kosong, tak ada penumpang. Mereka menawariku untuk naik. "Ubung,"katanya. Aku menggeleng, "gak, mau ke Gajah Mada." Kataku menyebut nama jalan.
"O, langsung aja pak!"
"Saya mau ke jalan Arjuna,"kataku.
"Boleh."
"Berapa?"
"Lima belas ribu."
"Sepuluh aja."
"Hooh!"katanya.

Aku naik sendiri di kursi depan dekat sopir. Sang sopir masih muda, tanganya penuh tatoo, juga di dahi yang dututpi topi. Seperti biasa, di depan sopir ada bunga, sembahan, tanda syukur pada sang hyang.

"Kok, sepi?"
"Ya, beginilah, sekarang sepi orang lebih banyak orang naik motor, jarang yang naik angkot,"katanya. Dulu memang kendaraan umum antara Kereneng (tengah kota dekat jalan Diponegoro) dan Ubung (terminal bis), masih bemo. Dulu aku sering naik kendaraan itu saat di Denpasar.

Pas di depan pom bensin, sopir itu berbelok. "Isi dulu ya pak?" Dia mengambil dua lembar uang sepuluh ribuan lecek yang ada di atas dashbor. "Ya, dapet segini cuma bisa beli bensin."katanya. Ada lagi uang seribu rupia lecek juga tergolek tak jauh dari daun sesembahan.

"Penumpang sepi, bensin naik, berat,"ujarnya.
"sehari bawa pulang berapa?"
"Paling cuma enam ribu rupiah."
"Belum kawin ya?"
"Wah, boro-boro untuk kawin atau untuk keluarga, hidup sendiri saja susah,"katanya.

Denpasar, 30 November 2008
Ahmad Taufik

Bus Indonesia

Dua hari tak mengisi dialog angkot bukan karena tak pergi dengan angkot, namun karena deadline (wah, alasan!) serta lagi pusing nyiapin ujian advokat. Satu lagi alasan, lagi kerajingan facebook.He...he.

Pagi ini (Sabtu, 29 November 2008) aku sudah siap-siap ujian advokat. Pilihannya, naik bemo, kendaraan Jepang zaman baheula, yang selama hidup aku naiki belum pernah tabrakan atau kecelakaan. Pikiran lagi dipenuhi untuk ujian advokat, kembali ke rimba yang tak jelas, hukum.

Selepas ujian, yang bikin puyeng, waktu hampir pukul 14.30, ssaran kendaraan umum kali ini Metromini. Namun, kendaraan warna oranye jurusan Manggarai- Pulogadung tak penuh saat aku naiki di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Metromini, si raja jalanan, begitu pernah disebut, teringat Ramses, seorang supir metro mini yang "berhasil" membawa 33 orang menuju ke surga seketika, saat kendaraan seperempat bis itu nyemplung ke Kali Semper, Jakarta Utara.

Kenapa ke surga? Karena ada joke saat pastor atau khatib ceramah di gereja atau di masjid, orang-oang justru tertidur. Tapi saa, naik metro mini, mereka justru berdoa untuk keselamatan, bukankah jka orang mati dalam doa, apapun agama dan kepercayaannya akan masuk surga?

Lucunya, aku sempet ketemu saat singgah di Rumah Tahanan Salemba, Jakarta Pusat. Ramses mendekam di ruang sel khusus yang dikunci dua kali (double dir, istilahnya, kaena ada dua pintu besi yang dikunci dalam selnya). Ramses, di blok N, sel isolasi itu, menjadi kepala blok, voorman.

Setelah rapi-rapi mengambil akaan dan notebook, aku langsung cabut. Tujuannya Denpasar, da Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Sanur. Memang ini hari terakhir, mungkin aku juga tak dapat banyak prosesnya. Tapi tak apalah, organisasi yang berdiri 7 Agustus 1994 lalu, ada hubungan sejarah antara aku, dan pers Indonesia.

Naik, Kopaja 502 ke Gambir, tujuanya, bis Damri, arah Bandar Udara Sukarno Hatta (BUSH). Nah, dalam kendaraan nyaman denan tiket senilai Rp 20,000, inilah yang aku mau ceritakan. Bis tak terlalu penuh, ada sekitar enam bangku kosong. Sebelah kanan bangku seorang perempuan berkulit putih, mengenakan pakaian warna merah jambu muda. Di belakang terdengar suara perempuan bercakap minang, di depannya menelepon dengan aksen Sulawesi. Di sebelahnya, lelaki menggunakan handphone berbicara Bahasa Mandarin kepada lawan diseberang telepon genggamnya.

Seorang kenek, kondektur, berwajah brewok menagih uang ongkos dan membagikan karcis. Di dada ada emblem nama, Ujang Winata. Aku tersenyum, lalu terpikir pikiran iseng. Saat ia menagihku, aku tanya, "pak akpa hubunngannya dengan Tomi Winata?" Sang kenek hanya tersenyum, perempuan berbaju pink, tertawa. Tak ada masalah senyum sudah mengembang bukankah itu bagian dari sedekah? Ikut membahagiakan orang dan juga diri sendiri.

Dari bus Damri, tercermin Indonesia, segala suku, dan bangsa ada di situ, terbukti dari bahasa yang mereka gunakan dan wajah yang tampak. Semua diperlakukan sama, bayar Rp 20.000. Akankah nikmat jika, semua suku, agama, ras, dan status sosial diperlakukan sama di depan hukum dan kehidupan sosialnya. Untung, saja aku naik bis itu, bukan bis dengan label agama tertentu, karena saat masuk ke wilayah Tangerang, berlaku hukum syariat, yang bisa saja terjadi entah kapan, jika kita tak bisa menjaga harmoni di negeri ini.

Bis Indonesia itulah harapan kita semua, bukan bis yang melarang ahmadiyah, kafir (lain agama), orang beryoga, kepercayaan, beda mazhab tak boleh masuk ke sana.

BUSH, 29 November 2008
Ahmad Taufik

Rabu, November 26, 2008

Jalan Rusak di Depok

Hampir tiap hari jalurku adalah jalan kaki menuju angkutan kota (angkot) nomor 102 menuju Parung Bingung, setelah itu nyambung 03 menuju Depok.

Nah, pembicaraan di angkot aku mulai dari Selasa (25 November 2008).

Dari Parung Bingung, aku dapat tempat di belakang sopir. Di depan komplek perumahan Maharaja, dua orang ibu naik, seorang di belakang memojok, seorang lagi memakai jilbab warna putih duduk di depan, jok samping sopir.

