Rabu, Maret 05, 2008

Santri-santri Nekat Indonesia

Sampai sekarang ini Qom masih memiliki daya tarik bagi santri asal Indonesia.

Indonesia salah satu pemasok santri bagi hauzah atau madrasah di Qom, Iran. Sejak kemenangan revolusi Islam Iran pimpinan Imam Khomeini, negeri para mullah itu menjadi daya tarik bagi pemuda Indonesia untuk belajar agama. Sebelumnya, minat pelajar Indonesia menimba ilmu agama umumnya ke Universitas Al-Azhar Mesir, Ummul Qurra Arab Saudi, Irak, dan Pakistan.

Saat ini, menurut catatan Yayasan Jahani, lembaga yang bergerak mencari dan memantau lulusan hauzah Qom di mancanegara, tercatat 150 alumnus hauzah Qom di Indonesia. “Saya berharap mereka bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya. Percuma saja sudah jauh-jauh ke Iran dan diberi fasilitas tapi tak menjadi manfaat bagi umat,” kata pemimpin Jahani, Ayatullah Murtadha Muqtadai, yang berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu.

Lulusan Qom di Indonesia kini tersebar di berbagai pelosok Nusantara. Ada yang menjadi pendakwah, guru, penulis, bahkan politikus. Saat ini masih ada ratusan santri Indonesia yang belajar di Qom. Di bawah ini beberapa profil alumnus hauzah Qom.

Musa Kadzim Siraj, 43 tahun,

Pria kelahiran Bangkalan, Madura, 1963 ini semula mahasiswa Jurusan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, selama dua tahun. Tak puas dengan pendidikan yang diterimanya, Musa mulai berkorespondensi dengan lembaga pendidikan yang ada di Timur Tengah: Arab Saudi, Mesir, dan Iran.
Ternyata proposalnya diterima di Iran. “Saya berminat ke Iran karena negeri itu punya daya tarik yang luar biasa. Bahasa dan budaya Persia tua. Iran salah satu kekuatan timur pada zaman rasul. Dan tentu saja revolusi Islam Iran yang dibawa Imam Khomeini,” katanya.

Namun tak mudah untuk bisa masuk ke negeri itu. Apalagi pemerintah Orde Baru saat itu sedang ketakutan dengan isu ekspor revolusi Islam yang diembuskan negara Barat yang anti terhadap pemerintahan Khomeini. Walau tanpa visa, Musa langsung terbang ke Karachi, Pakistan, pada 1985. Ia sempat terdampar selama tiga bulan dan ditampung oleh mahasiswa asal Iran, Mr Daud, di Dow Medical Centre, sebuah asrama mahasiswa Iran yang dibangun Shah untuk mahasiswa Iran di Pakistan.
Setelah memegang visa Iran, Musa lebih dulu belajar bahasa Persia di Nejafabad, delapan kilometer dari Kota Isfahan, selama setahun. Setelah itu, bersama 10 orang lainnya dia “dijebloskan” ke Hauzah Ilmiyah Hujatiyah, Qom. Kampusnya hanya 100 meter dari makam Hazrat Maksumah Fatimah. Sebelumnya, sudah ada enam orang Indonesia lain belajar di madrasah yang memang khusus untuk orang asing itu.

Di sekolah itu Musa, dengan bahasa pengantar Arab, belajar mengkaji akidah Islam, bahasa Arab, fikih, tafsir, dan logika (mantiq). Musa belajar Babul Hadi Asyar (akidah karya Alamah al-Hlli) dari Hujatul Islam Jafar Hadi, murid kesayangan Ayatullah Jafar Subhani. Ia juga belajar Mantiq al-Mudaffar 2 jilid karya Dr Syekh Nabil, Fiqh, Tahrir Wasilah karya Imam Khomeini, dan Tafsir Al Mizan fi Tafsirul Qur’an karya Ayatullah Muhammad Thabathabai. “Yang paling berkesan belajar di Iran adalah perilaku ulama-ulama yang ada di Qom, yang begitu baik menghargai pelajar-pelajar dari Indonesia, tidak merasa lebih tinggi atau pintar. Mereka benar-benar memahami Islam dengan baik dari perilakunya,” ujar Musa.

Setelah lima tahun di Qom, 1990, Musa kembali ke Indonesia, langsung bersilaturahmi ke ulama-ulama, terutama di Martapura, Kota Baru, dan Banjarmasin, Kalimantan. “Di Martapura ada Guru Zain. Martapura itu seperti Qom. Seluruh ulama Kalimantan untuk mengkaji irfan harus ke Guru Zain itu,” katanya.
Selain mengajar bahasa Persia di Pusat Kebudayaan Islam (ICC), Jakarta, Musa aktif berdakwah di kalangan bawah, waria, dan buruh migran. Bulan lalu, selama sebulan Musa mengadvokasi buruh migran di Hong Kong. “Pemerintah harus memperhatikan buruh migran yang menghasilkan devisa tidak kecil bagi negeri ini,” ujarnya.

Abdullah Beik, 37 tahun

Berawal dari membaca buku-buku anti-Syiah dan Imam Khomeini, pelajar Lembaga Pendidikan Bahasa Arab (LPIA) milik pemerintah Arab Saudi itu kemudian justru penasaran terhadap ajaran ahlul bait. “Apalagi setelah menonton film detik-detik kematian Imam Khomeini,” ujar Abdullah Beik. Dengan modal bahasa Arab dari LPIA yang bagus, lulusan SMA di Sumenep, Madura, ini melamar ke lembaga pendidikan di Iran,
Pria kelahiran 1970 tersebut masuk ke Hauzah Hujatiyah Qom pada 1991. Lulus sarjana jurusan syariah, ia lalu pulang ke Indonesia. “Pendidikan di sana sudah modern. Saya sempat belajar langsung dari murid Imam Khomeini, Syekh Nur Muhammadi,” kata Beik.

Saat masih mahasiswa, Beik tinggal di asrama dengan para pelajar bujangan lainnya.Tak puas hanya jadi sarjana, setelah menikah, Beik memboyong istrinya mengambil gelar master teologi dan filsafat di Sekolah Tinggi Imam Khomeini, Qom, sejak 1999. “Saya tinggal di rumah yang disediakan pemerintah Iran khusus untuk mahasiswa asing yang sudah berkeluarga,” ujarnya.

Ayah satu anak ini kembali ke Indonesia pada 2004 dan kini menjadi Manajer Pendidikan dan Dakwah ICC, Jakarta. Sebagai lulusan Qom, Beik juga memantau rekan-rekannya yang aktif di berbagai bidang. “Setiap tahun kami bertemu dalam silaturahmi nasional,” ujarnya.

Dibandingkan dengan India, Pakistan, Turki, atau Afganistan, menurut Beik, lulusan Indonesia tak terlalu banyak. “Jika dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, atau Filipina, Indonesia memang lebih banyak,” kata penggemar film Oshin itu.

Ali Hussein, 32 tahun

Tiga tahun nyantri di Pesantren Al-Hadi, Pekalongan, Jawa Tengah, pimpinan Habib Ahmad Baragbah, ia tak cukup puas. Melalui relasi yang dimiliki ajengan pesantren itu, Ali Hussein, yang sering dipanggil sebagai Ali Pati, berangkat ke Qom pada 1994.

Sebelum diterima di Hauzah Hujatiyah, pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, itu belajar bahasa Persia selama enam bulan di Madrasah Sahabiyah. Di Hujatiyah, Ali bersama pelajar mancanegara asal Tunisia, Sierra Leone, Afrika Selatan, Pakistan, India, dan Malaysia belajar ilmu-ilmu teologi, akidah, fikih, bahasa Arab, ushul fiqh, dan tafsir Al-Quran. “Kelas berisi hampir 40 orang, tiap pagi belajar tiga jam dan sore tiga jam,” katanya.

Selain ustad-ustad yang disediakan madrasah, sering datang juga dosen tamu. “Kami pernah diajar oleh pemimpin Hizbullah Libanon, Hassan Nasrallah,” kenang Ali. Sekretaris Direktur ICC ini punya alasan memilih belajar di Qom. Kota itu dianggap sebagai pusat perkembangan ilmu makrifah Islam, terutama bidang-bidang filsafat, dan ilmu kalam. “Banyak sekali ulama lulusan Qom, bahkan sebagian besar ulama ahlul bait di dunia ini pernah belajar di Qom, marja’-marja’ terkenal juga punya kedudukan di Qom,” katanya. Lulus setingkat sarjana, Ali sempat bekerja selama dua tahun untuk Radio Republik Islam Iran (IRIB) seksi Melayu.

Ammar Fauzi, 33 Tahun

Berawal dari suka filsafat, santri YAPI, Bangil, Jawa Timur, ini mengakses karya-karya orang Iran. Lalu Ammar berhubungan dengan guru-guru yang datang dari Qom.
Pria kelahiran Purwakarta, Jawa Barat, itu nekat pergi dengan tiket satu kali jalan (one way). “Entah bagaimana situasi masa itu, rombongan kecil kami harus mengambil visa entry dari Kedutaan Iran di Kuala Lumpur,” katanya. Lebih dari seminggu Ammar dan kawan-kawan harus berada di Singapura dan Malaysia. Setelah visa diperoleh, barulah bisa berangkat ke Teheran. “Proses perjalanan seperti ini tidak dialami lagi oleh mereka yang datang setelah saya,” ujarnya.

Di Qom, seperti santri Indonesia lainnya, ia diceburkan ke Hauzah Hujatiyah (1994-1998), lalu dilanjutkan ke Hauzah Muassasah Pezwuhesh, Institut Penelitian Misbah Yazdi (1995-2001). Kini Ammar adalah mahasiswa semester akhir program doktoral filsafat Islam Hauzah Imam Khomeini--sejak 2000. Di tempat kuliah, Ammar mendapat pelajaran bahasa Persia, sastra Arab, ilmu-ilmu agama, logika Aristotelian, teologi, filsafat, fisiologi, psikologi, dan matematika. “Sekarang banyak bermunculan guru pemikir muda yang melakukan perimbangan dan terobosan baru di banyak bidang ilmu,” ujarnya.

Ketika awal masuk Qom, Ammar tinggal di asrama. “Seperti tinggal di rumah sendiri,” katanya. Keragaman pelajar waktu itu cukup terlihat. Kini keragaman itu jauh lebih kompleks dan fasilitasnya jauh lebih memadai. Ammar, yang sudah berkeluarga, tak lagi tinggal di asrama. “Kami tinggal di perumahan dan apartemen yang telah disediakan,” ujarnya. Ammar tinggal lima kilometer dari tempat kuliahnya di kawasan Haram Sayidah Ma'sumah.

Tiap bulan Ammar mendapat biaya hidup dari marja’-nya berkisar 250 ribu tuman atau senilai Rp 2,5 juta. “Cukuplah untuk hidup di sini,” katanya. Bagi Ammar, jalan-jalan di pertokoan buku sudah merupakan hiburan.

Abdurahman Baragbah, 46 tahun

Abdurahman Baragbah sudah lelah tinggal di Iran. “Saya mau kembali ke Indonesia, saya sudah bikin surat pengunduran diri,” ujar penyiar Radio Republik Islam Iran seksi Melayu itu. Pria asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang menguasai bahasa Arab, Persia, dan Inggris ini sudah lebih dari 20 tahun berada di Iran.

Tiga belas tahun ia menjadi penyiar dan penerjemah di IRIB Teheran, setelah delapan tahun mondok di Hauzah Hujatiyah Qom. ”Dulu, ketika awal belajar di Qom, kayak di pesantren, kami harus menempel seorang ulama,” katanya. Namun belakangan sistem itu diubah menjadi sistem modern dengan kelas dan hitungan SKS.
Ada kenangan yang tak terlupakan saat ia berada di Qom. Ketika rudal-rudal Irak menghantam sasaran sipil, para ulama meminta para pelajar mancanegara pindah untuk sementara. “Kami semula tidak ada yang mau, dan dengan bersemangat ingin bertahan bersama-sama di pesantren kami. Namun marja’ dengan tegas mengatakan, ini perintah, kami tak bisa menolak,” kata ayah dua anak ini.

Ustad Aman, begitu teman-teman memanggilnya, diberi tanggung jawab mengurusi kepindahan para pelajar ke Mashad. Dengan fasilitas yang terbatas dan waktu menunggu beberapa hari, pemerintah Iran menyediakan dua bus kota--karena bus antarkota dipakai untuk membawa para pejuang ke front depan. Selama 20 jam bus menembus jalan yang dingin dan bersalju.

Dua bulan di Mashad, akhirnya para pelajar kembali menuntut ilmu di Qom. Aman segera kembali ke Indonesia jika proses pengunduran dirinya diterima. Dua anaknya sudah lebih dulu dikirim bersekolah di Yayasan Pesantren Islam di Bangil, Jawa Timur. “Saya ingin mendirikan sekolah Islam modern di Purwokerto,” katanya bercita-cita. (A.T)

Qom: Madrasah, Makam, dan Semangat Perlawanan

“…bagi Allah ada haram, yaitu Mekkah; bagi rasul ada haram, yaitu Madinah; bagi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ada haram, yaitu Kufah; dan bagi kami Ahlul Bait ada haram, yaitu negeri Qom….”(dari Al-Bihaar 60/216).

Musim dingin di Iran, awal Januari, terasa sampai ke tulang. Jaket tebal tak mampu mengusir rasa itu. Di halaman “haram” (kota suci) Qom seorang bersorban putih keluar dari sebuah ruangan, menghitung lembaran-lembaran uang. Tak lama lagi perbuatan yang sama dilakukan lelaki bersorban hitam. Yang bikin penasaran, dari mana mereka mendapatkan uang itu?

Masuk ke dalam lorong sejauh 10 meter, menembus sebuah ruangan besar, ruang itu terasa hangat. Tampak ratusan orang antre dalam kelompok-kelompok. Ada yang mengular, ada yang cuma merubung—di setiap meja atau balai-balai berlapis karpet, seorang lelaki bagai juru hitung membagi-bagikan uang. “Itu uang bulanan dari marja’ (ulama) mereka masing-masing,” kata Alireza, pemandu Tempo, bekas santri di tempat itu.

