Rabu, Maret 05, 2008

Ziarah Spiritual ke Makam Para Nabi

Yordania memang tak memiliki sumber daya alam mineral, seperti negara-negara Timur Tengah lainnya. Bahkan untuk air minum saja harus diekspor dari Israel. Namun, Urdun, begitu namanya dalam Bahasa Arab menyimpan kekayaan spiritual, beberapa makam nabi berada di negeri itu.

Berbekal sepotong cerita tentang Nabi Musa yang lari dari Mesir karena takut setelah membunuh warga Negeri Firaun, dari sanalah aku mulai perjalanan ku menelusuri makam para Nabi. Sejak pagi aku dan Hadi, seorang mahasiswa jurusan Syariah Universitas Yordan, sudah sibuk mencari-cari mobil sewaan untuk bisa dipakai jarak jauh, berkeliling negerinya Malik Abdullah bin Hussein Al-Hasyimi.

Setelah beberapa tempat persewaan mobil yang dikenal Hadi di ibukota Yordan, Amman, kami tak dapat mobil, maklum, waktu itu Hari Jumat, hari libur di Yordan. Akhirnya di persewaan Camel, di seberang kampus, kami dapat juga Mitsubishi Galant, warna merah hati. Tak terlalu bagus, mesinnya berbunyi, ciiiit, bagasinya tak bisa menutup sempurna dan tanki bensinnya cuma ditutup dengan plastik kresek. Tapi tak apalah kami sudah bertekad untuk pergi hari itu. Sewanya tak terlalu mahal cuma 30 JD (Yordanian Dinar) atawa sekitar 40 US Dolar, tapi Hadi harus membuka cek jaminan 1.000 US Dolar, dengan kartu pelajar dan kalam yahanoo (ngomong berlagak), urusan sewa jadi lancar.

Setelah urusan sewa selesai, aku Sigit (seorang mahasiswa Indonesia di Irak) dan Hadi tancap gas ke luar kota Amman. Tujuan pertama, Makam Nabi Syuaib, salah satu penghulu para Nabi, Mertuanya Nabi Musa. Hadi mengarahkan setirnya ke Salt, udara sangat segar, memang musim dingin masih membekap Yordan.

Tak banyak mobil lalu lalang, hanya satu dua. Tanah yang coklat terang dan jalan aspal mulus yang berkelok-kelok, berkesan khas Timur Tengah, tak ada kerumunan pepohonan. Jalan terus menurun. “Kita sedang menuju titik terendah di dunia,”kata Hadi. Ya, jalan menuju Salt searah jalan ke Laut Mati, yang diyakini sebagai titik terendah di dunia, 600 meter di bawah permukaan laut.

Hampir sejam kami berkendaraan menikmati udara bersih, kami melewati sebuah plang warna biru “Tomb of Brother Jusuf” (Batu Nisan Saudara Nabi Yusuf). Hadi memundurkan kendaraannya, lalu menyeberang ke arah jalan menanjak yang pas hanya satu mobil. Jalan pasir dan berbatu split, tak seperti tujuan sebuah daerah wisata.

Tanpa tanda-tanda lagi, cuma ada tanah untuk parkir di bawah pohon besar yang cukup rindang, lahar parkir itu cuma bisa menampung tiga mobil. Hanya lima langkah berjalan ada sebuah bangunan kecil dari tanah liat. Seseorang menghampiri kami. Tanpa banyak bicara isyaratnya mengajak kami masuk ke bangunan seluas 3 x 4 meter, dengan agak menunduk kami menuruni sepuluh tapak tangga. Di dalamnya tampak sebuah gundukan yang ditutupi oleh sajadah kain. “Mari kita berdoa,”kata sang kuncen mengajak.

Aku cuma tundukan kepala, sambil bertanya-tanya dalam hati, batu nisan saudara Nabi Yusuf yang mana? Dari kisah Nabi Yusuf, hanya seorang, Benyamin, yang baik, lainnya justru menjerumuskan Yusuf ke dalam sumur karena iri hati. Sang kuncen, sempat menyebut nama, Uzair, aku tak tahu pasti. Hanya lima menit digundukan di bunker kecil itu, setelah mengambil foto, kami letakkan 2 JD (Rp 24 ribu) di atas gundukan berselimut sajadah itu.

Kami meneruskan perjalanan menuju tujuan semula, Wadi Syuaib, makamnya Nabi Syuaib. Selewat batu nisan saudara Yusuf, jalannya lebih menarik, menyusuri lembah-lembah, tampak hijau dipenuhi pohon-pohon kecil dan rumput-rumput yang tumbuh di bebatuan. Tampak juga sekelompok domba diangon di antaranya. Hanya berjarak 15 menit dari tempat itu, kami sampai ke tempat tujuan, masuk sekitar 3 kilometer dari jalan utama.

Ada dua bangunan berwarna coklat muda dipagari kawat, yang besar tertulis Masjid Syuaib, di belakangnya, terdapat makam. Seorang Arab, kuncen makam itu langsung mengajak kami memasuki ruangan seluas 5 x 5 meter. Makam semen diselimuti kain bertuliskan kalam illahi menutupi kuburan yang berbentuk keranda. Kami mencoba khusyuk membaca Alfatihah untuk salah satu pemuka para Nabi itu. Namun, sang kuncen Arab yang mengakui bernama Syeikh Sholeh mengganggu kami dengan kata-kata “Shadaqah…shadaqah…” berulang-ulang. Karena tak punya receh selembar uang kertas 5 JD melayang untuk ‘shadaqah’ si Arab tua cerewet.

Selepas berdoa di makam, kami melihat-lihat Masjid cukup bersih dan terawat. Beberapa pengunjung juga tampak mengitari kompleks makam dan masjid itu. Di lahan parkir, beberapa tukang es krim menawarkan dagangannya, ada yang pakai sepeda maupun mobil. Beberapa keluarga menggelar tikar menikmati udara sekitar yang segar, membuka penganan yang di bawa dari rumah.

Tak jauh dari dua bangunan sebuah bukit batu dengan tanaman liar tumbuh disela-selanya. Rombongan domba menikmati, pohon-pohon kecil itu. Baru kotorannya menerpa indera penciuman. Melihat domba-domba itu aku jadi ingat kisah pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Syuaib. Akhirnya, Musa kawin dengan salah seorang anak gadis Syuaib, dengan mahar menggembala domba selama 8 tahun.

Selain makam Nabi Syuaib di daerah Salt, juga ada makam Nabi Yusya. Anak Nabi Nuh dan anak saudara seibu dari Nabi Musa. Yusya merupakan keturunan Nabi Ibrahim, di dalam Al-Quran nama Nabi Yusya hanya disebut sebagai ‘pemuda’ dalam cerita Ashabul Kahfi.

Tujuan berikutnya, Jabal Nebo, yang diyakini oleh pengikut Katolik sebagai makam Nabi Musa. Sebelum ke tempat itu kami mampir ke Laut Mati (Dead Sea) dalam Bahasa Arab disebut Bahrul Mayyit. Waktu itu Hari Jumat, sebenarnya kompleks pantai Laut Mati hanya untuk orang yang berkeluarga atau pasangan yang membawa perempuan. Namun, karena kalam yahanoo Hadi dengan menunjukkan kartu pelajar dan kartu pers, kami bertiga boleh masuk, pelajar cuma bayar 5 JD, tamu 10 JD. Beberapa anak muda tampak kecewa ditolak masuk komplek pantai yang diyakini sebagai tempat terendah di dunia.

Ratusan turis dalam dan luar negeri tampak menikmati Laut Mati, ada yang Cuma melumuri badannya dengan lumpr laut yang hitam, atau mengambang sambil baca koran atau majalah. Tapi awas, kalau air laut itu kena mata, perihnya minta ampun. Karena kadar garamnya tinggi. Aku terkene air saat keseimbangan goyah, dan berbalik telungkup di laut itu. Seorang anak berusia 10 tahun membimbingku menuju pinggir untuk menghilangkan rasa pedih. Laut mati ini kisah ditenggelamkannya kaum Nabi Luth, karena lebih suka dengan hubungan sejenis. Sebelum pulang aku menyempatkan mengambil lumpur sebotol aqua ukuran 1,5 liter buat oleh-oleh, mumpung gratis.

Tak jauh dari laut mati ada gua yang diyakini tempat Nabi Luth pernah berlindung bersama kedua anaknya, Aritha dan Zagritha. Kampung tempat gua itu berada bernama Zughor. Tempat itu kini bernama Sanctuary of Lot.

Ke sebelah selatan, tepatnya di tepian Sungai Jordan, ada tempat yang dikenal sebagai tempat pembaptisan. Disitulah diyakini tepat menyucikan kaki Kristus. Ceritanya, Nabi Isa dibaptis oleh yahya di sungai itu. Di atas tanah yang coklat kemerahan, terdapat beberapa bangunan dari kayu dan batu, diantaranya gereja. Dalam sebuah bangunan yang hanya beratap, tak berdinding yang diyakini tempat Nabi Isa berisitirahat selama 40 hari, selai itu terdapat gentong besar berisi air, tempat itu biasanya digunakan untuk membaptis bayi. Tradisi pembaptisan dikenal baik oleh Katolik maupun Kristen, walaupun cara yang dilakukan berbeda-beda.

Menuju Jabal Nebo, kembali menuju Amman,, sepuluh kilometer dari situs pembaptisan, dari jalan raya tiga jalur harus belok ke kana, menuju pegunungan (jabal). Tapi ingat di jalan raya antara Amman-Laut Mati atau sebaliknya, kendaraan tak boleh dipacu lebih dari 80 km. Mobil yang ditumpangi Tempo sempat dihentikan polisi karena berkecepatan 100 km. Polisi dengan teknologi langsung menegor anda. Bila supir mengaku salah, karena lewat batas maksimum, polisi akan membebaskan, dengan ancaman. “Jika melanggar lagi, kami denda ya 30 JD,”katanya memperingati. Sepanjang jalan itu ada dua kali pemeriksaan tentara. Karena jalur itu lalu lintas menuju dan dari Israel.

Lebih dua pulu kilometer melewati gunung yang gersang, matahari yang menantang. Untung saja musim dingin, panas matahari, kalah dengan udara dingin. Di lembah-lembah tampak juga tenda-tenda kaum badui Arab. Sesekali rombongan domba lewat jalan beraspal diangon para badui itu. Mereka orang yang baik dan jujur. Kami sempat berhenti dan meminta susu kambing domba seger. Sang angon, Ahmad Abdul Azis, lalu mengambilkan salah satu kambing betina yang montok, memegangi kakinya, kita bisa memerah susu langsung dari kambing. Dari dua domba kami mendapat setengah liter susu dari botol bekas dalam kemasan. Berapa? Orang badui Arab itu tak mau dibayar. Syukron!

Setelah menapaki jalan berkelok, di puncak gunung, terdapat tempat parkir dan bangunan itulah Mount Nebo atau Jabal Nebo, salah satu tempat suci kaum Kristen yang diyakini sebagai makamnya Nabi Musa. Di kompleks itu ada beberapa tempat bekas Nabi Musa yang dianggap suci, ada bangunan gereja yang dibangun tahun 393 masehi dan replika tongkat Nabi Musa dari perungu berbentuk ular yang meliliti palang salib dibuat oleh Gian-Paolo Fantoni of Florence, setinggi 4 meter.

Dari replika tongkat Nabi Musa, kita dapat menikmati pemandangan Lembah Yordania, Laut Mati, Jerusalem dan Baitullahm (Betlehem). Almarhum Paus Johanes Paulus II, pada Maret 2000 pernah berkunjung ke tempat ini. Pada abad ke-7 masehi, bukit ini menjadi tempat persinggahan bagi para jamaah haji yang datang dari jauh. Di dalam gereja, dengan altar yang cantik berwarna warni yang masih dalam renovasi. Beberapa artis dan aktor menggunakan tempat ini untuk syuting.

Selain tempat bersejarah para nabi itu. Nabi Hud juga dimakamkan di daerah Jerash, namanya Kafar Hud. Tempat berpijak Nabi Sulaiman ada di sarfah, dekat Karak. Di Karak ada istana ang terkenal semasa perang salib. Pada tahun 1187 masehi, tentara Solahuddin Al-Ayoubi mengepung kota Karang selama 8 bulan, sehingga memaksa tentara pertahanan kota itu menjual anak dan isteri mereka untuk membeli makanan. Akhirnya setahun kemudian, 1188, Solahuddin dapat merebut Karak. Namun gempa bumi pada 1923 telah memusnahkan sebaian kota yang bersejarah. Sampai kini Karak menjadi tempat tujuan wisata yang menarik di Yordania.

Ahmad Taufik

Heboh Susu : Setitik Bakteri Rusak Susu Sebelanga

Temuan Enterobacter sakazakii dalam susu formula meresahkan publik. Standardisasi kesehatan dan keamanan pangan masih dipertanyakan.

Khoirudin mengambil beberapa kardus susu formula dari rak di salah satu hypermarket di Jakarta. Baru sekitar lima langkah dia berjalan, laki-laki 30 tahun itu mengembalikan tiga kemasan ke tempat semula. “Satu dulu saja, ya, tunggu pengumuman, merek apa yang bercampur bakteri. Kalau sudah jelas, bisa beli lagi,” ujar Khoirudin kepada istrinya yang ikut berbelanja bersama dua orang anak mereka, salah satunya masih bayi dalam gendongan.

Setelah gajian, Khoirudin memang biasa membeli minimal lima kardus susu formula. Kali ini, ketika dia dan keluarga belanja sambil cuci mata, Kamis pekan lalu, warga Kebon Kacang, Jakarta Pusat, ini hanya beli satu kardus untuk si buah hati. Khoirudin dan istrinya waswas karena peneliti Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengumumkan hasil penelitian mereka tentang adanya Enterobacter sakazakii dalam susu formula dan makanan bayi, awal pekan lalu. Namun, bak melempar bola panas, hingga kini mereka tak memberi keterangan susu merek apa saja yang mengandung bakteri jahat itu.

Kecemasan tentu saja bukan milik Khoirudin sekeluarga saja. Entah berapa banyak orang tua yang memiliki anak bayi, terutama yang di bawah satu tahun, yang tergantung pada susu formula, mengidap rasa khawatir. Apalagi disebutkan bahwa sakazakii bisa berakibat fatal bagi kesehatan bayi. Bukan mencret-mencret yang diderita, tapi bisa terjadi enteritis (diare berdarah), sepsis (infeksi peredaran darah), dan meningitis (radang selaput otak). Ancaman kematiannya pun tinggi.

Belum lagi ada kejelasan, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari malah menambah kerumitan. Dia mempertanyakan validitas temuan tim IPB itu. “Untuk apa tiba-tiba ada penelitian seperti itu? Yang meneliti dokter hewan pula,” katanya kepada pers sebelum berangkat ke Beijing, Cina, pekan lalu. Siti menduga ada kepentingan asing di balik penelitian tersebut. Dia pun mempertanyakan siapa yang membiayai penelitian.