Pembicaraan di mulai saat sopir mengomentari jalan yang sedang di beton di ujung Jalan Dewi Sartika. "Kayaknya beberapa bulan lalu jalan itu baru dibetulin deh,"katanya.
"Ya, gimana, abis, duit proyek dimakan orang pemkot,"ibu yang di sebelah sopir langsung nyamber pembicaraan itu.
"Saya kasih contoh misalnya, dapet proyek Rp 2 milyar, paling yang kami bawa Rp 1,3 milyar. Yang terjadi kontraktor ngurangi bestek, yang seharusnya 5 centimeter ketebalan beton, misalnya dibuat 3 centimener. Kami gak mau ngambil proyek yang begitu, menodai nama besar perusahaan kontraktor kami. Mending gak usah diambil,"ujarnya.
Ibu itu menyayangkan Walikota Depok, yang memaki simbol-simbol agama tapi tak bisa menertibkan bawahannya. "Malah lewat bawahannya, ikut merampok kami,"katanya lagi.
"Yach, klo gitu pemerintahan yang sekarang sama dong sama yang dulu, pada zaman korupsi merajalela,"sambung sopir angkot itu.

The angkot must go away. Akhirnya, sampai di depan ITC, ibu itu turun. Angkotpun masuk terminal, yang kumuh dan semrawut. Padahal hanya selemparan batu dengan Kantor Walikota. Istilah "bersih, peduli dan profesional," cuma sampai di mulut dan di spanduk yang berada di seantero Depok yang semakin semrawut dan kumuh. Bukankah, ada istilah, kebersihan itu sebagian dari iman? Apa yang pantas ditasbihkan pada orang yang bicara tapi tak melakukan?

26 November 2008
A.T

Dialog Angkot : Perbincangan dari Angkutan Umum

Cita-cita saya jika bekerja di media harian, adalah menyajikan apa yang terjadi di kalangan rakyat. Untuk mudahnya, menyerap suara rakyat, naiklah angkutan umum.

Rubrik ini saya namakan Dialog Angkot, sebenarnya berawal dari apa yang saya dengar, lihat dan rasakan saat naik angkutan kota (angkot). sesungguhnya rakyat kita tidak bodoh, mereka kesal akan korupsi, jalan yang rusak, pemerintahan daerah maupun pusat yang tak becus mengurus rakyat, sampai kesulitan ekonomi. Segala persoalan bisa terekam saat naik angkutan umum.

Jika kita naik angkutan umum kita bisa mendengar, melihat dan merasakan, apa yang mungkin selama ini kita remehkan. Sekaligus ngitung-ngitung mengurangi kepadatan lalulintas, pembuangan enersi karena macet atau gas buang, tak ada salahnya mari kita naik angkutan umum. DENGARKAN SUARA RAKYAT! Belum terlambat mulai hari ini.

Jakarta, 26 November 2008

Ahmad Taufik

Tak Adakah yang Cocok untuk Mega?

Selama sebulan blog ini mencari pasangan yang cocok untuk Megawati Sukarnoputri. tapi sampai sehari menjelang ditutupnya polling ini, kebanyakan memilih tidak ada yang cocok mendampingi Megawati running for President 2009-2014. Kenapa?
Lalu kenapa Sultan Hamengkubuwono X mendapat tempat kedua. Tunggu besok setelah polling ini ditutup. Terima kasih. (A.T)

Obat HIV Made In Iran

Mungkin ini berita mengejutkan dari negeri para mullah, Iran. Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan Iran tahun lalu, jumlah kasus HIV/AIDS di Iran mencapai sekitar 14 ribu orang dan 1.700 orang meninggal akibat penyakit ini. Penularannya, 63 persen melalui jarum suntik, 28 persen dengan penyebab yang tak diketahui, selebihnya karena kontak seksual.

Karena makin banyaknya jumlah orang terinfeksi virus penurunan kekebalan tubuh itulah, para ahli di sana berusaha keras membuat obat penangkalnya. Tahun lalu ilmuwan Iran menemukan obat berbahan tumbuh-tumbuhan yang mampu meningkatkan sistem imunitas tubuh manusia untuk melawan HIV/AIDS, yang diberi nama Imod. "Obat itu mampu mengontrol virus AIDS serta meningkatkan imunitas tubuh," kata Menteri Kesehatan Iran Baqeri Lankarani, seperti dikutip kantor berita resmi IRNA. Namun obat herbal ini lebih baik digunakan bersama obat antiretroviral (ARV), obat wajib penyandang HIV/AIDS.

Obat herbal tersebut diproduksi setelah dilakukan penelitian selama lima tahun dan diujicobakan pada 200 orang pasien. Sejak digunakan tahun lalu, Iran berhasil mengerem kasus pasien terinfeksi HIV/AIDS sebesar delapan persen. Penggunaan Imod juga bisa membuat pengidap HIV/AIDS di sana melepaskan diri dari ketergantungan terhadap ARV yang dipasok dari luar Iran, yang harganya tak terjangkau masyarakat kalangan bawah. Tak salah jika Indonesia, yang saat ini kekurangan pasokan ARV, bisa melirik obat dari Iran.

Dimuat Majalah TEMPO edisi 24-30 November 2008

Minggu, November 16, 2008

Obat Gagal Jantung

Gagal jantung selama ini diketahui karena adanya gangguan kontraksi jantung saat memompa. Nah, saat ini tengah diteliti gagal jantung karena relaksasi, yaitu saat jantung mengempis. Pertemuan dokter ahli jantung se-Asia-Pasifik di Cina akhir pekan lalu berusaha mencari cara terapi yang tepat.

Menurut penelitian sementara, sekitar 50 persen pasien mengalami pecah pada bilik kiri jantung, 45 persen bisa diatasi dengan pemberian irbesartan. Lebih dari 4.000 pasien gagal jantung berusia 60 tahun ke atas dari 25 negara yang dilibatkan dalam penelitian New York Heart Association, terbukti 45 persen lebih baik setelah diberi 300 miligram irbesartan per hari dibanding pasien yang diberi obat hampa (plasebo).

Irbesartan sebenarnya digunakan terutama untuk obat antidarah tinggi, tapi juga untuk menghambat perkembangan penyakit kencing manis (diabetes) dan ginjal. Obat keluaran Sanofi-Aventis ini dikenal sebagai penghambat angiotensin-receptor. Angiotensin II adalah senyawa yang sangat potensial menyebabkan otot sepanjang saluran darah berkontraksi sehingga mengakibatkan penyempitan saluran darah, lalu terjadilah tekanan darah tinggi.