Besar uang yang mereka terima tiap bulan sekitar 200 ribu sampai 500 ribu tuman atau sama dengan 10 kali lipat nilai rupiah. Masing-masing marja’ berbeda tergantung kekayaan dan banyaknya murid marja’ tersebut. Pada 1985, seorang santri Institut Hujjatiyah asal Bangkalan, Madura, Musa Kadzim Siraj, mengaku mendapat 300 tuman atau sama dengan 3.000 riyal, jika dirupiahkan waktu itu sekitar 300 ribu. Besaran shahria, uang bulanan itu—shahr dalam bahasa Ara berarti bulan—juga tergantung kondisi si santri. Yang masih bujangan, mahasiswa baru, tentu berbeda dengan santri yang sudah senior atau yang membawa keluarganya tinggal di Qom.

Qom, kota berjarak 135 kilometer ke arah selatan dari ibu kota Iran, Teheran, menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa yang haus pendidikan agama. Selain banyaknya ulama, madrasah, kemudahan-kemudahan administrasi dan keringanan keuangan, ghirah keagamaan di Qom lebih terasa. Selain itu tak ada tempat hiburan seperti di sekitar Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. “Banyak ulama yang mumpuni di Qom. Selain itu, saya tertarik karena Iran punya daya tarik yang sangat luar biasa mulai dari sejarah, kekuatan di Timur pada zaman rasul, keilmuan, dan tentu saja kekuatan revolusi Islam,” ujar Musa yang termasuk angkatan kedua mahasiswa Indonesia di Qom.

Memang beberapa orang Islam yang terkenal pada dekade ini seperti Ayatullah Imam Khomeini atau pemimpin Hizbullah Lebanon, Sayyid Hasan Nasrallah, tercatat pernah belajar dan mengajar di Qom. Tak mengherankan jika Qom diminati banyak pelajar dari mancanegara, termasuk Indonesia. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran mencatat 220 orang warga negara Indonesia tinggal di kota “produsen para mullah” itu. Lebih banyak dibandingkan warga Negara Indonesia di ibu kota Iran yang hanya 70 orang. Padahal, saat Musa mulai belajar di Qom hanya ada 16 orang Indonesia, enam orang angkatan pertama, 10 di angkatannya.

Secara geografis, Qom, ibu kota provinsi dengan nama yang sama, bukanlah kota yang indah. Kota berpenduduk 850 ribu orang ini terletak di kawasan sahara tengah Iran. Posisinya berada di tengah padang yang gersang dan jauh dari laut. Suasana padang pasir sangat terasa saat memandang ke kiri dan kanan dalam perjalanan dua jam dari Teheran ke Qom dengan taksi pribadi Peugeot 405 di atas aspal selebar tiga jalur kendaraan.

Iklim Qom sangat kering dengan curah hujan yang kecil. Sebagian besar tanahnya tidak bisa dimanfaatkan untuk pertanian. Tanahnya tidak subur karena posisinya berdekatan dengan danau garam. Di musim panas, suhu udara bisa mendekati 40 derajat Celsius. Meski begitu, di musim dingin suhu udara bisa anjlok hingga di bawah nol dan sesekali turun salju meskipun tak lebat seperti di Teheran. Tak mengherankan, dalam perjalanan ke Qom naik taksi dari kawasan Azadi Square gerbang pintu selatan Teheran, mobil tetap tertutup dengan pemanas kabin. Empat penumpang tiap orang dikutip sekitar 50 ribu riyal sekali jalan; berhenti di bundaran gerbang masuk kota.

Berdasarkan sejarahnya, Qom didirikan sebelum era masuknya Islam ke Iran. Saat itu, kota tersebut pusat agama asli orang Persia penyembah api, Zoroaster. Namun, menurut sebagian kalangan, kota itu didirikan setelah Islam masuk. Kum adalah sebuah nama benteng di kota itu. Ia menjadi Qom setelah orang-orang Arab Muslim menyebut-nyebut benteng itu dengan lafal “qum”. Ketika pasukan Islam menyerang Iran, Qom merupakan bagian dari teritori Isfahan. Karena itu, Qom jatuh ke tangan pasukan Arab bersamaan dengan jatuhnya kota Isfahan.

Qom sering menjadi incaran para penguasa. Pada 23-24 Hijriyah, Abu Musa Al-Asy’ari mengirimkan sebagian pasukan yang berada di bawah komandonya ke Qom. Kota ini pun jatuh ke tangan kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab. Suku Asy’ari kemudian pindah dari Kufah, Irak, ke Qom. Kedatangan mereka membuat Qom lamban-laun menjadi kota. Memang sempat terjadi konflik antara suku Arab Asy’ari pendatang yang muslim dan warga setempat yang beragama Zoroaster, namun pribumi kalah.

Qom hancur diobrak-abrik pasukan Ali bin Hisyam, zaman Khalifah Al-Makmun. Penduduknya dibunuh secara massal karena menolak membayar pajak dan upeti. Khalifah Al-Muktasim yang menggantikan Al-Makmun juga meluluhlantakkan Qom, sebab warganya memberontak setelah Al-Makmun tewas. Qom kembali hancur total ketika pasukan Mongol datang menyerbu.

Pada 1916, ketika pasukan Rusia menyerbu Iran dan memasuki Karaj, banyak warga Teheran yang melarikan diri ke Qom. Saat itu bahkan ada rencana memindahkan ibu kota Iran ke Qom, tetapi digagalkan oleh Kedutaan Besar Rusia dan Inggris dengan menekan Ahmad Shah. Para muhajirin Teheran di Qom kemudian membentuk Komite Pertahanan Nasional untuk membela tanah air. Qom menjadi markas kegiatan politik dan militer anti-Rusia dan Inggris. Namun, setelah sekian kali konfrontasi, pasukan Rusia berhasil menduduki Qom.

Pada zaman Shah Iran menjelang revolusi Februari 1979, tentara Iran menyerbu madrasah-madrasah di sekitar makam Maksumah. Madrasah Faiziyah di Qom adalah salah satu hauzah ilmiyah atau sekolah agama (pesantren) yang paling tersohor di dunia. Madrasah dengan arsitektur Islam yang unik ini didirikan pada abad ke-13 Hijriyah. Menurut cerita santri-santri hauzah, tentara Shah melemparkan santri dari menara setinggi delapan meter. Bahkan kolam air yang berada di tengah-tengah kompleks pendidikan itu pernah dinyatakan dengan fatwa sebagai air najis oleh ulama-ulama penjilat kekuasaan Shah. Gara-garanya air kolam itu pernah dipakai berwudu oleh Imam Khomeini.

Pembantaian santri di Qom menjelang tumbangnya Shah membangkitkan perlawanan. Walaupun dibungkam dan tak diizinkan berkumpul, momen 40 hari kematian santri-santri Qom dipakai sebagai alasan peringatan di berbagai kota. Bagai getuk kepala ular, sejak itu perlawanan terus berlanjut sampai Imam Khomeini tiba dari Paris dan Raja Shah terdepak.

Setelah Khomeini berkuasa, Qom, tak lepas dari cobaan. Saat perang Irak-Iran, puluhan roket Irak menghujani kota Qom karena Presiden Irak Saddam Hussein yakin dari Qom inilah semangat revolusi melawan para tiran dimulai. Para marja dan guru-guru santri memerintahkan pemindahan santri-santri asing dari Qom. “Kami mau bertahan, tapi marja dengan tegas memerintahkan untuk pindah ke Mashad. Memang roket Irak kena ke rumah-rumah penduduk,” kenang Abdurahman Baraqbah, 46 tahun.

Lelaki asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang tinggal sejak 1986 itu, diminta memimpin teman-temannya mengungsi. Walaupun dalam keadaan pengetatan ekonomi, selain karena embargo Amerika Serikat dan negara-negara asing, juga karena perang, pemerintah Iran menyediakan dua bus. “Memang cuma bus dalam kota, tapi ya, keadaan terpaksa, sih,” ujar Aman. Dua puluh jam kemudian, Aman dan santri lainnya sampai di Mashad. Setelah dua bulan di sana, mereka kembali lagi ke Qom.

***
Melawat ke Qom selain ke pesantren, yang menarik dilihat adalah kompleks makam keramat. Qom tersohor sebagai tempat perlindungan keturunan Imam Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW, yang menamakan diri Alawiyyin. Tak mengherankan jika Fatimah, 17 tahun, adik Ali Ar-Ridha , imam kedelapan dalam kepercayaan Islam Syiah, minta dimakamkan di tempat itu saat tak kuat lagi meneruskan perjalanannya untuk menemui abangnya di Khurasan (Mashad). Apalagi, kakak kandungnya pernah berpesan, “Apabila negara diterpa berbagai kekacauan, hendaklah kalian pergi ke Qom, karena di sana tak ada bencana.”

Kakek Fatimah, Imam Ja’far Shadiq, bahkan pernah mengatakan, “Tanah Qom yang suci penduduknya adalah bagian dari kita dan kita bagian dari mereka. Penduduknya tak pernah mengkhianati saudara-saudaranya.” Perawan Fatimah dengan bekal yang dibawa dari Madinah, akhirnya membeli tanah di Qom untuk kuburannya sendiri.

Siang itu saya berkunjung ke makamnya. Bangunan makam keramat itu terletak di tengah kota. Bangunan besar, megah berarsitektur khas Persia itu, memang indah dan mempesona. Dari jeruji besi yang indah, siang itu saya melihat ratusan lelaki perempuan tampak khusyuk berdoa. Ada yang mencium-cium pintu gerbang atau besi-besi mausoleum makam dengan air mata mengalir. Di bagian terpisah perempuan-perempuan ber-chador hitam terdengar meraung-raung. Berdoa di tempat ini, dipercaya akan dikabulkan Allah setiap keinginan seseorang. “Tempat ini juga dianggap sebagai pengganti makam Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah yang tak jelas keberadaannya,” ujar Alireza.

Awalnya makam itu hanya dinaungi semacam ijuk. Berbagai serangan sempat menghancurkan makam itu, namun penduduk Qom lambat-laun menjadikan makam itu berkubah dan bermenara sederhana. Padahal, pada 447 Hijriyah, seorang menteri Taghral, Mir Abul Fazl, membuatkan kubah yang lebih besar di atas kubah pertama setinggi 14 meter.

Di era pemerintahan Safavi, makam memiliki empat ruangan berjajar, satu ruangan di antaranya menyediakan pintu masuk dan satu lagi ruangan menyediakan pintu keluar. Baru di era pemerintahan dinasti Qajar, Raja Fatah Alishah memberikan perhatian ekstra kepada makam sehingga membangunkan mausoleum secara lebih besar dan anggun. Ruang-ruang, dekorasi, dan bilik-bilik yang ada sekarang sebagian besar adalah peninggalan era dinasti Qajar. Pada 1208, Qum dikuasai Agha Mohammad Khan Qajar. Fatah Ali memperbaiki kompleks makam sesuai dengan nazarnya. Kubah dilapis emas, ukiran-ukiran dan keramik Iran, serta kaca-kaca kristal di dalam makam.

Karena selalu ramai pengunjung dari dalam dan luar kota dan bahkan dari mancanegara, tak aneh jika kawasan sekitar kompleks menjadi sangat meriah dan dipadati oleh toko-toko perangkat salat, kitab, batu-batu berharga, pakaian, suvenir, hotel, losmen, restoran, dan rumah-rumah makan. Hal itu mengingatkan saya seperti kawasan sekitar makam Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur.

Selain makam, terdapat juga museum Haram Hazrat Maksumah salah satu museum tertua di Iran yang didirikan pada 1926. Museum yang terdiri dari dua aula yang diperindah seni keramik yang bernilai seni tinggi itu terletak di sisi kompleks mausoleum. Obyek dipamerkan berupa barang-barang berharga, seperti Kitab Suci Al-Quran dengan seni kaligrafi abad ketiga Hijriyah dan ornamen era Safavi. Ada pula permadani karya seniman tersohor Iran, Nikmatullah Jushqani.

Selain itu di Qom terdapat masjid yang dipercaya tempat Imam Mahdi akan turun ke bumi kelak. Masjid Imam Zaman, Jamkaran, terletak di sebuah kawasan pinggiran kota Qum. Masjid ini memiliki nilai mistis lebih tinggi dibanding masjid-masjid lainnya di Iran karena dipercaya didirikan berdasarkan petunjuk langsung dari Imam Mahdi, imam ke-12 atau imam terakhir kaum Syiah yang dipercaya kini sedang gaib dan akan muncul di akhir zaman sebagai juru penyelamat umat manusia.

Di masjid ini dianjurkan salat sunah empat rakaat, dua dengan niat tahiyatul masjid, lainnya dengan niat salat Imam Zaman. “Katanya, barangsiapa menunaikan salat di tempat ini pahalanya sama seperti salat di dalam Ka’bah,” kata Alireza, pemandu Tempo. Pada malam Nisfu Sya’ban atau setengah bulan menjelang bulan puasa, masjid dan area ini dipadati ribuan pelawat. Karena pertengahan bulan Sya’ban diyakini kaum Syiah sebagai hari lahir Imam Mahdi.

Di kawasan pinggiran Qom, juga terdapat rumah Mulla Sadra, filsuf besar abad ke-11 Hijriyah yang berhasil merekonstruksi dan mengembangluaskan aliran filsafat transendental. Rumah filsuf yang hidup di era dinasti Safavi direnovasi pada 1998 tanpa mengubah struktur awalnya. Rumah berupa bangunan batu bata warna cokelat dan menyerupai masjid atau musollah karena memiliki kubah. Pada kubahnya terdapat jendela-jendela kecil dengan kaca warna-warni untuk membiaskan cahaya matahari ke dalam ruangan. Dari jalan bebas hambatan masjid itu masih tampak melambaikan salam selamat datang dan selamat jalan, seolah-olah sang filsuf memberi salam dari Qom.