Masalah makhluk yang nyaris tak kasatmata ini pun berkembang makin ramai. Tim IPB yang semula hanya sibuk di laboratorium dan kampus terpaksa menjadi “selebritas”. Selain dihujani pertanyaan dari media massa, mereka juga harus berurusan dengan berbagai lembaga. Komisi Kesehatan Dewan Perwakilan Rakyat, Senin pekan ini, memanggil tim peneliti FKH IPB ke Senayan untuk menjelaskan temuan mereka. Sehari setelah itu, tim pimpinan Dr. Sri Estuningsih bertemu dengan berbagai instansi seperti Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk memperjelas duduk persoalannya.

Nah, hulu dari hiruk-pikuk susu formula terjangkit Enterobacter sakazakii ini sebenarnya adalah penelitian Sri dan tim selama 2003–2006. Menurut Sri, pada awalnya mereka berniat mencari jenis bakteri yang sering ada di susu formula, yaitu Salmonella, E coli, dan Shigella. Bakteri inilah yang sering menyebabkan mencret pada bayi.

Setelah diteliti, bakteri yang dicari malah tidak ada. Legakah mereka? Tidak, karena yang muncul justru Enterobacter sakazakii. Jejak bakteri ini juga kembali ditemukan pada penelitian tahun berikutnya. Dari 46 sampel susu dan makanan bayi, ada dua merek yang terkontaminasi.

Pada penelitian terakhir, Sri dan tim melakukannya dalam dua tahap. Pertama, mengisolasi dan mengidentifikasi sakazakii dalam 22 sampel susu formula dan 15 sampel makanan bayi. Tahap kedua, peneliti menguji 12 isolat atau hasil biakan Enterobacter sakazakii. Mereka juga menguji kemampuan bakteri tersebut dalam menghasilkan enteroksin (racun) melalui uji sitolisis (penghancuran sel). “Dari 12 isolat yang diujikan, enam di antaranya menghasilkan enteroksin,” tutur Sri. Bahkan lima di antaranya masih memiliki kemampuan menghancurkan sel walaupun telah melewati proses pemanasan. Padahal, biasanya, bakteri semacam sakazakii tak tahan terhadap panas lebih dari 60 derajat Celsius.

Tak hanya berhenti di situ, tim selanjutnya mencari tahu efek dari serangan bakteri sakazakii. Sebagai bahan percobaan digunakan bayi mencit (tikus putih kecil) normal dan sehat berusia enam hari. Bayi mencit dicekoki bakteri dengan menggunakan selang hingga ke lambung. Tiga hari kemudian, sampel organ mencit diambil. Hasilnya, satu dari anak-anak mencit itu menderita radang saluran pencernaan dan otak. Berdasarkan penelitian, Enterobacter sakazaki memang bisa menyebabkan enteritis (diare berdarah), sepsis (infeksi peredaran darah), dan meningitis (radang selaput otak).

Walau begitu, jangan keburu panik. Meskipun sakazakii ini bisa ada di mana saja dan menyerang segala usia, serangannya sangat jarang berhasil. Sakazakii hanya ampuh pada bayi di bawah satu tahun yang lahir prematur dengan berat di bawah 2,5 kilogram atau pada yang daya tahan tubuhnya lemah (lihat Sakazakii yang Menghebohkan).

Lagi pula, temuan Enterobacter sakazakii pada susu formula dan makanan bayi di Indonesia bukan cermin bahwa produk untuk bayi di negara ini pasti buruk, karena sakazakii juga bercokol di susu formula yang diproduksi negara-negara maju. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada 2002 melaporkan 20 dari 141 sampel produk susu formula dari berbagai negara bagian di sana tercemar bakteri tersebut.

Justru berdasarkan laporan dari banyak negara maju, Badan Kesehatan Dunia (WHO) bertindak dengan mengadakan serangkaian pertemuan internasional. Tujuannya adalah merevisi petunjuk pelaksanaan standardisasi kesehatan makanan yang semula belum memasukkan cara menangkal Enterobacter sakazakii (lihat Usaha Menaklukkan Sakazakii).

Artinya, bakteri ini memang menjadi perhatian dunia. Jadi, tidak mengherankan bila ada lembaga-lembaga internasional yang ikut membiayai penelitian seperti yang dilakukan IPB. Seperti diakui Sri, penelitiannya didanai Bank Dunia dan bekerja sama dengan sebuah universitas di Jerman. “Tak ada yang ditutup-tutupi dengan pendanaan. Saya bisa pertanggungjawabkan dan bisa dicek kalau memang diinginkan,” ujarnya santai.

Kalau begitu, Ibu Menteri tampaknya tidak perlu khawatir soal “udang di balik penelitian itu”. Yang perlu lebih mendapat perhatian Menteri Kesehatan adalah tingkat standardisasi kesehatan dan kebersihan makanan dan minuman di Indonesia, seperti yang dikhawatirkan WHO. Sangat jarangnya laporan tentang kontaminasi Enterobacter sakazakii dalam susu formula di negara-negara berkembang dan terbelakang membuat kasus ini sulit dideteksi dan ditangani.

Baik Sri maupun pihak Badan POM setuju bahwa yang perlu dibenahi adalah soal penanganan bakteri sakazakii itu. Sri sendiri memang sering menjadi narasumber BPOM dalam menyusun materi cara menanggulangi codex Enterobacter sakazakii. Setiap tahun BPOM pasti ikut serta pertemuan WHO untuk penyusunan codex tersebut.

Menurut Direktur Standardisasi Produk Pangan BPOM, Sri Irawati Susalit, badan ini sekarang tengah menyusun standar keamanan untuk susu formula bayi. “Termasuk labelisasi dan kelengkapannya, antara lain cara penyiapan susu bayi yang benar,” kata Sri Irawati.

Badan POM boleh punya penjelasan, tapi heboh Enterobacter sakazakii dalam susu formula dan makanan bayi sebenarnya menunjukkan bahwa standar kesehatan produk makanan dan minuman di sini masih dipertanyakan. Masyarakat cepat bereaksi karena memang di masa lalu terjadi kasus-kasus makanan dan minuman yang mengandung zat berbahaya. Adanya formalin dalam berbagai makanan, misalnya. Tak mengherankan jika kehadiran makhluk bernama Enterobacter sakazakii juga meresahkan.

Ahmad Taufik, Nunuy Nurhayati, Rika Panda dan Anton Septian
(dari Majalah TEMPO edisi 3-9 Maret 2008)

Revolusi Iran Bukan untuk Diekspor

wawancara dengan
Ayatullah Murtadha Muqtadai:

Berjubah hitam dengan sorban putih, Ayatullah Murtadha Muqtadai, 71 tahun, tampak masih gagah. Di dua tangannya melingkar tiga buah cincin batu, satu di jari manis kanan dan dua lagi di tangan kiri. Kunjungan Ketua Yayasan Jahani (Dunia Islam) untuk urusan pelajar-pelajar asing di Qom, asal Isfahan, Iran, itu ke Indonesia mengingatkan lulusan madrasah di Qom agar berbuat nyata lebih banyak dalam kehidupan masyarakat.
Murid tiga ulama besar Iran itu--Ayatullah Borujerdi, Ayatullah Imam Khomeini, dan Allamah Thabathabai--berharap lulusan Qom yang biasa mengajari masyarakat sesuai perbuatannya dengan yang diceramahkan di atas mimbar. “Jika tidak, kewibawaan akan hancur dan rakyat tak akan mempercayainya. Ini akan berakibat terhadap perkembangan agama Islam,” katanya.
Putra Ayatullah Syekh Mahmud Muqtadai ini termasuk dalam lima orang yang dipercaya Imam Khomeini menyusun draf UUD. Selain sebagai koordinator hakim dalam Mahkamah Agung Iran, Ayatullah Muqtadai kini menjadi anggota dewan pakar yang memantau tindak-tanduk pengganti Khomeini, pemimpin besar (Rahbar) Ayatullah Ali Khamenei.
Inilah kutipan sebagian wawancara Tempo dan beberapa wartawan lain dengan Ayatullah Murtadha Muqtadai seputar pendidikan pelajar-pelajar Indonesia di Qom, dibantu oleh penerjemah bahasa Persia dari Pusat Kebudayaan Islam (ICC) Jakarta, Abdullah Beik.

Bagaimana pendapat Anda tentang orang-orang Indonesia yang belajar agama di Qom?
Mereka yang menuntut ilmu agama di Kota Qom, baik yang membawa ijazah resmi yang dapat diterima maupun yang tidak di negaranya, setidaknya adalah orang yang akan memberikan kontribusinya kepada umat manusia di bidang keilmuan dan budaya, baik di kampus maupun tempat lain. Nah, itu sangat membantu mencerdaskan masyarakat Indonesia.

Bagaimana dengan kualitasnya?
Selama ini baik. Tapi harapan kami jauh lebih besar dari itu. Kalau mereka dapat belajar lebih giat lagi, dan lama tinggal di Iran, bisa menjadi seorang alim (ulama) yang sempurna dan bisa mengajarkan kepada rakyat Indonesia. Itu akan lebih baik lagi. (Ayatullah Murtadha berharap pelajar-pelajar Indonesia yang sudah pernah belajar di Qom kembali ke hauzah/madrasah di sana meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi).

Apakah Anda berharap ada seorang fakih dari Indonesia yang memang bisa mengerti persoalan-persoalan khas Indonesia?
Soal ulama atau fakih tidak ada hubungannya dengan orang Indonesia, Iran, Afrika, India, atau negara lain. Tapi di Indonesia, sama seperti di bidang lain, jika ada seorang profesor di bidang keilmuan lain, tentunya bagus. Begitu juga jika ada seorang fakih di Indonesia, itu bagus sekali.

Ketika orang-orang Indonesia pertama kali belajar di Qom atau Iran, itu karena adanya semangat revolusi Islam Iran. Lalu ada suatu ketakutan akan ada ekspor revolusi ke negara-negara lain, apa benar begitu?
Imam Khomeini (almarhum), saat melakukan revolusi, tak punya tujuan untuk mengekspornya. Tujuan revolusi adalah menyelamatkan rakyat Iran dari kungkungan hegemoni kekuasaan adidaya dan kapitalisme internasional. Seluruh kekayaan Iran berada di tangan mereka dan Iran tak bisa berbuat apa-apa. Revolusi adalah usaha Iran untuk melepaskan diri dari hegemoni tersebut dan alhamdulillah telah berhasil. Dengan keberhasilan itulah nama Iran naik di dunia internasional dan dunia Islam.
Karena itulah ada kesempatan bagi banyak warga negara lain untuk datang dan belajar di Iran. Tapi yang dipelajari selama ini adalah keilmuan dan budaya. Sehingga, saat mereka pulang membawa ilmu untuk masyarakat, tak ada hubungannya lagi dengan kegiatan politik. Mudah-mudahan itu bermanfaat bagi tempatnya masing-masing, sesuai dengan yang mereka butuhkan.

Apakah saran Anda terhadap pelajar Indonesia yang masih obsesif terhadap revolusi Islam?
Imam Khomeini dengan revolusinya berharap terjadinya persatuan kaum muslimin di seluruh dunia. Impian beliau, kaum muslimin bersatu membantu satu sama yang lain, berdasarkan kecintaan dan kesatuan hati. Jangan terpecah belah berebut lapak dakwah.

Ulama Rujukan di Qom

Di Qom terdapat 23 ulama yang bisa menjadi rujukan untuk diikuti. Ulama rujukan atau biasanya disebut marja’ itu masing-masing memiliki madrasah, murid-murid, dan yayasan-yayasan. Lewat marja-marja inilah para pelajar biasa mendapat uang bulanan (shahria) saat tekun belajar di negeri para mullah itu. Di bawah ini beberapa marja’ yang cukup terkenal di Qom.

Ayatullah Sayyid Ali al-Khamenei, 68 tahun

Pemimpin besar (Rahbar) ini adalah pengganti Imam Khomeini, bukan hanya di bidang politik tetapi juga dalam urusan rujukan agama. Sering kali rujukan Ali Khamenei disebut marja’ Imam Khomeini karena, sebelum Imam Khomeini meninggal, berpesan, jika mau mengadopsi ilmu rujukannya pakailah seluruhnya, jangan hanya sepotong atau sebagian saja, dan Ayatullah Khamenei menetapkan rujukan Imam Khomeini sebagai rujukannya.

Khameni adalah putra kedua dari Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Jawad al-Husaini al-Khamenei., lahir di permukiman miskin di Mashad, 28 Safar 1358 Hijriyah atau 1940 Masehi. Walaupun dibesarkan dari keluarga kurang mampu, beliau terdidik dengan baik, memiliki jiwa rohaniawan dan sosial yang tinggi. Semenjak usia empat tahun, Khamenei beserta kakaknya, Sayyid Muhammad, memulai masa pendidikan dasarnya di sekolah Islam yang baru didirikan, Ta'lim-e Diyanat, sampai menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama. Pada usia dini tersebut, Khamenei mulai mempelajari Al-quran.

Saat menginjak masa Sekolah Menengah Atas (SMU), Khamenei remaja mulai mempelajari kitab Jami'ul Muqaddimat beserta nahwu dan sharaf. Setelah itu, melanjutkan pendidikan di Hauzah Ilmiah yang dibimbing langsung oleh ayahnya sendiri.

Selain itu, Khamenei senang mempelajari berbagai buku sastra Arab seperti Jami'ul Muqadimat, Suyuti, dan Mughni yang dibimbing langsung oleh guru yang aktif mengajar di dua madrasah, Sulaiman Khan dan Nawab. Langsung di bawah bimbingan ayahnya, Ali Khamenei mempelajari kitab Ma'alim, Syara'i Al Islam, dan Syarh Al-Lum'ah, serta beberapa saat dibimbing Mirza Mudarris Yazdi. Sedangkan kitab Rasa'il dan Makasib beliau pelajari langsung dari Syeikh Hasyim Qazwini. Di bidang ilmu logika dan filsafat, Khemeni mempelajari kitab Al-Manzhumah karya Sabzawari di bawah bimbingan Al-Marhum Mirza Jawad Agha Tehrani. Kitab-kitab lainnya di bawah bimbingan Al-Marhum Syeikh Ridha Aisi.

Sejak usia 17 tahun, Khamenei mulai pendidikan bahtsul kharij di bidang fiqih dan ushul di bawah bimbingan seorang marja besar waktu itu, Al-Marhum Ayatullah al-Uzhma Milani. Pada 1958, ia belajar di pusat Kota Ilmu, tempat Imam Ali bin Abi Thalib dimakamkan, Najaf Asyraf, Irak. Di sana, Khamenei juga dibimbing langsung oleh para mujtahid besar Hauzah Najaf, yaitu Al-Marhum Muhsin al-Hakim, Sayyid Abul Qosim al-Khu'i, Sayyid Mahmud Syahrudi, Mirza Baqir Zanjani, Sayyid Yahya Yazdi, dan Mirza Hasan Bujnuwardi. Ayahnya tak mengizinkan Khamenei menetap di Irak, dan minta kembali ke Mashad.