Nah, pertemuan para dokter ahli jantung se-Asia-Pasifik membahas hasil penelitian Sanofi tersebut, terutama pada penderita gagal jantung karena relaksasi jantung. Pertemuan itu bertajuk Irbesartan in Heart Failure with Preserved Ejection Fraction Study (I-Preserve).


A.T- dimuat Majalah Tempo edisi 17-23 November 2008-Info Kesehatan

Pemuda Lebih Peduli Seks Sehat

Hati-hati berhubungan dengan pria berusia 40 tahunan. Berdasarkan penelitian University College London, hanya satu dari tiga pria usia 40-an yang menggunakan alat pelindung (kondom) saat berhubungan seks pertama kali dengan lawan jenis yang baru ditemuinya. Adapun remaja umur belasan akhir (19 tahun) lebih peduli. Dua dari tiga remaja ini selalu menggunakan kondom ketika berhubungan seks dengan lawan jenis saat pertama kali. Sebelas ribu lebih pria dilibatkan dalam penelitian tersebut.

Ditemukan penyakit akibat hubungan seks di kalangan pria 40-an tahun meningkat enam persen. Peneliti lain dari West Midlands menemukan peningkatan penyakit infeksi akibat hubungan seks pada pria paruh baya dua kali lipat selama lima tahun terakhir.

Meningkatnya penyakit akibat hubungan intim itu, menurut Doktor Catherine Mercer, juga akibat tingginya angka perceraian. “Ada 45 persen pada pria 40-an tahun yang bercerai turut menyumbang meningkatkan penyakit tersebut,” ujarnya seperti dilaporkan BBC Health. Karena itu, kampanye penggunaan kondom harus ditingkatkan bagi pria lebih dewasa.

Pria lebih dewasa, karena merasa lebih berpengalaman dalam berhubungan seks, lengah terhadap risiko tertular dan menulari penyakit melalui hubungan tersebut. Lisa Power, peneliti dari Terrence Higgins Trust, mengingatkan hasil penelitian tersebut menunjukkan penyakit akibat hubungan intim tak memandang usia.

A.T-dimuat di Majalah Tempo edisi 17-23 November 2008-Info Kesehatan

Minggu, November 09, 2008

Agar Sehat di Tempat Kerja


Peran dokter semakin penting dalam menjaga kesehatan para pekerja. Harus turun ke lapangan, tak bisa hanya di belakang meja.

Buruh pengeboran itu datang ke dokter dengan keluhan sesak napas dan kemampuan gerak tubuhnya melambat. Dokter Jusuf, yang memeriksa pria 29 tahun bernama Sumantri itu, merujuknya ke rumah sakit agar menjalani pemindaian. Hasilnya, paru Sumantri terlihat mulai mengeras. Dia terbukti terkena asbestosis--penyakit karena menghirup serat asbes yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut (fibrosis) di dalam paru.

Asbestosis membuat jaringan paru-paru tidak dapat mengembang dan mengempis dengan baik. “Jika tak segera ditangani, bisa mengakibatkan kematian,” kata dokter Jusuf. Beruntung Sumantri bukan perokok sehingga terhindar dari penyakit kanker paru-paru. Seandainya tak memeriksakan diri lebih awal, Sumantri juga bisa terkena mesotelioma peritoneal--penyakit ganas dan tak bisa disembuhkan lantaran menghirup asbes dalam jangka waktu lama.

Kasus yang menimpa Sumantri, menurut Suryo Wibowo, seorang dokter spesialis kesehatan kerja (occupational medicine), merupakan salah satu dari lima jenis penyakit akibat kerja. Masih ada penyebab lain: fisik, biologis, ergonomi, dan psikososial.

Bagi seorang dokter kesehatan kerja, penelusuran riwayat si pasien, baik pekerjaan maupun kehidupan sehari-harinya, merupakan langkah penting agar bisa mengambil tindakan yang tepat. Dokter kesehatan kerja bukan hanya bertugas menyembuhkan pasien. Mereka juga harus mencegah agar penyakit tidak menyebar dan menurunkan kemampuan kerja seseorang ataupun pekerja lain.

Bila suatu kantor atau perusahaan meminta pemeriksaan kesehatan tahunan, seorang dokter kesehatan kerja wajib hukumnya turun ke lapangan. “Tak bisa hanya di belakang meja menganalisis data kesehatan pekerja,” ujar dokter Suryo.

Tatkala karyawan bagian produksi mengeluh sakit pinggang, misalnya, dokter kesehatan kerja harus melakukan survei secara langsung untuk mengetahui cara mereka bekerja. “Rupanya karena mesin di bagian produksi didatangkan dari Eropa,” dokter Suryo menambahkan. “Ukuran tingginya standar orang Eropa, sehingga timbul ketidaksesuaian antara mesin dan manusia.”

Posisi bekerja yang tidak ergonomis itulah yang menyebabkan sakit pinggang. Untuk mengatasinya, tak perlu diberi obat atau tindakan medis lain. “Jalan keluarnya, misalnya, pekerjanya harus pakai dingklik,” kata kandidat doktor kesehatan kerja itu.

Dalam kasus Sumantri, asbestosis dapat dicegah dengan mengurangi kadar serat dan debu asbes di lingkungan kerja. Pekerja bisa diwajibkan memakai alat pelindung diri agar tak menghirup debu tersebut. Untuk mengurangi risiko terjadinya kanker paru-paru, para pekerja yang berhubungan dengan asbes dianjurkan berhenti merokok.

Agar sumber penyakit tak menyebar ke pihak keluarga, setiap pekerja disarankan mencuci pakaian kerjanya di pabrik dan menggantinya dengan pakaian bersih saat kembali ke rumah. Semua pakaian kerja tidak ada yang dibawa pulang dan pekerja membersihkan diri atau mandi sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Bahaya lain yang sering terjadi pada pekerja, terutama di tempat pembakaran, adalah terhirupnya gas karbon monoksida. Gas yang dihasilkan dari proses oksidasi bahan bakar yang tidak sempurna itu biasanya tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak menyebabkan iritasi. Gas beracun tersebut memasuki tubuh melalui pernapasan dan diserap ke dalam peredaran darah.