Ahmad Taufik (Qom, Iran)

Rabu, November 28, 2007

Sektor Keamanan : Cuma Pura-pura Reformasi

Tanggal 30 Mei 2007, di Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, empat warga sipil tewas seketika dan delapan lainnnya luka-luka. Penyerangnya, pasukan khusus Angkatan Laut, Marinir.
Kasus penembakan petani di Alas Tlogo itu mengejutkan publik, mengingat konteks zaman yang sudah berubah. Pasca orde baru, institusi militer berulang kali berusaha meyakinkan publik, bahwa telah dilakukan dengan sekuat tenaga kultur dan karakter institusi tersebut, dari yang dikenal sebagai institusi represif di masa lalu menjadi militer modern profesional.
Petinggi militer di banyak kesempatan selalu menyatakan komitmennya untuk meninggalkan arena politik praktis, patuh pada supremasi hukum. Serta lebih fokus pada penguatan kapasitas profesionalnya sebagai prajurit. Sayangnya, insiden Alas Tlogo membuktikan bahwa harapan itu masih jauh untuk dicapai.
Bahkan setelah ditelusuri lebih jauh, insiden Alas Tlogo itu terjadi karena Yayasan Sosial Bhumyamca merupakan perusahaan di bawah koordinasi TNI AL yang bekerjasama dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dalam PT. Kebun Grati Agung. TNI AL lewat Primer Koperasil AL mendapat 20 persen saham selebihnya milik RNI.
Kehadiran prajurit militer di lapangan (perkebunan) hanyalah menjadi centeng pengusaha. Tak beda jauh dengan kejadian pada masa rezim orde baru. Dalam kasus Tanah Badega, di Garut Jawa Barat pada 1986-1987, misalnya, keterlibatan prajurit militer hanyalah menjadi budak PT. SAM (Surya Andaka Mustika).
Dua hari setelah pembantaian di Alas Tlogi, di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, calon Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menggandeng militer aktif Mayor Jenderal TNI Prijanto menjadi wakil calon Gubernur pada pemilihan Gubernur Agustus 2007. Prijanto pernah menjabat Komandan Komando Resor Militer-051/Wijayakarya Daerah Militer Jakarta Raya tahun 1999 sampai 2000. Kemudian Prijanto menjabat Kepala Staf Komando Daerah Militer Jakarta Raya tahun 2005 sampai 2006, sebelum menjabat Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Darat mulai 5 Mei tahun 2006.
Pilihan itu bukan saja menyakiti, para calon dari pensiunan militer yang sudah lama berkecimpung di partai politik dan institusi sipil, tetapi juga menodai reformasi TNI yang pernah dicita-citakan, tak terjun di bidang politik. Apa komentar calon Gubernur DKI, Fauzi Bowo, “Dia (Prijanto) tahu semua proyek vital di Jakarta." Semua yang berkaitan dengan militer tak lepas dari proyek rupanya.
Kedua peristiwa gress itu langsung ditonjolkan media massa di Indonesia, bahwa reformasi TNI ternyata cuma pura-pura. Anggota Komisi I DPR Andreas Pareira kepada Media Indonesia, misalnya mempertanyakan reformasi TNI. Sebab hingga saat ini praktik lama kekerasan TNI terhadap rakyat kembali berulang.
Andreas mengingatkan sebelum insiden di Pasuruan, terjadi kekerasan lainnya oleh aparat TNI yakni pembunuhan Man Robert akibat dianiaya, di Solok, beberapa waktu lalu. Menurutnya, reformasi struktur organisasi TNI ternyata tak menyentuh sampai kepada reformasi perilaku prajurit TNI. "Ini gaya lama dan harus menjadi perhatian utama para pimpinan TNI. Kalau dibiarkan, selain akan menebar ketakutan masyarakat, juga akan mengakibatkan munculnya perlawanan masyarakat kepada TNI sebagai aparat negara,"katanya.
Insiden di Solok terjadi ketika lima anggota Kodim Solok diduga melakukan penganiayaan Man Robert hingga tewas. Mayatnya ditemukan mengambang di Danau Singkarak pada setelah dikabarkan hilang sejak Minggu (20/5/2007) malam. Dugaan sementara, Man Robert diculik oknum TNI setelah terlibat pertengkaran dengan seorang penumpang Kijang Innova hitam, yang merupakan komandan Kodim 0309 Solok, Letkol Untung Sunanto. Saat itu, korban dan empat temannya yang berprofesi sebagai 'Pak Ogah' itu, mengatur arus lalu lintas di ruas jalan yang ambrol akibat gempa di pinggir Danau Singkarak.
Terjadi cekcok karena penumpang mobil Innova itu tersinggung setelah mobilnya digedor oleh korban dan kawan-kawannya saat terjadi kemacetan. Setelah itu, sejumlah anggota Kodim 0309 Solok mendatangi lokasi terjadinya keributan itu untuk meminta pertanggungjawaban para pengatur lalu lintas itu, yang berakhir dengan dibawanya Man Robert oleh aparat berbaju hijau itu.
***
Bisnis, itulah yang ada dalam otak militer Indonesia sejak kemerdekaan, tentara sudah merasa memiliki negeri yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Menurut Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono TNI terlibat dalam bisnis dimulai sejak 1952. Pada saat itu, pemerintah melakukan rasionalisasi terhadap intitusi tentara. "Sejak saat itu, komandan mulai dari Pangdam bahkan sampai Babinsa, boleh mencari pemasukkan sendiri," ujarnya ketika memberi sambutan dalam peluncuran buku "Menggusur Bisnis Militer: Tantangan Pembiayaan TNI Melalui APBN, di Jakarta.
Pada waktu itu, menurut Juwono, pemerintah tidak mampu membiayai tentara. Institusi ini kemudian diserahkan untuk mengelola hasil nasionalisasi dari aset negara penjajah. Waktu itu pemerintah harus menanggung hutang 3 miliar gulden ke Belanda. "Jadi sejak awal pemerintah tidak memberikan uang yang memadai untuk pertahanan dan keamanan," ujarnya. Mulai tahun itu, TNI terlibat dalam bisnis yang kemudian disebut-sebut gurita bisnis tentara.
Termasuk di dalamnya terjadi berbagai penyelundupan, mulai dari kebutuhan pokok, sembilan bahan pokok, sandang sampai peralatan perang. Bahkan, perebutan kekuasaan pada 1965, sebelum terjadi perpindahan kekuasaan politik, diawali dengan persinggungan bisnis antar petinggi militer (Jenderal Achmad Yani, Nasution dan Soeharto).
Kenyataan itu tampak ketika Soeharto, berkuasa sejak Maret 1966. Semua bisnis vital dipegang oleh militer konco-konconya. Misalnya Pertamina. Perusahaan minyak milik negara di pegang oleh Ibnu Sutowo Deputi Operasi/Peperpu KSAD, pada masa itu.
Namun, menurut Juwono, bisnis yang dikelola TNI kemudian mulai menurun sejak 1985, ketika banyak perusahaan swasta naik daun. Soeharto hanya menjadikan militer sebagai centeng untuk perusahaan anak-anak, keluarga dan kawan-kawannya. Sampai dia tergusur, pada 1998, dan tuntutan reformasi terhadap TNI terutama di bidang bisnis dan politik.
Formalnya, menurut Juwono, sejak 2004 bisnis TNI harus dikembalikan kepada. "Sejak 1980-an diskusi soal pelepasan bisnis TNI ini sudah dibahas,"ujarnya. Sesuai amanat pasal 76 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, agar bisnis yang dikelola tentara diseerahkan kepada negara, maka awal 2004 itu kemudian dibentuk Tim Supervisi Transformasi Bisnis TNI. Tim yang anggotanya terdiri dari berbagai departemen ini mendata semua aset dan bisnis TNI. "Dari 1.500 usaha, yang termasuk dalam kategori korporasi, dengan aset di atas US$ 50 ribu, hanya enam sampai tujuh perusahaan," kata Juwono.
Tim ini sepakat untuk tidak menyerahkan badan hukum berupa koperasi dan yayasan yang langsung berhubungan dengan kesejahteraan prajurit dipertahankan. Dua badan hukum ini, kata Juwono, adalah lembaga yang selama ini menopang kebutuhan sehari-hari keluarga prajurit, termasuk beasiswa anak-anak tentara. "Ke depan pemerintah yang harus bertanggungjawab untuk menuhi kebutuhan tersebut," ujarnya.
Menurut Ketua Komisi Pertahanan DPR, Theo L. Sambuaga, penyerahan aset bisnis TNI kepada negara tidak selalu mulus. Menurut politikus dari Partai Golkar ini, banyak aset terutama yang berupa tanah, disewakan kepada pihak ketiga. Salah satunya, itulah yang terjadi di Alas Tlogo.
***
Semula orang menduga reformasi TNI berhasil dalam bidang politik, yaitu menyingkirkan militer aktif dalam parlemen dan pemerintahan sipil. Bahkan seorang peneliti asal LIPI Jaleswari Pramodhawardani sempat terkecoh, dalam pernyataannya sebuah diskusi buku di Jakarta, menyatakan, "sejak tahun 1998, ketegangan yang terjadi antara sipil dan militer lebih terkait dua isu, bagaimana mengeluarkan TNI dari politik dan dari bisnis. Kalau untuk yang pertama, prosesnya relatif jauh lebih mudah daripada yang kedua," ujar Jaleswari.
Munculnya, Prijanto militer aktif dalam jabatan politisi sipil sebagai calon wakil Gubernur, menunjukkan tesis Jaleswari keliru. Pengamat CSIS J Kristiadi menilai, pencalonan anggota TNI dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) dapat menganggu proses reformasi di tubuh insitusi militer tersebut. "Secara konstitusi anggota TNI hanya boleh memilih, bukan dipilih. Kalau pun dia akan mencalonkan diri harus pensiun terlebih dulu," katanya.
Ketentuan bahwa seorang anggota TNI dapat ikut dalam pemilihan kepala daerah, menurut Kristiadi dapat diartikan bahwa TNI akan kembali pada arena politik praktis yang justru bertentangan dengan reformasi yang kini sedang dijalankan TNI. "Apalagi ada ketentuan seorang anggota prajurit yang kalah dalam bursa pilkada dapat kembali bertugas di dinas kemiliteran meski tidak menduduki jabatan semula. Ini kan, seperti dagelan jadinya," ujarnya.
Karena itu, jika TNI ingin benar-benar menjalankan reformasi hingga menjadi institusi yang profesional dalam menjalankan tugas pokoknya menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI, maka anggota TNI tidak perlu ikut bursa dalam pilkada.