Khamenei akhirnya mondok di kota suci Qom, belajar di bawah bimbingan tokoh-tokoh utama Hauzah Qom; Ayatullah al-Uzhma Burujurdi, Imam Khomeini, Syeikh Murtadha al-Hairi Yazdi, dan Allamah Thabathaba’i. Pada 1965, Khamenei kembali ke Mashad, selain untuk belajar dan berkhidmat kepada ayah dan ibu yang telah lanjut usia dan sakit-sakitan, beliau juga sibuk mengajar fiqih, ushul, dan berbagai pengetahuan agama yang lain kepada para santri muda dan mahasiswa.

Ayatullah Khamenei mengaku bahwa dirinya adalah "salah satu murid Imam Khomeini di bidang fiqih, ushul, politik, dan revolusi". Ayatullah Khamenei datang ke Qom mendampingi Imam Khomeini memulai gerakan revolusi dalam menentang rezim Muhamad Reza Pahlevi, anak emas Amerika Serikat. Pada bulan Muharam 1963, Imam Khomeini memberikan mandat kepada Khamenei untuk menyampaikan pesan buat Ayatullah Milani dan segenap ulama di Provinsi Khurasan berkenaan dengan agenda dakwah para rohaniawan pada Muharam untuk memorak-porandakan sistem politik rezim Pahlevi sebagai antek-antek Amerika dan menjelaskan situasi terakhir Iran dan segala kejadian yang terjadi di kota suci Qom. Karena aktivitas dakwahnya enam kali selama pemerintahan Shah, Khamenei ditangkap dan ditahan.

Menjelang tumbangnya Shah, Khamenei diasingkan dari Mashad ke Iransyahr. Di ambang kemenangan revolusi Islam, sebelum kembalinya Imam Khomeini dari Paris ke Teheran, Khamenei ikut mendirikan komite revolusi Islam (Syura iy inqilab Islamiy) bersama Syahid Muthahhari, Syahid Behesti, Hashemi Rafsanjani, dan Musawi Ardabeli. Setelah tumbangnya Shah, Khamenei menjadi wakil Imam Khomeini pada komite tinggi pertahanan (syuraye ‘ali difa’). Sejak Imam Khomeini meninggal, Khamenei menggantikannya menjadi pemimpin besar, sekaligus marja besar.

Karya-karya Ayatullah Khamenei antara lain Pemikiran Islam dalam Al-Quran secara Global, Empat kitab standar dalam Ilmu Rijal, Catatan Historis dan Masa Kini Hauzah Ilmiyah, Pemimpin yang Benar, Persatuan dan Partai, dan lain sebagainya.

Ayatullah Muhammad Imami Kasyani

Jumat awal tahun ini, di tengah musim dingin, Ayatullah Muhammad Imami Kasyani tak mau melepaskan diri dari kewajibannya menjadi Imam dan khatib salat di Universitas Teheran. Ulama bersorban putih anggota Dewan Penjaga Undang-Undang dan pengurus sekolah tinggi Syahid Muthahhari ini dikenal ketakwaannya. “Beliau ini ulama yang paling berakhlak, jika ceramah tak mau menyinggung siapa pun,” ujar Muhammad Amir, veteran perang Iran-Irak, kepada Tempo.

Kasyani menyelesaikan studinya di hauzah ilmiyah Qom dengan para guru, ulama-ulama besar Ayatullah Al-‘Uzhma Burujerdi, Imam Khomeini, dan Allamah Thabathaba’i. Sebagai murid Imam Khomeini, Kasyani punya andil dalam revolusi Islam Iran. Pascakemenangan dalam revolusi, ia terpilih untuk duduk di Majelis Syura Islami (parlemen Iran). Setelah itu ia terpilih sebagai anggota Dewan Ahli untuk memilih pemimpin tertinggi spiritual.

Kasyani ditunjuk Imam Khomeini menjadi anggota Dewan Penjaga Undang-undang Dasar yang terdiri dari fuqaha dan pakar-pakar hukum. Selain itu ia memimpin Sekolah Tinggi syahid Muthahhari, salah satu pusat pendidikan tinggi terpenting di Republik Islam Iran. Lembaga pendidikan itu menerapkan teori pengajaran dan pendidikan khusus, yaitu menggabungkan sistem pendidikan hauzah dan pendidikan universitas. Ratusan orang yang lulus dari sekolah ini menjadi sarjana-sarjana yang mampu menerapkan teori-teori agama dalam bidang hukum, filsafat, dan teologi Islam, khususnya atas hukum dan filsafat Barat.

Ayatullah Imami Kasyani kerap menjadi imam dan khatib Jumat di Teheran yang khutbah-khutbahnya menjelaskan perihal akhlak. “Jika ingin merayakan acara Asyura jangan berlebihan dan gunakanlah akal,” pesannya, Jumat itu.

Ayatullah al-Uzhma Syeikh Muhammad Taqi Bahjat Fumani

Ayatullah Bahjat—begitu ia biasa dipanggil para santrinya. Ia seorang ulama dan faqih terkenal kota Qom dan mengajar pada jenjang Bahtsul Kharij fiqih di Hauzah Ilmiah Qom. Ulama kelahiran kota Fuman ini terkenal karena kezuhudan dan irfannya.

Pendidikannya dimulai di Madrasah Diniyah tradisional di Fuman dan dilanjutkan dengan pendidikan hauzah. Setelah menyelesaikan pendidikan tata bahasa Arab di kota kelahirannya, Bahjat pergi ke Qom. Lalu pergi ke Karbala, Irak, berguru pada Ayatullah al-Uzhma Abul Qasim Khu`i. Tak puas di situ saja, Bahjat melanjutkan pendidikannya di Najaf Asyraf, menjadi murid langsung Akhund Khurasani, penulis kitab Kifayatul Ushul.

Bahjat juga belajar pada Syekh Agha Dhiya’ Iraqi dan Syeikh Mirza Na`ini, dan Ayatullah Syeikh Muhammad Gharawi Isfahani yang terkenal dengan nama Syeikh Kompani. Selain dari ulama-ulama tersebut, Bahjat belajar ilmu fiqh dan ushul dari Ayatullah al-Uzhma Sayid Abul Hasan Isfahani dan Syeikh Muhammad Kazhim Syirazi.

Bahjat juga belajar kitab Isyarat karya Ibnu Sina dan Al-Asfar karya Mulla Shadra pada Sayid Husain Badkubei. Kembalinya ke Iran, Bahjat berguru pada Ayatullah al-Uzhma Kuhkamarei dan menghadiri pelajaran fiqih dan ushul Ayatulah al-Uzhma Burujerdi. Setelah lebih dari 50 tahun mengajar pada jenjang Bahtsul Kharij tinggi ilmu fiqih dan ushul, Bahjat yang termasuk marja’ taqlid (ulama yang patut diikuti/rujukan) zaman ini, memilih mengajar di rumah sendiri untuk menghindari ketenaran yang dapat merusak keikhlasan. (A.T)

Santri-santri Nekat Indonesia

Sampai sekarang ini Qom masih memiliki daya tarik bagi santri asal Indonesia.

Indonesia salah satu pemasok santri bagi hauzah atau madrasah di Qom, Iran. Sejak kemenangan revolusi Islam Iran pimpinan Imam Khomeini, negeri para mullah itu menjadi daya tarik bagi pemuda Indonesia untuk belajar agama. Sebelumnya, minat pelajar Indonesia menimba ilmu agama umumnya ke Universitas Al-Azhar Mesir, Ummul Qurra Arab Saudi, Irak, dan Pakistan.

Saat ini, menurut catatan Yayasan Jahani, lembaga yang bergerak mencari dan memantau lulusan hauzah Qom di mancanegara, tercatat 150 alumnus hauzah Qom di Indonesia. “Saya berharap mereka bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya. Percuma saja sudah jauh-jauh ke Iran dan diberi fasilitas tapi tak menjadi manfaat bagi umat,” kata pemimpin Jahani, Ayatullah Murtadha Muqtadai, yang berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu.

Lulusan Qom di Indonesia kini tersebar di berbagai pelosok Nusantara. Ada yang menjadi pendakwah, guru, penulis, bahkan politikus. Saat ini masih ada ratusan santri Indonesia yang belajar di Qom. Di bawah ini beberapa profil alumnus hauzah Qom.

Musa Kadzim Siraj, 43 tahun,

Pria kelahiran Bangkalan, Madura, 1963 ini semula mahasiswa Jurusan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, selama dua tahun. Tak puas dengan pendidikan yang diterimanya, Musa mulai berkorespondensi dengan lembaga pendidikan yang ada di Timur Tengah: Arab Saudi, Mesir, dan Iran.
Ternyata proposalnya diterima di Iran. “Saya berminat ke Iran karena negeri itu punya daya tarik yang luar biasa. Bahasa dan budaya Persia tua. Iran salah satu kekuatan timur pada zaman rasul. Dan tentu saja revolusi Islam Iran yang dibawa Imam Khomeini,” katanya.

Namun tak mudah untuk bisa masuk ke negeri itu. Apalagi pemerintah Orde Baru saat itu sedang ketakutan dengan isu ekspor revolusi Islam yang diembuskan negara Barat yang anti terhadap pemerintahan Khomeini. Walau tanpa visa, Musa langsung terbang ke Karachi, Pakistan, pada 1985. Ia sempat terdampar selama tiga bulan dan ditampung oleh mahasiswa asal Iran, Mr Daud, di Dow Medical Centre, sebuah asrama mahasiswa Iran yang dibangun Shah untuk mahasiswa Iran di Pakistan.
Setelah memegang visa Iran, Musa lebih dulu belajar bahasa Persia di Nejafabad, delapan kilometer dari Kota Isfahan, selama setahun. Setelah itu, bersama 10 orang lainnya dia “dijebloskan” ke Hauzah Ilmiyah Hujatiyah, Qom. Kampusnya hanya 100 meter dari makam Hazrat Maksumah Fatimah. Sebelumnya, sudah ada enam orang Indonesia lain belajar di madrasah yang memang khusus untuk orang asing itu.

Di sekolah itu Musa, dengan bahasa pengantar Arab, belajar mengkaji akidah Islam, bahasa Arab, fikih, tafsir, dan logika (mantiq). Musa belajar Babul Hadi Asyar (akidah karya Alamah al-Hlli) dari Hujatul Islam Jafar Hadi, murid kesayangan Ayatullah Jafar Subhani. Ia juga belajar Mantiq al-Mudaffar 2 jilid karya Dr Syekh Nabil, Fiqh, Tahrir Wasilah karya Imam Khomeini, dan Tafsir Al Mizan fi Tafsirul Qur’an karya Ayatullah Muhammad Thabathabai. “Yang paling berkesan belajar di Iran adalah perilaku ulama-ulama yang ada di Qom, yang begitu baik menghargai pelajar-pelajar dari Indonesia, tidak merasa lebih tinggi atau pintar. Mereka benar-benar memahami Islam dengan baik dari perilakunya,” ujar Musa.

Setelah lima tahun di Qom, 1990, Musa kembali ke Indonesia, langsung bersilaturahmi ke ulama-ulama, terutama di Martapura, Kota Baru, dan Banjarmasin, Kalimantan. “Di Martapura ada Guru Zain. Martapura itu seperti Qom. Seluruh ulama Kalimantan untuk mengkaji irfan harus ke Guru Zain itu,” katanya.
Selain mengajar bahasa Persia di Pusat Kebudayaan Islam (ICC), Jakarta, Musa aktif berdakwah di kalangan bawah, waria, dan buruh migran. Bulan lalu, selama sebulan Musa mengadvokasi buruh migran di Hong Kong. “Pemerintah harus memperhatikan buruh migran yang menghasilkan devisa tidak kecil bagi negeri ini,” ujarnya.

Abdullah Beik, 37 tahun

Berawal dari membaca buku-buku anti-Syiah dan Imam Khomeini, pelajar Lembaga Pendidikan Bahasa Arab (LPIA) milik pemerintah Arab Saudi itu kemudian justru penasaran terhadap ajaran ahlul bait. “Apalagi setelah menonton film detik-detik kematian Imam Khomeini,” ujar Abdullah Beik. Dengan modal bahasa Arab dari LPIA yang bagus, lulusan SMA di Sumenep, Madura, ini melamar ke lembaga pendidikan di Iran,
Pria kelahiran 1970 tersebut masuk ke Hauzah Hujatiyah Qom pada 1991. Lulus sarjana jurusan syariah, ia lalu pulang ke Indonesia. “Pendidikan di sana sudah modern. Saya sempat belajar langsung dari murid Imam Khomeini, Syekh Nur Muhammadi,” kata Beik.

Saat masih mahasiswa, Beik tinggal di asrama dengan para pelajar bujangan lainnya.Tak puas hanya jadi sarjana, setelah menikah, Beik memboyong istrinya mengambil gelar master teologi dan filsafat di Sekolah Tinggi Imam Khomeini, Qom, sejak 1999. “Saya tinggal di rumah yang disediakan pemerintah Iran khusus untuk mahasiswa asing yang sudah berkeluarga,” ujarnya.

Ayah satu anak ini kembali ke Indonesia pada 2004 dan kini menjadi Manajer Pendidikan dan Dakwah ICC, Jakarta. Sebagai lulusan Qom, Beik juga memantau rekan-rekannya yang aktif di berbagai bidang. “Setiap tahun kami bertemu dalam silaturahmi nasional,” ujarnya.

Dibandingkan dengan India, Pakistan, Turki, atau Afganistan, menurut Beik, lulusan Indonesia tak terlalu banyak. “Jika dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, atau Filipina, Indonesia memang lebih banyak,” kata penggemar film Oshin itu.

Ali Hussein, 32 tahun

Tiga tahun nyantri di Pesantren Al-Hadi, Pekalongan, Jawa Tengah, pimpinan Habib Ahmad Baragbah, ia tak cukup puas. Melalui relasi yang dimiliki ajengan pesantren itu, Ali Hussein, yang sering dipanggil sebagai Ali Pati, berangkat ke Qom pada 1994.

Sebelum diterima di Hauzah Hujatiyah, pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, itu belajar bahasa Persia selama enam bulan di Madrasah Sahabiyah. Di Hujatiyah, Ali bersama pelajar mancanegara asal Tunisia, Sierra Leone, Afrika Selatan, Pakistan, India, dan Malaysia belajar ilmu-ilmu teologi, akidah, fikih, bahasa Arab, ushul fiqh, dan tafsir Al-Quran. “Kelas berisi hampir 40 orang, tiap pagi belajar tiga jam dan sore tiga jam,” katanya.

Selain ustad-ustad yang disediakan madrasah, sering datang juga dosen tamu. “Kami pernah diajar oleh pemimpin Hizbullah Libanon, Hassan Nasrallah,” kenang Ali. Sekretaris Direktur ICC ini punya alasan memilih belajar di Qom. Kota itu dianggap sebagai pusat perkembangan ilmu makrifah Islam, terutama bidang-bidang filsafat, dan ilmu kalam. “Banyak sekali ulama lulusan Qom, bahkan sebagian besar ulama ahlul bait di dunia ini pernah belajar di Qom, marja’-marja’ terkenal juga punya kedudukan di Qom,” katanya. Lulus setingkat sarjana, Ali sempat bekerja selama dua tahun untuk Radio Republik Islam Iran (IRIB) seksi Melayu.