Karbon monoksida akan berikatan dengan hemoglobin (yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh) menjadi carboxyhemoglobin. Gas itu mempunyai kemampuan berikatan dengan hemoglobin 240 kali lipat kemampuannya berikatan dengan oksigen.

Persaingan berebut hemoglobin ini akan menyebabkan pasokan oksigen ke seluruh tubuh menurun tajam sehingga melemahkan kontraksi jantung dan menurunkan volume darah yang didistribusikan. Konsentrasi rendah (< 400 ppmv ambient) dapat menyebabkan pusing-pusing dan keletihan. Adapun konsentrasi tinggi (> 2.000 ppmv) dapat menyebabkan kematian. “Padamnya listrik di Carrefour Ratu Plaza, Jakarta Selatan, yang menyebabkan para karyawannya pingsan, merupakan salah satu contohnya,” ujar dokter Suryo.

Penyakit akibat kerja bukan hanya terjadi pada pekerja kerah biru, tapi juga bisa terjadi pada pegawai kantoran. Dokter Suryo, misalnya, menunjuk pasiennya: seorang sekretaris yang terkena penyakit carpal tuner syndrome--suatu keadaan terjadinya peningkatan penekanan saraf pada pergelangan tangan yang mengakibatkan iritasi dan kelelahan pada ruam di antara jari tangan.

Gejalanya berupa rasa nyeri, terbakar, serta kesemutan di jari-jari dan tangan yang terkadang menjalar ke siku. Senut-senut kian terasa di malam hari, bahkan kadang bisa membangunkan penderita. Orang yang berisiko terkena penyakit itu adalah pengguna komputer yang melakukan gerakan berulang pada pergelangan tangan. Namun peringkat tertinggi dalam daftar kesehatan kerja, menurut dokter Suryo, berupa keluhan nyeri punggung dan bahu.

Lantaran kebutuhan memenuhi persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja itulah, tenaga medis kesehatan kerja mulai dilirik. Pertemuan ISO on Occupational Health and Safety Management di Jenewa, Swiss, September 1996, mengatur penerapan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja secara internasional merupakan salah satu syarat bagi semua jenis industri. Dua tahun setelah itu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mulai berencana mengembangkan program pendidikan spesialis kedokteran okupasi.

Program itu awalnya hanya berupa kursus-kursus singkat untuk tenaga medis yang sudah ada. “Saya angkatan kedua spesialis kedokteran kesehatan,” ujar dokter Suryo, yang baru lulus tahun lalu. Di Amerika Serikat, kedokteran kesehatan sudah mulai dikembangkan sejak 1970-an. Saat itu didirikan The National Institute for Occupational Safety and Health.

Dalam perkembangannya, dokter kesehatan kerja tak hanya dilibatkan dalam penanganan kesehatan pekerja semata. Mereka juga ikut serta dalam merancang pabrik. Dokter okupasi harus melihat data pekerja. Contohnya, pegawai dengan tubuh paling gemuk harus bisa melewati pintu darurat atau gang-gang di sekitar mesin jika terjadi situasi gawat di pabrik tersebut.

“Kami harus dilibatkan untuk mengurangi risiko jika terjadi sesuatu,“ kata dokter Suryo. Bila terjadi kebakaran, harus dipersiapkan pula jalur evakuasi. “Jangan sampai terjadi tabrakan atau bahaya lain karena adanya bahan kimia yang terbawa angin,” dia menambahkan. Dengan melibatkan dokter okupasi, risiko terganggunya kesehatan akibat kerja diharapkan bisa dikurangi. Tempat bekerja seyogianya memang tak menjadi sumber duka para pekerja.

Ahmad Taufik


Infografik

Pekerja dan penyakitnya:


1. Dokter: risiko tertular penyakit infeksi, misalnya HIV, hepatitis, dan tuberkulosis. Terpajan bahan-bahan kimia, seperti reagen di laboratorium, obat-obatan, gas anestesi, dan desinfektan.

2. Pialang saham: gangguan pada otot dan tulang karena kerja berulang, nyeri bahu dan leher karena mengempit gagang telepon, gastritis, tuli karena suasana bursa yang hiruk-pikuk, serta stres.

3. Jurnalis: tertular penyakit ketika mengunjungi daerah endemik ataupun kecelakaan kendaraan bermotor. Stres saat mengejar sumber berita. Gangguan pada otot dan tulang karena mengangkat kamera yang berat.

4. Sekretaris: carpal tunnel syndrome karena posisi tangan pada waktu mengetik yang tidak ergonomis dan kelelahan pada mata karena terlalu lama menatap layar monitor.

5. Guru/pendidik/trainer: gangguan pernapasan karena kualitas udara yang buruk bila ruang kelas bocor.

6. Pelukis: kerusakan saraf karena terpajan bahan kimia yang terdapat pada
cat dan pelarut cat.

7. Pustakawan: gangguan saluran pernapasan karena kualitas udara ruangan yang buruk. Carpal tunnel syndrome karena mengambil dan menaruh buku-buku yang berat.

8. Buruh percetakan: tuli karena bisingnya suara mesin cetak, keracunan timbel kronik yang mengakibatkan disfungsi sistem saraf, dan disfungsi ginjal.

9. Satuan pengamanan/security: stres karena panas serta keracunan karbon monoksida kronik dan gas buangan kendaraan bermotor.

10. Analis kimia: pajanan terhadap reagen, katalisator, pelarut di laboratorium, dan senyawa-senyawa kimia yang terbentuk pada berbagai reaksi kimia. (AT)

dimuat Majalah Tempo edisi 10-16 November 2008.

Rabu, November 05, 2008

Pertolongan Pertama pada Stroke


Abdurahman, 43 tahun, pernah punya kebiasaan menyiapkan jarum di dekat tempat tidurnya. Dia bukan sedang menjalankan “laku” untuk mendalami ilmu tertentu. Jarum itu adalah alat pertolongan pertama. “Jika terserang stroke, saya atau istri siap bertindak,” katanya. Tapi itu dulu.

Rahman pernah terpengaruh berita yang luas beredar di mailing list mengenai pertolongan pertama pada stroke. Di dalam tulisan yang tak ketahuan asalnya itu dinyatakan, bila terkena serangan stroke, segera tusukkan jarum ke 10 ujung jari tangan. Titik penusukan kira-kira satu sentimeter dari ujung jari. Gunanya agar darah keluar dan penderita serangan stroke segera pulih kembali.