***
Hasil Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Harian Kompas, misalnya, menilai Tentara Nasional Indonesia (TNI) tampaknya sedang berada di persimpangan jalan. Antara meneruskan agenda reformasi dengan meningkatkan profesionalitas dan menahan diri dari politik. Ataukah meninggalkan barak dengan membuka sedikit kebebasan politik di dalam tubuh lembaga pertahanan-keamanan ini?
Ternyata adahal yang sama yang ditemui Kompas dalam penelitiannnya itu, melihat proses politik pasca orde baru, publik mendua saat menyikapi peran TNI saat ini, antara mendukung dan khawatir terhadap penggunaan hak politik TNI. Kesimpulan ini terungkap dari pengumpulan pendapat masyarakat yang secara khusus menyorot peran dan citra TNI menjelang peringatan hari lahirnya, 5 Oktober 2006.
Sebenarnya, citra TNI memperlihatkan kecenderungan membaik, jika dirunut sepanjang reformasi sejak 1998. Pada tahun ini tidak kurang dari 60,6 persen menyatakan citra TNI baik. Namun, di sisi lain mereka yang menilai citra TNI kurang baik justru menunjukkan kecenderungan meningkat.
Jika tahun lalu 22,2 persen responden menilai buruk citra TNI, tahun ini persentase itu meningkat menjadi 35,3 persen responden. Meningkatnya citra buruk TNI tak bisa dilepaskan dari konteks peristiwa yang melingkupi lembaga yang kini berusia 62 tahun itu.
Peristiwa terbesar yang cukup mengguncangkan kepercayaan publik pada 2006 adalah penemuan ratusan pucuk senjata dan puluhan ribu amunisi di rumah almarhum Wakil Asisten Logistik Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Waaslog KSAD) Brigjen Koesmayadi, di Jakarta Utara.
Tak urung, hal ini menjadi polemik yang cukup menimbulkan kecurigaan terhadap adanya gerakan yang tak terkontrol di dalam tubuh TNI. Hampir separuh (47,3 persen) responden menyatakan bahwa penemuan senjata tersebut membuat rasa percaya mereka terhadap TNI berkurang. Lebih lagi, sebagian besar (65,2 persen) responden pun pesimistis, persoalan temuan senjata ini akan diusut sesuai dengan prosedur hukum hingga tuntas. Lepas dari itu, pembenahan dan kontrol atas bisnis senjata di tubuh TNI tampaknya juga belum memperlihatkan hasil nyata. Bahkan, alih-alih berkurang, beberapa hari ini malahan terkuak lagi keterlibatan oknum purnawirawan TNI dalam jual-beli senjata gelap di Amerika Serikat.
Namun, torehan arang yang ditimbulkannya tampaknya tak menghapus citra baik yang sudah mulai dibangun TNI sejak masa reformasi. Ingatan publik akan peran TNI dalam berbagai bencana yang menimpa negeri ini, kesigapan TNI turun ke lokasi bencana, mulai dari letusan Gunung Merapi, gempa Yogyakarta, tsunami Pangandaran hingga lumpur panas Sidoarjo ternyata berhasil membangkitkan apresiasi positif publik. Peran sosial TNI membantu masyarakat dalam berbagai peristiwa mendapat pujian, tiga dari empat (75,0 persen) responden mengaku puas dengan kinerja TNI membantu masyarakat di lokasi bencana alam.
Sayangnya, meski peran sosial TNI mendapat sambutan positif publik, apa yang justru menjadi tuntutan profesional TNI sendiri tampaknya belum memuaskan. Dalam memulihkan keamanan di daerah-daerah konflik, baru 46,3 persen yang mengaku puas, sementara separuh yang lain (50,7 persen) mengaku belum puas. Penilaian terhadap aspek kinerja TNI yang lain seperti menjaga kedaulatan negara pun tidak terlalu antusias disikapi responden.
Terhadap berbagai penilaian kinerja TNI, mereka yang memberi apresiasi positif hampir berimbang dengan mereka yang memberikan penilaian negatif. Secara umum, mayoritas (57,6 persen) publik jajak pendapat memang puas dengan kinerja TNI saat ini. Meski demikian, masih ada 39,7 persen yang merasa tidak puas.
Di antara pujian dan kritik publik, TNI sendiri sedang ada dalam wacana tarik-menarik mengenai peran politisnya. Setelah diredam cukup lama sejak tumbangnya rezim militer Soeharto, kini hak-hak politik anggota TNI mulai dipertanyakan lagi. Keinginan untuk memulihkan hak politik anggota TNI justru beredar di kalangan DPR yang notabene merupakan representasi dari partai politik. Tampaknya persoalan peran politis TNI di mata publik ini memang menimbulkan kegamangan, antara dibiarkan tetapi dikhawatirkan.
Di satu pihak berkembang wacana mengembalikan hak pilih TNI dalam pemilu, yang berarti langsung atau tidak langsung akan kembali membawa TNI masuk dalam praksis politik. Meski dengan cara yang mungkin sama sekali berbeda dengan peran politik TNI pada masa-masa sebelumnya. Di pihak yang lain, tak kurang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri sampai tiga kali dalam forum resmi meminta agar TNI tidak berpolitik.
Pelaksanaan hak politik TNI pun disikapi mendua oleh masyarakat. Separuh (49,2 persen) publik jajak pendapat ini tidak keberatan prajurit TNI diberi kembali hak untuk memilih seperti pada Pemilu 1955, sementara separuh yang lain (48,8 persen) menolaknya. Di sisi yang lain, kekhawatiran publik diam-diam merebak. Jika TNI diberi hak pilih untuk memberikan suara dalam pemilihan umum, dikhawatirkan TNI akan sulit menjaga netralitasnya. Tidak kurang dari 62,1 persen responden menyatakan kekhawatiran mereka akan hal tersebut. Terlebih, di mata 65,5 persen, selama ini TNI lebih berpihak kepada penguasa ketimbang rakyat.
Pernyataan Presiden Yudhoyono agar TNI tidak berpolitik sangat beralasan. Setidaknya, bagi mayoritas (67,9 persen) responden yang memang menilai TNI masih berpengaruh sangat kuat dalam perpolitikan di negeri ini. Namun, keterlibatan politis TNI saat ini diinginkan atau ditolak publik, tampaknya masyarakat pun masih gamang memutuskan.
Untuk kegiatan politik praktis dengan tujuan memperoleh kekuasaan daerah, misalnya, publik cenderung menginginkan figur sipil lebih tampil ketimbang figur militer. Tidak kurang dari 61,7 persen dengan tegas menyatakan tidak setuju jika ada anggota TNI yang terjun berpolitik untuk memperebutkan kursi kekuasaan dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Tampaknya, sebagian besar publik tak ingin kembali ke masa lalu ketika jajaran kepala daerah didominasi oleh militer.
Jika publik masih menampakkan sikap yang ragu terhadap peran TNI di bidang politik, di bidang bisnis secara tegas publik menolak keikutsertaan TNI. Meskipun lebih dari separuh responden (66,2 persen) memandang kesejahteraan anggota TNI saat ini masih memprihatinkan, mayoritas (86,2 persen) menolak TNI berbisnis dan dengan tegas menyatakan negaralah yang seharusnya menjamin kesejahteraan hidup para prajurit tersebut.
Hanya satu dari sepuluh (11,8 persen) responden yang setuju anggota TNI berbisnis. Berbagai hasil jajak pendapat ini semakin menunjukkan sosok TNI di negeri ini yang dipandang tidak selalu dalam satu sisi. Dalam beberapa sisi, keberadaannya kadang kurang diingin, namun di sisi lain pamornya sebagai kelompok terlatih penjaga pertahanan negara tetap selalu menarik perhatian, terkadang kebanggaan. Kebanggaan seperti diungkapkan oleh 63,6 persen responden seandainya ada saudara/famili yang menjadi TNI, mungkin cukup memberikan gambaran tingkat penghargaan yang cukup tinggi terhadap kelas sosial mereka.
***
Kasus Kusmayadi, Alas Tlogo dan Wagub Prijanto merupakan kegagalan dalam reformasi TNI. Nantinya, akan berkaitan dengan rencana ke depan bangsa ini, terutama berkaitan dengan beberapa rancangan undang-undang (RUU). Antara lain RUU Pertahanan dan Keamanan Negara (Hankamneg), Intelejen, Rahasia Negara dan Komponen Cadangan.
Tak heran jika media massa menyoroti hampir semua tingkah laku TNI. Harian Kompas banyak menulis tentang belum siapnya reformasi dalam tubuh TNI. Cuma dalam menyampaikan kritik, Kompas, seringkali tak langsung pada sasarannya. Sehingga sulit dimengerti bagi masyarakat awam. Tulisan kritis terhadap militer justru datang dari para penulis opini, yang bukan orang “dalam” Kompas.
Majalah TEMPO lebih kritis dan langsung menohok. Misalnya, tentang penemuan 103 pucuk senapan, 42 pistol, 6 granat, dan hampir 30 ribu peluru di rumah mendiang Brigadir Jenderal Koesmayadi. Bagi Tempo itu merupakan hal yang serius.
Soalnya, menurut TEMPO, berbagai konflik bersenjata, seperti yang belum lama terjadi di Aceh dan Maluku maupun yang masih berlangsung seperti di Poso dan Papua, sering memunculkan pertanyaan tak terjawab: dari mana senjata standar militer para pelaku kriminal itu diperoleh? Termasuk juga ketika, dalam pekan yang sama, seorang penjual senjata otomatis Uzi di Jakarta Utara ditangkap polisi. Dan sebelumnya, ketika polisi melaporkan telah menyita senapan serupa dari kelompok Jamaah Islamiyah. Temuan di rumah Brigjen Koesmayadi mudah-mudahan akan menjadi titik terang dalam upaya melacak asal-usul peredaran senjata militer gelap yang telah menyebabkan berbagai aksi kekerasan di republik ini, bahkan juga ke luar negeri.
Kompas juga termasuk yang rajin mengamati hal-hal yang formal seperti misalnya pengajuan RUU yang berkaitan dengan TNI. Edagkan Tempo Interaktif, lebih ke soal pernyataan dan kegiatan yang bernilai news-nya.
Bisa dilihat misalnya, dalam pemberitaan mengenai RUU Hankamneg, yang draftnya diajukan oleh Departemen Pertahanan Menteri Pertahanan, kepada situs Tempo Interaktif secara jelas menyatakan, pemisahan TNI-Polri adalah bentuk kebablasan reformasi TNI 1998-1999. Ini seperti memutar balik reformasi TNI yang telah membagi persoalan keamanan kepada polisi sedangkan pertahanan kepada TNI.
RUU itu membutuhkan pengaturan tugas perbantuan TNI dalam masalah keamanan. Tugas perbantuan TNI merupakan tugas-tugas yang diberikan kepada TNI selain tugas pokoknya, menjaga pertahanan negara. Hampir semua negara yang menganut prinsip supremasi sipil memiliki regulasi perbantuan militer. Untuk memperjelas, karena tugas pertahanan dan keamanan memiliki concern yang berbeda.
Kerangka tugas keamanan dan ketertiban Polri kini adalah pelayanan dan pengayoman. Melayani masyarakat dalam hal ketertiban dan keamanan. Melindungi masyarakat dalam hal ketertiban dan keamanan pula.
Cara dan pendekatannya bukan ancaman dan represi, melainkan informasi, komunikasi, persuasi. Dapat kita bayangkan, betapa tidak
sederhananya pekerjaan itu. Di samping mendorong Polri terus-menerus
secara sungguh-sungguh mereformasi diri, masyarakat tidak bisa tinggal diam atau bersikap terima beres.
Ketertiban dan keamanan, apalagi rasa aman sekaligus, merupakan
tanggung jawab masyarakat. Bahkan, reformasi prodemokrasi dan hukum
dan hak-hak asasi manusia, juga memberikan ruang, kesempatan,
tantangan dan tugas lebih besar kepada masyarakat.
Membangun ruang, kesempatan dan tugas lebih besar kepada
masyarakat, agar diterima dan dipahami oleh publik serta para
eksponennya sebagai bagian dari membangun masyarakat madani, civil
society.
Pembagian tugas itu, sebagai konsekuensi dari konsep military
operations other than war (MOOTW) Konsep MOOTW lahir dan muncul sebagai akibat mulai berkurangnya ancaman perang yang bersifat militer (konvensional) dan kian beragamnya ancaman negara yang bersifat nonmiliter.
Menurut Amien Rais ide penyatuan TNI-Polri seperti yang diisyaratkam Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, menandakan dasar lonceng keterpurukan demokrasi. Jika kekuatan militer sudah mengkooptasi kekuatan polisi, sebenarnya salah satu sendi demokrasi, menurut guru besar Ilmu Politik Fisipol UGM Yogyakarta sudah mulai patah. “Jika itu terjadi, sistem Orde Baru yang ditinggalkan akan kembali lagi,”katanya.
Dalam UU No 34/2004 tentang TNI disebutkan 14 macam operasi
militer selain perang, tetapi hingga kini belum dilengkapi mekanisme
dan tata cara pelaksanaannya. Sebagai prinsipnya, tugas perbantuan
TNI ini dilakukan berdasarkan keputusan-keputusan politik pemerintah.
***
Kegagalan reformasi TNI juga terlihat dari penerapan hukum. Dalam kasus penembakan di Alas Tlogo misalnya, pemeriksaan prajurit pada insitusi militer menodai reformasi TNI, sekaligus mengundang kritik. Ketua Komisi Yudisial Busro Muqoddas, misalnya, menyatakan kasus penembakan aparat terhadap masyarakat Pasuruan Jawa Timur sebaiknya diproses hukum di peradilan umum.
Sebab jika diadili di peradilan militer, nuansa esprit de corps ( semangat melindungi korps militer) akan sangat kental. Jika diadili di peradilan umum, menurut Busro, maka prinsip equality before the law atau kesetaraan dan transparan akan terwujud. “Mereka yang terlibat di Pasuruan itu selayaknya kemudian diproses di peradilan umum bukan peradilan militer. Kalau diproses di peradilan militer, kita tahu, korps militer sangat kental," katanya.
Menurut Busro, prinsip kesetaraan dan transparan harus dikedepankan sehingga memang kasus Pasuruan mestinya diproses di peradilan umum. Selain itu, jika kasus Pasuruan diadili di peradilan umum, sekaligus menjadi warning bagi peradilan umum agar berhati-hati dalam membuat keputusan
Dalam kasus di Pasuruan tersebut, Busro menilai ada satu sisi yang menarik untuk ditelaah yaitu sejauh mana tentara baik secara kelembagaan maupun struktural berpandangan terhadap rakyat dan hak-haknya. “Jika rakyat dipandang sebagai satu komunitas bahwa dari rakyatlah kekuasan memperoleh legitimasi, pemasukan dari pajak mereka termasuk untuk membeli peluru tentara, maka mestinya itu tidak untuk melukai rakyat,”ujarnya. Begitu juga kasus-kasus lain yang berkaitan dengan orang sipil dan tindak pidana “sipilis”, walaupun pelakunya tentara, tak boleh lagi diadili di peradilan militer. Karena melihat perbuatannya itu.
Menurut Koordinator Advokasi Imparsial, Donny Ardyanto, dalam bisdang hukum aturan yang dikritisi menyangkut struktur dan organisasi peradilan militer. Seharusnya, pembinaan personel militer, organisasi, prosedur, administrasi dan finansial di lingkungan peradilan militer tidak ditempatkan di bawah panglima TNI untuk menghindari pengaruh komando, juga tidak ditempatkan di bawah Mahkamah Agung. “Bertentangan dengan prinsip TNI sebagai eksekutif (ketika di bawah MA),” katanya. Sementara itu dalam penanganan kasus masih di bawah MA.
Tentang fungsi atasan yang berhak menghukum (Ankum) dan Perwira Penyerah Perkara tidak boleh mempunyai wewenang penuh dalam menentukan yuridiksi pengadilan terkait dengan tindak pidana yang dilakukan prajurit TNI. “Luasnya kewenangan serta kecendrungan ekslusifisme lingkungan militer membuka peluang penutupan kasus yang sebenarnya merupakan wilayah hukum pidana umum,” ujarnya.
***
Memang proses reformasi memerlukan saling kontrol dan saling
mengingatkan. Tetapi, proses reformasi juga memerlukan saling percaya
dan saling memberikan kesempatan. Proses reformasi memerlukan waktu
dan karena itu juga memerlukan suasana yang kondusif.
Menurut pakar militer Salim Said, salah satu tantangan reformasi
keamanan adalah menarik tentara masuk dan bisa menempatkan diri dalam 'agama baru', yakni the religion of democracy. Termasuk dalam konteks ini adalah mencegah polisi termiliterisasikan dan badan-badan intelijen didominasi oleh tokoh dan wacana militer.
Tanpa kesediaan militer untuk masuk ke era baru, sulit bisa diwujudkan konsep keamanan yang lebih menyeluruh dan berpusat pada manusia. Salim melihat ada dua kendala besar. Pertama adalah keengganan tentara untuk bisa mempercayai sipil dan mengakui supremasi sipil. Kedua adalah kesiapan dan keberanian di kalangan sipil sendiri. Contoh teranyar, adalah pasangan Cagub/Cawagub DKI Jaya, Fauzi Bowo/Prijanto itu.
Seorang tentara senior lainnya, Hasnan Habib melihat masih dominannya pandangan dwifungsi di kalangan militer, sehingga mempersulit penegakan profesionalisme di kalangan tentara. Meski ada pandangan yang lebih sesuai untuk era sekarang, the old professionalism, yang dipromosikan Samuel Huntington, tentara profesional di bawah kendali sipil. Namun, kalangan tentara Indonesia condong menganut the newprofessionalism ala Alfred Stephan, yang menjadi basis legitimasi dwifungsi militer di banyak negara berkembang.
Padahal, menurut Salim Said, Stephan sebenarnya hanya memberi baju baru kepada kenyataan di dunia ketiga. Yang memang didesain oleh pemerintah AS untuk menjustifikasi keterlibatan tentara di dalam politik, terutama di bawah rezim Amerika Latin yang didukungnya. Pandangan ala Stephan ini masih dominan di kalangan tentara Indonesia.
Kendala lain datang dari para politisi sipil sendiri, menurut Salim Said masih ada kegamangan sipil bila memutuskan sesuatu terhadap institusi militer. Misalnya, saat parlemen mau menentukan, calon Panglima TNI. Walaupun itu jabatan militer, tetapi penentuannya tetap berada di bawah kendali sipil yang terwujud dalam parlemen itu.
Parlemen, menurut pakar politik lainnya Kusnanto Anggoro, sebenarnya bisa memainkan peran penting dalam reformasi militer. "Secara teoritis, kontrol sipil terhadap militer dapat dilakukan melalui beberapa mekanisme," katanya.
Dia menunjukkan beberapa prosedur, antara lain pemandangan umum (public hearing) dan/atau kontrol anggaran (budgetary control). DPR misalnya dapat menyetujui besarnya anggaran pertahanan dan melalui mekanisme itu menentukan "kekuatan" militer.
Departemen Pertahanan menyusun Buku Putih (Defence White Paper) dan Kaji Ulang Strategi Pertahanan(Strategic Defence Riview) sebagian panduan tentara dalam mengembangkan kekuatan operasionalnya. DPR dapat mempertanyakan kebijakan pertahanan dan keamanan yang diambil Presiden, Menteri Pertahanan maupun Kepala Kepolisian Negara."Namun bahkan sebagian naluri kontrol sipil terhadap institusi militer itupun tampaknya belum cukup kuat bersemayam di berbagai institusi demokratik," kata Kusnanto.
Pilar demokrasi yang lain, menurut Kusnanto, media massa. Namun, pada kenyataannya menghadapi persoalan yang kurang lebih sama. Sebagian besar wartawan lebih tertarik memberitakan "politik para jenderal" daripada soal pertahanan substansial.
Harian Republika, tak terlalu tampak tertarik pada soal-soal reformasi dalam tubuh militer. Bagi ketika ada kejadian atau peristwa tertentu, diberitakan sesuai proporsinya. Ulasan panjang soal reformasi dalam tubuh militer baru dibicarakan pada saat seputar dirgahayu TNI.
Jakarta Post, mungkin karena harian berbahasa Inggris, lebih berani mengkritik TNI. Bahkan dalam, peristiwa berkibarnya bendera-bendera separatism belakangan ini. Militer terutama intelejen TNI, dianggap salah melakukan pendekatan terhadap masyarakat. Sebuah contoh kegagalan reformasi dalam tubuh TNI.
Nampak bahwa aliansi dan koalisi sipil untuk membawa militer ke dalam tatanan demokrasi begitu rapuh sehingga tidak menjamin kesinambungan reformasi militer. Perubahan, kalaupun terjadi, semata-mata mengandalkan pada kesukarelaan tentara. Dalam suasana seperti itu, selalu terbuka kemungkinan bagi struktur politik secara maksimal dieksploitasi kekuatan politik tertentu, termasuk tentara.
Saat ini kalangan sipil sudah selayaknya berani mengambil keputusan untuk membagi peran masing-masing dalam bidangnya. Begitu juga TNI harus sadar dengan pilihan yang diambilnya. Semua ini, berkait dengan pembagian peran dalam memajukan dan mensejahterakan bangsa. Seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini.
Dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945, jelas, tujuan proklamasi, yaitu membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Negara tersebut, Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (sekian)