Ammar Fauzi, 33 Tahun

Berawal dari suka filsafat, santri YAPI, Bangil, Jawa Timur, ini mengakses karya-karya orang Iran. Lalu Ammar berhubungan dengan guru-guru yang datang dari Qom.
Pria kelahiran Purwakarta, Jawa Barat, itu nekat pergi dengan tiket satu kali jalan (one way). “Entah bagaimana situasi masa itu, rombongan kecil kami harus mengambil visa entry dari Kedutaan Iran di Kuala Lumpur,” katanya. Lebih dari seminggu Ammar dan kawan-kawan harus berada di Singapura dan Malaysia. Setelah visa diperoleh, barulah bisa berangkat ke Teheran. “Proses perjalanan seperti ini tidak dialami lagi oleh mereka yang datang setelah saya,” ujarnya.

Di Qom, seperti santri Indonesia lainnya, ia diceburkan ke Hauzah Hujatiyah (1994-1998), lalu dilanjutkan ke Hauzah Muassasah Pezwuhesh, Institut Penelitian Misbah Yazdi (1995-2001). Kini Ammar adalah mahasiswa semester akhir program doktoral filsafat Islam Hauzah Imam Khomeini--sejak 2000. Di tempat kuliah, Ammar mendapat pelajaran bahasa Persia, sastra Arab, ilmu-ilmu agama, logika Aristotelian, teologi, filsafat, fisiologi, psikologi, dan matematika. “Sekarang banyak bermunculan guru pemikir muda yang melakukan perimbangan dan terobosan baru di banyak bidang ilmu,” ujarnya.

Ketika awal masuk Qom, Ammar tinggal di asrama. “Seperti tinggal di rumah sendiri,” katanya. Keragaman pelajar waktu itu cukup terlihat. Kini keragaman itu jauh lebih kompleks dan fasilitasnya jauh lebih memadai. Ammar, yang sudah berkeluarga, tak lagi tinggal di asrama. “Kami tinggal di perumahan dan apartemen yang telah disediakan,” ujarnya. Ammar tinggal lima kilometer dari tempat kuliahnya di kawasan Haram Sayidah Ma'sumah.

Tiap bulan Ammar mendapat biaya hidup dari marja’-nya berkisar 250 ribu tuman atau senilai Rp 2,5 juta. “Cukuplah untuk hidup di sini,” katanya. Bagi Ammar, jalan-jalan di pertokoan buku sudah merupakan hiburan.

Abdurahman Baragbah, 46 tahun

Abdurahman Baragbah sudah lelah tinggal di Iran. “Saya mau kembali ke Indonesia, saya sudah bikin surat pengunduran diri,” ujar penyiar Radio Republik Islam Iran seksi Melayu itu. Pria asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang menguasai bahasa Arab, Persia, dan Inggris ini sudah lebih dari 20 tahun berada di Iran.

Tiga belas tahun ia menjadi penyiar dan penerjemah di IRIB Teheran, setelah delapan tahun mondok di Hauzah Hujatiyah Qom. ”Dulu, ketika awal belajar di Qom, kayak di pesantren, kami harus menempel seorang ulama,” katanya. Namun belakangan sistem itu diubah menjadi sistem modern dengan kelas dan hitungan SKS.
Ada kenangan yang tak terlupakan saat ia berada di Qom. Ketika rudal-rudal Irak menghantam sasaran sipil, para ulama meminta para pelajar mancanegara pindah untuk sementara. “Kami semula tidak ada yang mau, dan dengan bersemangat ingin bertahan bersama-sama di pesantren kami. Namun marja’ dengan tegas mengatakan, ini perintah, kami tak bisa menolak,” kata ayah dua anak ini.

Ustad Aman, begitu teman-teman memanggilnya, diberi tanggung jawab mengurusi kepindahan para pelajar ke Mashad. Dengan fasilitas yang terbatas dan waktu menunggu beberapa hari, pemerintah Iran menyediakan dua bus kota--karena bus antarkota dipakai untuk membawa para pejuang ke front depan. Selama 20 jam bus menembus jalan yang dingin dan bersalju.

Dua bulan di Mashad, akhirnya para pelajar kembali menuntut ilmu di Qom. Aman segera kembali ke Indonesia jika proses pengunduran dirinya diterima. Dua anaknya sudah lebih dulu dikirim bersekolah di Yayasan Pesantren Islam di Bangil, Jawa Timur. “Saya ingin mendirikan sekolah Islam modern di Purwokerto,” katanya bercita-cita. (A.T)

Qom: Madrasah, Makam, dan Semangat Perlawanan

“…bagi Allah ada haram, yaitu Mekkah; bagi rasul ada haram, yaitu Madinah; bagi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ada haram, yaitu Kufah; dan bagi kami Ahlul Bait ada haram, yaitu negeri Qom….”(dari Al-Bihaar 60/216).

Musim dingin di Iran, awal Januari, terasa sampai ke tulang. Jaket tebal tak mampu mengusir rasa itu. Di halaman “haram” (kota suci) Qom seorang bersorban putih keluar dari sebuah ruangan, menghitung lembaran-lembaran uang. Tak lama lagi perbuatan yang sama dilakukan lelaki bersorban hitam. Yang bikin penasaran, dari mana mereka mendapatkan uang itu?

Masuk ke dalam lorong sejauh 10 meter, menembus sebuah ruangan besar, ruang itu terasa hangat. Tampak ratusan orang antre dalam kelompok-kelompok. Ada yang mengular, ada yang cuma merubung—di setiap meja atau balai-balai berlapis karpet, seorang lelaki bagai juru hitung membagi-bagikan uang. “Itu uang bulanan dari marja’ (ulama) mereka masing-masing,” kata Alireza, pemandu Tempo, bekas santri di tempat itu.

Besar uang yang mereka terima tiap bulan sekitar 200 ribu sampai 500 ribu tuman atau sama dengan 10 kali lipat nilai rupiah. Masing-masing marja’ berbeda tergantung kekayaan dan banyaknya murid marja’ tersebut. Pada 1985, seorang santri Institut Hujjatiyah asal Bangkalan, Madura, Musa Kadzim Siraj, mengaku mendapat 300 tuman atau sama dengan 3.000 riyal, jika dirupiahkan waktu itu sekitar 300 ribu. Besaran shahria, uang bulanan itu—shahr dalam bahasa Ara berarti bulan—juga tergantung kondisi si santri. Yang masih bujangan, mahasiswa baru, tentu berbeda dengan santri yang sudah senior atau yang membawa keluarganya tinggal di Qom.

Qom, kota berjarak 135 kilometer ke arah selatan dari ibu kota Iran, Teheran, menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa yang haus pendidikan agama. Selain banyaknya ulama, madrasah, kemudahan-kemudahan administrasi dan keringanan keuangan, ghirah keagamaan di Qom lebih terasa. Selain itu tak ada tempat hiburan seperti di sekitar Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. “Banyak ulama yang mumpuni di Qom. Selain itu, saya tertarik karena Iran punya daya tarik yang sangat luar biasa mulai dari sejarah, kekuatan di Timur pada zaman rasul, keilmuan, dan tentu saja kekuatan revolusi Islam,” ujar Musa yang termasuk angkatan kedua mahasiswa Indonesia di Qom.

Memang beberapa orang Islam yang terkenal pada dekade ini seperti Ayatullah Imam Khomeini atau pemimpin Hizbullah Lebanon, Sayyid Hasan Nasrallah, tercatat pernah belajar dan mengajar di Qom. Tak mengherankan jika Qom diminati banyak pelajar dari mancanegara, termasuk Indonesia. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran mencatat 220 orang warga negara Indonesia tinggal di kota “produsen para mullah” itu. Lebih banyak dibandingkan warga Negara Indonesia di ibu kota Iran yang hanya 70 orang. Padahal, saat Musa mulai belajar di Qom hanya ada 16 orang Indonesia, enam orang angkatan pertama, 10 di angkatannya.

Secara geografis, Qom, ibu kota provinsi dengan nama yang sama, bukanlah kota yang indah. Kota berpenduduk 850 ribu orang ini terletak di kawasan sahara tengah Iran. Posisinya berada di tengah padang yang gersang dan jauh dari laut. Suasana padang pasir sangat terasa saat memandang ke kiri dan kanan dalam perjalanan dua jam dari Teheran ke Qom dengan taksi pribadi Peugeot 405 di atas aspal selebar tiga jalur kendaraan.

Iklim Qom sangat kering dengan curah hujan yang kecil. Sebagian besar tanahnya tidak bisa dimanfaatkan untuk pertanian. Tanahnya tidak subur karena posisinya berdekatan dengan danau garam. Di musim panas, suhu udara bisa mendekati 40 derajat Celsius. Meski begitu, di musim dingin suhu udara bisa anjlok hingga di bawah nol dan sesekali turun salju meskipun tak lebat seperti di Teheran. Tak mengherankan, dalam perjalanan ke Qom naik taksi dari kawasan Azadi Square gerbang pintu selatan Teheran, mobil tetap tertutup dengan pemanas kabin. Empat penumpang tiap orang dikutip sekitar 50 ribu riyal sekali jalan; berhenti di bundaran gerbang masuk kota.

Berdasarkan sejarahnya, Qom didirikan sebelum era masuknya Islam ke Iran. Saat itu, kota tersebut pusat agama asli orang Persia penyembah api, Zoroaster. Namun, menurut sebagian kalangan, kota itu didirikan setelah Islam masuk. Kum adalah sebuah nama benteng di kota itu. Ia menjadi Qom setelah orang-orang Arab Muslim menyebut-nyebut benteng itu dengan lafal “qum”. Ketika pasukan Islam menyerang Iran, Qom merupakan bagian dari teritori Isfahan. Karena itu, Qom jatuh ke tangan pasukan Arab bersamaan dengan jatuhnya kota Isfahan.

Qom sering menjadi incaran para penguasa. Pada 23-24 Hijriyah, Abu Musa Al-Asy’ari mengirimkan sebagian pasukan yang berada di bawah komandonya ke Qom. Kota ini pun jatuh ke tangan kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab. Suku Asy’ari kemudian pindah dari Kufah, Irak, ke Qom. Kedatangan mereka membuat Qom lamban-laun menjadi kota. Memang sempat terjadi konflik antara suku Arab Asy’ari pendatang yang muslim dan warga setempat yang beragama Zoroaster, namun pribumi kalah.

Qom hancur diobrak-abrik pasukan Ali bin Hisyam, zaman Khalifah Al-Makmun. Penduduknya dibunuh secara massal karena menolak membayar pajak dan upeti. Khalifah Al-Muktasim yang menggantikan Al-Makmun juga meluluhlantakkan Qom, sebab warganya memberontak setelah Al-Makmun tewas. Qom kembali hancur total ketika pasukan Mongol datang menyerbu.

Pada 1916, ketika pasukan Rusia menyerbu Iran dan memasuki Karaj, banyak warga Teheran yang melarikan diri ke Qom. Saat itu bahkan ada rencana memindahkan ibu kota Iran ke Qom, tetapi digagalkan oleh Kedutaan Besar Rusia dan Inggris dengan menekan Ahmad Shah. Para muhajirin Teheran di Qom kemudian membentuk Komite Pertahanan Nasional untuk membela tanah air. Qom menjadi markas kegiatan politik dan militer anti-Rusia dan Inggris. Namun, setelah sekian kali konfrontasi, pasukan Rusia berhasil menduduki Qom.

Pada zaman Shah Iran menjelang revolusi Februari 1979, tentara Iran menyerbu madrasah-madrasah di sekitar makam Maksumah. Madrasah Faiziyah di Qom adalah salah satu hauzah ilmiyah atau sekolah agama (pesantren) yang paling tersohor di dunia. Madrasah dengan arsitektur Islam yang unik ini didirikan pada abad ke-13 Hijriyah. Menurut cerita santri-santri hauzah, tentara Shah melemparkan santri dari menara setinggi delapan meter. Bahkan kolam air yang berada di tengah-tengah kompleks pendidikan itu pernah dinyatakan dengan fatwa sebagai air najis oleh ulama-ulama penjilat kekuasaan Shah. Gara-garanya air kolam itu pernah dipakai berwudu oleh Imam Khomeini.

Pembantaian santri di Qom menjelang tumbangnya Shah membangkitkan perlawanan. Walaupun dibungkam dan tak diizinkan berkumpul, momen 40 hari kematian santri-santri Qom dipakai sebagai alasan peringatan di berbagai kota. Bagai getuk kepala ular, sejak itu perlawanan terus berlanjut sampai Imam Khomeini tiba dari Paris dan Raja Shah terdepak.

Setelah Khomeini berkuasa, Qom, tak lepas dari cobaan. Saat perang Irak-Iran, puluhan roket Irak menghujani kota Qom karena Presiden Irak Saddam Hussein yakin dari Qom inilah semangat revolusi melawan para tiran dimulai. Para marja dan guru-guru santri memerintahkan pemindahan santri-santri asing dari Qom. “Kami mau bertahan, tapi marja dengan tegas memerintahkan untuk pindah ke Mashad. Memang roket Irak kena ke rumah-rumah penduduk,” kenang Abdurahman Baraqbah, 46 tahun.

Lelaki asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang tinggal sejak 1986 itu, diminta memimpin teman-temannya mengungsi. Walaupun dalam keadaan pengetatan ekonomi, selain karena embargo Amerika Serikat dan negara-negara asing, juga karena perang, pemerintah Iran menyediakan dua bus. “Memang cuma bus dalam kota, tapi ya, keadaan terpaksa, sih,” ujar Aman. Dua puluh jam kemudian, Aman dan santri lainnya sampai di Mashad. Setelah dua bulan di sana, mereka kembali lagi ke Qom.

***
Melawat ke Qom selain ke pesantren, yang menarik dilihat adalah kompleks makam keramat. Qom tersohor sebagai tempat perlindungan keturunan Imam Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW, yang menamakan diri Alawiyyin. Tak mengherankan jika Fatimah, 17 tahun, adik Ali Ar-Ridha , imam kedelapan dalam kepercayaan Islam Syiah, minta dimakamkan di tempat itu saat tak kuat lagi meneruskan perjalanannya untuk menemui abangnya di Khurasan (Mashad). Apalagi, kakak kandungnya pernah berpesan, “Apabila negara diterpa berbagai kekacauan, hendaklah kalian pergi ke Qom, karena di sana tak ada bencana.”

Kakek Fatimah, Imam Ja’far Shadiq, bahkan pernah mengatakan, “Tanah Qom yang suci penduduknya adalah bagian dari kita dan kita bagian dari mereka. Penduduknya tak pernah mengkhianati saudara-saudaranya.” Perawan Fatimah dengan bekal yang dibawa dari Madinah, akhirnya membeli tanah di Qom untuk kuburannya sendiri.