Sepintas, cara ini masuk akal. Sebab, jika orang terkena stroke, terjadi pembekuan darah ke otak. Nah, tusukan itu mengakibatkan reaksi dari pembuluh darah, sehingga kembali lancarlah aliran darah.

Pengertian stroke adalah hilangnya sebagian fungsi otak secara mendadak atau tiba-tiba akibat sumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak. “Nah, jika serangan stroke karena pembuluh darah pecah, penusukan justru mempercepat kematian,” kata dokter ahli stroke, Salim Harris. Dengan kata lain: jangan percaya pada saran tak berdasar seperti itu. Risikonya terlalu besar.

Lalu Salim, yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Cabang Jakarta, menunjukkan cara penanganan stroke sebelum pasien dibawa ke dokter. Pertama, pasien diletakkan dalam posisi tidur telentang dan diberi bantal hingga kepala membentuk sudut elevasi sekitar 30 derajat. Ini memberikan kesempatan agar aliran darah balik ke arah bawah tubuh. Setelah sekitar 30 menit, baru si pasien dibawa ke rumah sakit.

Justru si penderita jangan didudukkan atau digerakkan bagian tubuh lainnya--seperti saran di milis. Sebab, bila itu dilakukan, si pasien akan makin kekurangan oksigen. “Karena tiap gerakan membutuhkan oksigen. Sedangkan saat terserang stroke, tubuh sedang kekurangan oksigen,” ujar Salim.

“Jangan diberi minum, termasuk air gula. Walaupun bisa, jangan dibiarkan jalan atau duduk di mobil,” ujarnya. Minuman dikhawatirkan merusak organ tubuh lainnya, dan jika masuk ke paru-paru malah bisa berakibat infeksi. Pokoknya, posisi yang terbaik adalah terbaring dengan bantal di kepala seperti disebut di atas.

Larangan lain adalah memberikan obat-obatan darah tinggi. Menurut Salim, tekanan darah yang ekstrem tinggi ataupun rendah sama bahayanya bagi penderita serangan stroke.

Karena itu, jika pasien terserang stroke, harus dilihat dulu penyebabnya secara keseluruhan. “Saya saja sebagai dokter harus melihat hasil CT scan untuk mengambil langkah atau terapi yang tepat. Tak bisa dengan cara ditusuk-tusuk jari atau telinganya,” ujarnya. Pemindai (CT scan) merupakan pemeriksaan standar terbaik (baku emas) untuk stroke.

Dalam serangan stroke terkenal istilah “time is brain” dan “the golden hour”. Makin cepat pengobatan makin meminimalkan gejala sisa dari stroke. Masa jeda penyelamatan, yang dikenal dengan istilah jendela terapi (therapeutic window) stroke, adalah enam sampai delapan jam setelah serangan. Penanganan dini yang benar setidaknya akan mengurangi angka kecacatan penderita serangan stroke hingga 30 persen.

Memang wajar jika stroke menjadi momok bagi banyak orang. Sebab, stroke bersama penyakit jantung koroner termasuk penyakit kardiovaskuler pembunuh nomor satu di dunia. Diperkirakan setiap tiga menit satu orang meninggal akibat penyakit tersebut. Ganasnya penyakit ini menjadi penyebab utama kecacatan pada orang dewasa.

Pada penderita stroke akan terjadi penurunan kualitas hidup sangat besar. Penderita juga sangat bergantung pada keluarga atau orang di sekitarnya. Kecacatan yang terjadi bisa bersifat permanen sehingga menimbulkan masalah lain yang tidak kalah peliknya.

Ahmad Taufik
di muat di Majalah Tempo edisi 3-9 November 2008 (Infokes)

Senin, Oktober 27, 2008

Nur Hidayat Calon Presiden



Siapa calon presiden 2009-2014? Jajak pendapat (Polling) yang dikelola blog ini, memilih Nur Hidayat sebagai calon Presiden mendatang.

Nur Hidayat dipilih 48 persen pengunduh, mengalahkan tiga kandidat lainnya. Ratna Sarumpaet satu-satunya perempuan yang berpotensi menjadi Calon Presiden, dipilih 17 persen, angka yang sama diperoleh calon muda bekas aktivis mahasiswa ITB, Fadjroel M. Rachman. Kivlan Zein, satu-satunya calon militer, hanya dipilih 15 persen pengeklik.

Kenapa hanya empat orang itu yang diusung sebagai kandidat? Alasan pertama, keempat orang ini punya modal semangat. Mereka tak mampu membuat iklan di televisi, tak memiliki partai sebagai “kendaraan” politik mereka. Tiga orang sipil yang menjadi calon merupakan “korban” orde baru.

Ratna Sarumpaet, sempat ditahan beberapa bulan menjelang kejatuhan Soeharto, karena menggerakkan masyarakat melawan diktator orde baru itu. Fadjroel Rachman ditahan tiga tahun, saat memprotes kehadiran Menteri Dalam Negeri Rudini di kampus ITB, Bandung. Saat itu Rudini menjaga kebijakan pertanahan rezim orde baru yang merugikan rakyat. Nur Hidayat divonis 19 tahun penjara, karena dituduh terlibat pemberontakan di Talangsari Lampung. Nur Hidayat diberi amnesti oleh pemerintahan Habibie setelah Soeharto tak lagi berkuasa.

Lalu kenapa ada Kivlan Zein? Memang Kivlan Zein punya sejarah negatif, menggerakan Pam Swakarsa melawan gerakan pro demokrasi, setelah Soeharto tumbang (1998). Namun, Kivlan dikhianati atasannya Wiranto dan ia berani melawan. Dibandingkan Wiranto dan Prabowo, Kivlan saat ini termasuk tentara yang berani “terbuka” dan mengakui kesalahan yang pernah diperbuat di masa lalu.

Siapa Nur Hidayat?

Dalam tulisan Al-Chaidar dalam buku Tragedi Lampug Berdarah, disebutkan Nur Hidayat Assegaf lahir di Kuningan Cirebon Jawa Barat tanggal 26 Maret 1959. Nur Hidayat yang dikenal sebagai pimpinan (amir musyafir) Front Komando Mujahidin (FKM) dalam peristiwa Talangsari ini. Dulu ia pernah bekerja pada kantor Bea dan Cukai di Pulau Karimun Jawa, Riau. Ia juga seorang karateka tingkat nasional. Ia berhenti kerja dan kembali ke Jakarta.