Ahmad Taufik,
Jurnalis anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kini bekerja di majalah Tempo.

Sumber :
Laporan sementara Kontras, 6 Juni 2007
Tempo Interaktif, 31 Mei 2007
Media Indonesia Online, 31 Mei 2007
Kompas, 12 Juni 2007
Kompas, Rabu, 04 Oktober 2006
KOMPAS, Senin, 12-12-2005
Tempo Interaktif, 15/2/2005.
TEMPO Edisi 10 Oktober 2004
Antara, 14 April 2005
Tempo Interaktif 7 juni 2007
Tempo Interaktif, 18 Juni 2007
Republika, 6 Oktober 2006
Jakarta Post, 10 July 2007

Jazz Goes to Campus 2007 :Jazz, Bazzar dan Asem Keringat

Salah satu pertunjukkan jazz tertua digelar di Kampus UI Depok. Penontonnya membludak, kebanyakan menikmati jazz pop.

Udara yang pekat, tanpa angin tak menyurutkan semangat orang-orang datang ke perhelatan ke 30 Jazz Goes to Campus 2007 di Kampus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, pinggiran kota Jakarta, Ahad, dua pekan lalu.
Sejak pukul 09.00, suasana kampus sudah ramai. Banyak jalan ditutup ke tempat itu. Bahkan di luar kampus, jalan menuju pusat pendidikan itu macet. Di dalam kawasan pertunjukkan yang dibatasi dengan terpal plastik warna biru, tampak berbagai stand, mulai dari kaos, souvenir, cakram padat (disc) sampai sate padang meramaikan tempat itu. Suasana bazzar sangat kental. “Ada 63 stand,”ujar Anita, seorang panitia.
Sambil kipas-kipas, dan mengusap keringat penonton yang kebanyakan kaum muda-mudi tumplek di depan dua panggung terpisah; Celebration Stage dan Inspiration Stage menikmati berbagai jenis musik jazz. Mulai dari yang pop, fussion, dixie, swing, groovy sampai yang jazzy banget. “Inspiration Stage merupakan panggung yang memberikan kesempatan kepada penonton untuk lebih dekat kepada yang main. Sedangkan Celebration Stage lebih seperti konser,”kata Ketua Panitia Christa Sabathaly.
Di panggung Celeberation yang menampilkan Ireng Maulana, Idang Rasyidi, Andien, Tompi, Benny Likumahuwa, Iga Mawarni dan grup lainnya lebih semarak dan padat. Sedangkan di panggung Inspiration yang menampilkan Syaharami, Balawan, Sol Project dan kelompok jazz lainnya, tak sebanyak panggung satunya. Pembagian panggung sebenarnya punya maksud, inspiration bagi penikmat benar-benar jazz, sedangkan celebration buat penggemar jazz populer.
Pada awal pertunjukkan para penonton bisa duduk di taman-taman rumput atau di tengah lapangan, di depan panggung, bahkan lebih banyak yang pergi berbelanja di counter-counter bazzar. Namun, sejak Tompi tampil, menjelang sore, keadaan sudah padat, para penonton sudah tak bisa rileks lagi, semua berdiri. Bau asem keringat menusuk saat berbaur, karena udara terbuka yang tanpa angin. “Hebat UI, Hebat,”kata Ireng Maulana sambil melemparkan karcis Jak Jazz buat penonton.
“Saya sejak pertama kali acara ini diadakan pada 1977, dan tiga tahun pertama mengisi acara ini, saya terkesan sekali,”kata Ireng memuji perhelatan yang bisa menyedot banyak pengunjung. Sosialisasi musik jazz ke kampus ini digagas Chandra Darusman , terbukti berhasil menarik minat banyak sponsor pendukung, juga jumlah pengunjung yang terus bertambah setiap tahunnya. Dulu pada awalnya di gelar di Kampus Salemba, Jakarta Pusat. “Waktu itu Chandra masih main. Kami diajaknya, Yuk kita main. Yuk kita nge-jam bareng, waktu itu masih pakai tikar. Bagus, sekali, tujuannya mengenalkan jazz ke masyarakat,”kenang Ireng. Karena tempatnya kecil di Salemba, menurut Ireng, penonton sampai naik ke atas genteng.
Jazz Goes to Campus boleh dibilang even musik jazz terbesar dan nomer dua tertua di dunia. Karena kelahirannya hanya berselang setahun setelah North Sea Jazz Festival Belanda yang merupakan even musik jazz tertua dan terbesar di dunia.
Dalam perjalanannya festival Jazz FE UI ini telah menghadirkan sejumlah musisi ternama dunia seperti Bob James, Dave Koz, Claire Martin Quintet, Ron Reeves, Los Cabaleros, Coco York, Mike Del Ferro hingga Curtis King. Dari negeri sendiri ada Bubi Chen, Benny Mustafa, Benny Likumahua, Yopie Item, Ireng Maulana & Friends, Ermy Kullit, Elfa Secoria, Krakatau, Indra Lesmana Reborn, Riza Arshad, Tohpati, SimakDialog, Donny Suhendra, Iga Mawarni, Syaharani, hingga Tompi. “Tujuan pertama memang memperkenalkan Jazz. Yang main waktu pertama kali di bawah pohon, itu sudah meninggal semua. Tapi spiritnya tetap ada,”kata Idang Rasjidi yang hanya absen sekali selama keberadaan festival ini.
Musik Jazz berkembang di Universitas Indonesia tak lepas dari kendali pemerintahan orde baru yang menerbitkan kebijakan apolitis mahasiswa dan kampus (NKK-BKK) pada 1978. Sedangkan kampus-kampus lain, seperti ITB Bandung dan UGM Yogyakarta musik itu tak begitu berkembang, karena mahasiswanya masih sibuk “melawan” pemerintah. Jazz juga dianggap milik “kaum elit”.
Padahal sejarah jazz yang lahir di Amerika Serikat 1868, dan berkembang pada 1917, justru dimainkan kaum kulit hitam di New Orleans. Mereka main di bar, rumah judi dan tempat bordil (pelacuran) yang tumbuh disana.
Di Indonesia, musik ini dikembangkan oleh Jack Lesmana dengan mendirikan sekolah musik pada awal 1970-an. Chandra Darusman, Abadi Soesman, Benny Likumahua, dan anak sendiri Indra menjadi “kelinci” percobaan yang meneruskan sehingga musik ini berkembang pesat. Anak muda, begitulah sasaran Jack menularkan jazz. Chandra membawanya ke kampus UI.
Salah satu keunggulan Jazz Goes to Campus adalah melahirkan grup jazz anyar, lewat jazz competition yang digelar beberapa hari sebelum pertunjukkan akbar. Hasilnya tak jelek, misalnya Witry and friends juara pertama tahun ini yang tampil awal di panggung selebriti, suaranya empuk jazzy dan sang penyanyi cabtik pula. Cuma sayangnya, kelompok ini masih menyanyikan lagu-lagu asing.
Berbeda dengan Tompi yang energik, dengan modal ketenarannya saat ini, berani tampil membawakan lagu Balonku Ada Lima, dan Ketahuan milik Matta dalam balutan jazz. “Memang ada beberapa band yang pronounciation-nya sengaja dibikin-bikin biar terkesan bule, keren. Kalo menurut gue, kalo berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kalo nyanyinya enak, tetap enak kok,”kata dokter yang sudah tampil tiga kali di tempat yang sama.
Banyak tampilnya jazz pop membuat Imam Sasongko, 49 tahun, kecewa. Penonton yang membawa serta istrinya, dosen Politeknik Negeri Jakarta mengaku ingin menikmati alunan Jazz mainstream. “Saya kurang puas dengan apa yang ditampilkan, terlalu populer. Mungkin wajar karena, yang datang anak-anak muda,”katanya.
Memang, sejak pagi hingga siang, selain penikmat jazz populer, perhelatan ini menjadi ajang kumpul-kumpul dan pacaran. “Aku kesini mau nonton aja. Kumpul sama teman-teman,”ujar Viki Fitriati, 16 tahun, yang mengaku bukan penggila jazz.
Salah seorang pianis yang tampil rapi solo Nial Djuliarso juga berharap sama seperti Imam. “Pemain sudah banyak. Saya berharap ada yang mengarahkan untuk lebih ke mainstream,”kata pemusik yang sudah kahot di manca negara.
Namun, seperti yang dikatakan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang memberikan orasi dan menyerahkan penghargaan kepada jazzer gaek Benny Likumahua, agar tak hanya sekadar mendengarkan musik. “Saya kira ini sesuatu produk maupun aktivitas yang bagus. Apresiasi anak muda terhadap seni. Sekarang gimana apresiasi itu tidak sekedar mendengar, tapi mencerminkan apresiasi rasa orang di dalam konteks memahami keadaan, mengantar seseorang membangun ekspresi, baik emosi, bicara rasa, bicara kegagalan, dan bicara keberhasilan,”ujarnya. Walah!

Ahmad Taufik, Bayu Galih

Beyounce : Good Morning Angel

Pertunjukan Beyounce bukan hanya mengandalkan suara emasnya. Tapi juga kemasan panggung dan show yang menghibur.

Busana tank top warna perak menyala sampai sejengkal di bawah ujung paha, dengan sayap sampai tanah dan lagu Crazy in Love, membawa Beyonce menggebrak “hanggar” Jakarta International Event and Convention centre, Mangga Dua Square, Jakarta. Sorot lampu terang dari berbagai sudut, seolah memperlihatkan ‘bidadari’ baru turun diantara cahaya matahari pagi. Penampilan awalnya tak ayal memancing teriakan histeris sekitar 5.000 penonton, “Beyonce…Beyonce….”
Di tengah lagu dari album Dangerously in Love, yang laku 300 ribu lebih hanya dalam waktu sepekan pada 2003, sayap busana bawah dilepas. Sehingga dia hanya mengenakan busana terbuka di bagian atas dan setengah paha di bagian bawah. Bahkan “robekan” di sisi kanan membuat roknya melambai-lambai saat kena angin memperlihatkan batas ujung stoking. Tak heran Malaysia “gerah” jika Beyonce tampil, dan mengundang protes kaum puritan agama negeri itu.
Memang hot penampilan Beyonce Giselle Knowles, begitu nama lengkap penyanyi kelahiran Houston, Texas, Amerika Serikat, tahun 1981, sepanjang pertunjukan. Lebih dari tujuh kali ganti busana, mulai dari hanya berkutang hitam dengan terusan panjang transparan ala penari perut , merah tua, sampai yang hanya mempertontonkan celana dalam warna emas, yang terkena efek angin di depan panggung.
Busana-busana itu menunjukkan penyabet Grammy Award 2006 untuk jenis lagu R& B benar-benar entertainer sejati, dan kepiawaianya sebagai disainer mengemas show apiknya. Tata panggung, latar belakang, efek cahaya dan sinar laser, penampilan serta suara prima menghapuskan kesan jorok seperti yang disandangnya selama ini. Terutama setelah tak sengaja, baju Beyonce tersingkap sehingga bagian terlarangnya bisa dilihat seluruh penonton di Kanada.
Adegan itu terekam kamera dan beredar di situs YouTube, sampai pekan lalu lebih dari 3 juta orang mengklik potongan rekaman itu. Tak heran dalam pertunjukkannya di Jakarta Beyonce tak mengizinkan media online merekam pertunjukkan dengan kamera. “Saya tak tau kenapa alasan Beyonce tak mau media online merekam dengan kamera selama pertunjukkan,”ujar kordinator media untuk media Daniel Tumiwa.
Dalam penampilannya di Jakarta pada The Beyonce Experience World Tour, bekas anggota kelompok vokal Destiny’s Child itu bukan hanya menunjukkan suara emasnya, tetapi keseluruhan pertunjukkanya. Sehingga saat Beyonce tak muncul ke panggung, tampilan penari, pemusik maupun backing vokalnya juga kuat mendukung, sehingga seakan tak ada jeda. Misalnya, saat lagu Check on It, penari latar menggunakan kaca pembesar berpakaian Sherlock Holmes, di layar belakang, tampak film digital tokoh macan kumbang Pink Panther. Memang film itu yang mengajak Beyonce ke dunia film, sekaligus sebagai soundtracknya. “Good Morning Angel,”begitulah suara sebelum “sang bidadari” muncul membasmi para penjahat dalam film itu.
Beyonce juga mampu berkomunikasi dengan penggemarnya. Bahkan Beyounce membiarkan para penonton menyanyi bersama-sama hampir satu lagu, dan pas. “Saya tak melihat kekurangan pertunjukan itu, perfect,”kata bekas penanyi AB Three, Lusi Rahmawati, sambil mengajukan dua jempol tangannya.
Hadirnya Beyonce ke Jakarta adalah buat gigihnya Rinny Noor dari Nepathya Entertainment. “Saya ngejar dia sejak Juni baru dapat kepastian 25 September lalu, setelah dia switch tak tampil di Malaysia,”katanya. Rinny tak tahu pasti alasan Beyonce memilih tampil di Jakarta. Kabarnya, selain soal kritikan Islam puritan Malaysia tentang busana tampil, juga tak ada tempat yang pantas untuk show Beyonce.
Masalah tempat penampilan di JITEC juga menjadikan bahan kritikan aktifis politik Fadli Zon. “Sayang pertunjukan bagus seperti ini mustinya tampil di JHCC, bukan di gedung atas pertokoan seperti ini,”katanya. Fadli memboyong isteri dan anak gadisnya Syafa, 9 tahun, menonton di kelas festival. “Anak saya, penggemar berat Beyonce dia hapal semua lagu-lagu yang dinyanyikan tadi,”katanya. Bravo Beyonce !