Siang itu saya berkunjung ke makamnya. Bangunan makam keramat itu terletak di tengah kota. Bangunan besar, megah berarsitektur khas Persia itu, memang indah dan mempesona. Dari jeruji besi yang indah, siang itu saya melihat ratusan lelaki perempuan tampak khusyuk berdoa. Ada yang mencium-cium pintu gerbang atau besi-besi mausoleum makam dengan air mata mengalir. Di bagian terpisah perempuan-perempuan ber-chador hitam terdengar meraung-raung. Berdoa di tempat ini, dipercaya akan dikabulkan Allah setiap keinginan seseorang. “Tempat ini juga dianggap sebagai pengganti makam Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah yang tak jelas keberadaannya,” ujar Alireza.

Awalnya makam itu hanya dinaungi semacam ijuk. Berbagai serangan sempat menghancurkan makam itu, namun penduduk Qom lambat-laun menjadikan makam itu berkubah dan bermenara sederhana. Padahal, pada 447 Hijriyah, seorang menteri Taghral, Mir Abul Fazl, membuatkan kubah yang lebih besar di atas kubah pertama setinggi 14 meter.

Di era pemerintahan Safavi, makam memiliki empat ruangan berjajar, satu ruangan di antaranya menyediakan pintu masuk dan satu lagi ruangan menyediakan pintu keluar. Baru di era pemerintahan dinasti Qajar, Raja Fatah Alishah memberikan perhatian ekstra kepada makam sehingga membangunkan mausoleum secara lebih besar dan anggun. Ruang-ruang, dekorasi, dan bilik-bilik yang ada sekarang sebagian besar adalah peninggalan era dinasti Qajar. Pada 1208, Qum dikuasai Agha Mohammad Khan Qajar. Fatah Ali memperbaiki kompleks makam sesuai dengan nazarnya. Kubah dilapis emas, ukiran-ukiran dan keramik Iran, serta kaca-kaca kristal di dalam makam.

Karena selalu ramai pengunjung dari dalam dan luar kota dan bahkan dari mancanegara, tak aneh jika kawasan sekitar kompleks menjadi sangat meriah dan dipadati oleh toko-toko perangkat salat, kitab, batu-batu berharga, pakaian, suvenir, hotel, losmen, restoran, dan rumah-rumah makan. Hal itu mengingatkan saya seperti kawasan sekitar makam Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur.

Selain makam, terdapat juga museum Haram Hazrat Maksumah salah satu museum tertua di Iran yang didirikan pada 1926. Museum yang terdiri dari dua aula yang diperindah seni keramik yang bernilai seni tinggi itu terletak di sisi kompleks mausoleum. Obyek dipamerkan berupa barang-barang berharga, seperti Kitab Suci Al-Quran dengan seni kaligrafi abad ketiga Hijriyah dan ornamen era Safavi. Ada pula permadani karya seniman tersohor Iran, Nikmatullah Jushqani.

Selain itu di Qom terdapat masjid yang dipercaya tempat Imam Mahdi akan turun ke bumi kelak. Masjid Imam Zaman, Jamkaran, terletak di sebuah kawasan pinggiran kota Qum. Masjid ini memiliki nilai mistis lebih tinggi dibanding masjid-masjid lainnya di Iran karena dipercaya didirikan berdasarkan petunjuk langsung dari Imam Mahdi, imam ke-12 atau imam terakhir kaum Syiah yang dipercaya kini sedang gaib dan akan muncul di akhir zaman sebagai juru penyelamat umat manusia.

Di masjid ini dianjurkan salat sunah empat rakaat, dua dengan niat tahiyatul masjid, lainnya dengan niat salat Imam Zaman. “Katanya, barangsiapa menunaikan salat di tempat ini pahalanya sama seperti salat di dalam Ka’bah,” kata Alireza, pemandu Tempo. Pada malam Nisfu Sya’ban atau setengah bulan menjelang bulan puasa, masjid dan area ini dipadati ribuan pelawat. Karena pertengahan bulan Sya’ban diyakini kaum Syiah sebagai hari lahir Imam Mahdi.

Di kawasan pinggiran Qom, juga terdapat rumah Mulla Sadra, filsuf besar abad ke-11 Hijriyah yang berhasil merekonstruksi dan mengembangluaskan aliran filsafat transendental. Rumah filsuf yang hidup di era dinasti Safavi direnovasi pada 1998 tanpa mengubah struktur awalnya. Rumah berupa bangunan batu bata warna cokelat dan menyerupai masjid atau musollah karena memiliki kubah. Pada kubahnya terdapat jendela-jendela kecil dengan kaca warna-warni untuk membiaskan cahaya matahari ke dalam ruangan. Dari jalan bebas hambatan masjid itu masih tampak melambaikan salam selamat datang dan selamat jalan, seolah-olah sang filsuf memberi salam dari Qom.

Ahmad Taufik (Qom, Iran)

Rabu, November 28, 2007

Sektor Keamanan : Cuma Pura-pura Reformasi

Tanggal 30 Mei 2007, di Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, empat warga sipil tewas seketika dan delapan lainnnya luka-luka. Penyerangnya, pasukan khusus Angkatan Laut, Marinir.
Kasus penembakan petani di Alas Tlogo itu mengejutkan publik, mengingat konteks zaman yang sudah berubah. Pasca orde baru, institusi militer berulang kali berusaha meyakinkan publik, bahwa telah dilakukan dengan sekuat tenaga kultur dan karakter institusi tersebut, dari yang dikenal sebagai institusi represif di masa lalu menjadi militer modern profesional.
Petinggi militer di banyak kesempatan selalu menyatakan komitmennya untuk meninggalkan arena politik praktis, patuh pada supremasi hukum. Serta lebih fokus pada penguatan kapasitas profesionalnya sebagai prajurit. Sayangnya, insiden Alas Tlogo membuktikan bahwa harapan itu masih jauh untuk dicapai.
Bahkan setelah ditelusuri lebih jauh, insiden Alas Tlogo itu terjadi karena Yayasan Sosial Bhumyamca merupakan perusahaan di bawah koordinasi TNI AL yang bekerjasama dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dalam PT. Kebun Grati Agung. TNI AL lewat Primer Koperasil AL mendapat 20 persen saham selebihnya milik RNI.
Kehadiran prajurit militer di lapangan (perkebunan) hanyalah menjadi centeng pengusaha. Tak beda jauh dengan kejadian pada masa rezim orde baru. Dalam kasus Tanah Badega, di Garut Jawa Barat pada 1986-1987, misalnya, keterlibatan prajurit militer hanyalah menjadi budak PT. SAM (Surya Andaka Mustika).
Dua hari setelah pembantaian di Alas Tlogi, di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, calon Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menggandeng militer aktif Mayor Jenderal TNI Prijanto menjadi wakil calon Gubernur pada pemilihan Gubernur Agustus 2007. Prijanto pernah menjabat Komandan Komando Resor Militer-051/Wijayakarya Daerah Militer Jakarta Raya tahun 1999 sampai 2000. Kemudian Prijanto menjabat Kepala Staf Komando Daerah Militer Jakarta Raya tahun 2005 sampai 2006, sebelum menjabat Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Darat mulai 5 Mei tahun 2006.
Pilihan itu bukan saja menyakiti, para calon dari pensiunan militer yang sudah lama berkecimpung di partai politik dan institusi sipil, tetapi juga menodai reformasi TNI yang pernah dicita-citakan, tak terjun di bidang politik. Apa komentar calon Gubernur DKI, Fauzi Bowo, “Dia (Prijanto) tahu semua proyek vital di Jakarta." Semua yang berkaitan dengan militer tak lepas dari proyek rupanya.
Kedua peristiwa gress itu langsung ditonjolkan media massa di Indonesia, bahwa reformasi TNI ternyata cuma pura-pura. Anggota Komisi I DPR Andreas Pareira kepada Media Indonesia, misalnya mempertanyakan reformasi TNI. Sebab hingga saat ini praktik lama kekerasan TNI terhadap rakyat kembali berulang.
Andreas mengingatkan sebelum insiden di Pasuruan, terjadi kekerasan lainnya oleh aparat TNI yakni pembunuhan Man Robert akibat dianiaya, di Solok, beberapa waktu lalu. Menurutnya, reformasi struktur organisasi TNI ternyata tak menyentuh sampai kepada reformasi perilaku prajurit TNI. "Ini gaya lama dan harus menjadi perhatian utama para pimpinan TNI. Kalau dibiarkan, selain akan menebar ketakutan masyarakat, juga akan mengakibatkan munculnya perlawanan masyarakat kepada TNI sebagai aparat negara,"katanya.
Insiden di Solok terjadi ketika lima anggota Kodim Solok diduga melakukan penganiayaan Man Robert hingga tewas. Mayatnya ditemukan mengambang di Danau Singkarak pada setelah dikabarkan hilang sejak Minggu (20/5/2007) malam. Dugaan sementara, Man Robert diculik oknum TNI setelah terlibat pertengkaran dengan seorang penumpang Kijang Innova hitam, yang merupakan komandan Kodim 0309 Solok, Letkol Untung Sunanto. Saat itu, korban dan empat temannya yang berprofesi sebagai 'Pak Ogah' itu, mengatur arus lalu lintas di ruas jalan yang ambrol akibat gempa di pinggir Danau Singkarak.
Terjadi cekcok karena penumpang mobil Innova itu tersinggung setelah mobilnya digedor oleh korban dan kawan-kawannya saat terjadi kemacetan. Setelah itu, sejumlah anggota Kodim 0309 Solok mendatangi lokasi terjadinya keributan itu untuk meminta pertanggungjawaban para pengatur lalu lintas itu, yang berakhir dengan dibawanya Man Robert oleh aparat berbaju hijau itu.
***
Bisnis, itulah yang ada dalam otak militer Indonesia sejak kemerdekaan, tentara sudah merasa memiliki negeri yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Menurut Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono TNI terlibat dalam bisnis dimulai sejak 1952. Pada saat itu, pemerintah melakukan rasionalisasi terhadap intitusi tentara. "Sejak saat itu, komandan mulai dari Pangdam bahkan sampai Babinsa, boleh mencari pemasukkan sendiri," ujarnya ketika memberi sambutan dalam peluncuran buku "Menggusur Bisnis Militer: Tantangan Pembiayaan TNI Melalui APBN, di Jakarta.
Pada waktu itu, menurut Juwono, pemerintah tidak mampu membiayai tentara. Institusi ini kemudian diserahkan untuk mengelola hasil nasionalisasi dari aset negara penjajah. Waktu itu pemerintah harus menanggung hutang 3 miliar gulden ke Belanda. "Jadi sejak awal pemerintah tidak memberikan uang yang memadai untuk pertahanan dan keamanan," ujarnya. Mulai tahun itu, TNI terlibat dalam bisnis yang kemudian disebut-sebut gurita bisnis tentara.
Termasuk di dalamnya terjadi berbagai penyelundupan, mulai dari kebutuhan pokok, sembilan bahan pokok, sandang sampai peralatan perang. Bahkan, perebutan kekuasaan pada 1965, sebelum terjadi perpindahan kekuasaan politik, diawali dengan persinggungan bisnis antar petinggi militer (Jenderal Achmad Yani, Nasution dan Soeharto).
Kenyataan itu tampak ketika Soeharto, berkuasa sejak Maret 1966. Semua bisnis vital dipegang oleh militer konco-konconya. Misalnya Pertamina. Perusahaan minyak milik negara di pegang oleh Ibnu Sutowo Deputi Operasi/Peperpu KSAD, pada masa itu.
Namun, menurut Juwono, bisnis yang dikelola TNI kemudian mulai menurun sejak 1985, ketika banyak perusahaan swasta naik daun. Soeharto hanya menjadikan militer sebagai centeng untuk perusahaan anak-anak, keluarga dan kawan-kawannya. Sampai dia tergusur, pada 1998, dan tuntutan reformasi terhadap TNI terutama di bidang bisnis dan politik.
Formalnya, menurut Juwono, sejak 2004 bisnis TNI harus dikembalikan kepada. "Sejak 1980-an diskusi soal pelepasan bisnis TNI ini sudah dibahas,"ujarnya. Sesuai amanat pasal 76 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, agar bisnis yang dikelola tentara diseerahkan kepada negara, maka awal 2004 itu kemudian dibentuk Tim Supervisi Transformasi Bisnis TNI. Tim yang anggotanya terdiri dari berbagai departemen ini mendata semua aset dan bisnis TNI. "Dari 1.500 usaha, yang termasuk dalam kategori korporasi, dengan aset di atas US$ 50 ribu, hanya enam sampai tujuh perusahaan," kata Juwono.
Tim ini sepakat untuk tidak menyerahkan badan hukum berupa koperasi dan yayasan yang langsung berhubungan dengan kesejahteraan prajurit dipertahankan. Dua badan hukum ini, kata Juwono, adalah lembaga yang selama ini menopang kebutuhan sehari-hari keluarga prajurit, termasuk beasiswa anak-anak tentara. "Ke depan pemerintah yang harus bertanggungjawab untuk menuhi kebutuhan tersebut," ujarnya.
Menurut Ketua Komisi Pertahanan DPR, Theo L. Sambuaga, penyerahan aset bisnis TNI kepada negara tidak selalu mulus. Menurut politikus dari Partai Golkar ini, banyak aset terutama yang berupa tanah, disewakan kepada pihak ketiga. Salah satunya, itulah yang terjadi di Alas Tlogo.
***
Semula orang menduga reformasi TNI berhasil dalam bidang politik, yaitu menyingkirkan militer aktif dalam parlemen dan pemerintahan sipil. Bahkan seorang peneliti asal LIPI Jaleswari Pramodhawardani sempat terkecoh, dalam pernyataannya sebuah diskusi buku di Jakarta, menyatakan, "sejak tahun 1998, ketegangan yang terjadi antara sipil dan militer lebih terkait dua isu, bagaimana mengeluarkan TNI dari politik dan dari bisnis. Kalau untuk yang pertama, prosesnya relatif jauh lebih mudah daripada yang kedua," ujar Jaleswari.
Munculnya, Prijanto militer aktif dalam jabatan politisi sipil sebagai calon wakil Gubernur, menunjukkan tesis Jaleswari keliru. Pengamat CSIS J Kristiadi menilai, pencalonan anggota TNI dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) dapat menganggu proses reformasi di tubuh insitusi militer tersebut. "Secara konstitusi anggota TNI hanya boleh memilih, bukan dipilih. Kalau pun dia akan mencalonkan diri harus pensiun terlebih dulu," katanya.
Ketentuan bahwa seorang anggota TNI dapat ikut dalam pemilihan kepala daerah, menurut Kristiadi dapat diartikan bahwa TNI akan kembali pada arena politik praktis yang justru bertentangan dengan reformasi yang kini sedang dijalankan TNI. "Apalagi ada ketentuan seorang anggota prajurit yang kalah dalam bursa pilkada dapat kembali bertugas di dinas kemiliteran meski tidak menduduki jabatan semula. Ini kan, seperti dagelan jadinya," ujarnya.
Karena itu, jika TNI ingin benar-benar menjalankan reformasi hingga menjadi institusi yang profesional dalam menjalankan tugas pokoknya menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI, maka anggota TNI tidak perlu ikut bursa dalam pilkada.