Selama menganggur ia sempat bergaul dengan para preman di sekitar Pasar Santa, Jakarta Selatan. Lalu bersama “preman” yang sadar mengkaji ke-Islam-a, lalu menguasai masjid Santa. Jamaah masjid itulah kemudian sepakat “hijrah” ke Lampung membentuk komunitas masyarakat yang lebih Islami. Pada tahun 1983 Nur Hidayat diangkat sebagai Panglima Selatan.

Pada saat membuat komunitas itulah, tahun 1989 Nur Hidayat dan kawan-kawan diganggu pihak aparat “keamanan” setempat. Lalu terjadi tindak kekerasan, dan berakhir dengan pembantaian warga Talangsari oleh tentara. Ada tentara yang menjadi korban, tetapi rakyat yang hanya bersenjata parang, dan panah dari jeruji sepeda, banyak yang tewas, bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan dan anak-anak.

Nur Hidayat divonis 19 tahun penjara dengan tuduhan subversif. ditahan di LP Cipinang, Jakarta, dan bebas mendapat amnesti (pengampunan) dari Presiden BJ Habibie pada 1998, setelah menjalani hukuman sembilan tahun lebih. Nur Hidayat, tidak seperti para teroris yang membunuh orang tak bersalah atau turis, yang ia lawan tentara dan kesewenang-wenangan penguasa. Pantas saja jika pengunjung blog ini memilihnya menjadi salah satu calon presiden. Selamat berjuang!

(AT/27 Oktober 2008)

Minggu, Oktober 26, 2008

Obat yang Meracuni

Adnan Buyung Nasution pernah menderita penyakit aneh. Tujuh dokter gagal mendiagnosisnya. Obat yang ditenggaklah penyebabnya.


Adnan Buyung Nasution tampak mahir melakukan gerakan yoga di lapangan rumput rumahnya di Pasar Jumat, Jakarta Selatan. Ketika ditemui Tempo, Rabu dua pekan lalu, dia terlihat lebih segar. Rambutnya, yang putih keperakan, dicukur pendek. Ketika itu, dia sedang bersiap-siap pergi ke Ujung Kulon selama tiga hari tiga malam bersama tujuh rekannya untuk bertualang--demikian katanya. “Abang mau refreshing dulu.”

Penampilannya itu sungguh jauh berbeda dibanding dua bulan lalu. Ketika itu, banyak yang mengira Buyung sudah tak bakal ada di tengah-tengah kita lagi. “Saya sempat berdoa waktu itu, ya Allah, kalau belum takdir, kembalikan kesehatanku. Tapi, kalau sudah takdir, ambillah, ikhlas aku, ambil dengan tenang, damai, tanpa rasa takut dan sakit,” katanya.

Penyakitnya itu datang tiba-tiba: gatal-gatal sekujur tubuh, dari ujung jari kaki sampai batok kepala, dan kulit terkelupas hingga belang-belang. “Belum pernah saya alami sebelumnya,” kata Buyung memperlihatkan bekas berupa bintik-bintik hitam yang masih tampak di tubuhnya.

Ketika itu, sudah berbagai dokter spesialis didatangi, seperti dokter khusus penyakit orang tua (geriatri) serta spesialis alergi dan kulit. Dari tujuh dokter, tidak ada satu pun yang bisa mengobatinya. “Diagnosis mereka, karena saya banyak pikiran. Bagaimana enggak berpikir? Banyak masalah harus dipecahkan, apalagi saya anggota Dewan Pertimbangan Presiden,” katanya.

Bahkan beberapa dokter menduga penyakit Buyung itu akibat “dibikin” orang alias kena santet. “Yang ini saya enggak percaya,” katanya. Buyung sempat dikira terkena virus yang menyerang daya tahan tubuh (HIV) dan penyakit kulit berbahaya yang mengenai saraf.

Belum sembuh dari serangan gatal, sebulan kemudian muncul serangan berikutnya: sakit perut dan buang-buang air besar. “Semalam bisa sepuluh kali. Pagi-pagi bangun tidur saya pingsan, lalu pingsan lagi saat di meja makan,” katanya.

Buyung dilarikan ke sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Namun, seusai dia diobservasi, dokter tetap tidak bisa menemukan penyakitnya. ”Hanya dibilang peradangan perut. Sebabnya apa, dokternya juga tidak tahu,” ujarnya.

Berkat bantuan sejawatnya, Nono Anwar Makarim dan istri, Buyung disarankan ke dokter ahli kanker (onkologi) di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura, Ang Peng Tiam. “Karena rekomendasi Nono, saya langsung diterima. Kalau orang lain, bisa menunggu satu-dua bulan,” katanya.

Dokter Ang, menurut Buyung, geleng-geleng kepala melihat kondisinya yang lemah tanpa tenaga sama sekali. Di sana, Buyung mendapat pemeriksaan menyeluruh selama dua minggu: darah, feses, dan air kencing. Tubuhnya dipindai. “Saya bersih, alhamdulillah. Tadinya dikira kanker. Karena peradangan di perut, ada dugaan tumor ganas,” ujarnya.

Apa kesimpulan Ang? Buyung keracunan obat. Pasiennya itu terlalu banyak mengkonsumsi obat. Maklum, dia bisa menenggak 15 butir tiap hari, pagi, siang, dan malam, untuk berbagai penyakitnya. Padahal bisa jadi ada obat yang bertentangan. Lama-kelamaan, semua itu menyebabkan Buyung pingsan dan tekanan darahnya rendah sekali, 80/40. Berat badannya turun 15 kilogram dalam sebulan. “Kalau orang lain, sudah ‘lewat’,” katanya.

Buyung tidak hanya punya jam terbang lama di ruang sidang, tapi juga untuk urusan mengkonsumsi obat. Maklum, dia sudah lama punya riwayat penyakit darah tinggi dan jantung. Pada 1990, dia menjalani operasi bypass jantung di Belanda. Waktu itu, dia sedang “dibuang” selama tujuh tahun oleh rezim Orde Baru. Hidup di negara orang, dia melarat. Sekolah pun tak kunjung selesai, gara-gara profesornya sakit. “Saya frustrasi, depresi berat, dan kena serangan jantung,” kisahnya.

Pada 2000, Buyung kembali kena serangan jantung, dan dibawa ke Australia untuk dipasangi stent--semacam silinder supermungil untuk membuka pembuluh darah jantung yang tersumbat. Nah, hitung saja, sudah berapa lama Buyung “bergaul” dengan obat-obatan tekanan darah tinggi dan jantung.