Stroke: Terapi Mal Piek Mulyadi

Terapi sendiri stroke mempercepat pemulihan diri. Piek Mulyadi membuktikan, tekad, analisa diri mampu membuat dirinya bangkit.

Jika anda melihat seseorang dengan kursi roda atau jalan tertatih-tatih menyeret kakinya di pusat pembelanjaan. Mungkin itu, salah seorang pengikut terapi ala Piek Mulyadi. Lelaki kelahiran Surabaya 77 tahun yang lalu, berhasil pulih dari penyakit stroke. Salah satu caranya, mendatangi mal. “Ini untuk menumbuhkan kepercayaan diri,”ujarnya.
Stroke penyakit syaraf yang menduduki peringkat utama penyebab kematian itu menyerang mantan Direktur Jenderal Pembangunan Daerah, Departemen Dalam Negeri. Saat itu Piek, 1996 berencana menuju ke tempat kerja, merasakan awaknya tak enak, mampir dulu ke dokter keluarga. Dokter menyarankan agar tak perlu melanjutkan ke kantor dan istirahat saja di rumah. Karena darahnya sedang tinggi.
Namun, karena merasa banyak janji dan sejumlah tugas yang sudah menunggu, Piek tak peduli saran itu. Apalagi dia yakin, tak mungkin terserang penyakit bloedrek itu. “Wong, saya ini, pendonor darah yang tetap bertahan ke PMI, kok,”katanya. Tetapi tekanan darahnya menunjukkan angka 200. Saat Piek ke Palang Merah Indonesia, lembaga itu juga menolak menerima donor dengan lasan tekanan darah tinggi itu.
Karena kesibukannya, bekas Wakil Gubernur Jakarta itu lupa dengan darah tingginya. Beberapa hari, sesudah ketidaknyamanan tubuhnya, Piek bermain dengan cucu-cucunya ke pusat perbelanjaan yang dibangunnya, Mal Ciputra dan Hotel. Naik turun tangga, lari-lari kecil membuat emosinya meluap gembira.
Esoknya saat masih di tempat tidur, rupanya, sang cucu belum puas main-main dengan eyangnya. Namun, ternyata Piek tak bisa bergerak, mau memeluk cucu malah terjatuh. Langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter dan suster yang menangani tak segera bergerak, hanya bilang harus istirahat, kecapekan saja. Tak puas dengan informasi dari pelayanan medis itu, Insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), terus mencari tahu kepastian penyakitnya itu.
Seorang teman yang punya pengaruh di rumah sakit itu, meminta Piek benar-benar dilayani sepenuh hati. Akhirnya ditentukan, harus discan. Ternyata di rumah sakit tersebut tak ada fasilitas MRI--alat scan--. Piek dirujuk ke Rumah Sakit Pertamina, Jakarta Selatan. Dua hari di rumah sakit itu belum juga ditangani. “Itu yang bikin saya sesalkan,”katanya.
Menurutnya, ada golden periode, yang hilang, yaitu masa emas untuk segera mengambil tindakan saat stroke menyerang, agar tak mengalami kelumpuhan atau yang lebih parah, sampai pada kematian. Beruntung, walaupun, sudah kehilangan waktu yang berharga itu, Piek bisa berangsur-angsur pulih. Setelah scan, dan diketahui penyakitnya adalah stroke menyerang otaknya, Piek mengalami lumpuh dikembalikan dan dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah.
Dalam masa perawatan dokter, selain obat-obatan, perawat rumah sakit tersebut, juga memberikan terapi, antara lain, menunjuk-nunjukkan jari dan meminta Piek menghitungnya. Sebagai pasien yang berpendidikan, dia ingin tahu tujuan terapi itu. Menurut suster perawat, stroke menyebabkan kelumpuhan dan juga mempunyai efek lupa. Nah, terapi itu salah satu untuk menangani lupa.
Setelah mengetahui tujuannya, Piek, memberi tahu pada suster, justru saat dirawat karena serangan stroke, dia tidak mengalami kelupaan. Bahkan, ingatannya semakin kuat. Piek membuktikan, bahwa ingatannya justru muncul saat ia mengalami kecelakaan di Jerman. Selama ini, sebelum terserang stroke ia tak tahu penyebab ia masuk rumah sakit dan sempat mengalami koma selama lima jam. Dokter di rumah sakit Jerman, hanya mengatakan, mengalami kecelakaan lalu lintas.
Namun, saat terserang stroke, muncullah kejadian awal penyebab koma selama lima jam itu. Inilah ingatannya; saat keluar dari hotel menyeberang jalan, dari jauh tampak sebuah mobil ngebut. “Saya lari dan melompat jatuh kepala membentur trotoar, jadi jidat saya banyak pasir. Karena itulah, saya yakin, bahwa kesadaran dan ingatan saya masih baik,”ujarnya.
Sebulan setelah dirawat di rumah sakit, Piek diminta pulang ke rumah. Namun, penyusun masterplan DKI Jakarta 1965-1985 ini belum mau pulang. Piek menolak karena merasa belum bisa merawat diri sendiri. Dia minta memperpanjang masa tinggal selama satu minggu, untuk merawat bisa merawat diri sendiri di rumah. Ia terus menjalani fisioterapi. “Saya tak mau kehilangan satu haripun jadwal terapi di rumah sakit,”katanya.
Saat masa perpanjangan waktu itulah, Piek menemukan cara mengatasi agar bisa pulih. “Saya melihat seorang pasien yang serupa dengan saya, lagi latihan jalan dipapah oleh suster, lalu mau jatuh. Namun secara reflek pasien itu mencoba mencari pegangan. Memang pasien itu tampak seolah-olah lemah, padahasil ternyata ada power,”ujarnya.
Sesudah melihat kejadian itu, setelah pulang, di rumah, Piek mencoba yang disebutnya “keseimbangan sirkus”. Yaitu, cara seperti sebuah pertunjukkan sirkus, yang mempertontonkan orang berjalan di atas tali dalam ketinggian tertentu. “Dari tempat tidur saya memanggil anak saya, untuk menjagai saya, belajar jalan,”katanya.
Piek mengambil, walker, alat belajar jalan seperti tongkat. Dengan dorongan tenaga sedikit-sedikit dan tekad yang kuat, Piek dapat berjalan sejauh setengah meter. “Saya berhenti saat sudah menggeh-menggeh,”ujarnya. Sejak saat itu Piek menggunakan berbagai macam cara agar bisa jalan, mulai dari pakai dingklik, jalan-jalan di atas pasir di pantai Ancol, sampai jalan ala pramuka, baris berbaris.
Setelah semua cara dilakukan, Piek memikirkan cara untuk mengembalikan kepercayaan diri. “”Saya minta diantar jalan-jalan ke mal Pondok Indah,”katanya. Semua anggota keluarga, heran, tak mau belanja aau urusan lain, tapi minta jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Piek meyakinkan keluarganya, bahwa ini salah satu terapi untuk menumbuhkan kepercayaan diri. Karena orang stroke, apalagi orang yang pada waktu sehat sangat aktif cenderung malu pada masyarakat sekitarnya, karena sakit dan emngalami kelumpuhan. “Saya mau tahu diri saya di mata masyarakat. Bagaimana orang memandang di kursi roda. Ternyata tak ada orang mempersoalkan, tak ada orang ribut,”ujarnya.
Dari terapi mal itulah, Piek dapat mengambil pelajaran bahwa seorang yang terkena stroke, lingkungan sosialnya juga musti dijaga. Jangan sampai orang tersebut terpisahkan diri dari kehidupan sehari-hari. “Misalnya, kalau orang biasa main basket, usahakan main basket walaupun pake kursi roda,”katanya.
Selain mengobati dirinya sendiri, Piek juga mengajak dan memberi motivasi pasien yang lain. “Ada yang berhasil, bagi yang punya tekad tak pantang menyerah, tapi juga ada yang gagal, karena egonya,”ujarnya. Piek juga membentuk klub stroke—kumpulan penyandang penyakit akibat serangan urat syaraf. “Klub itu untuk mengembalikan hasrat hidup, mengurangi rasa minder dan mencegah stress timbul karena sebab tersebut,”katanya.
Klub Stroke Karmel, Jakarta Barat misalnya punya jadwal tiap Hari Rabu. Mulai dari senam pagi bersama, sampai karaoke. "Sebetulnya perkumpulan ini merupakan perpanjangan dari program latihan dasar rehabilitasi untuk penderita stroke. Tujuannya, agar pasien stroke tak hanya duduk diam merenungkan nasib. Mereka harus aktif, menghilangkan kesedihan, depresi, dan kembali bermasyarakat,”kata Pimpinan Sentra Stroke dan Revitalisasi Karmel, Dokter spesialis syaraf Hermawan Suryadi.
Soal klub stroke diakui oleh dokter ahli syaraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung, Nurdjaman, membantu penderita stroke memulihkan diri. “Dengan klub itu sesama penderita bisa share, berbagi pengalaman mengatasi penyakit yang menyerang itu,”katanya.
Namun, sebagai dokter, Nurdjaman, tetap berpendapat memberikan obat-obatan untuk mengatasi sumber utama penyumbatan jalan darah penyebab stroke itu. “Kematian terbanyak pada penderita stroke adalah pasien yang mengalami penyumbatan otak (infark). Penderita yang mengalami penyumbatan darah ke otak mencapai 70 persen, karena itu diperlukan obat-obatan untuk mengurangi penyumbatan tersebut,”katanya.
Selain itu, menurut Nurdjaman, diperlukan pola hidup sehat. “Jangan merokok, minum kopi, alkohol, olahraga secara teratur dan jangan mudah stress,”katanya. Piek juga menyarankan agar pasien stroke mempercayakan diri pada dokter yang menanganinya. “Setelah percaya pada Tuhan, kita juga harus percaya kepada dokter yang menangani kita. Serta jangan malas untuk terus-menerus fisioterapi,”ujarnya.

Senin, September 17, 2007

4. Kontak Lagi

Tak punya harapan lagi bertemu Olie, sudah seminggu dia tak pernah mengontak aku. Aku juga tak pernah melihatnya lagi di halte tempat pertama kali kami bertemu. Tiga hari setelah kegagalanku mengejar bis, pada jam yang sama aku mencoba menunggui dan mencarinya. Selama tiga hari, setiap hari mulai pukul 15.00, aku menunggu di halte itu, sampai menjelang maghrib, aku selalu pulang dengan tangan hampa.

Hari ke empat aku mulai mencoba melupakan Olie, aku kembali menekuni pekerjaanku, sebagai asisten pengacara dan menyelesaikan skripsi ku. Aku tak lagi pergi ke halte dekat Hotel Panghegar.

Tit…tit…tit…bunyi serantaku, tanda ada pesan masuk.

Aku tak lagi bernafsu, sudah seminggu ini, pesan seranta masuk cuma dari kantor atau teman kuliah. Aku baru saja usai makan, siang, lagi enak-enaknya mata tunduh. Apalagi angin sepoi-sepoi menambah nikmatnya hidup kalau bisa selonjoran di sofa, lalu tertidur sampai azan ashar, setelah itu menyeruput kopi, oooh.

Dengan mata tinggal separuh aku pencet tanda baca pesan dalam seranta ku. “Temui aku, di halte biasa pukul 16.30, jangan nggak!”

Yihuiiii! Aku terlompat kegirangan.

Mata tak lagi tunduh, pikiran segera kembali. Wajah Olie muncul terus dalam benakkku. Dada terasa deg-degan menunggu waktu yang dijanjikan Olie untuk bertemu. Saat itu juga aku langsung masuk ke kamar mandi, mengosok-gosokan sabun ke seluruh badan, dan lebih lama di bagian yang paling sensitif, keramas dan bercukur. Aku shalat zuhur dengan riang, dalam bacaan shalat selalu terbayang wajah Olie, begitu juga rukuk dan sujud, mulutku terus komat-kami menyebutkan rasa syukur.

“Alhamdulillah, terima kasih ya, Allah, kamu temukan lagi aku dengan Olie!" Gumamku dalam hati.

Pukul 15.00 aku sudah di halte itu, aku memastikan diri tak telat, lebih baik menunggu satu setengah jam, daripada pikiran jadi gak keruan selama seminggu. Untuk mengusir rasa bosan aku membaca buku yang ku bawa dari rumah “The sexual Wilderness” karangan Packard.

Inginnya mendapat informasi sambil menunggu, malah wajah Olie terus terbayang dalam lembaran-lembaran buku itu. Menunggu satu setengah jam, terasa lama sekali, tiap dua menit mataku menengok kiri kanan, aku tak tahu di mana letak kantor Olie sebenarnya di kiri atau di kanan halte, atau malah di seberang jalan. Tapi aku yakin, kali ini aku akan bertemu Olie.