***
Hasil Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Harian Kompas, misalnya, menilai Tentara Nasional Indonesia (TNI) tampaknya sedang berada di persimpangan jalan. Antara meneruskan agenda reformasi dengan meningkatkan profesionalitas dan menahan diri dari politik. Ataukah meninggalkan barak dengan membuka sedikit kebebasan politik di dalam tubuh lembaga pertahanan-keamanan ini?
Ternyata adahal yang sama yang ditemui Kompas dalam penelitiannnya itu, melihat proses politik pasca orde baru, publik mendua saat menyikapi peran TNI saat ini, antara mendukung dan khawatir terhadap penggunaan hak politik TNI. Kesimpulan ini terungkap dari pengumpulan pendapat masyarakat yang secara khusus menyorot peran dan citra TNI menjelang peringatan hari lahirnya, 5 Oktober 2006.
Sebenarnya, citra TNI memperlihatkan kecenderungan membaik, jika dirunut sepanjang reformasi sejak 1998. Pada tahun ini tidak kurang dari 60,6 persen menyatakan citra TNI baik. Namun, di sisi lain mereka yang menilai citra TNI kurang baik justru menunjukkan kecenderungan meningkat.
Jika tahun lalu 22,2 persen responden menilai buruk citra TNI, tahun ini persentase itu meningkat menjadi 35,3 persen responden. Meningkatnya citra buruk TNI tak bisa dilepaskan dari konteks peristiwa yang melingkupi lembaga yang kini berusia 62 tahun itu.
Peristiwa terbesar yang cukup mengguncangkan kepercayaan publik pada 2006 adalah penemuan ratusan pucuk senjata dan puluhan ribu amunisi di rumah almarhum Wakil Asisten Logistik Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Waaslog KSAD) Brigjen Koesmayadi, di Jakarta Utara.
Tak urung, hal ini menjadi polemik yang cukup menimbulkan kecurigaan terhadap adanya gerakan yang tak terkontrol di dalam tubuh TNI. Hampir separuh (47,3 persen) responden menyatakan bahwa penemuan senjata tersebut membuat rasa percaya mereka terhadap TNI berkurang. Lebih lagi, sebagian besar (65,2 persen) responden pun pesimistis, persoalan temuan senjata ini akan diusut sesuai dengan prosedur hukum hingga tuntas. Lepas dari itu, pembenahan dan kontrol atas bisnis senjata di tubuh TNI tampaknya juga belum memperlihatkan hasil nyata. Bahkan, alih-alih berkurang, beberapa hari ini malahan terkuak lagi keterlibatan oknum purnawirawan TNI dalam jual-beli senjata gelap di Amerika Serikat.
Namun, torehan arang yang ditimbulkannya tampaknya tak menghapus citra baik yang sudah mulai dibangun TNI sejak masa reformasi. Ingatan publik akan peran TNI dalam berbagai bencana yang menimpa negeri ini, kesigapan TNI turun ke lokasi bencana, mulai dari letusan Gunung Merapi, gempa Yogyakarta, tsunami Pangandaran hingga lumpur panas Sidoarjo ternyata berhasil membangkitkan apresiasi positif publik. Peran sosial TNI membantu masyarakat dalam berbagai peristiwa mendapat pujian, tiga dari empat (75,0 persen) responden mengaku puas dengan kinerja TNI membantu masyarakat di lokasi bencana alam.
Sayangnya, meski peran sosial TNI mendapat sambutan positif publik, apa yang justru menjadi tuntutan profesional TNI sendiri tampaknya belum memuaskan. Dalam memulihkan keamanan di daerah-daerah konflik, baru 46,3 persen yang mengaku puas, sementara separuh yang lain (50,7 persen) mengaku belum puas. Penilaian terhadap aspek kinerja TNI yang lain seperti menjaga kedaulatan negara pun tidak terlalu antusias disikapi responden.
Terhadap berbagai penilaian kinerja TNI, mereka yang memberi apresiasi positif hampir berimbang dengan mereka yang memberikan penilaian negatif. Secara umum, mayoritas (57,6 persen) publik jajak pendapat memang puas dengan kinerja TNI saat ini. Meski demikian, masih ada 39,7 persen yang merasa tidak puas.
Di antara pujian dan kritik publik, TNI sendiri sedang ada dalam wacana tarik-menarik mengenai peran politisnya. Setelah diredam cukup lama sejak tumbangnya rezim militer Soeharto, kini hak-hak politik anggota TNI mulai dipertanyakan lagi. Keinginan untuk memulihkan hak politik anggota TNI justru beredar di kalangan DPR yang notabene merupakan representasi dari partai politik. Tampaknya persoalan peran politis TNI di mata publik ini memang menimbulkan kegamangan, antara dibiarkan tetapi dikhawatirkan.
Di satu pihak berkembang wacana mengembalikan hak pilih TNI dalam pemilu, yang berarti langsung atau tidak langsung akan kembali membawa TNI masuk dalam praksis politik. Meski dengan cara yang mungkin sama sekali berbeda dengan peran politik TNI pada masa-masa sebelumnya. Di pihak yang lain, tak kurang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri sampai tiga kali dalam forum resmi meminta agar TNI tidak berpolitik.
Pelaksanaan hak politik TNI pun disikapi mendua oleh masyarakat. Separuh (49,2 persen) publik jajak pendapat ini tidak keberatan prajurit TNI diberi kembali hak untuk memilih seperti pada Pemilu 1955, sementara separuh yang lain (48,8 persen) menolaknya. Di sisi yang lain, kekhawatiran publik diam-diam merebak. Jika TNI diberi hak pilih untuk memberikan suara dalam pemilihan umum, dikhawatirkan TNI akan sulit menjaga netralitasnya. Tidak kurang dari 62,1 persen responden menyatakan kekhawatiran mereka akan hal tersebut. Terlebih, di mata 65,5 persen, selama ini TNI lebih berpihak kepada penguasa ketimbang rakyat.
Pernyataan Presiden Yudhoyono agar TNI tidak berpolitik sangat beralasan. Setidaknya, bagi mayoritas (67,9 persen) responden yang memang menilai TNI masih berpengaruh sangat kuat dalam perpolitikan di negeri ini. Namun, keterlibatan politis TNI saat ini diinginkan atau ditolak publik, tampaknya masyarakat pun masih gamang memutuskan.
Untuk kegiatan politik praktis dengan tujuan memperoleh kekuasaan daerah, misalnya, publik cenderung menginginkan figur sipil lebih tampil ketimbang figur militer. Tidak kurang dari 61,7 persen dengan tegas menyatakan tidak setuju jika ada anggota TNI yang terjun berpolitik untuk memperebutkan kursi kekuasaan dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Tampaknya, sebagian besar publik tak ingin kembali ke masa lalu ketika jajaran kepala daerah didominasi oleh militer.
Jika publik masih menampakkan sikap yang ragu terhadap peran TNI di bidang politik, di bidang bisnis secara tegas publik menolak keikutsertaan TNI. Meskipun lebih dari separuh responden (66,2 persen) memandang kesejahteraan anggota TNI saat ini masih memprihatinkan, mayoritas (86,2 persen) menolak TNI berbisnis dan dengan tegas menyatakan negaralah yang seharusnya menjamin kesejahteraan hidup para prajurit tersebut.
Hanya satu dari sepuluh (11,8 persen) responden yang setuju anggota TNI berbisnis. Berbagai hasil jajak pendapat ini semakin menunjukkan sosok TNI di negeri ini yang dipandang tidak selalu dalam satu sisi. Dalam beberapa sisi, keberadaannya kadang kurang diingin, namun di sisi lain pamornya sebagai kelompok terlatih penjaga pertahanan negara tetap selalu menarik perhatian, terkadang kebanggaan. Kebanggaan seperti diungkapkan oleh 63,6 persen responden seandainya ada saudara/famili yang menjadi TNI, mungkin cukup memberikan gambaran tingkat penghargaan yang cukup tinggi terhadap kelas sosial mereka.
***
Kasus Kusmayadi, Alas Tlogo dan Wagub Prijanto merupakan kegagalan dalam reformasi TNI. Nantinya, akan berkaitan dengan rencana ke depan bangsa ini, terutama berkaitan dengan beberapa rancangan undang-undang (RUU). Antara lain RUU Pertahanan dan Keamanan Negara (Hankamneg), Intelejen, Rahasia Negara dan Komponen Cadangan.
Tak heran jika media massa menyoroti hampir semua tingkah laku TNI. Harian Kompas banyak menulis tentang belum siapnya reformasi dalam tubuh TNI. Cuma dalam menyampaikan kritik, Kompas, seringkali tak langsung pada sasarannya. Sehingga sulit dimengerti bagi masyarakat awam. Tulisan kritis terhadap militer justru datang dari para penulis opini, yang bukan orang “dalam” Kompas.
Majalah TEMPO lebih kritis dan langsung menohok. Misalnya, tentang penemuan 103 pucuk senapan, 42 pistol, 6 granat, dan hampir 30 ribu peluru di rumah mendiang Brigadir Jenderal Koesmayadi. Bagi Tempo itu merupakan hal yang serius.
Soalnya, menurut TEMPO, berbagai konflik bersenjata, seperti yang belum lama terjadi di Aceh dan Maluku maupun yang masih berlangsung seperti di Poso dan Papua, sering memunculkan pertanyaan tak terjawab: dari mana senjata standar militer para pelaku kriminal itu diperoleh? Termasuk juga ketika, dalam pekan yang sama, seorang penjual senjata otomatis Uzi di Jakarta Utara ditangkap polisi. Dan sebelumnya, ketika polisi melaporkan telah menyita senapan serupa dari kelompok Jamaah Islamiyah. Temuan di rumah Brigjen Koesmayadi mudah-mudahan akan menjadi titik terang dalam upaya melacak asal-usul peredaran senjata militer gelap yang telah menyebabkan berbagai aksi kekerasan di republik ini, bahkan juga ke luar negeri.
Kompas juga termasuk yang rajin mengamati hal-hal yang formal seperti misalnya pengajuan RUU yang berkaitan dengan TNI. Edagkan Tempo Interaktif, lebih ke soal pernyataan dan kegiatan yang bernilai news-nya.
Bisa dilihat misalnya, dalam pemberitaan mengenai RUU Hankamneg, yang draftnya diajukan oleh Departemen Pertahanan Menteri Pertahanan, kepada situs Tempo Interaktif secara jelas menyatakan, pemisahan TNI-Polri adalah bentuk kebablasan reformasi TNI 1998-1999. Ini seperti memutar balik reformasi TNI yang telah membagi persoalan keamanan kepada polisi sedangkan pertahanan kepada TNI.
RUU itu membutuhkan pengaturan tugas perbantuan TNI dalam masalah keamanan. Tugas perbantuan TNI merupakan tugas-tugas yang diberikan kepada TNI selain tugas pokoknya, menjaga pertahanan negara. Hampir semua negara yang menganut prinsip supremasi sipil memiliki regulasi perbantuan militer. Untuk memperjelas, karena tugas pertahanan dan keamanan memiliki concern yang berbeda.
Kerangka tugas keamanan dan ketertiban Polri kini adalah pelayanan dan pengayoman. Melayani masyarakat dalam hal ketertiban dan keamanan. Melindungi masyarakat dalam hal ketertiban dan keamanan pula.
Cara dan pendekatannya bukan ancaman dan represi, melainkan informasi, komunikasi, persuasi. Dapat kita bayangkan, betapa tidak
sederhananya pekerjaan itu. Di samping mendorong Polri terus-menerus
secara sungguh-sungguh mereformasi diri, masyarakat tidak bisa tinggal diam atau bersikap terima beres.
Ketertiban dan keamanan, apalagi rasa aman sekaligus, merupakan
tanggung jawab masyarakat. Bahkan, reformasi prodemokrasi dan hukum
dan hak-hak asasi manusia, juga memberikan ruang, kesempatan,
tantangan dan tugas lebih besar kepada masyarakat.
Membangun ruang, kesempatan dan tugas lebih besar kepada
masyarakat, agar diterima dan dipahami oleh publik serta para
eksponennya sebagai bagian dari membangun masyarakat madani, civil
society.
Pembagian tugas itu, sebagai konsekuensi dari konsep military
operations other than war (MOOTW) Konsep MOOTW lahir dan muncul sebagai akibat mulai berkurangnya ancaman perang yang bersifat militer (konvensional) dan kian beragamnya ancaman negara yang bersifat nonmiliter.
Menurut Amien Rais ide penyatuan TNI-Polri seperti yang diisyaratkam Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, menandakan dasar lonceng keterpurukan demokrasi. Jika kekuatan militer sudah mengkooptasi kekuatan polisi, sebenarnya salah satu sendi demokrasi, menurut guru besar Ilmu Politik Fisipol UGM Yogyakarta sudah mulai patah. “Jika itu terjadi, sistem Orde Baru yang ditinggalkan akan kembali lagi,”katanya.
Dalam UU No 34/2004 tentang TNI disebutkan 14 macam operasi
militer selain perang, tetapi hingga kini belum dilengkapi mekanisme
dan tata cara pelaksanaannya. Sebagai prinsipnya, tugas perbantuan
TNI ini dilakukan berdasarkan keputusan-keputusan politik pemerintah.
***
Kegagalan reformasi TNI juga terlihat dari penerapan hukum. Dalam kasus penembakan di Alas Tlogo misalnya, pemeriksaan prajurit pada insitusi militer menodai reformasi TNI, sekaligus mengundang kritik. Ketua Komisi Yudisial Busro Muqoddas, misalnya, menyatakan kasus penembakan aparat terhadap masyarakat Pasuruan Jawa Timur sebaiknya diproses hukum di peradilan umum.
Sebab jika diadili di peradilan militer, nuansa esprit de corps ( semangat melindungi korps militer) akan sangat kental. Jika diadili di peradilan umum, menurut Busro, maka prinsip equality before the law atau kesetaraan dan transparan akan terwujud. “Mereka yang terlibat di Pasuruan itu selayaknya kemudian diproses di peradilan umum bukan peradilan militer. Kalau diproses di peradilan militer, kita tahu, korps militer sangat kental," katanya.
Menurut Busro, prinsip kesetaraan dan transparan harus dikedepankan sehingga memang kasus Pasuruan mestinya diproses di peradilan umum. Selain itu, jika kasus Pasuruan diadili di peradilan umum, sekaligus menjadi warning bagi peradilan umum agar berhati-hati dalam membuat keputusan
Dalam kasus di Pasuruan tersebut, Busro menilai ada satu sisi yang menarik untuk ditelaah yaitu sejauh mana tentara baik secara kelembagaan maupun struktural berpandangan terhadap rakyat dan hak-haknya. “Jika rakyat dipandang sebagai satu komunitas bahwa dari rakyatlah kekuasan memperoleh legitimasi, pemasukan dari pajak mereka termasuk untuk membeli peluru tentara, maka mestinya itu tidak untuk melukai rakyat,”ujarnya. Begitu juga kasus-kasus lain yang berkaitan dengan orang sipil dan tindak pidana “sipilis”, walaupun pelakunya tentara, tak boleh lagi diadili di peradilan militer. Karena melihat perbuatannya itu.
Menurut Koordinator Advokasi Imparsial, Donny Ardyanto, dalam bisdang hukum aturan yang dikritisi menyangkut struktur dan organisasi peradilan militer. Seharusnya, pembinaan personel militer, organisasi, prosedur, administrasi dan finansial di lingkungan peradilan militer tidak ditempatkan di bawah panglima TNI untuk menghindari pengaruh komando, juga tidak ditempatkan di bawah Mahkamah Agung. “Bertentangan dengan prinsip TNI sebagai eksekutif (ketika di bawah MA),” katanya. Sementara itu dalam penanganan kasus masih di bawah MA.
Tentang fungsi atasan yang berhak menghukum (Ankum) dan Perwira Penyerah Perkara tidak boleh mempunyai wewenang penuh dalam menentukan yuridiksi pengadilan terkait dengan tindak pidana yang dilakukan prajurit TNI. “Luasnya kewenangan serta kecendrungan ekslusifisme lingkungan militer membuka peluang penutupan kasus yang sebenarnya merupakan wilayah hukum pidana umum,” ujarnya.
***
Memang proses reformasi memerlukan saling kontrol dan saling
mengingatkan. Tetapi, proses reformasi juga memerlukan saling percaya
dan saling memberikan kesempatan. Proses reformasi memerlukan waktu
dan karena itu juga memerlukan suasana yang kondusif.
Menurut pakar militer Salim Said, salah satu tantangan reformasi
keamanan adalah menarik tentara masuk dan bisa menempatkan diri dalam 'agama baru', yakni the religion of democracy. Termasuk dalam konteks ini adalah mencegah polisi termiliterisasikan dan badan-badan intelijen didominasi oleh tokoh dan wacana militer.
Tanpa kesediaan militer untuk masuk ke era baru, sulit bisa diwujudkan konsep keamanan yang lebih menyeluruh dan berpusat pada manusia. Salim melihat ada dua kendala besar. Pertama adalah keengganan tentara untuk bisa mempercayai sipil dan mengakui supremasi sipil. Kedua adalah kesiapan dan keberanian di kalangan sipil sendiri. Contoh teranyar, adalah pasangan Cagub/Cawagub DKI Jaya, Fauzi Bowo/Prijanto itu.
Seorang tentara senior lainnya, Hasnan Habib melihat masih dominannya pandangan dwifungsi di kalangan militer, sehingga mempersulit penegakan profesionalisme di kalangan tentara. Meski ada pandangan yang lebih sesuai untuk era sekarang, the old professionalism, yang dipromosikan Samuel Huntington, tentara profesional di bawah kendali sipil. Namun, kalangan tentara Indonesia condong menganut the newprofessionalism ala Alfred Stephan, yang menjadi basis legitimasi dwifungsi militer di banyak negara berkembang.
Padahal, menurut Salim Said, Stephan sebenarnya hanya memberi baju baru kepada kenyataan di dunia ketiga. Yang memang didesain oleh pemerintah AS untuk menjustifikasi keterlibatan tentara di dalam politik, terutama di bawah rezim Amerika Latin yang didukungnya. Pandangan ala Stephan ini masih dominan di kalangan tentara Indonesia.
Kendala lain datang dari para politisi sipil sendiri, menurut Salim Said masih ada kegamangan sipil bila memutuskan sesuatu terhadap institusi militer. Misalnya, saat parlemen mau menentukan, calon Panglima TNI. Walaupun itu jabatan militer, tetapi penentuannya tetap berada di bawah kendali sipil yang terwujud dalam parlemen itu.
Parlemen, menurut pakar politik lainnya Kusnanto Anggoro, sebenarnya bisa memainkan peran penting dalam reformasi militer. "Secara teoritis, kontrol sipil terhadap militer dapat dilakukan melalui beberapa mekanisme," katanya.
Dia menunjukkan beberapa prosedur, antara lain pemandangan umum (public hearing) dan/atau kontrol anggaran (budgetary control). DPR misalnya dapat menyetujui besarnya anggaran pertahanan dan melalui mekanisme itu menentukan "kekuatan" militer.
Departemen Pertahanan menyusun Buku Putih (Defence White Paper) dan Kaji Ulang Strategi Pertahanan(Strategic Defence Riview) sebagian panduan tentara dalam mengembangkan kekuatan operasionalnya. DPR dapat mempertanyakan kebijakan pertahanan dan keamanan yang diambil Presiden, Menteri Pertahanan maupun Kepala Kepolisian Negara."Namun bahkan sebagian naluri kontrol sipil terhadap institusi militer itupun tampaknya belum cukup kuat bersemayam di berbagai institusi demokratik," kata Kusnanto.
Pilar demokrasi yang lain, menurut Kusnanto, media massa. Namun, pada kenyataannya menghadapi persoalan yang kurang lebih sama. Sebagian besar wartawan lebih tertarik memberitakan "politik para jenderal" daripada soal pertahanan substansial.
Harian Republika, tak terlalu tampak tertarik pada soal-soal reformasi dalam tubuh militer. Bagi ketika ada kejadian atau peristwa tertentu, diberitakan sesuai proporsinya. Ulasan panjang soal reformasi dalam tubuh militer baru dibicarakan pada saat seputar dirgahayu TNI.
Jakarta Post, mungkin karena harian berbahasa Inggris, lebih berani mengkritik TNI. Bahkan dalam, peristiwa berkibarnya bendera-bendera separatism belakangan ini. Militer terutama intelejen TNI, dianggap salah melakukan pendekatan terhadap masyarakat. Sebuah contoh kegagalan reformasi dalam tubuh TNI.
Nampak bahwa aliansi dan koalisi sipil untuk membawa militer ke dalam tatanan demokrasi begitu rapuh sehingga tidak menjamin kesinambungan reformasi militer. Perubahan, kalaupun terjadi, semata-mata mengandalkan pada kesukarelaan tentara. Dalam suasana seperti itu, selalu terbuka kemungkinan bagi struktur politik secara maksimal dieksploitasi kekuatan politik tertentu, termasuk tentara.
Saat ini kalangan sipil sudah selayaknya berani mengambil keputusan untuk membagi peran masing-masing dalam bidangnya. Begitu juga TNI harus sadar dengan pilihan yang diambilnya. Semua ini, berkait dengan pembagian peran dalam memajukan dan mensejahterakan bangsa. Seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini.
Dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945, jelas, tujuan proklamasi, yaitu membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Negara tersebut, Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (sekian)