Sebelum seluruh tubuhnya dihajar gatal dan buang-buang air besar, obat-obatan yang dikonsumsi Buyung itu sebenarnya sudah menyampaikan pesan kepada tubuhnya. Dia awalnya terkena gatal “hanya” di kaki hingga paha, pada Februari 2007. Sejak saat itu, pasukan obatnya bertambah dengan obat alergi, antara lain Celestamin, Bestalin, Claritin, dan Medixon. Sedangkan obat jantung yang ditenggak di antaranya Plavix, Diovan, Lasix, dan Imdur. “Semua obat alergi disuruh stop oleh dokter, enggak boleh dipakai lagi. Hanya obat jantung yang masih boleh diminum,” katanya.

Apa yang menimpa Buyung mengingatkan kita pada hakikat obat itu sendiri. Ya, obat adalah racun. Ia bisa menyembuhkan, sekaligus meracuni. Tubuh pun bisa mengalami alergi atau bereaksi negatif--seperti gatal-gatal di sekujur tubuh yang menimpa Buyung--terhadap obat yang selama ini menyembuhkannya.

Menurut dokter spesialis alergi dan imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Iris Rengganis, reaksi tubuh seperti itu bisa akibat obat yang tidak cocok dengan kondisi badan atau bertentangan dengan jenis obat lain. Itu yang disebut reaksi anafilaktik, yaitu tubuh bereaksi terhadap obat sebagai benda asing yang masuk ke dalam tubuh. “Karena itu, harus segera diberikan suntikan adrenalin. Jika terlambat, bisa meninggal,” katanya.

Ada juga obat yang diberikan hanya sedikit tapi tubuh sensitif terhadapnya. Misalnya obat tuberkulosis. Tubuh yang sensitif terhadap obat itu langsung bereaksi. Penggunaannya dalam jangka lama akan berefek samping ke organ hati. Akibatnya, pasien akan tampak kuning. “Bisa merusak ginjal atau lever,” kata dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Ari Fahrial Syam.

Obat yang dikonsumsi dalam dosis berlebih atau dalam jangka waktu lama juga bisa sangat berbahaya. Misalnya pemberian antibiotik. Lamanya penggunaan antibiotik juga bergantung pada penyakitnya. Biasanya dokter sudah menentukan dosis yang harus dihabiskan sesuai dengan aturan. Jika aturan dilanggar, kuman, virus, atau penyebab penyakit lainnya menjadi resisten terhadap antibiotik tersebut.

Setiap obat memang punya “karakter” sendiri. Reaksi pada tubuh yang berbeda ada kemungkinan juga berlainan. Apalagi untuk obat yang sudah dikonsumsi bertahun-tahun oleh penderita penyakit kronis, yang bisa berdampak negatif pada tubuh. Yang muncul bisa berupa gatal-gatal, bisul, dan lain-lain.

Kalau sudah demikian, menemukan penyebab asalnya tidak mudah. Itu terbukti dengan kasus Buyung. Tujuh dokter tak bisa menyimpulkan apa penyebab gatal di sekujur badannya itu.

Sejak dokter meminta Buyung menghentikan konsumsi obat-obat alergi, kondisinya membaik. Semua dugaan akan penyakit misterius, dan berbahaya, pupus sudah. Berat badannya bertambah. Kini bahkan dia berada pada kondisi ideal: berat 60 kilogram dengan tinggi 167 sentimeter. “Sudah bagus, ideal sekali. Kalau dulu, sampai 70 kilogram. Suka capek,” katanya.

Nah, untuk menjaga kebugarannya pada usia 74 tahun, Buyung lari seminggu tiga kali. Yoga, yang ditekuninya sejak 30 tahun lalu, tetap dijalankan. “Yang penting sekarang rehabilitasi,” katanya. Menurut Mauly Nasution, anaknya, dokter juga melarang Buyung mengkonsumsi durian, cokelat, daging kambing, dan wine. “Maklum, kondisi tubuh Ayah sudah tak sekuat dulu,” katanya.

Ahmad Taufik, Iqbal Muhtarom

Dimuat Majalah Tempo Edisi 27 Oktober-2 November 2008

Kamis, Oktober 23, 2008

Nurhidayat Memimpin Polling


Dua hari lagi polling calon presiden alternatif ditutup. Sampai saat ini dari empat calon pilihan Nurhidayat, memimpin suara, 19 suara. Di urutan kedua muncul tokoh muda lain, Fadjroel rachman, dua urutan berikutnya, Ratna Sarumpaet dan Kivlan Zein.

Kenapa hanya empat calon itu pilihan blog ini?

Siapa Nurhidayat?

Nantikan dua hari lagi?

Info pertama : Nurhidayat divonis hukuman penjara 19 tahun oleh Rezim Soeharto, karena perlawanannya di Lampung pada 1989. Tentu saja, lebih lama dari semua calon Presiden yang sudah mencalonkan diri.

Lebih Sehat Dirawat di Rumah



Bila sakit berlanjut, jangan menyerahkan pasien pada dokter untuk dirawat di rumah sakit. Menurut penelitian Perkumpulan Perawatan dan Bantuan Kesehatan Amerika Serikat, pasien akan lebih sehat jika dirawat di rumah sendiri.

Lembaga itu telah meneliti gejala tersebut di kawasan pinggiran dan perkotaan di delapan negara bagian di Amerika Serikat selama tiga tahun terakhir. Terbukti, kesehatan pasien akan lebih baik bila dirawat di rumah ketimbang di rumah sakit. Karena perawatan di rumah menjauhkan pasien dari dunia orang sakit di rumah sakit. Di rumah, pasien akan termotivasi segera sehat karena di sekitarnya juga orang-orang sehat.

Karena itulah Kongres Amerika mendukung pelayanan kesehatan di rumah dibandingkan di rumah sakit. Sebab, selain tanpa biaya rawat inap, perawatan di rumah berdampak positif bagi pasien.

(dimuat di Info kesehatan Majalah Tempo 25 September 2008)

Mencegah Stroke Berulang


Mempertahankan tekanan darah tetap rendah terlalu lama setelah serangan stroke justru berisiko terjadinya stroke ulang. Untuk mengatasinya, menurut Doktor Salim Yusuf dari The Population Health Research Institute, Hamilton Health Sciences and McMaster University, Kanada, perlu diberikan telmisartan.