Benar saja lima menit kurang dari waktu yang dijanjikan perempuan manis dengan rambut tergerai , tubuh dibalut terusan warna putih sedikit di bawah lutut. Sebagai sekretaris Olie cukup berpenampilan sopan, biasanyanya seorang sekretaris, minimal memakai rok di atas lutut. Namun melihat betis Olie saja, lelaki bisa dibikin bernafsu.

Dari kejauhan wajahnya tampak riang, tetapi setelah beberapa meter dan ia melihatku ia mencoba menyembunyikan senyumannya dengan wajah cemberut. Tapi aku tahu ia sedang berpura-pura cemberut. Bukankah pesannya itu berarti dia ingin bertemu aku?

"Hallo Olie," ku sapa lebih dahulu memecah kekakuan.

"Hmmmm," dia cuma begitu.

"E, sorry ya minggu lalu, aku sampai sini cuma lewat lima menit, bis Damri-udah jalan. Maklum deh naik angkot kan gak bisa diprediksi, dia ngetem lama di BIP."

"Bohong, pasti udah ada janjian ama yang lainya, ya?"

Aku diam saja. Kuambil tangannya, ku genggam, dan ku remas, entah dari mana keberanian itu muncul. Olie diam saja, tak berontak, tak menolak dan tak berusaha melepas tangannya dari tanganku.

"Nggak usah naik bis ya, kita jalan aja sebentar cari angin."

"Ya, tapi jangan sampai masuk angin."

Wajah Olie tak lagi ditekuk. Senyum kembali menghiasi bibirnya. Benar tebakanku , memang tadi ia berpura-pura marah, tapi kini tak lagi.

Aku juga lagi senang, hatiku berbunga-bungan, ada cewek cantik bersamaku, udara lagi bagus, dan kantong juga lagi berisi.

"Kamu suka ice cream?"
"Boleh!"

Hanya sepuluh menit menyusuri jalan bungsu, di trotoar yang lebar, tepat di depan Hotel Istana, aku menyeberang jalan. Tak jauh dari situ ada tempat minum dan makan kue, Rasa. Aku pernah diajak oleh temanku. Tempat itu salah satu yang terbaik di Kota Kembang

Penulis Bondan Winarno di Koran Kompas (Minggu, 02 Desember 2001 :Jalansutra ; Nostalgia Bandung) pernah menulis tentang Rasa. “ Di Jalan Tamblong, masih termasuk dalam kawasan "segitiga Braga" ada sebuah restoran bistik yang dulu cukup terkenal. "Steakhouse Rasa", begitu namanya dulu, kalau saya tidak salah ingat. Pemiliknya adalah seorang perempuan Sunda cantik yang menikah dengan laki-laki kulit putih. Restorannya terdapat di dalam sebuah rumah-toko model Belanda - jauh menjorok ke dalam dari bagian depannya. Para tamu harus menunggu lama untuk makanan yang dipesan. Untungnya di situ ada buku-buku tamu yang sudah ditandatangani dan dibubuhi komentar ratusan tamu yang sudah datang sebelumnya. Makan di "Rasa" - pada waktu itu - selalu merupakan kenangan eksklusif yang menyenangkan.
Sekarang tempat itu sudah diubah total menjadi bakery merangkap café. Kita bisa beli berbagai kue lezat, atau duduk di situ sambil makan atau sekadar minum es krim. Menunya tidak sebatas steak atau spaghetti seperti di masa lampau, tetapi sudah diperluas mencakup berbagai hidangan Indonesia lainnya. Laksanya cukup enak di sana. Es krim Coconut Royale juga boleh dicoba. "

"Kamu mau minum apa?"
"Kamu?"
"Disini ada yang enak namanya Pinacolada."
"Apaantuh?"
"Campuran nanas, cocacola dan icecream mocha, rasanya seeedap deh, mau coba?"
"Iya deh."
"Pinacolada dua?"

"Kuenya?"
"Aku berdua saja sama kamu, aku gak kuat makan sendiri."
"Oke, aku pesan cake strawberry chese, kamu suka?"

Olie hanya mengangguk.

Aku tak mau melepaskan tangannya dari tanganku, ku remas-remas, seperti orang melepaskan rindu. Olie diam saja. Mulutku seperti kelu. Kami hanya bisa saling melepaskan rindu seperti itu.

Sampai minuman dan makanan datang, kami baru bisa bercakap-cakap lagi. Aku ceritakan pencarianku ke rumahnya setelah gagal mengejar bis.

"Aku masuk daerahmu, tanpa nama lengkap, tanpa alamat, tiga jam aku muter-muter gak juga ketemu. Masak aku musti teriak-teriak Olie….Olie…Bisa-bisa aku dituduh sedang jual minyak oli lagi, jarang-jarang kan, biasanya orang teriak minyak….minyak, jual minyak tanah."

Olie tergelak, dia menepuk-nepuk bahuku. "Ah, bisa aja kamu?"

"Akhirnya aku ketemu orang suci di situ."
"Siapa tuh?" Dia terpancing
"Santo Yusuf."
"Iiih, itu, kan, nama rumah sakit?"
"Iya, memang aku ketemu plang nama rumah sakit Santo Yusuf, dari situ aku menemukan jalan keluar."

Olie kembali tergelak, tak terasa dua jam sudah kami habiskan di Rasa.

"Kamu suka nonton gak?"
"Terserah kamu."

Aku segera membawa Olie menuju Plaza, bioskop yang biasa memutar film kungfu, film kesukaan aku. Walaupun dua kali ganti angkot, jarak dari Rasa ke Plaza cuma duapuluh menit.

"Kamu suka film mandarin?"
"Aku jarang nonton bioskop, gak ada waktu?"
"Oke, kita nonton film ini ya, aku tidak ingat judulnya, karena memang aku cuma suka bintangnya Wang Sun Chien, artis cantik asal Hongkong bergigi bajing."

Dua karcis bioskop di deretan belakang, sekantung pop corn dan dua coca cola. Aku membimbing Olie, karena film sudah dimulai sepuluh menit. Sambil merangkak dalam gelap sebelah tanganku memegang erat Olie. Tempat bagian belakang ketemu juga setelah dibantu senter penjaga bioskop. Mataku terus menatap layar, tangan Olie tetap dalam genggaman.

Sesekali mulut menunyah pop corn dan menyeruput coca cola. Setelah jagung berontak ludes, Tak ada lagi yang dikunyah, Tanganku semakin keras, meremasnya. Wajahku ku dekatkan ke wajahnya. Olie menengok, saat itulah ku sambar bibirnya. Kami saling melumat. Tanganku terus meremas, kini bukan lagi tangan, tapi sudah merambat ke dada.

Di layar, Wang Sun Chien juga sedang asyik dengan Tilung.

Lebih dari dua puluh menit kami saling melumat dan meremas. Olie terengah-engah. Aku terus bernafsu. Sayangnya film dilayar sudah the end, aku juga menghentikan lumatanku, Olie merapikan baju dan rambutnya, kami kembali seperti biasa saja. Saat lampu bioskop sudah menyala terang, kami sudah lebih siap jika dilihat orang. Aku berlagak menguap, seperti orang ngantuk.

Aku puas, walaupun tidak tuntas.

Malam itu aku antarkan Olivia Fransisca, begitu nama lengkapnya . Tapi menjelang gang masuk ke rumahnya, Olie meminta aku cuma mengantarkan sampai tempat itu

"Agar kamu pulangnya gak nyasar. Kamu tinggal lurus saja sampai ke Matahari."
"Kenapa sih?"
"Gak, kakakku cerewet? Udahlah pulang sana, nanti kita ketemu lagi."
"Ok, ya, kontak aku lagi, ya?"

3. Terbayang-bayang

Kegagalan mengejar waktu, dan bis, membuat aku penasaran. Aku langsung saja ke sasaran, Cicadas. Perasaanku menggebu-gebu, paras Olie yang mulus, terus terbayang-bayang. Aku tak lagi menunggu bis berikutnya, tetapi naik angkot, walaupun lebih mahal tiga kali lipat, tapi lebih cepat sampainya. Tak ada angkot yang langsung ke Cicadas, aku harus tiga kali ganti. Tak tampak lagi, bis yang mungkin dinaiki Olie.

Di depan Matahari, Cicadas, angkot berhenti., menembus pedagang kaki lima, dan jalan kecil yang jorok dan berliku-liku. Selokan warna abu-abu, campuran air sabun, kotoran manusia dan rumah tangga, mengambang. Bau menusuk hidung. Tak kubayangkan, wajah semanis dan semulus Olie, tinggal di pemukiman seperti itu.
Anak-anak muda, tampak nongkrong di pinggir-pinggir rumah yang berhimpitan. Beberapa dari mereka tampak main gitar, dan minum-minuman keras KTI (Ketan Item) buatan cap Orang Tua, Semarang.

Kata-kata punten, terpaksa mengalir dari mulutku saat melewati kerumunan seperti itu. Jika tidak, jangan harap bisa pulang dengan selamat, minimal menjadi sasaran bogem mentah atau pemerasan. Keringat mengalir dari tubuhku antara lelah dan perasaan tak enak, udara dingin menambah tak enak di badan. Azan Maghrib terdengar, awan mulai menghitam, gelap mulai membekap hari. Aku belum juga menemukan rumah Olie.

Mau bertanya? Aku tak tahu nama lengkapnya, aku yakin Olie, Cuma nama diri, nama panggilannya saja. RT/RW atau nama gangnya, juga tak tahu. Jika aku bertanya pada orang sekitar selalu bertanya, RT-RW-nya berapa? Kalau tidak tahu aku kelihatan seperti orang tolol. Mahasiswa tingkat akhir, yang sudah magang kerja, masih tolol. Ampunnn deh!

Sampai suara toa di masjid mengumandangkan azan Isya, aku juga belum ketemu titik terang. Harapanku bisa bertemu Olie, di sekitar itu juga belum ada penampakan.

Keringat bercampurnya udara dingin, bikin perut keroncongan. Lorong-lorong gang di perkampungan yang katanya terpadat di dunia itu, membuat kepalaku pusing. Aku mencoba mengingat-ingat jalan keluar, ternyata tak mudah, aku hanya berputar-putar.

Santo Yusuf! Huruf besar orang suci itu memberikan titik terang. Aku terus menuju nama orang suci itu, ya, itu nama sebuah rumah sakit, aku ingat, aku pernah mengunjungi seorang kawan yang kena muntaber dirawat di rumah sakit itu. Ini lah jalan keluarku. Aku berada di belakang rumah sakit itu, ku kitari, akhirnya ku temukan jalan besar di depan rumah sakit itu. Ternyata cukup jauh, dari tempat awal aku memasuki pemukiman tempat Olie tinggal di Departemen Store Matahari, Cicadas.

Aku kembali mencari jalan menuju Matahari. Tujuanku, Cuma satu, isi kampung tengah. Aku ingat tak jauh dari Matahari, persis di sebelah bioskop kelas bawah ada sate kambing, murah, seporsi 400 perak dengan nasi munjung dan kuah gule. Entah, kambing dari mana bisa dijual semurah itu? Biasanya, seporsi sate kambing di tempat lain paling murah seribu perak. Ah, gak peduli, yang penting kenyang.

Seperti kebiasaanku, sepuluh tusuk kambing ku habis kan dulu. Setelah habis, baru kusikat nasi dan kuah gule, ditambah bumbu kacang bekas sate yang sudah kulahap habis duluan.Lebih mudah menghabiskan nasi dan kuah gule, bila dibandingkan makan nasi bareng sate. Tak perlu dikunyah lagi, langsung telen.

Segelas teh tawar hangat setelah makan, melengkapi kenyangnya perutku.
Cuma masalahnya, masih ada urusan lagi yang belum diselesaikan, di bawah perut. Gagalnya bertemu Olie dan sepuluh tusuk sate kambing, bikin si "otong" ngamuk, minta penuntasan.

Selesai makan, kaki langsung melangkah ke bioskop murah di dekat tukang jual sate itu. Bioskop segede lapangan bola itu, Cuma separuh beratap, di bagian depan beratap langit. Bayar Cuma cepek, dapet dua film lagi. Tapi bukan itu tujuanku. Di dalam bioskop, bukan film yang dilihat, tetapi, orang-orang yang berpasangan yang bercintaan. Banyak juga pelacur yang menjajakan diri di dalamnya. Ya, lumayan, buat pelampiasan.

Semula aku duduk di bagian depan, berlagak gak peduli. Setelah film mulai main, aku mencari sasaran, melihat orang yang paling hot bermesraan di bioskop itu., Setelah tiga kali pindah, di bawah atap seng sebelah kanan, seorang lelaki muda dengan perempuan yang cukup cantik dan bersih, tampak asyik masyuk. Tangan si lelaki masuh ke samping baju perempuan, meremas-remas dengan nafsu, tangan si cewek juga mencari resleting celana si lelaki. Aku terus membayangkan, yang terjadi di depanku itu adalah aku dengan Olie.

"Akhhhhh." Aku merintih, bersamaan dengan rintihan si pria muda itu. Sang perempuan sibuk mencari tisu di kegelapan malam membersihkan yang berceceran di celana panjang lelaki itu. Celana jeansku juga terasa basah, ada yang menembus dari dalamnya.

Film kedua baru setengah main, aku pulang dengan gontai, tetapi lumayan, otot-otot ku terasa lebih fresh. Bayangan kemulusan Olie, wajahnya, tanganya, betisnya, buah dadanya, ooooh. Bayangan itu terus terbawa sampai aku tertidur di kamar kos-ku.

2. Janjian

Tit…tit…tit…, serantaku berbunyi, tanda ada pesan masuk. “Temui aku di halte dekat Hotel Panghegar, pukul 16.30.Olie”

Waktu baru menunjukkan pukul 12.30 saat seranta masuk. Saat itu perutku sedang berkecamuk ngorok, minta diisi. Aku memang sedang antri mengambil makanan di Warung Gratya, di daerah Sekeloa. Warung makan itu terkenal tempat mahasiswa makan. Selain makanannya beragam kita juga bisa mengukur kemampuan kantong. Pernah dalam suatu masa paceklik, kantong lagi cekak, aku hanya makan sepiring junjung nasi putih, sepotong tempe dengan kuah semur campur kuah gulai. Cuma cepek jigo atawa Rp 125, sama dengan ongkos angkot dari Dago ke Kebon Kelapa.

Tapi saat seranta masuk dari Olie, aku makan cukup bergizi, dengan telur, daging semur, tempe dan kerupuk, hanya gopek. Maklum duit masih ada. Buat makanan nggak usah iritlah.