Ahmad Taufik,
Jurnalis anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kini bekerja di majalah Tempo.

Sumber :
Laporan sementara Kontras, 6 Juni 2007
Tempo Interaktif, 31 Mei 2007
Media Indonesia Online, 31 Mei 2007
Kompas, 12 Juni 2007
Kompas, Rabu, 04 Oktober 2006
KOMPAS, Senin, 12-12-2005
Tempo Interaktif, 15/2/2005.
TEMPO Edisi 10 Oktober 2004
Antara, 14 April 2005
Tempo Interaktif 7 juni 2007
Tempo Interaktif, 18 Juni 2007
Republika, 6 Oktober 2006
Jakarta Post, 10 July 2007

Jazz Goes to Campus 2007 :Jazz, Bazzar dan Asem Keringat

Salah satu pertunjukkan jazz tertua digelar di Kampus UI Depok. Penontonnya membludak, kebanyakan menikmati jazz pop.

Udara yang pekat, tanpa angin tak menyurutkan semangat orang-orang datang ke perhelatan ke 30 Jazz Goes to Campus 2007 di Kampus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, pinggiran kota Jakarta, Ahad, dua pekan lalu.
Sejak pukul 09.00, suasana kampus sudah ramai. Banyak jalan ditutup ke tempat itu. Bahkan di luar kampus, jalan menuju pusat pendidikan itu macet. Di dalam kawasan pertunjukkan yang dibatasi dengan terpal plastik warna biru, tampak berbagai stand, mulai dari kaos, souvenir, cakram padat (disc) sampai sate padang meramaikan tempat itu. Suasana bazzar sangat kental. “Ada 63 stand,”ujar Anita, seorang panitia.
Sambil kipas-kipas, dan mengusap keringat penonton yang kebanyakan kaum muda-mudi tumplek di depan dua panggung terpisah; Celebration Stage dan Inspiration Stage menikmati berbagai jenis musik jazz. Mulai dari yang pop, fussion, dixie, swing, groovy sampai yang jazzy banget. “Inspiration Stage merupakan panggung yang memberikan kesempatan kepada penonton untuk lebih dekat kepada yang main. Sedangkan Celebration Stage lebih seperti konser,”kata Ketua Panitia Christa Sabathaly.
Di panggung Celeberation yang menampilkan Ireng Maulana, Idang Rasyidi, Andien, Tompi, Benny Likumahuwa, Iga Mawarni dan grup lainnya lebih semarak dan padat. Sedangkan di panggung Inspiration yang menampilkan Syaharami, Balawan, Sol Project dan kelompok jazz lainnya, tak sebanyak panggung satunya. Pembagian panggung sebenarnya punya maksud, inspiration bagi penikmat benar-benar jazz, sedangkan celebration buat penggemar jazz populer.
Pada awal pertunjukkan para penonton bisa duduk di taman-taman rumput atau di tengah lapangan, di depan panggung, bahkan lebih banyak yang pergi berbelanja di counter-counter bazzar. Namun, sejak Tompi tampil, menjelang sore, keadaan sudah padat, para penonton sudah tak bisa rileks lagi, semua berdiri. Bau asem keringat menusuk saat berbaur, karena udara terbuka yang tanpa angin. “Hebat UI, Hebat,”kata Ireng Maulana sambil melemparkan karcis Jak Jazz buat penonton.
“Saya sejak pertama kali acara ini diadakan pada 1977, dan tiga tahun pertama mengisi acara ini, saya terkesan sekali,”kata Ireng memuji perhelatan yang bisa menyedot banyak pengunjung. Sosialisasi musik jazz ke kampus ini digagas Chandra Darusman , terbukti berhasil menarik minat banyak sponsor pendukung, juga jumlah pengunjung yang terus bertambah setiap tahunnya. Dulu pada awalnya di gelar di Kampus Salemba, Jakarta Pusat. “Waktu itu Chandra masih main. Kami diajaknya, Yuk kita main. Yuk kita nge-jam bareng, waktu itu masih pakai tikar. Bagus, sekali, tujuannya mengenalkan jazz ke masyarakat,”kenang Ireng. Karena tempatnya kecil di Salemba, menurut Ireng, penonton sampai naik ke atas genteng.
Jazz Goes to Campus boleh dibilang even musik jazz terbesar dan nomer dua tertua di dunia. Karena kelahirannya hanya berselang setahun setelah North Sea Jazz Festival Belanda yang merupakan even musik jazz tertua dan terbesar di dunia.
Dalam perjalanannya festival Jazz FE UI ini telah menghadirkan sejumlah musisi ternama dunia seperti Bob James, Dave Koz, Claire Martin Quintet, Ron Reeves, Los Cabaleros, Coco York, Mike Del Ferro hingga Curtis King. Dari negeri sendiri ada Bubi Chen, Benny Mustafa, Benny Likumahua, Yopie Item, Ireng Maulana & Friends, Ermy Kullit, Elfa Secoria, Krakatau, Indra Lesmana Reborn, Riza Arshad, Tohpati, SimakDialog, Donny Suhendra, Iga Mawarni, Syaharani, hingga Tompi. “Tujuan pertama memang memperkenalkan Jazz. Yang main waktu pertama kali di bawah pohon, itu sudah meninggal semua. Tapi spiritnya tetap ada,”kata Idang Rasjidi yang hanya absen sekali selama keberadaan festival ini.
Musik Jazz berkembang di Universitas Indonesia tak lepas dari kendali pemerintahan orde baru yang menerbitkan kebijakan apolitis mahasiswa dan kampus (NKK-BKK) pada 1978. Sedangkan kampus-kampus lain, seperti ITB Bandung dan UGM Yogyakarta musik itu tak begitu berkembang, karena mahasiswanya masih sibuk “melawan” pemerintah. Jazz juga dianggap milik “kaum elit”.
Padahal sejarah jazz yang lahir di Amerika Serikat 1868, dan berkembang pada 1917, justru dimainkan kaum kulit hitam di New Orleans. Mereka main di bar, rumah judi dan tempat bordil (pelacuran) yang tumbuh disana.
Di Indonesia, musik ini dikembangkan oleh Jack Lesmana dengan mendirikan sekolah musik pada awal 1970-an. Chandra Darusman, Abadi Soesman, Benny Likumahua, dan anak sendiri Indra menjadi “kelinci” percobaan yang meneruskan sehingga musik ini berkembang pesat. Anak muda, begitulah sasaran Jack menularkan jazz. Chandra membawanya ke kampus UI.
Salah satu keunggulan Jazz Goes to Campus adalah melahirkan grup jazz anyar, lewat jazz competition yang digelar beberapa hari sebelum pertunjukkan akbar. Hasilnya tak jelek, misalnya Witry and friends juara pertama tahun ini yang tampil awal di panggung selebriti, suaranya empuk jazzy dan sang penyanyi cabtik pula. Cuma sayangnya, kelompok ini masih menyanyikan lagu-lagu asing.
Berbeda dengan Tompi yang energik, dengan modal ketenarannya saat ini, berani tampil membawakan lagu Balonku Ada Lima, dan Ketahuan milik Matta dalam balutan jazz. “Memang ada beberapa band yang pronounciation-nya sengaja dibikin-bikin biar terkesan bule, keren. Kalo menurut gue, kalo berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kalo nyanyinya enak, tetap enak kok,”kata dokter yang sudah tampil tiga kali di tempat yang sama.
Banyak tampilnya jazz pop membuat Imam Sasongko, 49 tahun, kecewa. Penonton yang membawa serta istrinya, dosen Politeknik Negeri Jakarta mengaku ingin menikmati alunan Jazz mainstream. “Saya kurang puas dengan apa yang ditampilkan, terlalu populer. Mungkin wajar karena, yang datang anak-anak muda,”katanya.
Memang, sejak pagi hingga siang, selain penikmat jazz populer, perhelatan ini menjadi ajang kumpul-kumpul dan pacaran. “Aku kesini mau nonton aja. Kumpul sama teman-teman,”ujar Viki Fitriati, 16 tahun, yang mengaku bukan penggila jazz.
Salah seorang pianis yang tampil rapi solo Nial Djuliarso juga berharap sama seperti Imam. “Pemain sudah banyak. Saya berharap ada yang mengarahkan untuk lebih ke mainstream,”kata pemusik yang sudah kahot di manca negara.
Namun, seperti yang dikatakan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang memberikan orasi dan menyerahkan penghargaan kepada jazzer gaek Benny Likumahua, agar tak hanya sekadar mendengarkan musik. “Saya kira ini sesuatu produk maupun aktivitas yang bagus. Apresiasi anak muda terhadap seni. Sekarang gimana apresiasi itu tidak sekedar mendengar, tapi mencerminkan apresiasi rasa orang di dalam konteks memahami keadaan, mengantar seseorang membangun ekspresi, baik emosi, bicara rasa, bicara kegagalan, dan bicara keberhasilan,”ujarnya. Walah!