Yusuf membagi 20 ribu pasien sembuh stroke dalam dua kelompok. Satu kelompok menggunakan telmisartan 80 miligram setiap hari selama 15 hari, dan grup lain menggunakan obat kosong (plasebo). Hasilnya, ternyata pengguna telmisartan selama dua setengah tahun tak terkena stroke ulang, penyakit jantung, dan kencing manis (diabetes). Sedangkan pada kelompok plasebo masih ditemukan risiko serangan stroke ulang.

(dimuat Info Kesehatan di Majalah Tempo, 25 September 2008)

Senin, Oktober 20, 2008

Janji Politik dan Mimpi Jadi Isteri Kedua

Empat tahun mengelola negara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih mendapat hati di kalangan "rakyat". Minimal di hati budeku.

Minggu, pertengahan Oktober, setelah beristitahat dari piket menerbitkan edisi empat tahun pemerintahn SBY-JK, bude ku asal Malang, Jawa Timurn datang berkunjung ke rumah. Kami berdua sempat berbincang-bincang.

"Anakku, baru menjanda setahun sudah dapat suami,"katanya,"aku sudah sepuluh tahun menjanda belum dapat-dapat suami baru juga."

"Aku mau menjadi isteri kedua SBY,"ujarnya melanjutkan.

"Kalau aku menjadi isteri kedua SBY, aku yakin Ibu Ani akan pakai jilbab, dan SBY tak duano menjadi presiden kembali dan diberi limpahan rahmat dan berkah oleh Allah. Aku menyimpan sejumlah doa yang akan ku berikan padanya,"katanya.

"SBY masih tetap yang terbaik untuk menjadi presiden ke depan,"ujarnya.

"Aku sebagai manula, akan mendapat Rp 150 ribu, tiap bulan,"katanya. Ya, tanteku kelahiran tahun 1934, dan masih gagah untuk ukuran orang seumurannya. Walaupun, ada beberapa penyakit, seperti diabetes misalnya.

Budeku begitu terpesona dengan sosok SBY, bukan karena sama-sama berasal dari Jawa Timur, tetapi karena janji-janji politik dan kesejahteraan yang diimpikan rakyat. "Coba bayangkan, mana ada presiden yang kasihkan kompor ke rakyat, belum lagi program BLT (Bantuan Langsung Tunai), jadi pantaslah SBY memerintah kembali. Mudah-mudahan pada kesempatan kedua pemerintahannya menjadi lebih baik dari sebelumnya,"katanya.

Aku hanya bisa mengangguk. "Soal isteri kedua SBY, aku hanya guyon lo, mas,"katanya.

Jakarta, 20 Oktober 2008
A.Taufik


Sabtu, Oktober 18, 2008

Dari Suami ke Ideologi


CALON KUHP baru mungkin akan menjadi kabar buruk bagi para suami. Mereka yang dianggap memaksa istrinya bersebadan, sementara si istri menolak, bisa dihukum. Rumusan delik ini tak ada dalam KUHP sekarang. Yang ada hanya delik pemerkosaan lelaki terhadap perempuan yang bukan istrinya. Rupanya, kata-kata “yang bukan istrinya” ditiadakan. Alhasil, pemerkosaan bisa dianggap terjadi pada semua perempuan.

Banyak yang menentang rumusan delik baru itu. Alasannya, urusan suami-istri adalah urusan rumah tangga, yang tak perlu dicampuri polisi. Tapi kalangan aktivis perempuan menganggap pasal itu penting. Menurut mereka, pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan suami terhadap istri tergolong kejahatan.

Memang, menurut Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan di Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Abdul Gani Abdullah, soal marital rape ini masih menjadi perdebatan. Delik begitu dipengaruhi oleh hukum liberal. “Kalau mau diakomodasi, mestinya delik serupa bisa pula dilakukan istri terhadap suami,” ujar Abdul Gani.

Dalam RUU KUHP, rumusan harus adanya ikatan perkawinan dalam kasus perzinaan juga dihapuskan. Itu berarti dua orang dewasa yang berlainan jenis kelamin dan sama-sama belum menikah, bila berhubungan seksual, bisa dipidana. Ini bisa terjadi pada kasus kumpul kebo (samen leven), yang menurut KUHP tak bisa dihukum. Tapi delik kumpul kebo dalam RUU KUHP bersifat aduan. Artinya, harus ada pengaduan dari keluarga ataupun masyarakat.

Selain memperluas rumusan delik susila, RUU KUHP mengukuhkan berlakunya pidana adat di daerah. Misalnya, seseorang yang berbuat asusila atau memasuki tempat suci yang dilarang bisa dikenai pidana tambahan sesuai dengan hukum adat di daerah itu. “Aturan ini berguna untuk mengantisipasi pemberlakuan otonomi daerah,” kata anggota tim penyusun RUU KUHP, Andi Hamzah.

Yang tak kalah menarik, RUU KUHP mencoba “meluruskan” berbagai delik keamanan negara, yang semasa Orde Baru gampang ditimpakan pada mereka yang berani mengkritik pemerintah. Umpamanya pasal tentang penyebaran kebencian (hatzaai artikelen). Dulu, delik ini bersifat formal. Artinya, kalau seseorang dianggap--anggapan ini pun dimonopoli pemerintah--menghina pemerintah, ia bisa diadili. Tapi, dalam RUU KUHP, delik itu diubah menjadi bersifat materiil. Ini berarti harus bisa dibuktikan apakah perbuatan orang itu benar-benar menimbulkan kebencian.

Contohnya adalah yang pernah terjadi pada peristiwa 27 Juli 1996 di markas PDI. Mereka yang mengutarakan pendapatnya secara kritis atau berideologi berbeda dengan ideologi negara mestinya tak dihukum, kecuali bila perbuatan orang itu lantas menimbulkan kerusuhan di masyarakat. “Yang membuat kerusuhan itu yang bisa dihukum,” ujar Andi Hamzah, mantan jaksa yang pernah menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kejaksaan Agung.

Adapun soal hukuman mati, ternyata RUU KUHP tak mencantumkannya lagi sebagai pidana tertinggi. Hukuman mati dijadikan pidana khusus, yang hanya dijatuhkan pada kasus kejahatan sadistis dengan banyak korban. Pelaksanaan hukuman mati pun dibuat tak gampang. Bila terpidana mati selama 10 tahun di penjara bisa berkelakuan baik, hukumannya bisa diubah menjadi seumur hidup.

--artikel enam tahun silam, dimuat Majalah Tempo edisi 14 Januari 2002--