Selepas azan ashar, aku mandi dan shalat. Hatiku deg-degan. Saat shalat yang terbayang bukan Tuhan atau bacaan shalat, tetapi wajah Olie.

Ada perasaan, aku akan mendapat cewek baru.Baru sekali kenalan lagi. Ini tantangan.

Dengan jeans butut, dan atasan t-shirt, serta sepatu kets, aku naik angkot jurusan Kebon Kelapa. Perjalanan dari Dipati Ukur ke Markas Polwiltabes, dekat Hotel Panghegar, terasa jauh. Mataku terus melirik jam tangan, kawatir kelewat waktu, dan Olie meninggalkan ku.

Sial, angkot yang ku tumpangi kosong. Ia ngetem lama sekali di depan Bandung Indah Plaza (BIP).

Waktu menunjukkan pukul 16.30 saat aku mengatakan “Pinggir” di depan kantor polisi di Jalan Jawa. Angkot langsung menepi, dan aku membayar dengan terburu-buru, duit logam pun jatuh ke bawah jok sopir. Aku langsung lari, menyeberang jalan. Dari kejauhan ku dengar sopir mengumpat. Tapi aku tak peduli.

Aku berlari-lari kecil mengejar waktu. Tepat di depan Hotel Panghegar, sekitar 20 meter dari halte tujuan kulihat Bis Damri maju bergerak pelan. Waduh!

Benar saja, saat sampai di halte, Olie sudah tak ada. Anjriiit! Aku mengumpat..

1. Kenalan

Perapatan Jalan Braga, baru saja lewat. Aku lagi asyik berangin-angin, dengan jendela terbuka lebar. Bis Damri jurusan Cikapundung-Cicaheum berhenti di halte dekat Hotel Panghegar. Tiba-tiba, duk! Sebuah pantat dihempaskan di bangku sebelahku yang sedari tadi kosong. Aku kaget.

Dengan berat kepala ku palingkan ke kanan, seorang perempuan, berambut panjang melebihi bahunya. Dari tempat duduknya dapat ku taksir, tingginya tak jauh dari tinggi tubuhku. Badannya juga proporsional. Hidungnya bangir, tidak mancung, juga tidak pesek. Matanya sedikit sipit. Kulitnya, amboi ! Kuning mulus bak duku Palembang mutu nomor satu.

Ketika bus mulai bergerak, Aku mencoba mulai membuka percakapan,”haredang, ya?”
“Iya, Nih”jawabnya.
Aha, pancinganku kena. Jarang ada orang yang mau menanggapi pernyataan orang yang baru dikenal, apalagi Cuma kata basa-basi.
"Pulang kerja?" Aku mulai berani
"Ya," jawabnya singkat, "Kamu?"
"Abis jalan-jalan," kataku sekenanya.

Memang aku habis jalan-jalan cari angin dan cari buku-buku bekas di Jalan Cikapundung, persis di sebelah gedung PLN. Di trotoir itu biasanya terhampar buku-buku, majalah-majalah dan bacaan-bacaan bekas. Ada juga buku-buku baru, tentu saja yang bajakan. Karena harganya bisa separuh harga dari toko buku.

"Abis beli buku," kataku sambil membuka tas kresek dan memperlihatkan beberapa buku yang aku beli. Ia ikut memegang dan melihat buku-buku yang aku perlihatkan padanya.
"Aku Alex, kamu?"
"Olie."

Namanya selicin perkenalan kami. Cuma bedanya, kalau olie mesin warnanya gelap, apalagi yang bekas. Tapi kalau Olie, yang ini bersih kulitnya.

Dari percakapan, akhirnya aku tahu Olie, bekerja menjadi sekretaris di sebuah perusahaan tekstil, tak jauh dari tempat ia naik bis tadi,

Ia bercerita, kalau kakaknya Pinkan, juga pernah bekerja disitu. Tapi kini sudah pindah ke kantor lain.

Olie enak diajak bicara. Dia lebih banyak cerita tentang diri, keluarga dan segala macam, juga pekerjaannya.

"Kamu berasal dari mana?"
"Ciamis," katanya singkat.

Pantas memang, nama tempat asalnya saja, artinya, air (cai) manis.
Karena terlalu asyik ngobrol, tak terasa tempat tujuanku turun di Pasar Kosambi sudah lewat.

"Kamu turun dimana?"
"Cicadas."
"Memang rumahmu dimana?"
"Di Cicadas, di belakang Matahari."

Aku berikan nomor telepon dan nomor serantaku.

"Siapa tahu kamu mau kontak aku lagi."

Si Moncong Botol Penyembuh Stroke

Lumba-lumba dipercaya dapat membantu penyembuhan stroke. Meski ada kritik, terapi ini terus berkembang.

***-
IDA Bagus Oka tertatih-tatih masuk ke kolam renang. Mantan Menteri Negara Kependudukan dan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional itu mengenakan pelampung kuning, dituntun Carla Henco, perempuan warga negara Jerman, ke air. Setelah ia beselonjor, dua ekor ikan lumba-lumba mendekati pelan-pelan dan mencium-cium ujung telapak kaki kanan lelaki itu. Oka, yang hanya mengenakan celana pendek, tampak meringis geli. “Saya bisa, bisa…, bisa...,” katanya berulang-ulang sembari menggerakkan sendiri kedua kakinya.

Sesekali, Jack dan John--nama dua lumba-lumba itu--menggulung badan Oka hingga hampir menenggelamkannya. Karena memakai pelampung dan diawasi Henco, Oka tak sampai kelelep. Walaupun tampak kesulitan ketika digulung binatang bermoncong botol, Oka selalu tersenyum. .”Jack..., John..., come here please,” begitu Oka memanggil-manggil mereka agar datang kembali mendekatinya.

“Bermain” dengan lumba-lumba di kolam Hotel Melka, Lovina, Buleleng (Bali utara) menjadi kegiatan rutin akhir pekan Oka dalam tiga pekan terakhir ini. Laki-laki 69 tahun ini divonis dokter terkena stroke. Bekas Gubernur Bali itu kesulitan menggerakkan tangan dan kaki serta terhambat dalam berbicara.

Setelah ditangani secara medis, Oka mencoba cara alternatif untuk fisioterapi atau melakukan latihan fisik. Pilihannya jatuh pada Jack dan John. ”Baru empat kali terapi setelah dua kali datang, kaki kanan saya sudah mulai terasa ringan. Saya akan rutin seminggu sekali ke sini,” katanya. Wajahnya tampak memerah segar setelah berlatih, akibat aliran darah lebih banyak mengalir ke kepala.

Jack dan John adalah lumba-lumba hidung botol (bottle nosed dolphin), jenis yang dapat dimanfaatkan untuk terapi lumba-lumba (dolphin assisted therapy), yang dipercaya membantu penyembuhan stroke, autisme, dan beberapa gangguan bergerak akibat kerusakan saraf. Selain si hidung botol, dari sekitar 80 jenis lumba-lumba yang ada di dunia, hanya ada dua jenis lagi yang punya kemampuan terapi, yaitu spinner dolphin dan spotted dolphin.

Menurut Karl Guenther Meyer, pemilik Hotel Melka yang sudah mengoperasikan dolphin assisted therapy selama setahun ini, saat melakukan terapi, lumba-lumba tidak perlu diarahkan oleh semacam pawang. Sebab, binatang mamalia laut itu memiliki kemampuan mengirimkan suara berfrekuensi tinggi--sekitar 2-13 MHz--ke bagian-bagian tubuh manusia, dan menerima kembali suara tersebut, atau disebut echolocation. Nah, dari kiriman ultrasound yang dipantulkan kembali oleh tubuh manusia itulah lumba-luma dapat mendeteksi bagian tubuh yang bermasalah. Terbukti saat Oka masuk kolam, flipper langsung menyosor kaki kanannya.

Kemampuan menangkap ultrasound, suara berfrekuensi tinggi di atas batas ambang pendengaran manusia (di atas 20 ribu Hz), dimiliki beberapa hewan seperti anjing, kelelawar, dan lumba-lumba. Kelebihan si hewan laut itu adalah mampu menyalurkan suara tersebut ke tubuh manusia. Penembakan pulsa suara berfrekuensi tinggi seperti ini, menurut pakar suara dari Amerika Serikat, Roger Hardy, lebih aman dibandingkan penggunaan sinar laser (X), karena ultrasound tak menggunakan radiasi ionisasi.
Adapun cara kerja “penyembuhan” dengan suara berfrekuensi tinggi lumba-lumba adalah merangsang perbaikan dan penggantian sel-sel rusak dalam tubuh. Meyer menjelaskan, manusia hanya menggunakan sekitar 20 persen kapasitas setiap organnya dalam beraktivitas, sedangkan 80 persen lainnya menganggur. Lumba-lumba, dengan kemampuan alaminya, mampu mendistribusikan dan mensubsidikan sel sehat menuju bagian dari sel yang rusak atau abnormal.

Seperti terapi lainnya, pengobatan bersama si moncong botol ini harus dilakukan rutin. Menurut Meyer, minimal dua bulan. Adapun Oka, yang baru setiap akhir pekan selama tiga minggu terapi, sudah merasakan manfaatnya. Pasien lainnya, Bing Wijaya, 53 tahun, warga Singaraja, bahkan sembuh dari lumpuh setelah delapan kali terapi. ”Hasilnya benar-benar memberi saya harapan baru,” ujarnya. Bin sudah bisa menggerak-gerakkan tubuhnya lebih baik.

Selain untuk “mengobati” stroke, menurut Meyer, terapi lumba-lumba juga dipercaya dapat membantu penyembuhan kanker. Inilah yang baru dimulai di kawasan wisata Lovina itu. “Kami mengundang dua orang penderita kanker, terapi dua minggu gratis,” ujarnya. Kini pengobatan itu sedang berjalan.

Terapi dengan bantuan lumba-lumba mulai banyak dipraktekkan di beberapa negara sejak akhir 1990-an, terutama untuk membantu anak-anak autis dan penderita down syndrome. Lumba-lumba dipercaya dapat menyembuhkan orang karena binatang ini beberapa kali telah menolong orang tenggelam di laut dan membantu menyembuhkan luka mereka. Bila dilihat di Internet, cukup banyak klaim sukses terapi ini, namun banyak juga kritiknya. Umumnya, kritik dilandaskan pada minimnya uji coba ilmiah dan klinis atas terapi ini.

“Tidak ada bukti ilmiah bahwa terapi lumba-lumba membantu penyembuhan. Ini hanya bersifat rekreasi,” kata Bernard Rimland, Direktur Autism Research Institute di San Diego, Amerika Serikat. Bahkan Michael Westerveld, ahli saraf dari Universitas Yale, AS, lebih skeptis. “Bila ada keberhasilan terapi lumba-lumba, ini merupakan efek yang sama bila berinteraksi dengan binatang jinak lain seperti anak anjing,” katanya.

Kritik lainnya adalah biaya terapi lumba-lumba yang mahal. Di Lovina, pasien harus merogoh kocek Rp 40 juta sebulan termasuk akomodasi dan konsumsi. Harga itu pun jauh lebih murah dibanding paket yang sama di AS, misalnya, yang mencapai Rp 400-500 juta. Karena “murah”, usaha yang dirintis sejak tahun lalu di Lovina itu kebanjiran pasien terutama dari luar negeri, seperti dari Singapura, Malaysia, Amerika, dan Eropa.

Bisakah terapi ini diterima secara medis? Menurut Nurdjaman Nurimaba, ahli penyakit saraf Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, terapi lumba-lumba, seperti terapi lainnya--wicara, gerak, hidro, getar, atau penyinaran--merupakan bagian dari fisioterapi aktif. Lumba-lumba merupakan gabungan dari terapi hidro dan getaran suara (ultrasonografi). “Sonar hewan tersebut pada prinsipnya sama dengan terapi getaran untuk menghilangkan sumbatan. Soal seberapa efektifnya, saya tak tahu persis,” ujarnya. Namun semua fisioterapi hanya bisa dilakukan setelah bagian saraf otak ditangani terlebih dahulu secara medis. “Karena itu, walaupun dengan terapi, masih harus disertai obat lainnya,” katanya.

Di luar semua kritik dan keraguan, terapi lumba-lumba tetap berkembang. Di Indonesia, selain di Lovina, terapi lumba-lumba untuk anak-anak autis juga ada di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Itu mungkin karena lumba-lumba selama ini dipercaya sebagai binatang penyayang manusia.

Ahmad Taufik, Made Mustika (Singaraja)

Rabu, September 05, 2007

Puisi : Puisi VS Puisi

Buat Dede

Mentang-Mentang Dewan Dakwah
Berani Pake Label Islam Segala
Merasa Lebih Tuhan dari Malaikat
Malaikat Aja Gak Protes
Bahkan Tetap Mungkin beberapa diantaranya sedang nganggur
Gak ada kerjaan
Tugasnya diambil Dede IeIe
Mendingan seperti Dede yang lain
menulis (dede Nugroho Dewanto), menggambar (dede Erisupria)
Atau "dede" satunya, yang suka bangun di pagi hari
Udahlah Dakwah untuk kaum mu saja
yang masih miskin, papa
karena kamu melindungi koruptor atas nama agamamu
atau menjual agama untuk perutmu, keluarga dan kelompok
Urus saja "dede" mu dan perutmu.
Merdeka!

Malang, 17 Agustus 2007
A.T

Inilah sajak karya Saeful Badar yang membuat kantor harian Pikiran
>>Rakyat diteror oleh kelompok tertentu. Disinyalir, kelompok ini pula
>>yang mendemo Miss Universe saat bertandang ke Kota Kembang.
>> >
>> > Kang Saeful lahir di Tasikmalaya. Menulis puisi dalam bahasa
>>Indonesia dan Sunda. Hingga kini bersetia mengelola Sanggar Sastra
>>Tasik (SST), di samping aktif pula di Komunitas Azan.
>> >
>> >
>> > Malaikat
>> >
>> > Mentang-mentang punya sayap
>> > Malaikat begitu nyinyir dan cerewet
>> > Ia berlagak sebagai makhluk baik
>> > Tapi juga galak dan usil
>> > Ia meniup-niupkan wahyu
>> > Dan maut
>> > Ke saban penjuru
>> >
>> > 2007
>> >
>> >
>> > sumber:
>> > Pikiran Rakyat - Sabtu, 4 Agustus 2007 halaman 30