Ahmad Taufik, Bayu Galih

Beyounce : Good Morning Angel

Pertunjukan Beyounce bukan hanya mengandalkan suara emasnya. Tapi juga kemasan panggung dan show yang menghibur.

Busana tank top warna perak menyala sampai sejengkal di bawah ujung paha, dengan sayap sampai tanah dan lagu Crazy in Love, membawa Beyonce menggebrak “hanggar” Jakarta International Event and Convention centre, Mangga Dua Square, Jakarta. Sorot lampu terang dari berbagai sudut, seolah memperlihatkan ‘bidadari’ baru turun diantara cahaya matahari pagi. Penampilan awalnya tak ayal memancing teriakan histeris sekitar 5.000 penonton, “Beyonce…Beyonce….”
Di tengah lagu dari album Dangerously in Love, yang laku 300 ribu lebih hanya dalam waktu sepekan pada 2003, sayap busana bawah dilepas. Sehingga dia hanya mengenakan busana terbuka di bagian atas dan setengah paha di bagian bawah. Bahkan “robekan” di sisi kanan membuat roknya melambai-lambai saat kena angin memperlihatkan batas ujung stoking. Tak heran Malaysia “gerah” jika Beyonce tampil, dan mengundang protes kaum puritan agama negeri itu.
Memang hot penampilan Beyonce Giselle Knowles, begitu nama lengkap penyanyi kelahiran Houston, Texas, Amerika Serikat, tahun 1981, sepanjang pertunjukan. Lebih dari tujuh kali ganti busana, mulai dari hanya berkutang hitam dengan terusan panjang transparan ala penari perut , merah tua, sampai yang hanya mempertontonkan celana dalam warna emas, yang terkena efek angin di depan panggung.
Busana-busana itu menunjukkan penyabet Grammy Award 2006 untuk jenis lagu R& B benar-benar entertainer sejati, dan kepiawaianya sebagai disainer mengemas show apiknya. Tata panggung, latar belakang, efek cahaya dan sinar laser, penampilan serta suara prima menghapuskan kesan jorok seperti yang disandangnya selama ini. Terutama setelah tak sengaja, baju Beyonce tersingkap sehingga bagian terlarangnya bisa dilihat seluruh penonton di Kanada.
Adegan itu terekam kamera dan beredar di situs YouTube, sampai pekan lalu lebih dari 3 juta orang mengklik potongan rekaman itu. Tak heran dalam pertunjukkannya di Jakarta Beyonce tak mengizinkan media online merekam pertunjukkan dengan kamera. “Saya tak tau kenapa alasan Beyonce tak mau media online merekam dengan kamera selama pertunjukkan,”ujar kordinator media untuk media Daniel Tumiwa.
Dalam penampilannya di Jakarta pada The Beyonce Experience World Tour, bekas anggota kelompok vokal Destiny’s Child itu bukan hanya menunjukkan suara emasnya, tetapi keseluruhan pertunjukkanya. Sehingga saat Beyonce tak muncul ke panggung, tampilan penari, pemusik maupun backing vokalnya juga kuat mendukung, sehingga seakan tak ada jeda. Misalnya, saat lagu Check on It, penari latar menggunakan kaca pembesar berpakaian Sherlock Holmes, di layar belakang, tampak film digital tokoh macan kumbang Pink Panther. Memang film itu yang mengajak Beyonce ke dunia film, sekaligus sebagai soundtracknya. “Good Morning Angel,”begitulah suara sebelum “sang bidadari” muncul membasmi para penjahat dalam film itu.
Beyonce juga mampu berkomunikasi dengan penggemarnya. Bahkan Beyounce membiarkan para penonton menyanyi bersama-sama hampir satu lagu, dan pas. “Saya tak melihat kekurangan pertunjukan itu, perfect,”kata bekas penanyi AB Three, Lusi Rahmawati, sambil mengajukan dua jempol tangannya.
Hadirnya Beyonce ke Jakarta adalah buat gigihnya Rinny Noor dari Nepathya Entertainment. “Saya ngejar dia sejak Juni baru dapat kepastian 25 September lalu, setelah dia switch tak tampil di Malaysia,”katanya. Rinny tak tahu pasti alasan Beyonce memilih tampil di Jakarta. Kabarnya, selain soal kritikan Islam puritan Malaysia tentang busana tampil, juga tak ada tempat yang pantas untuk show Beyonce.
Masalah tempat penampilan di JITEC juga menjadikan bahan kritikan aktifis politik Fadli Zon. “Sayang pertunjukan bagus seperti ini mustinya tampil di JHCC, bukan di gedung atas pertokoan seperti ini,”katanya. Fadli memboyong isteri dan anak gadisnya Syafa, 9 tahun, menonton di kelas festival. “Anak saya, penggemar berat Beyonce dia hapal semua lagu-lagu yang dinyanyikan tadi,”katanya. Bravo Beyonce !

Stroke: Terapi Mal Piek Mulyadi

Terapi sendiri stroke mempercepat pemulihan diri. Piek Mulyadi membuktikan, tekad, analisa diri mampu membuat dirinya bangkit.

Jika anda melihat seseorang dengan kursi roda atau jalan tertatih-tatih menyeret kakinya di pusat pembelanjaan. Mungkin itu, salah seorang pengikut terapi ala Piek Mulyadi. Lelaki kelahiran Surabaya 77 tahun yang lalu, berhasil pulih dari penyakit stroke. Salah satu caranya, mendatangi mal. “Ini untuk menumbuhkan kepercayaan diri,”ujarnya.
Stroke penyakit syaraf yang menduduki peringkat utama penyebab kematian itu menyerang mantan Direktur Jenderal Pembangunan Daerah, Departemen Dalam Negeri. Saat itu Piek, 1996 berencana menuju ke tempat kerja, merasakan awaknya tak enak, mampir dulu ke dokter keluarga. Dokter menyarankan agar tak perlu melanjutkan ke kantor dan istirahat saja di rumah. Karena darahnya sedang tinggi.
Namun, karena merasa banyak janji dan sejumlah tugas yang sudah menunggu, Piek tak peduli saran itu. Apalagi dia yakin, tak mungkin terserang penyakit bloedrek itu. “Wong, saya ini, pendonor darah yang tetap bertahan ke PMI, kok,”katanya. Tetapi tekanan darahnya menunjukkan angka 200. Saat Piek ke Palang Merah Indonesia, lembaga itu juga menolak menerima donor dengan lasan tekanan darah tinggi itu.
Karena kesibukannya, bekas Wakil Gubernur Jakarta itu lupa dengan darah tingginya. Beberapa hari, sesudah ketidaknyamanan tubuhnya, Piek bermain dengan cucu-cucunya ke pusat perbelanjaan yang dibangunnya, Mal Ciputra dan Hotel. Naik turun tangga, lari-lari kecil membuat emosinya meluap gembira.
Esoknya saat masih di tempat tidur, rupanya, sang cucu belum puas main-main dengan eyangnya. Namun, ternyata Piek tak bisa bergerak, mau memeluk cucu malah terjatuh. Langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter dan suster yang menangani tak segera bergerak, hanya bilang harus istirahat, kecapekan saja. Tak puas dengan informasi dari pelayanan medis itu, Insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), terus mencari tahu kepastian penyakitnya itu.
Seorang teman yang punya pengaruh di rumah sakit itu, meminta Piek benar-benar dilayani sepenuh hati. Akhirnya ditentukan, harus discan. Ternyata di rumah sakit tersebut tak ada fasilitas MRI--alat scan--. Piek dirujuk ke Rumah Sakit Pertamina, Jakarta Selatan. Dua hari di rumah sakit itu belum juga ditangani. “Itu yang bikin saya sesalkan,”katanya.
Menurutnya, ada golden periode, yang hilang, yaitu masa emas untuk segera mengambil tindakan saat stroke menyerang, agar tak mengalami kelumpuhan atau yang lebih parah, sampai pada kematian. Beruntung, walaupun, sudah kehilangan waktu yang berharga itu, Piek bisa berangsur-angsur pulih. Setelah scan, dan diketahui penyakitnya adalah stroke menyerang otaknya, Piek mengalami lumpuh dikembalikan dan dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah.
Dalam masa perawatan dokter, selain obat-obatan, perawat rumah sakit tersebut, juga memberikan terapi, antara lain, menunjuk-nunjukkan jari dan meminta Piek menghitungnya. Sebagai pasien yang berpendidikan, dia ingin tahu tujuan terapi itu. Menurut suster perawat, stroke menyebabkan kelumpuhan dan juga mempunyai efek lupa. Nah, terapi itu salah satu untuk menangani lupa.
Setelah mengetahui tujuannya, Piek, memberi tahu pada suster, justru saat dirawat karena serangan stroke, dia tidak mengalami kelupaan. Bahkan, ingatannya semakin kuat. Piek membuktikan, bahwa ingatannya justru muncul saat ia mengalami kecelakaan di Jerman. Selama ini, sebelum terserang stroke ia tak tahu penyebab ia masuk rumah sakit dan sempat mengalami koma selama lima jam. Dokter di rumah sakit Jerman, hanya mengatakan, mengalami kecelakaan lalu lintas.
Namun, saat terserang stroke, muncullah kejadian awal penyebab koma selama lima jam itu. Inilah ingatannya; saat keluar dari hotel menyeberang jalan, dari jauh tampak sebuah mobil ngebut. “Saya lari dan melompat jatuh kepala membentur trotoar, jadi jidat saya banyak pasir. Karena itulah, saya yakin, bahwa kesadaran dan ingatan saya masih baik,”ujarnya.
Sebulan setelah dirawat di rumah sakit, Piek diminta pulang ke rumah. Namun, penyusun masterplan DKI Jakarta 1965-1985 ini belum mau pulang. Piek menolak karena merasa belum bisa merawat diri sendiri. Dia minta memperpanjang masa tinggal selama satu minggu, untuk merawat bisa merawat diri sendiri di rumah. Ia terus menjalani fisioterapi. “Saya tak mau kehilangan satu haripun jadwal terapi di rumah sakit,”katanya.
Saat masa perpanjangan waktu itulah, Piek menemukan cara mengatasi agar bisa pulih. “Saya melihat seorang pasien yang serupa dengan saya, lagi latihan jalan dipapah oleh suster, lalu mau jatuh. Namun secara reflek pasien itu mencoba mencari pegangan. Memang pasien itu tampak seolah-olah lemah, padahasil ternyata ada power,”ujarnya.
Sesudah melihat kejadian itu, setelah pulang, di rumah, Piek mencoba yang disebutnya “keseimbangan sirkus”. Yaitu, cara seperti sebuah pertunjukkan sirkus, yang mempertontonkan orang berjalan di atas tali dalam ketinggian tertentu. “Dari tempat tidur saya memanggil anak saya, untuk menjagai saya, belajar jalan,”katanya.
Piek mengambil, walker, alat belajar jalan seperti tongkat. Dengan dorongan tenaga sedikit-sedikit dan tekad yang kuat, Piek dapat berjalan sejauh setengah meter. “Saya berhenti saat sudah menggeh-menggeh,”ujarnya. Sejak saat itu Piek menggunakan berbagai macam cara agar bisa jalan, mulai dari pakai dingklik, jalan-jalan di atas pasir di pantai Ancol, sampai jalan ala pramuka, baris berbaris.
Setelah semua cara dilakukan, Piek memikirkan cara untuk mengembalikan kepercayaan diri. “”Saya minta diantar jalan-jalan ke mal Pondok Indah,”katanya. Semua anggota keluarga, heran, tak mau belanja aau urusan lain, tapi minta jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Piek meyakinkan keluarganya, bahwa ini salah satu terapi untuk menumbuhkan kepercayaan diri. Karena orang stroke, apalagi orang yang pada waktu sehat sangat aktif cenderung malu pada masyarakat sekitarnya, karena sakit dan emngalami kelumpuhan. “Saya mau tahu diri saya di mata masyarakat. Bagaimana orang memandang di kursi roda. Ternyata tak ada orang mempersoalkan, tak ada orang ribut,”ujarnya.
Dari terapi mal itulah, Piek dapat mengambil pelajaran bahwa seorang yang terkena stroke, lingkungan sosialnya juga musti dijaga. Jangan sampai orang tersebut terpisahkan diri dari kehidupan sehari-hari. “Misalnya, kalau orang biasa main basket, usahakan main basket walaupun pake kursi roda,”katanya.
Selain mengobati dirinya sendiri, Piek juga mengajak dan memberi motivasi pasien yang lain. “Ada yang berhasil, bagi yang punya tekad tak pantang menyerah, tapi juga ada yang gagal, karena egonya,”ujarnya. Piek juga membentuk klub stroke—kumpulan penyandang penyakit akibat serangan urat syaraf. “Klub itu untuk mengembalikan hasrat hidup, mengurangi rasa minder dan mencegah stress timbul karena sebab tersebut,”katanya.
Klub Stroke Karmel, Jakarta Barat misalnya punya jadwal tiap Hari Rabu. Mulai dari senam pagi bersama, sampai karaoke. "Sebetulnya perkumpulan ini merupakan perpanjangan dari program latihan dasar rehabilitasi untuk penderita stroke. Tujuannya, agar pasien stroke tak hanya duduk diam merenungkan nasib. Mereka harus aktif, menghilangkan kesedihan, depresi, dan kembali bermasyarakat,”kata Pimpinan Sentra Stroke dan Revitalisasi Karmel, Dokter spesialis syaraf Hermawan Suryadi.
Soal klub stroke diakui oleh dokter ahli syaraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung, Nurdjaman, membantu penderita stroke memulihkan diri. “Dengan klub itu sesama penderita bisa share, berbagi pengalaman mengatasi penyakit yang menyerang itu,”katanya.
Namun, sebagai dokter, Nurdjaman, tetap berpendapat memberikan obat-obatan untuk mengatasi sumber utama penyumbatan jalan darah penyebab stroke itu. “Kematian terbanyak pada penderita stroke adalah pasien yang mengalami penyumbatan otak (infark). Penderita yang mengalami penyumbatan darah ke otak mencapai 70 persen, karena itu diperlukan obat-obatan untuk mengurangi penyumbatan tersebut,”katanya.
Selain itu, menurut Nurdjaman, diperlukan pola hidup sehat. “Jangan merokok, minum kopi, alkohol, olahraga secara teratur dan jangan mudah stress,”katanya. Piek juga menyarankan agar pasien stroke mempercayakan diri pada dokter yang menanganinya. “Setelah percaya pada Tuhan, kita juga harus percaya kepada dokter yang menangani kita. Serta jangan malas untuk terus-menerus fisioterapi,”ujarnya.